Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Anak Muda Lebih Siap Menghadapi AI Dibanding Sistemnya

Anak Muda Lebih Siap Menghadapi AI Dibanding Sistemnya

  • account_circle Redaktur LPM Invest
  • calendar_month Rab, 7 Jan 2026
  • visibility 1.148
  • comment 0 komentar

Oleh : Jahfal Bachist

Saya tidak langsung sampai pada kesimpulan ini. Bahkan pada awalnya saya termasuk orang yang cukup skeptis terhadap kecerdasan buatan. Saya khawatir AI akan membuat manusia malas berpikir, menggerus proses belajar, dan perlahan mengambil alih peran yang seharusnya dijalani manusia. Kekhawatiran itu terdengar masuk akal, dan mungkin juga wajar. Namun semakin saya memperhatikan bagaimana anak muda berinteraksi dengan AI dalam kehidupan sehari-hari pandangan saya perlahan berubah.

Perubahan itu tidak datang dari diskusi akademik atau seminar teknologi, melainkan dari hal-hal sederhana. Cara anak muda menggunakan AI dengan santai, tanpa rasa takut berlebihan. Cara mereka bertanya, mencoba, salah, lalu mencoba lagi. Di situlah saya mulai merasa ada jarak yang ganjil bukan antara manusia dan teknologi tetapi antara generasi muda dan sistem yang seharusnya membimbing mereka.

Setiap kali AI dibicarakan di ruang publik nada yang muncul hampir selalu bernuansa cemas. Kita membicarakan pekerjaan yang terancam, kejujuran akademik yang dipertanyakan, dan masa depan yang terasa tidak pasti. Diskursus ini penting, tetapi terasa timpang. Terlalu fokus pada apa yang mungkin hilang, terlalu sedikit membicarakan bagaimana manusia khususnya anak muda sebenarnya sudah beradaptasi.

AI hadir sebagai alat. Digunakan untuk membantu memahami pelajaran yang sulit, menyusun ide, atau sekadar mempercepat proses berpikir. Tidak ada klaim bahwa AI selalu benar dan tidak ada anggapan bahwa teknologi ini bisa menggantikan manusia sepenuhnya. Yang ada hanyalah sikap pragmatis: kalau bisa membantu, kenapa tidak digunakan?

Saya melihat bahwa sikap ini lahir bukan karena anak muda lebih cerdas dari generasi sebelumnya, melainkan karena mereka tumbuh dalam dunia yang serba berubah. Mereka tidak memiliki kemewahan untuk bertahan pada satu cara. Aplikasi berganti, platform berubah, dan cara belajar terus menyesuaikan. Dalam konteks itu AI hanyalah satu fase baru dari proses adaptasi yang sudah biasa mereka jalani.

Didunia pendidikan AI kerap langsung diasosiasikan dengan kecurangan dan kekhawatiran soal plagiarisme menjadi fokus utama. Saya tidak menyangkal risiko tersebut, namun saya mempertanyakan arah responsnya. Ketika sistem hanya sibuk mengawasi kita kehilangan kesempatan untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana berpikir kritis di era teknologi.

Yang terjadi kemudian adalah paradoks. Anak muda dituntut kreatif, adaptif, dan siap menghadapi masa depan, tetapi sistem yang membentuk mereka masih terjebak pada pola lama. Alih-alih mendampingi, sistem justru tertinggal dari realitas yang sedang dijalani generasi mudanya sendiri.

Kesenjangan ini menurut saya bukan soal perbedaan usia. Namun ini hanyalah soal perbedaan cara memandang perubahan. Anak muda bergerak cepat karena dunia menuntut mereka untuk begitu. Sistem bergerak lambat karena terbiasa menjaga stabilitas. Setiap perubahan diperlakukan sebagai gangguan, bukan tantangan yang perlu dihadapi bersama.

Ketakutan terhadap AI sering kali bukan berasal dari teknologinya, melainkan dari kekhawatiran kehilangan kendali. Sistem dibangun untuk menciptakan keteraturan sementara AI menuntut fleksibilitas. Anak muda tidak terlalu takut kehilangan keteraturan karena mereka tumbuh dalam dunia yang sejak awal tidak sepenuhnya teratur. Mereka sudah terbiasa belajar ulang, membongkar, lalu membangun kembali.

Tentu saja saya tidak sedang mengidealkan generasi muda. Mereka juga bisa salah. Mereka bisa terlalu bergantung pada AI, tergoda kemudahan, atau kehilangan kedalaman berpikir. Namun yang membedakan adalah sikap terhadap kesalahan. Anak muda cenderung belajar sambil berjalan. Mereka tidak menunggu kepastian sempurna sebelum mencoba. Sistem, sebaliknya, sering kali menunggu kesiapan ideal yang tidak pernah benar-benar datang.

Ironisnya, sistem sering menuntut anak muda untuk berpikir kritis, tetapi tidak menyediakan ruang yang cukup untuk melatihnya. AI dianggap merusak proses berpikir, padahal persoalannya bukan pada alatnya, melainkan pada cara berpikir itu dibangun. Jika pendidikan hanya mengukur hasil akhir, maka teknologi apa pun AI atau bukan akan selalu dianggap ancaman.

Dari pengamatan ini saya sampai pada satu pemahaman penting: masalah utama AI bukan terletak pada kecerdasannya melainkan pada kesiapan sistem untuk berubah. Anak muda melihat AI sebagai alat bantu berpikir. Sistem terlalu sering melihatnya sebagai pesaing yang harus dibatasi.

Jika kondisi ini dibiarkan risikonya bukan hanya ketertinggalan teknologi tetapi juga krisis relevansi. Sistem yang tidak mampu mengikuti realitas generasi mudanya akan perlahan ditinggalkan. Bukan karena dibenci, tetapi karena tidak lagi dirasakan hadir.

Justru di era AI peran sistem menjadi semakin krusial bukan hanya sebagai pengawas yang kaku melainkan sebagai pembimbing yang memberi arah. Literasi AI, etika penggunaan, dan kesadaran akan dampak sosial seharusnya menjadi bagian inti dari proses belajar bukan sekadar reaksi darurat ketika teknologi sudah terlanjur digunakan.

Saya percaya sistem tidak harus menjadi yang paling cepat. Tetapi ia harus cukup rendah hati untuk belajar. Anak muda tidak membutuhkan larangan tanpa dialog. Mereka membutuhkan kepercayaan, pendampingan, dan ruang untuk bertanya. Dengan cara itu, AI bisa ditempatkan secara manusiawi sebagai alat, bukan penentu nilai manusia.

Ada satu pelajaran penting yang saya lihat dari cara anak muda menghadapi AI mengenai keberanian untuk mencoba tanpa harus merasa paling tahu. Dunia hari ini tidak memberi waktu untuk menunggu kesiapan sempurna. Sistem yang mampu memahami hal ini akan tetap relevan. Sistem yang bertahan pada ketakutan justru akan semakin tertinggal.

AI akan terus berkembang terlepas dari apakah kita siap atau tidak. Anak muda sudah lebih dulu hidup di dalam perubahan itu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah AI perlu ditolak atau diterima. Pertanyaannya adalah apakah sistem bersedia berubah dan berjalan bersama generasi yang sudah berada selangkah di depan.

Jika tidak, maka yang akan tertinggal bukan hanya sistemnya-tetapi juga kesempatan kita untuk memastikan bahwa perkembangan AI tetap berpihak pada manusia bukan sekadar pada teknologi itu sendiri.

[ Pengurus Invest BPH Periode 25/26 ]

  • Penulis: Redaktur LPM Invest

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ajak Pemuda Hargai Perbedaan Lewat Camp Kebangsaan

    Ajak Pemuda Hargai Perbedaan Lewat Camp Kebangsaan

    • calendar_month Sen, 5 Nov 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 806
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Guna memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 50-nya, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Wedi, Klaten, Jawa Tengah menyelenggarakan acara Camp Kebangsaan Pemuda Lintas Iman, bertajuk “Kita Bersaudara”. Camp tersebut diselenggarakan pada 3-4 November 2018, bertempat di Dodiklatpur Kodam IV Diponegoro, Glodogan, Klaten Selatan, Kabupaten Klaten. Camp yang diikuti sekitar 280 pemuda itu bertujuan untuk mengajak […]

  • Puncak Dies Natalis, UIN Walisongo gelar Haflah Dzikir & Maulidur Rasul

    Puncak Dies Natalis, UIN Walisongo gelar Haflah Dzikir & Maulidur Rasul

    • calendar_month Ming, 2 Apr 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 654
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Dalam rangka merayakan puncak Dies Natalis ke-47, UIN Walisongo gelar Haflah Dzikir dan Maulidur Rasul. Acara dihadiri oleh para ulama’, jama’ah Al- khidmah, Rektor, mahasiswa, dan segenap civitas akademika. Minggu, (02/04/2017). “Acara ini sudah direncanakan sejak satu tahun yang lalu, persiapan juga dilakukan sejak kemarin dengan bantuan dari berbagai pihak. Alhamdulillah acara dapat kami […]

  • Fauziah Wisudawan Terbaik FSH Tanamkan Manajemen Handal di Kesehariannya

    Fauziah Wisudawan Terbaik FSH Tanamkan Manajemen Handal di Kesehariannya

    • calendar_month Rab, 29 Jan 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 782
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Pelepasan wisuda UIN Walisongo Semarang ke-77 di Audit II kampus III UIN Walisongo telah menyebutkan Fauzia Rohmah sebagai wisudawan terbaik  Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) dengan perolehan Indek Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87. Rabu, 29/01/2020. Tidak bisa diremehkan, untuk meraih predikat terbaik fakultas ternyata Fauzia mengerjakan skripsi hanya dalam kurun waktu satu bulan. “Awal ngerjain […]

  • Raih IPK 3.88, Septi Kumala Dewi Buktikan Organisasi dan Prestasi Akademik Bisa Berjalan Serasi

    Raih IPK 3.88, Septi Kumala Dewi Buktikan Organisasi dan Prestasi Akademik Bisa Berjalan Serasi

    • calendar_month Ming, 24 Mei 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 1.071
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sabtu, (21/05/2026) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengadakan wisuda Sarjana (S1), Magister (S2), Doktor (S3). Bertempat di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, periode ini meluluskan 15 wisudawan terbaik dari 8 fakultas termasuk progam pascasarjana (S3)              Septi sukses menuntaskan masa studinya dengan menorehkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) […]

  • UKM PSHT Lakukan Penjemputan Wisuda yang Unik

    UKM PSHT Lakukan Penjemputan Wisuda yang Unik

    • calendar_month Kam, 9 Feb 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 728
    • 0Komentar

    Penjemputan wisudawan dengan arak-arakan sudah menjadi budaya tersendiri oleh organisasi ekstra maupun intra di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo. Hal tersebut ditandai dengan ramainya penjemputan wisudawan-wisudawati dari pintu keluar venue hingga jalan utama Kampus 3. Kamis, (09/2/2023). Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) melakukan penjemputan sekaligus arak-arakan untuk wisudawan dan Wisudawati yang telah menyelesaikan study. […]

  • Roza dan Saiful: Wisudawan Berprestasi, Aktif Organisasi, dan Jadi Inspirasi

    Roza dan Saiful: Wisudawan Berprestasi, Aktif Organisasi, dan Jadi Inspirasi

    • calendar_month Sab, 2 Nov 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 837
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Kisah inspiratif muncul dari wisudawan Pascasarjana Fakultas Syariah dan Hukum (FSH)  Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Roza resmi menyandang gelar Magister pada acara Wisuda Magister (S-2) ke- 61 dan Sarjana (S-1) ke- 94, pada Sabtu, (02/11/2024) bertempat di Gedung Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Selama menempuh pendidikan perkuliahan ia juga memiliki […]

expand_less