Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Jejak Luka yang Berbicara

Jejak Luka yang Berbicara

  • account_circle admin1
  • calendar_month Kam, 12 Jun 2025
  • visibility 963
  • comment 0 komentar

Oleh : Selvina Idha Alifiani

Rumah Sakit Saga Pariwana telah menjadi rumah keduaku selama enam tahun terakhir. Di sini, aku menjalani peranku sebagai seorang bidan dengan kemampuan yang tidak biasa. Namaku Difa, usiaku baru menginjak 29 tahun. Awalnya kukira kemampuan ini adalah kutukan, namun seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa ini adalah anugerah yang harus kugunakan dengan bijak. Setiap kali tanganku menyentuh luka seseorang, aku seakan ditarik ke dalam pusaran waktu, menyaksikan langsung bagaimana luka itu tercipta. Sensasi ini selalu membuatku merinding, namun juga membantuku memahami pasien-pasienku lebih dalam.

Sore itu, suasana unit gawat darurat lebih ramai dari biasanya. Di tengah hiruk pikuk para perawat yang berlalu lalang, mataku tertuju pada seorang gadis remaja yang duduk gemetar di pojok ruangan. Namanya Gina, usianya baru 15 tahun. Tangannya yang pucat dipenuhi goresan-goresan merah yang masih baru. Tatapan matanya kosong, seolah jiwanya telah pergi entah kemana. Melihatnya, hatiku seperti tercubit. Berapa banyak rasa sakit yang harus dia tanggung hingga memilih menyakiti diri sendiri?

“Gina, biar Kakak obati lukanya ya,” kataku selembut mungkin, mencoba menenangkan ketakutan yang terpancar dari matanya.

Gina hanya mengangguk pelan, matanya masih berkaca-kaca. Begitu tanganku menyentuh lukanya, dunia di sekelilingku berputar seperti pusaran air…

Flash

Aku terseret ke dalam sebuah kamar remaja yang bernuansa biru pastel. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan foto-foto polaroid dan poster idol K-pop. Di kamar tersebut aku melihat Gina duduk meringkuk di sudut tempat tidurnya, tangannya gemetar memegang silet sementara matanya terpaku pada layar ponsel. Air mata mulai mengalir perlahan membasahi pipinya.

Notifikasi ponselnya terus berdering tanpa henti. Grup chat kelasnya dipenuhi hinaan dan cacian. “Dasar sombong!” “Mentang-mentang pintar, tidak mau berbagi!” “Lihat saja, kita buat dia menyesal!” Foto-fotonya yang diedit secara memalukan tersebar di grup. Bahkan ada yang membuat akun palsu mengatasnamakan dirinya, mengirimkan pesan-pesan tidak sopan kepada guru.

Kulihat di meja belajarnya tergeletak kertas ulangan matematika dengan nilai sempurna, sementara di sampingnya ada pengumuman hasil ulangan kelas yang baru ditempel di grup. Dari 30 siswa, hanya Gina yang tidak perlu mengikuti remidi. Semua bermula ketika dia menolak memberikan contekan saat ulangan matematika minggu lalu. “Maaf, aku tidak bisa. Itu tidak jujur,” katanya waktu itu. Sejak saat itu, teman-temannya yang dulu akrab dengannya mulai menjauhi dan memusuhinya.

Di sudut kamar, ada sebuah buku diary yang terbuka. Halaman-halamannya basah oleh air mata, berisi curahan hati tentang dilema yang dia hadapi. “Aku hanya ingin jujur… tapi kenapa malah seperti ini? Apa aku salah kalau ingin berbuat benar? Apa aku harus mengalah agar punya teman?” tulisnya dengan tangan bergetar. Di halaman sebelumnya terselip foto-foto kenangan saat dia masih tertawa bersama teman-temannya, sebelum kejadian ulangan itu mengubah segalanya.

Back to reality

“Gina,” panggilku pelan sambil membersihkan lukanya dengan hati-hati. “Kamu tahu? Mereka yang menyakitimu lewat kata-kata, mereka yang sebenarnya lemah. Mereka hanya mampu bersembunyi di balik layar, tidak berani menghadapimu secara langsung.”

Difa menatapku terkejut. “Kakak… bagaimana bisa tahu?”

“Kakak pernah melalui masa-masa sulit juga,” jawabku dengan senyum tulus. “Dan percayalah, hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan memikirkan kata-kata mereka yang tidak mengenalmu dengan baik. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira.”

Setelah selesai membalut lukanya, aku mengeluarkan kartu nama psikiater anak yang kupercaya, Dr. Maya. “Kalau kamu mau bicara lebih banyak, dokter ini bisa membantumu. Dia sangat baik dan pasti bisa membantumu melihat betapa berharganya dirimu.”

Gina mengambil kartu itu dengan ragu. “Terima kasih, Kak. Aku… aku akan mencoba.”

Setelah memastikan Gina dijemput oleh ibunya, aku kembali ke ruang jaga untuk mengisi beberapa berkas. Pikiranku masih dipenuhi bayangan Gina ketika suara gaduh dari lorong mengalihkan perhatianku. Para perawat bergegas mendorong brankar berisi seorang pria paruh baya. Kakinya terluka parah, dengan darah yang masih mengalir.

Begitu aku menyentuh lukanya untuk membersihkan…

Flash

Aku melihat dia berdiri di atas tangga kayu yang sudah tua, mencoba mengganti lampu yang berkedip-kedip. Di bawah, cucunya yang masih kecil bermain-main dengan mobil-mobilan. Melihat cucunya hampir tersandung mainan, dia refleks bergerak cepat, membuat dirinya sendiri kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai keramik yang keras.

Back to reality

“Pak Hasan, cucunya tidak apa-apa kan?” tanyaku sambil mengobati lukanya dengan telaten.

“Lho, kok tahu nama saya? Dan… tahu soal cucu saya?” dia menatapku dengan mata penuh tanya.

Aku tersenyum hangat. “Saya dengar dari perawat tadi. Bapak sungguh kakek yang luar biasa, rela terluka demi melindungi cucu. Tapi lain kali, lebih baik minta bantuan untuk mengganti lampu ya, Pak. Nyawa Bapak juga sama berharganya.”

Malam semakin larut ketika aku menyelesaikan shift-ku. Sambil membereskan peralatan, pikiranku melayang pada semua pasien yang kutemui hari ini. Setiap luka yang kusentuh membawa ceritanya sendiri – kisah tentang pengorbanan, kesedihan, perjuangan, dan harapan. Kemampuan ini memang terkadang membuatku lelah secara emosional, tapi juga memberiku kesempatan untuk memahami dan membantu mereka dengan cara yang lebih dalam.

“Setiap luka punya ceritanya sendiri,” gumamku pelan sambil menatap langit malam dari jendela rumah sakit. “Dan setiap cerita layak untuk didengar, setiap jiwa layak untuk diselamatkan.”

Di perjalanan pulang, aku berdoa semoga Gina akan menemukan kekuatannya kembali, dan semoga Pak Hasan lekas sembuh. Besok adalah hari baru, dengan cerita-cerita baru yang menunggu untuk didengar dan luka-luka baru yang menunggu untuk disembuhkan. Dan aku, Difa, akan selalu siap mendengarkan kisah di balik setiap luka yang kusentuh.

[ Pengurus Invest Website Periode 24/25 ]
  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Senam Sehat Digalakkan oleh Tim KKN RdR UIN Walisongo

    Senam Sehat Digalakkan oleh Tim KKN RdR UIN Walisongo

    • calendar_month Ming, 1 Nov 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 732
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Olahraga merupakan hal wajib yang seharusnya rutin dilakukan. Pepatah mengatakan bahwa di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Makanan yang bergizi saja tidaklah cukup untuk membuat tubuh sehat, tetapi harus diimbangi dengan olahraga. “Di tengah pandemi COVID-19 sekarang ini, imunitas tubuh harus terus dijaga agar tidak mudah terserang berbagai penyakit. Oleh karena itu, […]

  • Sempat Mengalami Kendala, Namun Paper Mob Tetap Berjalan dengan Baik

    Sempat Mengalami Kendala, Namun Paper Mob Tetap Berjalan dengan Baik

    • calendar_month Sab, 5 Agu 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 1.009
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sebagai bagian dari rangkaian acara pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Sabtu (5/8/2023) paper mob fakultas turut menghidupkan keseruan PBAK. Acara ini diikuti oleh seluruh mahasiswa baru namun dipisahkan tiap fakultasnya. Sesuai dengan tema PBAK tahun ini mengenai peduli lingkungan, panitia paper mob fakultas menggunakan kertas warna yang pada hari sebelumnya sudah digunakan […]

  • Medali Perak Kembali Disumbangkan Cabor Tenis Meja Untuk FEBI

    Medali Perak Kembali Disumbangkan Cabor Tenis Meja Untuk FEBI

    • calendar_month Rab, 18 Sep 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 802
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah dan Keterampilan (Orsenik) kembali diselenggarakan oleh UIN Walisongo Semarang. Agenda tahunan bagi mahasiswa baru (maba) tersebut secara resmi dibuka oleh Rektor UIN Walisongo, Imam Taufik. Rabu, (18/9/2019). Cabang olahraga (cabor) tenis meja merupakan salah satu yang diperlombakan di hari pertama Orsenik 2019. Perlombaan cabor tersebut berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) […]

  • Filosofi FEBI De-Volution: Puncak Ulang Tahun FEBI ke-10

    Filosofi FEBI De-Volution: Puncak Ulang Tahun FEBI ke-10

    • calendar_month Jum, 17 Nov 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 869
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang mengadakan jalan sehat dalam rangka ulang tahun FEBI yang ke-10 yang diberi nama FEBI DEVOLUTION. Kepanjangan dari nama FEBI De-Volution sendiri adalah Dekade Revolusi. Maksudnya, FEBI akan terus berevolusi setelah usianya 10 tahun.   Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (17/11/23) di depan Gedung Dekan […]

  • Pelepasan Calon Wisudawan FEBI; 153 Orang Siap Hadapi Langkah Selanjutnya

    Pelepasan Calon Wisudawan FEBI; 153 Orang Siap Hadapi Langkah Selanjutnya

    • calendar_month Sel, 7 Feb 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 704
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Fakultas Ekonomi dan Bisnis Syariah (FEBI) UIN Walisongo selenggarakan Pelepasan Calon Wisudawan pada Selasa (07/02/2023) di Merapi Hall, Hotel Grasia Semarang. Pelepasan calon wisudawan fakultas ke-24 itu dihadiri oleh Petinggi Fakultas dan Kepala Jurusan (Kajur) dari masing-masing jurusan yang ada di FEBI serta wisudawan yang hari ini akan dilepas. Acara tersebut berjalan secara hikmat […]

  • RESTRUKTURISASI KEUANGAN PRIBADI DI TENGAH PANDEMI

    RESTRUKTURISASI KEUANGAN PRIBADI DI TENGAH PANDEMI

    • calendar_month Kam, 19 Nov 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 731
    • 0Komentar

      “Semua kekecewaan harus dialirkan menjadi energi positif untuk bekerja lebih baik dan lebih keras lagi, sehingga berbagai prestasi yang lebih baik dan lebih tinggi bisa diraih,”ujar Sri Mulyani. Sepertinya ungkapan tersebut sangat relevan dengan keadaan sekarang. Di tengah pandemi covid-19 yang tak tahu menahu kapan berakhirnya ini, sehingga menyebabkan hampir seluruh sektor perekonomian terdampak […]

expand_less