Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Anakku di Tanganku

Anakku di Tanganku

  • account_circle admin1
  • calendar_month Jum, 29 Mar 2019
  • visibility 197
  • comment 0 komentar
Oleh: Dyah Naf’ul Ummah Mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam 2016

Oleh: Dyah Naf’ul Ummah
Mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam 2016

Suara takbir pertama Ramadhan menggema dengan indahnya, pukulan demi pukulan beduk beriringan seirama, langit pun bersih bertemankan bintang di sekelilingnya. Tetapi tidak denganku, nafasku sesak, lidahku kaku, mataku bengkak karena lelah menangis.  Aku tak bisa menerima kenyataan Syahrizal suamiku meninggalkanku di bulan Ramadhan yang baru saja menyapa, setelah mobil menabraknya saat akan pulang dari masjid. Separuh nyawaku berteriak dan berlari mengejarnya, tapi sayang, itu belum cukup untuk menyelamatkannya.

**

Embun perlahan-lahan pergi meninggalkan dedaunan yang ia singgahi semalam, saat mentari hangat menyapa semesta. Kutatap Saiful Azzam. Anakku masih asik memainkan boneka kayu dari ayahnya. Itu sajalah yang ia lakukan setiap pagi. Selama ini ia dikucilkan karena diangap gila, tapi aku tau, anakku tak gila, ia hanya lemah dalam berfikir tapi sejatinya ia normal seperti anak-anak yang lain.

Baru sebentar kupalingkan padanganku pada sudut lain, Azzam sudah tak ada dalam pandangan, begitu cepat ia menghilang, ahhh sudahlah, bukan aku tak ingin mencari, tetapi ia selalu menghilang setiap pagi. Kaki tuaku hampir tak sanggup jika harus berlarian hingga jauh mengejar Azzam.

Selepas menyiapkan sarapan, kudengar ada suara memanggilku.

”Fatimah, oo Fatimah, kenapa kau biarkan Azzam jalan sendirian? Aku tanya Azzam ingin ke sekolah, tapi dia tak pakai seragam. Sebab itulah, aku antarkan dia pulang untuk bersiap-siap dulu.”

“Terimakasih lah Zul kau antarkan anakku balik, kalau tidak, dah pergi kemana entah. Maaf kita sekeluarga selalu merepotkan,” kataku pelan Zul. Zul atau tepatnya Zulkifli, ia adalah teman baik almarhum abang sekaligus guru sekolah Azzam.

“Tak repot lah Fat. Azzam dah seperti anakku. Bantu dia siap-siap, biar sekalian aku antar dia ke sekolah.”

“Kau pergi lah dulu, biar aku yang antar Azzam ke sekolah.”

“Ehh tak usah Fat, biar aku tunggu Azzam.”

“Sudahlah Zul, kalau aku bilang aku yang akan antar anakku ke sekolah, aku antarlah, jangan turut campur dalam urusan aku!”

Kulihat beberapa saat Zul terdiam dan mengalah. Ia kemudian pergi meninggalkan Azzam yang sedari tadi ada di belakang. Aku bukan tak ingin Azzam mengenyam pendidikan, ibu mana yang tega melihat anaknya bodoh. Tapi, biarkan ia tertinggal asal bukan harga dirinya yang diinjak. Aku sanggup mengajarnya sepenuh nyawaku, tetapi tidak untuk melihatnya dibuat malu.

“Ibu, kenapa Ibu tak ijinkan Paman antarkan Azzam pergi ke sekolah?”

Aku tak mampu menjawab. Kurangkul Azzam dan mengajaknya masuk ke dalam rumah, akan kubuktikan bahwa Azzam tidak gila, ia hanya lamban, dan Azzam mampu seperti anak-anak mereka, karena anak memiliki hak yang sama untuk bahagia.

Kuajarkan Azzam banyak hal. Membaca , menulis, menggambar dan bahkan untuk hal mengaji, kutinggalkan pekerjanku untuk sementara waktu untuk memastikkan anakku dapat bimbingan yang terbaik. Semua kebiasaan yang sering ia lakukan bersama ayahnya mulai ia lupakan, hidup terlalu keras Nak. Tanpa sadar aku menangis.

**

“Ibu kan sudah bilang, baca dengan teliti, jangan malas lah Zam. Ibu tau kau lamban, tapi takkanlah mengeja huruf seperti ini kau tak bisa-bisa. Kalau kau tak serius dalam belajar, sampai kapanpun kau tak kan pandai Azzam!!”

“Azzam lapar bu. Azzam ingin makan sebentar boleh?”

“Jangan banyak alasan Azzam. Baru tadi kita berbuka, takkan pukul 9 kau sudah lapar. Alasan. Kau memang pemalas!”

  Marahku terhadap Azzam malam itu seperti tak dapat dibendung. Aku tau Azzam lelah, tapi aku jauh lebih lelah. Tanpa sadar kuayunkan tanganku ke pipi mungilnya “plakkk”. Dan ya, untuk pertama kalinya ini kulakukan.

Azzam berlari menuju kamar. Dibantingnya pintu sekeras mungkin. Aku salah. Tak semestinya anak 12 tahun kupaksa demikian rupa. Obsesiku telah menyakiti Azzam. Aku menangis. Perlahan-lahan kuketuk pintunya. Sedaya upayaku membujuknya, tapi aku gagal. Tak ada jawaban di sana. Perlahan-lahan kubuka pintunya, dia tertidur. Pipinya memerah bekas tamparanku. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku sudah terlalu kasar terhadapnya, tapi aku tak sengaja, aku terlalu sayangkan anakku. Dia pewarisku, dan dia satu-satunya. Salahkah aku menjadikannya tangguh? Ahhh sudahlah, aku sudah lelah berfikir. Kuusap-usap rambutnya lalu kukecup keningnya perlahan “Semoga kau memaafkan Ibu, Nak,” bisikku perlahan

Matahari seperti tepat di atas ubun-ubun, sangat panas. Kulihat Azzam telah bangun tapi ia diam, sama sekali tak mengeluarkan kata. Mungkin ia masih marah. Kubiarkan saja ia. Mungkin nanti ia akan seperti biasanya. Aku tetap pada pendirianku. Kupaksa ia tetap belajar. Ia seperti tak mempedulikanku, dan aku tetap memaksanya. Aku tau dia lembah tapi itu tak bermakna dia tak mampu, itu yang selalu kutanamkan pada dirinya.

“Ibu, tolong jangan paksa aku. Azzam tak sehat Bu. Lain kali ya,” kata Azzam memelas.

“Azzam, tak baik kita buat alasan agar terhindar dari belajar. Hari ini Azzam cuma  menulis, tak perlu membaca ataupun menghafal. Setelah itu Azzam boleh nonotn TV ataupun tidur.”

“Ibu, tapi Azzam letih, Bu.”

“Kau ni mau jadi apa Azzam? Pemalas. Ibu hanya suruh kau menulis, tapi kau  tak mau. Azzam kira kalau tak ada usaha, kita bisa pandai dengan sendirinya?”

Marahku kian memuncak lagi. Masalah demi masalah kurasa makin bertambah. Hidup dalam caci maki banyak orang. Taada seorangpun wanita di dunia ini yang senang bergelar janda. Dan taada seorang ibu yang sanggup mendengar anak dicaci maki dan diasingkan, bahkan dianggap gila. Pukulanku kuayunkan lebih keras dan baru berhenti ketika kulihat darah pada lengannya dan suara tangisnya.

“Azzam, maafkan Ibu, Nak.”

“Kenapa Ibu pukul Azzam, Bu? Apa salah Azzam? Ibu tak sayang Azzam!!” teriak Azzam padakku. Kesedihan benar-benar kulihat dari pancaran matanya. Kukejar dan kucari ia. Entah di mana dia sembunyi. Kulihat ia memeluk lututnya sendiri. Azzam ketakutan melihatku. Kupujuk ia. Sungguh, hatiku hancur melihatnya penuh luka.

“Sayang, maafkan Ibu, Nak. Sini Ibu obati luka Azzam.” Lembut aku membujuknya tetapi ia masih takut. Ia tak memberi perlawanan. Hanya saja aku tau tatapan itu adalah ketakutan. Kuusap lukanya dengan kain basah lalu kuoleskan obat merah. Azzam kesakitan.  Kubujuk ia perlahan-lahan masuk ke dalam kamar untuk tidur. Belum satu jam ia sudah tidur puas.

**

Pagi itu masih menunjukkan pukul 07.00 saat aku terjaga dari tidurku. Entahlah, pagi itu rasa malas menyeruak masuk dalam jiwaku. Aku seperti ingin beristirahat lebih lama lagi. Kuintip dari belakang pintu Azzam masih dalam tempat tidurnya. Kubuat secangkir kopi dan coba menikmati pagi. Sudah lama hal itu tak tak kujalani sejak Abang pergi. Kuhirup aroma kopi, masih sama seperti dulu. Aku bagai merebus syair bersama kopi yang kutuang dalam cangkir. Kopi bersajak manis dengan ingatanku terhadap senyumnya menjebak. Ingatanku selalu kuat, membuat beban hidup semakin berat. Ingatanku kembali pada beberapa memori 12 tahun lalu ketika aku mengandung Azzam di usia 7 bulan.

Masih kuingat wajah suamiku yang exited menanti kelahiran Azzam. Ia selalu mendendangkan salawat sebelum tidur. Tapi semua senyuman itu hilang saat aku terpeleset yang menyebabkan air ketubanku pecah, dan harus segera dioperasi karena belum cukup waktu untuk melahirkan normal. Itulah kenapa Azzam mengalami Periventricular Leukomalacia (PVL) atau komplikasi paling umum kedua yang melibatkan sistem pada otak bayi prematur. Hancur hatiku kala itu, tetapi Abang Shah tak henti menyemangatiku. Ini garis hidup yang telah ditentukan. Kita akan sayang anak kita walau bagaimanapun ia. Kucurahkan rasa pada Azzam sepenuhnya. Tapi semenjak Abang Shah tiada, aku ragu. Separuh cahaya dalam hidupku padam. Aku sendirian. Tapi hidup harus kena kuteruskan. Azzam satu-satunya kenangan pada abang. Kusadari aku salah.

Tanpa sadar, sudah sedari lama aku termenung. Matahari pun kian meninggi dan berpindah tempat peraduannya. Aneh sekali Azzam belum bangun. Badannya begitu dingin, wajahnya membiru. Aku terus membangunkannya tapi aku gagal. Ia masih lena dalam tidurnya. Kuusap-usap rambutnya ia tetap tak bersuara. Perlahan, kudekatkan kepalaku ke dadanya. Jantungnya tak berdetak. Nafasnya pun sudah tiada.

Tuhan, jangan kau hukum aku dengan balasan yang aku sendiri tak akan mampu. Aku kehilangan separuh nyawaku. Dan jangan biarkan kau ambil separuh lagi bersamamu. Tuhan, jika kau perkenakan, izinkan aku menyambut hari raya bersamanya walau hanya sekali ini saja. Tapi, rintihanku hampa, aku tau tiada yang mampu mengubah takdir Yang Maha Kuasa. Tetapi tetap saja aku merayu, aku ingin menebus semua kesalahanku pada anakku, dan menunaikan janji kepada arwah suamiku.

Takbir raya menjadi saksi atas hilang cahaya hidupku menemui sang pencipta. Menciptakan kesunyian yang tiada siapa sanggup membawa penawarnya. Menggores luka  dan rasa berdosa karena gagal menjaga amanah-Nya serta saksi atas jiwa-jiwa yang digantung kebahagiannya. Tuhan, aku ikhlas dengan takdir yang kau tuliskan padaku, tapi  bantulah hatiku menemui jalan dari setiap pertanyaan. Jika setelah kematian ada kehidupan, pantaskah aku dipanggil ibu? Yang surga-Mu ada di bawah telapak kakinya. Yang murka-Mu adalah murkanya. Lantas bagaimana denganku yang tanpa sengaja menghilangkan cahaya senyum dari wajahnya. Tuhan, kau Yang Maha Tahu. Ambisiku membuatnya menjadi sosok tegar memang salah, tapi setiap lafaz cinta yang aku sampaikan tak pernah sekalipun dusta. Anakku Azzam, kehidupan yang akan datang semoga kau menganggap aku sebagai ibumu. Azzam anak surga, tenanglah di sana menjaga ayah.

Kutinggalkan pemakaman yang masih harum dengan taburan bunga, melangkahkan kaki sampai pada titik akhirnya, menemani lisan yang tak akan putus dengan lantunan doa. . Doa ibu taakan pernah putus untuk sosok yang kusebut cinta.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ayah Pahlawan Tanpa Sejata

    Ayah Pahlawan Tanpa Sejata

    • calendar_month Jum, 22 Mar 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Judul : Ayah Penerbit : Republika Penerbit Penulis : Irfan Hamka Tahun terbit : 2013 Tebal : 291 Halaman ISBN : 978-602-8997-71-3 Peresensi : Nabila Rahmania Buku “Ayah” karya Buya Hamka merupakan sebuah karya sastra yang menggugah dan memukau. Dalam buku ini, Buya Hamka menggambarkan hubungan yang mendalam antara seorang ayah dan anak-anaknya melalui berbagai […]

  • UIN Walisongo Selenggarakan Wisuda Terakhir di Tahun 2022

    UIN Walisongo Selenggarakan Wisuda Terakhir di Tahun 2022

    • calendar_month Sel, 8 Nov 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 196
    • 0Komentar

    lpminvest.com- UIN Walisongo gelar wisuda dengan meluluskan 609 orang yang terdiri dari 4 doktor, 25 orang magister (S2), dan sebanyak 580 Sarjana pada Selasa (8/11/2022). Wisuda dengan gelaran Sidang Senat Terbuka itu bertempat di Kampus 3 Auditorium 2 UIN Walisongo secara luring. Acara besar tersebut menjadi acara wisuda terakhir kalinya di tahun 2022 ini. Pembukaan […]

  • Mahasiswa KKN Berbagi Minuman Herbal Tradisional, Wujud Kampanye Kesehatan

    Mahasiswa KKN Berbagi Minuman Herbal Tradisional, Wujud Kampanye Kesehatan

    • calendar_month Kam, 22 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 173
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Dalam rangka melakukan pengabdian yang bertempat di RT 1/XIV Kelurahan Tambakaji Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, mahasiswa peserta KKN Reguler dari rumah UIN Walisongo Semarang turut andil dalam melakukan usaha pencegahan COVID-19. Usaha yang dilakukan kali ini yaitu dengan membuat minuman herbal tradisional. Minuman herbal tradisional terdiri dari perpaduan kunyit, gula merah, gula pasir, pandan, […]

  • Festival Pasar Sehat UMKM Kecamatan Ngaliyan, Wadah Kolaborasi Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bersama KitaZone

    Festival Pasar Sehat UMKM Kecamatan Ngaliyan, Wadah Kolaborasi Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bersama KitaZone

    • calendar_month Sen, 1 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 197
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan UMKM KitaZone dalam Festival Pasar Sehat UMKM Ngaliyan. Festival ini digelar oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro di halaman Kantor Kecamatan Ngaliyan, Sabtu-Minggu (30-31/10/2021). Anggota Kelompok 11 KKN RdR ke-77 UIN Walisongo turut serta membantu UMKM […]

  • Dari Ratusan Pendaftar, Berikut Daftar Nama yang Lolos Menjadi Kru Magang LPM Invest 2023

    Dari Ratusan Pendaftar, Berikut Daftar Nama yang Lolos Menjadi Kru Magang LPM Invest 2023

    • calendar_month Sel, 5 Sep 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Rangkaian seleksi Open Recruitment LPM Invest 2023 telah memasuki tahap akhir. Setelah sebelumnya sudah dilaksanakan pembukaan pendaftaran dan pengumpulan karya pada (06-25/08/2023) yang diikuti oleh sekitar 170-an mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Kemudian dilanjutkan dengan Selayang Pandang LPM Invest yang sudah dilaksanakan pada (26/08/2023). Hingga memasuki ke tahap wawancara yang sudah terlaksana dalam […]

  • Kisah Komedi Horor Epik di Film Agak Laen

    Kisah Komedi Horor Epik di Film Agak Laen

    • calendar_month Rab, 3 Apr 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 418
    • 0Komentar

    Identitas Film Judul Agak Laen Sutradara Muhadkly Acho Produser Ernest Prakasa dan Dipa Andika Ditulis oleh Muhadkly Acho Pemeran Boris Bokir, Indra Jegel, Bene Dion, Oki Rengga, Tissa Biani, Arie Kriting, dan lain-lain Perusahaan Produksi Imajinari Jagartha Trinity Entertainment Network A&Z Films Tanggal Rilis 1 Februari 2024 (Indonesia) 7 Maret 2024 (Malaysia dan Brunei Darussalam) […]

expand_less