Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Jejak Luka yang Berbicara

Jejak Luka yang Berbicara

  • account_circle admin1
  • calendar_month Kam, 12 Jun 2025
  • visibility 965
  • comment 0 komentar

Oleh : Selvina Idha Alifiani

Rumah Sakit Saga Pariwana telah menjadi rumah keduaku selama enam tahun terakhir. Di sini, aku menjalani peranku sebagai seorang bidan dengan kemampuan yang tidak biasa. Namaku Difa, usiaku baru menginjak 29 tahun. Awalnya kukira kemampuan ini adalah kutukan, namun seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa ini adalah anugerah yang harus kugunakan dengan bijak. Setiap kali tanganku menyentuh luka seseorang, aku seakan ditarik ke dalam pusaran waktu, menyaksikan langsung bagaimana luka itu tercipta. Sensasi ini selalu membuatku merinding, namun juga membantuku memahami pasien-pasienku lebih dalam.

Sore itu, suasana unit gawat darurat lebih ramai dari biasanya. Di tengah hiruk pikuk para perawat yang berlalu lalang, mataku tertuju pada seorang gadis remaja yang duduk gemetar di pojok ruangan. Namanya Gina, usianya baru 15 tahun. Tangannya yang pucat dipenuhi goresan-goresan merah yang masih baru. Tatapan matanya kosong, seolah jiwanya telah pergi entah kemana. Melihatnya, hatiku seperti tercubit. Berapa banyak rasa sakit yang harus dia tanggung hingga memilih menyakiti diri sendiri?

“Gina, biar Kakak obati lukanya ya,” kataku selembut mungkin, mencoba menenangkan ketakutan yang terpancar dari matanya.

Gina hanya mengangguk pelan, matanya masih berkaca-kaca. Begitu tanganku menyentuh lukanya, dunia di sekelilingku berputar seperti pusaran air…

Flash

Aku terseret ke dalam sebuah kamar remaja yang bernuansa biru pastel. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan foto-foto polaroid dan poster idol K-pop. Di kamar tersebut aku melihat Gina duduk meringkuk di sudut tempat tidurnya, tangannya gemetar memegang silet sementara matanya terpaku pada layar ponsel. Air mata mulai mengalir perlahan membasahi pipinya.

Notifikasi ponselnya terus berdering tanpa henti. Grup chat kelasnya dipenuhi hinaan dan cacian. “Dasar sombong!” “Mentang-mentang pintar, tidak mau berbagi!” “Lihat saja, kita buat dia menyesal!” Foto-fotonya yang diedit secara memalukan tersebar di grup. Bahkan ada yang membuat akun palsu mengatasnamakan dirinya, mengirimkan pesan-pesan tidak sopan kepada guru.

Kulihat di meja belajarnya tergeletak kertas ulangan matematika dengan nilai sempurna, sementara di sampingnya ada pengumuman hasil ulangan kelas yang baru ditempel di grup. Dari 30 siswa, hanya Gina yang tidak perlu mengikuti remidi. Semua bermula ketika dia menolak memberikan contekan saat ulangan matematika minggu lalu. “Maaf, aku tidak bisa. Itu tidak jujur,” katanya waktu itu. Sejak saat itu, teman-temannya yang dulu akrab dengannya mulai menjauhi dan memusuhinya.

Di sudut kamar, ada sebuah buku diary yang terbuka. Halaman-halamannya basah oleh air mata, berisi curahan hati tentang dilema yang dia hadapi. “Aku hanya ingin jujur… tapi kenapa malah seperti ini? Apa aku salah kalau ingin berbuat benar? Apa aku harus mengalah agar punya teman?” tulisnya dengan tangan bergetar. Di halaman sebelumnya terselip foto-foto kenangan saat dia masih tertawa bersama teman-temannya, sebelum kejadian ulangan itu mengubah segalanya.

Back to reality

“Gina,” panggilku pelan sambil membersihkan lukanya dengan hati-hati. “Kamu tahu? Mereka yang menyakitimu lewat kata-kata, mereka yang sebenarnya lemah. Mereka hanya mampu bersembunyi di balik layar, tidak berani menghadapimu secara langsung.”

Difa menatapku terkejut. “Kakak… bagaimana bisa tahu?”

“Kakak pernah melalui masa-masa sulit juga,” jawabku dengan senyum tulus. “Dan percayalah, hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan memikirkan kata-kata mereka yang tidak mengenalmu dengan baik. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira.”

Setelah selesai membalut lukanya, aku mengeluarkan kartu nama psikiater anak yang kupercaya, Dr. Maya. “Kalau kamu mau bicara lebih banyak, dokter ini bisa membantumu. Dia sangat baik dan pasti bisa membantumu melihat betapa berharganya dirimu.”

Gina mengambil kartu itu dengan ragu. “Terima kasih, Kak. Aku… aku akan mencoba.”

Setelah memastikan Gina dijemput oleh ibunya, aku kembali ke ruang jaga untuk mengisi beberapa berkas. Pikiranku masih dipenuhi bayangan Gina ketika suara gaduh dari lorong mengalihkan perhatianku. Para perawat bergegas mendorong brankar berisi seorang pria paruh baya. Kakinya terluka parah, dengan darah yang masih mengalir.

Begitu aku menyentuh lukanya untuk membersihkan…

Flash

Aku melihat dia berdiri di atas tangga kayu yang sudah tua, mencoba mengganti lampu yang berkedip-kedip. Di bawah, cucunya yang masih kecil bermain-main dengan mobil-mobilan. Melihat cucunya hampir tersandung mainan, dia refleks bergerak cepat, membuat dirinya sendiri kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai keramik yang keras.

Back to reality

“Pak Hasan, cucunya tidak apa-apa kan?” tanyaku sambil mengobati lukanya dengan telaten.

“Lho, kok tahu nama saya? Dan… tahu soal cucu saya?” dia menatapku dengan mata penuh tanya.

Aku tersenyum hangat. “Saya dengar dari perawat tadi. Bapak sungguh kakek yang luar biasa, rela terluka demi melindungi cucu. Tapi lain kali, lebih baik minta bantuan untuk mengganti lampu ya, Pak. Nyawa Bapak juga sama berharganya.”

Malam semakin larut ketika aku menyelesaikan shift-ku. Sambil membereskan peralatan, pikiranku melayang pada semua pasien yang kutemui hari ini. Setiap luka yang kusentuh membawa ceritanya sendiri – kisah tentang pengorbanan, kesedihan, perjuangan, dan harapan. Kemampuan ini memang terkadang membuatku lelah secara emosional, tapi juga memberiku kesempatan untuk memahami dan membantu mereka dengan cara yang lebih dalam.

“Setiap luka punya ceritanya sendiri,” gumamku pelan sambil menatap langit malam dari jendela rumah sakit. “Dan setiap cerita layak untuk didengar, setiap jiwa layak untuk diselamatkan.”

Di perjalanan pulang, aku berdoa semoga Gina akan menemukan kekuatannya kembali, dan semoga Pak Hasan lekas sembuh. Besok adalah hari baru, dengan cerita-cerita baru yang menunggu untuk didengar dan luka-luka baru yang menunggu untuk disembuhkan. Dan aku, Difa, akan selalu siap mendengarkan kisah di balik setiap luka yang kusentuh.

[ Pengurus Invest Website Periode 24/25 ]
  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alchemy of Souls (Season 1)

    • calendar_month Rab, 16 Apr 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 3.553
    • 0Komentar

    Identitas Film Judul                  : Alchemy of Souls (Season 1) Genre                 : Fantasy, Romance, Historical, Action Durasi                : 20 episode (sekitar 60–80 menit per episode) Sutradara           : Park Joon-hwa Penulis  […]

  • GenBI UIN Walisongo Gelar Kitchen Talk, Perkenalkan Superfood Lokal untuk Cegah Stunting

    • calendar_month Kam, 20 Feb 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 794
    • 0Komentar

    lpminvest.com– GenBI Komisariat Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar kegiatan Kitchen Talk bertema “Superfood Lokal: Bahan Lokal dengan Gizi Maksimal” pada hari Minggu (16/2/2025) di Balai Desa Getas. Tujuan penyelenggaran kegiatan tersebut untuk mengenalkan bahan pangan lokal bernilai gizi tinggi, meningkatkan kesadaran pola makan sehat, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam pencegahan stunting melalui pemanfaatan […]

  • Sayap-Sayap Patah 2

    • calendar_month Sen, 19 Mei 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 1.596
    • 0Komentar

    Identitas Film Judul              : Sayap-sayap patah 2 Sutradara       : Ferry Fei Irawan Produser        : Denny Siregar Production Ditulis oleh    : Rahabi Mandra dan Jocelyn Cordelia Pemeran        : Arya Saloka, Dara Sarasvati, Juan Bio One, Nugie, Iwa K, Myesha Lin, Muhammad […]

  • Perkuat Nilai Moderasi Beragama, KKN Reg-82 Posko 2 UIN Walisongo Semarang Berkolaborasi Dalam Pagelaran Wayang Kulit Warga Dusun Pencar Desa Kaliputih

    • calendar_month Sen, 13 Mei 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 759
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Dusun Pencar, Desa Kaliputih, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dalam rangka merti dusun pada Jumat (10/5/2024). Kegiatan ini diselenggarakan di RT 04 RW 04 tepatnya di depan PAUD KB Tunas Bangsa. Tim KKN Reg-82 Posko 2 UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan sesepuh, lembaga desa, pemuda dan warga Dusun […]

  • Fisik Tak Mengubah Guna

    • calendar_month Sel, 1 Mei 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 728
    • 0Komentar

    Oleh: Dwi Ari A. Kala tarian impi terngiang di pikiran Sesak sendu menyelimuti perjuangan Dua hasil terselip di permukaan harap Antara kegagalan dan keberhasilan Keduanya langkah ikrar citamu Sepenuh daya kau peruntukkan Tuk berjuang melawan soal di medan perang Menaklukkan waktu bagai musuh Ketenangan adalah bakat batin tak tertandingi Perguruan tinggi yang kau harap Hanya […]

  • Rektor Baru Sambut Maba 2019, Ini Wejangan yang Disampaikan

    • calendar_month Sen, 19 Agu 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 694
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Pada pembukaan acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2019, rektor baru UIN Walisongo Semarang Imam Taufiq menyambut dan mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa baru (maba) UIN Walisongo 2019. Pada kesempatan itu, Imam Taufik juga memberikan wejangan-wejangan kepada maba 2019. “Selamat kepada 4.419 mahasiswa baru, selamat datang di kampus untuk kemanusiaan dan peradaban,” ucapnya […]

expand_less
Exit mobile version