Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Mahasiswa dalam Ekosistem Demokrasi

Mahasiswa dalam Ekosistem Demokrasi

  • account_circle admin1
  • calendar_month Ming, 17 Apr 2016
  • visibility 648
  • comment 0 komentar

Terlepas dari kuatnya konfigurasi politik elit yang membelit setiap aksi mahasiswa, sejarah telah mengakui bahwa aksi mereka sukses menggulung rezim otoritarian yang dinilai telah melakukan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme dengan tuntutan reformasi. Menjadi bukti sejarah bahwa mahasiswa banyak berperan dalam mendewasakan kehidupan bernegara untuk menjadi bangsa yang waras (demokratis-red).

Kerusuhan besar yang dipelopori oleh mahasiswa saat itu, telah menghilangkan banyak nyawa. Negara yang seharusnya menggaransi keselamatan jiwa rakyatnya serta memberikan ruang aspirasi kepadanya. Justru membungkam bahkan melenyapkan aktor-aktor demonstran yang diendus oleh penguasa sebagai penyebab kerusuhan. Dalam konteks inilah, para pengamat politik, aktivis dan masyarakat yang kritis menyebut era Soeharto sebagai rezim militer yang antikritik.

Jika kita mau cermat menilai dinamika hubungan antara mahasiswa dengan pemerintah, relasi keduanya telah berperan dalam membentuk ekosistem demokrasi di Indonesia. Aksi protes yang dilakukan oleh mahasiswa merupakan wujud refleksi kritis mereka terhadap kinerja pemerintah.

Adhie Massardi, seorang pengamat politik mengilustrasikan bentuk ideal relasi mahasiswa dengan pemerintah ibarat angin dan pohon. Bila mahasiswa angin, pemerintah adalah pohon. Pohon membutuhkan angin untuk membersihkan dahan kering dan daun yang menguning. Dahan kering, daun menguning adalah organ pohon yang sudah kehilangan fungsi utamanya; sebagai penyangga buah dan berfotosintesis. Angin juga membantu proses penyerbukan sehingga pohon pemerintah menghasilkan buah manfaat yang bisa dimakan oleh orang yang bernaung di bawahnya.

Angin kampus memang bukan bagian dari organ pohon pemerintah. Dalam sebuah ekosistem demokrasi, angin kampus tidak sendirian. Sebab, terdapat parlemen oposisi yang bisa berperan sebagai kumbang atau kupu-kupu. Juga ada pers dan institusi lainnya yang turut merontokkan dahan dan daun kering yang merusak struktur pohon pemerintah.

Pohon besar Orde Baru tampaknya tidak memahami betul ekosistem demokrasi ini. Dosis pestisida politik yang disemprotkan terlalu banyak. Sehingga, selain hama yang mati, seluruh spesies yang banyak membantu merindangkan pohon pemerintah pun ikut mati.

Setelah hampir delapan belas tahun momentum reformasi, banyak yang mempertanyakan arah gerakan mahasiswa. Memang benar, mereka telah menggelar pertemuan mahasiswa dari level regional hingga level nasional. Reorganisasi kepemimpinan setiap tahun dilakukan. Tak jarang, demonstrasi dengan berbagai tuntutan kepada penguasa menjadi ‘makanan penutup’ setiap momen pertemuan mahasiswa.

Jika rezim Orde Baru begitu ketat menyumbat kebebasan bersuara, rezim setelahnya telah memberikan kesempatan kepada siapapun untuk bebas bersuara. Mahasiswa sebenarnya memahami ‘peluang emas’ ini. Namun, hingga kini, belum ada terobosan cemerlang yang digagas oleh mahasiswa untuk survive dalam belantara demokrasi.

Sebagian besar kelompok mahasiswa mengambil peran dalam era kebebasan bersuara ini dengan menonjolkan identitas primordialnya. Pada akhirnya suara mahasiswa di mata penguasa menjadi sumbang; tidak utuh sebagai kesatuan refleksi kritis mahasiswa Indonesia terhadap situasi politik mutakhir. Belum lagi potensi tunggangan politik elit yang akan menumpulkan idealisme mahasiswa sebagai spesies pengontrol.

Idealnya, seperti pernyataan Adhie Massardi di atas. Relasi mahasiswa dan pemerintah bak angin dan pohon. Sewaktu-waktu angin kampus berhembus sepoi-sepoi merontokkan daun dan dahan kering. Membuat orang yang berteduh di bawahnya merasa nyaman. Pada momentum yang lain, angin kampus bisa berubah menjadi angin ribut yang mampu menumbangkan pohon pemerintah sekaligus membuat gelisah orang yang bernaung di bawahnya.

(Siham_Invest).

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Setelah Rektor Baru Terpilih; Ini Nama-Nama Bakal Calon Dekan Baru UIN Walisongo

    Setelah Rektor Baru Terpilih; Ini Nama-Nama Bakal Calon Dekan Baru UIN Walisongo

    • calendar_month Sen, 12 Agu 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 704
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Berdasarkan pengumuman No. 002/Un.10.0/PanitiaPemilihan/Hm.00/08/2019, panitia menetapkan nama-nama yang lolos  verifikasi berkas pendaftaran calon wakil rektor, dekan, direktur pascasarjana dan ketua lembaga di lingkungan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang periode 2019-2023. Senin, (12/8/2019). Ada enam calon wakil rektor yang lolos seleksi berkas pendaftaran yaitu sebagai berikut; No Calon Wakil Rektor 1. Dr. Abdul Kholiq, M.Ag. […]

  • Kesadaran Mahasiswa Tertib Parkir Minim

    Kesadaran Mahasiswa Tertib Parkir Minim

    • calendar_month Ming, 19 Nov 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 772
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Pelarangan parkir sepeda motor di sepanjang jalan samping Gedung L Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) kurang diindahkan oleh mahasiswa. Hal tersebut menunjukkan masih minimnya kesadaran mahasiswa dalam mematuhi peraturan untuk tertib parkir. “Itu kan sudah jelas, sudah ada papan pelarangannya. Kalau pinggir-pinggir jalannya penuh motor, saya mau buang sampah kan repot tho. Belum […]

  • Ungkap Makna Kesetaraan Gender, Kelompok 6 KKN RdR 77 UIN Walisongo Adakan Webinar Online

    Ungkap Makna Kesetaraan Gender, Kelompok 6 KKN RdR 77 UIN Walisongo Adakan Webinar Online

    • calendar_month Sab, 6 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 746
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Kelompok 6 Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) Angkatan 77 adakan webinar kesetaraan gender dengan tema “Isu Gender dalam Dunia Kerja”. Jum’at, (5/11/2021). Tujuan diadakannya webinar ini sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa dan masyarakat pada umumnya tentang makna kesetaraan gender yang sebenarnya. Acara berlangsung dengan menggunakan media zoom meeting […]

  • Bicara Itu Ada Seninya

    Bicara Itu Ada Seninya

    • calendar_month Kam, 26 Mar 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 632
    • 0Komentar

    Identitas Buku Judul Buku: Bicara Itu Ada Seninya: Rahasia Komunikasi yang Efektif Penulis: Oh Su Hyang Penerjemah: Hyun Ah-li Penyunting: Siska Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (BIP), Kelompok Gramedia Tahun Terbit: 2018 (Cetakan pertama versi terjemahan Indonesia) Jumlah Halaman: 238 halaman Genre: Pengembangan Diri / Self-Improvement (Komunikasi) Peresensi: Muhammad Fatih Buku Bicara Itu Ada Seninya menjelaskan […]

  • Berdamai Dengan Diri Sendiri Melalui Buku Ini?

    Berdamai Dengan Diri Sendiri Melalui Buku Ini?

    • calendar_month Jum, 6 Jan 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 1.071
    • 0Komentar

    Judul               : Insecurity is My Middle Name Penerbit           : Alvi Ardhi Publishing Penulis            : Alvi Syahrin Tahun terbit    : Mei 2021 Tebal               : 264 Halaman ISBN               : 978-623-97002-0-1 Peresensi         :Azkiyatun Nasiha Buku self-healing pertama yang diterbitkan seorang penulis Alvi Syahrin yang menggambarkan self-healing dapat mengajak para pembaca untuk bisa […]

  • Perjalanan Hidup Sastrawan Sekaligus Ulama Asal Minangkabau

    Perjalanan Hidup Sastrawan Sekaligus Ulama Asal Minangkabau

    • calendar_month Sel, 5 Mar 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 902
    • 0Komentar

    Identitas Film Judul               : Buya Hamka Vol. I Sutradara         : Fajar Bustomi Produser          : Frederica, Chand Parwez Servia Ditulis oleh     : Alim Sudio, Cassandra Massardi Pemeran          : Vino G.Bastian, Laudya Cynthia Bella Perusahaan      : Falcon Pictures Produksi          : Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kharisma StarVison Plus Tanggal Rilis   : 19 April 2023 Durasi Vol. I    : […]

expand_less