Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Surat yang Berlayar di Selokan

Surat yang Berlayar di Selokan

  • account_circle Redaktur LPM Invest
  • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
  • visibility 913
  • comment 0 komentar

Hujan menderas memukul atap seng rumah petak kami hingga suaranya bergemuruh hingga menggangu telinga. Air mulai merembes dari sudut langit-langit menetes pelan ke dalam ember plastik bopeng di tengah ruangan.

Aku duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah berserabut menekan kuat-kuat ujung pensilku ke atas buku tulis bersampul cokelat. Di dekat pintu Mas Galih satu satunya orang yang kupercayai di dunia ini, ia sedang menambal ban sepeda tuanya. Tangannya cemong oleh pelumas hitam. Sesekali ia meniup telapak tangannya sendiri untuk mengusir dingin.

“Mas” panggilku, setengah berteriak agar suaraku tidak kalah oleh hujan. “Syahid itu huruf belakangnya ‘d’ atau ‘t’?”

Mendengar pertanyaan ku gerakan tangan Mas Galih lansung terhenti. Kunci inggris di tangannya bergemerincing pelan saat diletakkan ke lantai semen. Ia menoleh perlahan menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan.

“Pakai ‘d’ Dek,” jawabnya pelan. Suaranya serak. “Memangnya kamu sedang nulis apa?”

“Surat untuk Ibu” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari kertas. Aku merangkai huruf demi huruf dengan hati-hati. “Aku mau cerita ke Ibu kalau aku sudah mengerti kata-kata sulit yang sering muncul di berita radio.”

Mas Galih menghela napas panjang. Ia bangkit mengelap tangannya dengan kain lap lusuh lalu duduk di sebelahku. Bau karat dan keringat menguar dari tubuhnya.

“Sini, Mas lihat.”

Aku menggeser bukuku. Di sana tertulis kalimat dengan huruf-huruf besar yang sedikit berantakan: IBU, KATA MAS GALIH AYAH SUDAH SYAHID DI PERBATASAN. IBU KAPAN PULANG DARI KANTOR REZIM?

Dulu, aku mengira ‘rezim’ adalah nama sebuah perusahaan tempat orang-orang bekerja lembur. Sampai suatu subuh sebulan setelah seragam tentara Ayah dikembalikan ke rumah dalam keadaan robek dan bersimbah darah kering sebuah jip hitam tanpa pelat nomor berhenti di depan gang kami.

Orang-orang berjaket kulit mendobrak masuk. Mereka membentak dan menyeret Ibu karena Ibu terus-terusan mencetak selebaran protes menuntut keadilan atas pasukan Ayah yang sengaja dikorbankan di garis depan demi kepentingan politik elite ibukota. Ibu tidak menangis saat diikat. Ia hanya menatap Mas Galih tajam dan berbisik, “Jangan pernah berhenti bersuara, tapi jaga adikmu.”

Mas Galih menatap tulisanku cukup lama dengan raut wajahnya berubah sendu, kelopak matanya sembab menahan genangan air yang tak kunjung tumpah. Hujan di luar semakin deras tapi di dalam petak sempit ini waktu terasa berhenti sejenak. Kudengar helaan napasnya bergetar. Tangannya yang kasar terulur mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

“Tulisannya rapi sekali,” pujinya memaksakan sebuah senyum lengkung yang tidak mencapai matanya. Ujung matanya terlihat berair. “Ibu pasti bangga membacanya.”

“Nanti kita kirim lewat Pak Pos ya, Mas? Biar Ibu tahu aku pintar, terus Ibu diizinkan pulang.”

Mas Galih terdiam. Ia menatap tetesan air hujan yang jatuh ke dalam ember plastik berulang-ulang. Lalu ia merobek kelopak kertas dari bukuku dengan sangat hati-hati.

“Pak Pos tidak tahu alamat Ibu yang sekarang Dek,” ucapnya lirih. Jemarinya yang cemong mulai melipat kertas suratku mempertemukan ujung-ujungnya hingga membentuk sebuah perahu kertas kecil.

“Terus, suratnya dikirim pakai apa?” tanyaku kecewa.

“Pakai ini.” Mas Galih meletakkan perahu kertas itu ke telapak tanganku. “Nanti kalau hujannya reda, kita taruh perahu ini di selokan depan. Air selokan akan mengalir ke sungai dan sungai akan mengalir ke laut yang luas. Nanti perahu ini akan sampai ke tempat Ibu.”

Aku mengangguk setuju tersenyum lebar sambil memeluk perahu kertas itu erat-erat di dadaku. Mas Galih memalingkan wajahnya ke arah tembok basah menyembunyikan isak tangis yang akhirnya pecah terbawa suara derasnya hujan.

Sore itu aku belajar menunggu reda, berharap air bah akan membawa rinduku berlayar tanpa tahu bahwa beberapa surat memang tidak pernah ditakdirkan untuk tiba.

[Pengurus LPM Invest Periode 2025/2026]
  • Penulis: Redaktur LPM Invest

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemeriksaan Jentik Nyamuk, Cara Sederhana Peduli Kesehatan Masyarakat

    • calendar_month Sen, 9 Nov 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 1.372
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Jumat (06/11/2020), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) UIN Walisongo kelompok 52 mengadakan kegiatan Pemeriksaan Jentik Nyamuk (PJN). Upaya pendeteksian dini itu dilaksanakan di wilayah Perumahan Bank Niaga, Ngaliyan, Semarang. Kegiatan ini dilakukan melalui kunjungan ke setiap rumah dan memeriksa tempat yang memungkinkan adanya jentik nyamuk. Pemeriksaan ini bertujuan mengurangi populasi nyamuk […]

  • Business Action Jadi Cerita Profit Ala Magang Mahasiswa Prodi EI

    • calendar_month Jum, 24 Jul 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 813
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Mahasiswa prodi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang tengah proses menyelesaikan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 22 juni samapi 21 Agustus 2020 nanti. Ada tiga alternatif tugas pengganti PPL ini, akan tetapi business action lebih menarik untuk diketahui perkembangannya. Jumat, (24/7/2020) Adapun alternatif tugas pengganti PPL […]

  • Anime Paling Banyak Disave Mahasiswa FEBI versi LPM INVEST

    • calendar_month Kam, 7 Jan 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 933
    • 0Komentar

      Seni melukis sebuah karakter dengan  kisah cinta, persahabatan serta semangat mengapai cita-cita memiliki daya tarik tersendiri bagi sebagian mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo. Beberapa mahasiswa FEBI bahkan memilki koleksi ratusan file serial anime yang di save dalam laptopnya. Tak jarang para pecinta anime ini bertukar file satu sama lain demi […]

  • Atasi Gagap Hitung, Mahasiswa KKN Uji Program Matematika Detik

    • calendar_month Sab, 17 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 803
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) Angkatan 75 UIN Walisongo Semarang mengenalkan dan mengajar program matematika detik kepada siswa kelas 5 SDN 2 Gadu, Blora. Kegiatan pengenalan dan pembelajaran dilakukan di salah satu rumah siswa dengan menerapkan protokol kesehatan. Sabtu, (17/10/2020) Kegiatan ini dilakukan berturut-turut selama dua hari yaitu pada hari […]

  • Perpustakaan Lentera, Resmi Lounching di Desa Loireng Kecamatan Sayung Kabupaten Demak

    • calendar_month Ming, 23 Feb 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 1.047
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Perpustakaan Lentera dengan tema Menciptakan Literasi yang Inklusif untuk Generasi Unggul telah diresmikan pada kamis, (20/2/2020) lalu. Dalam acara tersebut dihadiri oleh Kepala Desa selaku pembina perpustakaan, Mardhiyah dan perwakilan dari siswa-siswi Yayasan Raudhatus Sholihin Desa Loireng. “Hari ini launching Perpustakaan Lentera agar semua warga tahu di Desa Loireng sudah ada perpustakaan bisa membekali […]

  • Diwarnai Gerimis, UIN Walisongo Luluskan 1.277 Mahasiswa pada Wisuda Periode Februari 2026

    • calendar_month Sab, 7 Feb 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 1.182
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang telah menyelenggarakan acara wisuda pada Sabtu (07/02/2026) yang bertempat di Auditorium 2 Kampus 3, dimulai pada pukul 07.00 WIB hingga selesai. Wisuda periode Februari 2026 ini dilangsungkan dalam 2 sesi. Sesi 1 dilakukan pada pukul 07.00 – 11.00 WIB mengukuhkan sebanyak 629 mahasiswa, yang terdiri dari 13 lulusan […]

expand_less
Exit mobile version