Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Anak Muda Lebih Siap Menghadapi AI Dibanding Sistemnya

Anak Muda Lebih Siap Menghadapi AI Dibanding Sistemnya

  • account_circle Redaktur LPM Invest
  • calendar_month Rab, 7 Jan 2026
  • visibility 941
  • comment 0 komentar

Oleh : Jahfal Bachist

Saya tidak langsung sampai pada kesimpulan ini. Bahkan pada awalnya saya termasuk orang yang cukup skeptis terhadap kecerdasan buatan. Saya khawatir AI akan membuat manusia malas berpikir, menggerus proses belajar, dan perlahan mengambil alih peran yang seharusnya dijalani manusia. Kekhawatiran itu terdengar masuk akal, dan mungkin juga wajar. Namun semakin saya memperhatikan bagaimana anak muda berinteraksi dengan AI dalam kehidupan sehari-hari pandangan saya perlahan berubah.

Perubahan itu tidak datang dari diskusi akademik atau seminar teknologi, melainkan dari hal-hal sederhana. Cara anak muda menggunakan AI dengan santai, tanpa rasa takut berlebihan. Cara mereka bertanya, mencoba, salah, lalu mencoba lagi. Di situlah saya mulai merasa ada jarak yang ganjil bukan antara manusia dan teknologi tetapi antara generasi muda dan sistem yang seharusnya membimbing mereka.

Setiap kali AI dibicarakan di ruang publik nada yang muncul hampir selalu bernuansa cemas. Kita membicarakan pekerjaan yang terancam, kejujuran akademik yang dipertanyakan, dan masa depan yang terasa tidak pasti. Diskursus ini penting, tetapi terasa timpang. Terlalu fokus pada apa yang mungkin hilang, terlalu sedikit membicarakan bagaimana manusia khususnya anak muda sebenarnya sudah beradaptasi.

AI hadir sebagai alat. Digunakan untuk membantu memahami pelajaran yang sulit, menyusun ide, atau sekadar mempercepat proses berpikir. Tidak ada klaim bahwa AI selalu benar dan tidak ada anggapan bahwa teknologi ini bisa menggantikan manusia sepenuhnya. Yang ada hanyalah sikap pragmatis: kalau bisa membantu, kenapa tidak digunakan?

Saya melihat bahwa sikap ini lahir bukan karena anak muda lebih cerdas dari generasi sebelumnya, melainkan karena mereka tumbuh dalam dunia yang serba berubah. Mereka tidak memiliki kemewahan untuk bertahan pada satu cara. Aplikasi berganti, platform berubah, dan cara belajar terus menyesuaikan. Dalam konteks itu AI hanyalah satu fase baru dari proses adaptasi yang sudah biasa mereka jalani.

Didunia pendidikan AI kerap langsung diasosiasikan dengan kecurangan dan kekhawatiran soal plagiarisme menjadi fokus utama. Saya tidak menyangkal risiko tersebut, namun saya mempertanyakan arah responsnya. Ketika sistem hanya sibuk mengawasi kita kehilangan kesempatan untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana berpikir kritis di era teknologi.

Yang terjadi kemudian adalah paradoks. Anak muda dituntut kreatif, adaptif, dan siap menghadapi masa depan, tetapi sistem yang membentuk mereka masih terjebak pada pola lama. Alih-alih mendampingi, sistem justru tertinggal dari realitas yang sedang dijalani generasi mudanya sendiri.

Kesenjangan ini menurut saya bukan soal perbedaan usia. Namun ini hanyalah soal perbedaan cara memandang perubahan. Anak muda bergerak cepat karena dunia menuntut mereka untuk begitu. Sistem bergerak lambat karena terbiasa menjaga stabilitas. Setiap perubahan diperlakukan sebagai gangguan, bukan tantangan yang perlu dihadapi bersama.

Ketakutan terhadap AI sering kali bukan berasal dari teknologinya, melainkan dari kekhawatiran kehilangan kendali. Sistem dibangun untuk menciptakan keteraturan sementara AI menuntut fleksibilitas. Anak muda tidak terlalu takut kehilangan keteraturan karena mereka tumbuh dalam dunia yang sejak awal tidak sepenuhnya teratur. Mereka sudah terbiasa belajar ulang, membongkar, lalu membangun kembali.

Tentu saja saya tidak sedang mengidealkan generasi muda. Mereka juga bisa salah. Mereka bisa terlalu bergantung pada AI, tergoda kemudahan, atau kehilangan kedalaman berpikir. Namun yang membedakan adalah sikap terhadap kesalahan. Anak muda cenderung belajar sambil berjalan. Mereka tidak menunggu kepastian sempurna sebelum mencoba. Sistem, sebaliknya, sering kali menunggu kesiapan ideal yang tidak pernah benar-benar datang.

Ironisnya, sistem sering menuntut anak muda untuk berpikir kritis, tetapi tidak menyediakan ruang yang cukup untuk melatihnya. AI dianggap merusak proses berpikir, padahal persoalannya bukan pada alatnya, melainkan pada cara berpikir itu dibangun. Jika pendidikan hanya mengukur hasil akhir, maka teknologi apa pun AI atau bukan akan selalu dianggap ancaman.

Dari pengamatan ini saya sampai pada satu pemahaman penting: masalah utama AI bukan terletak pada kecerdasannya melainkan pada kesiapan sistem untuk berubah. Anak muda melihat AI sebagai alat bantu berpikir. Sistem terlalu sering melihatnya sebagai pesaing yang harus dibatasi.

Jika kondisi ini dibiarkan risikonya bukan hanya ketertinggalan teknologi tetapi juga krisis relevansi. Sistem yang tidak mampu mengikuti realitas generasi mudanya akan perlahan ditinggalkan. Bukan karena dibenci, tetapi karena tidak lagi dirasakan hadir.

Justru di era AI peran sistem menjadi semakin krusial bukan hanya sebagai pengawas yang kaku melainkan sebagai pembimbing yang memberi arah. Literasi AI, etika penggunaan, dan kesadaran akan dampak sosial seharusnya menjadi bagian inti dari proses belajar bukan sekadar reaksi darurat ketika teknologi sudah terlanjur digunakan.

Saya percaya sistem tidak harus menjadi yang paling cepat. Tetapi ia harus cukup rendah hati untuk belajar. Anak muda tidak membutuhkan larangan tanpa dialog. Mereka membutuhkan kepercayaan, pendampingan, dan ruang untuk bertanya. Dengan cara itu, AI bisa ditempatkan secara manusiawi sebagai alat, bukan penentu nilai manusia.

Ada satu pelajaran penting yang saya lihat dari cara anak muda menghadapi AI mengenai keberanian untuk mencoba tanpa harus merasa paling tahu. Dunia hari ini tidak memberi waktu untuk menunggu kesiapan sempurna. Sistem yang mampu memahami hal ini akan tetap relevan. Sistem yang bertahan pada ketakutan justru akan semakin tertinggal.

AI akan terus berkembang terlepas dari apakah kita siap atau tidak. Anak muda sudah lebih dulu hidup di dalam perubahan itu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah AI perlu ditolak atau diterima. Pertanyaannya adalah apakah sistem bersedia berubah dan berjalan bersama generasi yang sudah berada selangkah di depan.

Jika tidak, maka yang akan tertinggal bukan hanya sistemnya-tetapi juga kesempatan kita untuk memastikan bahwa perkembangan AI tetap berpihak pada manusia bukan sekadar pada teknologi itu sendiri.

[ Pengurus Invest BPH Periode 25/26 ]

  • Penulis: Redaktur LPM Invest

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Virus Covid-19 Kembali Jadi Momok Penundaan KKL FEBI Dalam Negeri

    Virus Covid-19 Kembali Jadi Momok Penundaan KKL FEBI Dalam Negeri

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 753
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sampai detik berita ini dirilis, ada 96 orang pasien yang terkonfirmasi positif virus Covid-19. Dilangsir dari liputan6.com, Yurianto menyatakan bahwa virus ini sudah menyebar ke sejumlah wilayah di Indonesia. Wilayah tersebut yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Tangerang, Bali, Manado, dan Pontianak. Sabtu, (14/3/2020). Menindaklanjuti informasi tersebut Ketua Jurusan S1 Perbankan Syariah Fakultas […]

  • Gus Muwafiq; Sikapi Perbedaan dengan Ilmu Pengetahuan

    Gus Muwafiq; Sikapi Perbedaan dengan Ilmu Pengetahuan

    • calendar_month Ming, 15 Sep 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 614
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Forum Persaudaraan Antar Etnis Nusantara (PERANTARA), mengadakan kegiatan Dialog Kebangsaan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu, (14-15/9/2019), di Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah. Acara ini diawali dengan suguhan penampilan tari Sigeh Pengunten oleh mahasiswa perantau asal Lampung untuk menyambut tamu undangan, salah satunya Gubernur Jawa Tengah. Agan Maraka menyatakan tujuan acara ini ialah menjadikan […]

  • Sidang Paripurna I Ormawa FEBI, Hasilkan Program Kerja

    Sidang Paripurna I Ormawa FEBI, Hasilkan Program Kerja

    • calendar_month Sel, 25 Feb 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 649
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Sidang paripurna I Rapat Kerja Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) berlangsung di Laboratorium Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Sidang ini dihadiri oleh lembaga intra maupun UKM FEBI. Selasa, (25/2/2020). Adapun lembaga intra yang hadir yaitu Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FEBI, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ekonomi Islam, S1 Perbankan Syariah, […]

  • Pengaruh media sosial terhadap persepsi diri

    Dampak Media Sosial Terhadap Persepsi Diri : Antara Kenyataan dan Ekspetasi

    • calendar_month Ming, 22 Des 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 1.044
    • 0Komentar

    Oleh: Tsalis Mazidatul Khoir Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Platform seperti Instagram, TikTok, Twitter (X), dan Facebook kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga tempat bagi penggunanya untuk berbagi cerita, pengalaman, dan bahkan lifestyle mereka. Beragam hal yang kerap disebarluaskan melalui media sosial biasanya berupa hal-hal menyenangkan. Sehingga, […]

  • Mas Ojek Online Dapat Orderan Jadi Wisudawan Terbaik FEBI

    Mas Ojek Online Dapat Orderan Jadi Wisudawan Terbaik FEBI

    • calendar_month Kam, 6 Agu 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 682
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sesuai Keputusan Rektor UIN Walisongo Semarang Nomor 211 tahun 2020, ada 292 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang resmi dicopot gelar mahasiswanya di acara Pelepasan Wisudawan Virtual. Meskipun berlangsung di live streaming Face Tracking Animation di youtube UIN Walisongo Semarang, akan tetapi antusias wisudawan dan mahasiswa tetap tinggi. Hal ini terbukti dalam […]

  • Aksi Unjuk Rasa Tolak Perppu Ciptaker; Massa di Represi Aparat

    Aksi Unjuk Rasa Tolak Perppu Ciptaker; Massa di Represi Aparat

    • calendar_month Sel, 14 Mar 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 536
    • 0Komentar

    lpminvest.com-Seruan aksi pada Selasa (14/03/23) di depan Kantor DPRD Jawa Tengah (Jateng) bertajuk “Rakyat Jawa Tengah Tolak Perppu Cipta Kerja” yang di Inisiasi oleh Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) Jateng yang melibatkan kawan-kawan mahasiswa se-Semarang raya dan para buruh serta elemen masyarakat berujung mendapatkan represifitas aparat terhadap massa aksi. Adapun dalam aksi “Rakyat Jawa Tengah Tolak […]

expand_less