Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Surat yang Berlayar di Selokan

Surat yang Berlayar di Selokan

  • account_circle Redaktur LPM Invest
  • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
  • visibility 964
  • comment 0 komentar

Hujan menderas memukul atap seng rumah petak kami hingga suaranya bergemuruh hingga menggangu telinga. Air mulai merembes dari sudut langit-langit menetes pelan ke dalam ember plastik bopeng di tengah ruangan.

Aku duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah berserabut menekan kuat-kuat ujung pensilku ke atas buku tulis bersampul cokelat. Di dekat pintu Mas Galih satu satunya orang yang kupercayai di dunia ini, ia sedang menambal ban sepeda tuanya. Tangannya cemong oleh pelumas hitam. Sesekali ia meniup telapak tangannya sendiri untuk mengusir dingin.

“Mas” panggilku, setengah berteriak agar suaraku tidak kalah oleh hujan. “Syahid itu huruf belakangnya ‘d’ atau ‘t’?”

Mendengar pertanyaan ku gerakan tangan Mas Galih lansung terhenti. Kunci inggris di tangannya bergemerincing pelan saat diletakkan ke lantai semen. Ia menoleh perlahan menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan.

“Pakai ‘d’ Dek,” jawabnya pelan. Suaranya serak. “Memangnya kamu sedang nulis apa?”

“Surat untuk Ibu” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari kertas. Aku merangkai huruf demi huruf dengan hati-hati. “Aku mau cerita ke Ibu kalau aku sudah mengerti kata-kata sulit yang sering muncul di berita radio.”

Mas Galih menghela napas panjang. Ia bangkit mengelap tangannya dengan kain lap lusuh lalu duduk di sebelahku. Bau karat dan keringat menguar dari tubuhnya.

“Sini, Mas lihat.”

Aku menggeser bukuku. Di sana tertulis kalimat dengan huruf-huruf besar yang sedikit berantakan: IBU, KATA MAS GALIH AYAH SUDAH SYAHID DI PERBATASAN. IBU KAPAN PULANG DARI KANTOR REZIM?

Dulu, aku mengira ‘rezim’ adalah nama sebuah perusahaan tempat orang-orang bekerja lembur. Sampai suatu subuh sebulan setelah seragam tentara Ayah dikembalikan ke rumah dalam keadaan robek dan bersimbah darah kering sebuah jip hitam tanpa pelat nomor berhenti di depan gang kami.

Orang-orang berjaket kulit mendobrak masuk. Mereka membentak dan menyeret Ibu karena Ibu terus-terusan mencetak selebaran protes menuntut keadilan atas pasukan Ayah yang sengaja dikorbankan di garis depan demi kepentingan politik elite ibukota. Ibu tidak menangis saat diikat. Ia hanya menatap Mas Galih tajam dan berbisik, “Jangan pernah berhenti bersuara, tapi jaga adikmu.”

Mas Galih menatap tulisanku cukup lama dengan raut wajahnya berubah sendu, kelopak matanya sembab menahan genangan air yang tak kunjung tumpah. Hujan di luar semakin deras tapi di dalam petak sempit ini waktu terasa berhenti sejenak. Kudengar helaan napasnya bergetar. Tangannya yang kasar terulur mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

“Tulisannya rapi sekali,” pujinya memaksakan sebuah senyum lengkung yang tidak mencapai matanya. Ujung matanya terlihat berair. “Ibu pasti bangga membacanya.”

“Nanti kita kirim lewat Pak Pos ya, Mas? Biar Ibu tahu aku pintar, terus Ibu diizinkan pulang.”

Mas Galih terdiam. Ia menatap tetesan air hujan yang jatuh ke dalam ember plastik berulang-ulang. Lalu ia merobek kelopak kertas dari bukuku dengan sangat hati-hati.

“Pak Pos tidak tahu alamat Ibu yang sekarang Dek,” ucapnya lirih. Jemarinya yang cemong mulai melipat kertas suratku mempertemukan ujung-ujungnya hingga membentuk sebuah perahu kertas kecil.

“Terus, suratnya dikirim pakai apa?” tanyaku kecewa.

“Pakai ini.” Mas Galih meletakkan perahu kertas itu ke telapak tanganku. “Nanti kalau hujannya reda, kita taruh perahu ini di selokan depan. Air selokan akan mengalir ke sungai dan sungai akan mengalir ke laut yang luas. Nanti perahu ini akan sampai ke tempat Ibu.”

Aku mengangguk setuju tersenyum lebar sambil memeluk perahu kertas itu erat-erat di dadaku. Mas Galih memalingkan wajahnya ke arah tembok basah menyembunyikan isak tangis yang akhirnya pecah terbawa suara derasnya hujan.

Sore itu aku belajar menunggu reda, berharap air bah akan membawa rinduku berlayar tanpa tahu bahwa beberapa surat memang tidak pernah ditakdirkan untuk tiba.

[Pengurus LPM Invest Periode 2025/2026]
  • Penulis: Redaktur LPM Invest

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siksa Manusia Tergantung Dosa dalam Film Siksa Neraka

    Siksa Manusia Tergantung Dosa dalam Film Siksa Neraka

    • calendar_month Sel, 21 Mei 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 1.397
    • 0Komentar

    Identitas Film Judul                           : Siksa Neraka Genre                         : Horror, Thriler Jadwal Tayang            : 14 Desember 2023 Durasi                         : 98 menit Sutradara  […]

  • MADRE

    MADRE

    • calendar_month Sab, 22 Des 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 880
    • 0Komentar

    Tak ada bahan, Kalimatku habis Sedari aku menjudulkan namamu Bagaimana bisa merangkai kata Sedang engkau lebih indah Dari syair-syair para pujangga   Tak ada bahan, Tintaku kering Seiring aku mengaksarakan namamu Bagaimana mau bersajak Sedang kasihmu terlampau luas untuk kujejak   Tak ada bahan, Kertasku raib Sejak kuniatkan untuk menulismu Bagaimana mampu menulis bait Sedang […]

  • Workshop Materi Online LPM Invest 2020 ‘Tiga Kunci Sukses Ini Jadi Penawarnya’

    Workshop Materi Online LPM Invest 2020 ‘Tiga Kunci Sukses Ini Jadi Penawarnya’

    • calendar_month Jum, 6 Nov 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 919
    • 0Komentar

    lpminvest.com- “Ayoh dek segera  join link, acara segera dimulai,” kurang lebih seperti itu kata-kata mutiara panitia acara di organisasi manapun termasuk Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Invest Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang. Panitia, peserta dan pemateri workshop materi murni berjarak dengan mengandalkan platform Google Meet. Jumat, (6/11/2020). Mengusung tema Menumbuhkan Inovasi Insan […]

  • ORSENIK Kembali Digelar; Hilangkan Kekecewaan dan Ajang Penjaringan Mahasiswa Berprestasi

    ORSENIK Kembali Digelar; Hilangkan Kekecewaan dan Ajang Penjaringan Mahasiswa Berprestasi

    • calendar_month Kam, 28 Okt 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 859
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah, dan Keterampilan (ORSENIK) UIN Walisongo kembali diadakan setelah tahun lalu batal karena Pandemi Covid-19, Kamis (28/10/2021). ORSENIK tahun ini diadakan untuk para mahasiswa dari dua angkatan, yaitu angkatan 2020 dan 2021. Hal tersebut dipilih untuk menjaring mahasiswa berprestasi dari dua angkatan itu. Choirul Hasri selaku Ketua Panitia mengungkapkan bahwa diselenggarakannya […]

  • Setelah Rektor Baru Terpilih; Ini Nama-Nama Bakal Calon Dekan Baru UIN Walisongo

    Setelah Rektor Baru Terpilih; Ini Nama-Nama Bakal Calon Dekan Baru UIN Walisongo

    • calendar_month Sen, 12 Agu 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 869
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Berdasarkan pengumuman No. 002/Un.10.0/PanitiaPemilihan/Hm.00/08/2019, panitia menetapkan nama-nama yang lolos  verifikasi berkas pendaftaran calon wakil rektor, dekan, direktur pascasarjana dan ketua lembaga di lingkungan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang periode 2019-2023. Senin, (12/8/2019). Ada enam calon wakil rektor yang lolos seleksi berkas pendaftaran yaitu sebagai berikut; No Calon Wakil Rektor 1. Dr. Abdul Kholiq, M.Ag. […]

  • BANGKIT DARI PANDEMI, ATUR KEUANGANMU AGAR DOMPET TETAP AMAN

    BANGKIT DARI PANDEMI, ATUR KEUANGANMU AGAR DOMPET TETAP AMAN

    • calendar_month Kam, 29 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 741
    • 0Komentar

    Selain kesehatan tubuh, kesehatan keuangan juga tidak kalah penting untuk diperhatikan di tengah wabah covid-19 seperti sekarang ini. Kehadiran wabah tersebut bukan hanya memaksa masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh serta menerapkan gaya hidup sehat, tetapi kesehatan keuangan juga perlu dijaga dengan baik. Pandemi covid-19 menimbulkan masalah baru bagi sebagian masyarakat karena menurunnya beberapa sektor […]

expand_less