Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Jejak Luka yang Berbicara

Jejak Luka yang Berbicara

  • account_circle admin1
  • calendar_month Kam, 12 Jun 2025
  • visibility 876
  • comment 0 komentar

Oleh : Selvina Idha Alifiani

Rumah Sakit Saga Pariwana telah menjadi rumah keduaku selama enam tahun terakhir. Di sini, aku menjalani peranku sebagai seorang bidan dengan kemampuan yang tidak biasa. Namaku Difa, usiaku baru menginjak 29 tahun. Awalnya kukira kemampuan ini adalah kutukan, namun seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa ini adalah anugerah yang harus kugunakan dengan bijak. Setiap kali tanganku menyentuh luka seseorang, aku seakan ditarik ke dalam pusaran waktu, menyaksikan langsung bagaimana luka itu tercipta. Sensasi ini selalu membuatku merinding, namun juga membantuku memahami pasien-pasienku lebih dalam.

Sore itu, suasana unit gawat darurat lebih ramai dari biasanya. Di tengah hiruk pikuk para perawat yang berlalu lalang, mataku tertuju pada seorang gadis remaja yang duduk gemetar di pojok ruangan. Namanya Gina, usianya baru 15 tahun. Tangannya yang pucat dipenuhi goresan-goresan merah yang masih baru. Tatapan matanya kosong, seolah jiwanya telah pergi entah kemana. Melihatnya, hatiku seperti tercubit. Berapa banyak rasa sakit yang harus dia tanggung hingga memilih menyakiti diri sendiri?

“Gina, biar Kakak obati lukanya ya,” kataku selembut mungkin, mencoba menenangkan ketakutan yang terpancar dari matanya.

Gina hanya mengangguk pelan, matanya masih berkaca-kaca. Begitu tanganku menyentuh lukanya, dunia di sekelilingku berputar seperti pusaran air…

Flash

Aku terseret ke dalam sebuah kamar remaja yang bernuansa biru pastel. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan foto-foto polaroid dan poster idol K-pop. Di kamar tersebut aku melihat Gina duduk meringkuk di sudut tempat tidurnya, tangannya gemetar memegang silet sementara matanya terpaku pada layar ponsel. Air mata mulai mengalir perlahan membasahi pipinya.

Notifikasi ponselnya terus berdering tanpa henti. Grup chat kelasnya dipenuhi hinaan dan cacian. “Dasar sombong!” “Mentang-mentang pintar, tidak mau berbagi!” “Lihat saja, kita buat dia menyesal!” Foto-fotonya yang diedit secara memalukan tersebar di grup. Bahkan ada yang membuat akun palsu mengatasnamakan dirinya, mengirimkan pesan-pesan tidak sopan kepada guru.

Kulihat di meja belajarnya tergeletak kertas ulangan matematika dengan nilai sempurna, sementara di sampingnya ada pengumuman hasil ulangan kelas yang baru ditempel di grup. Dari 30 siswa, hanya Gina yang tidak perlu mengikuti remidi. Semua bermula ketika dia menolak memberikan contekan saat ulangan matematika minggu lalu. “Maaf, aku tidak bisa. Itu tidak jujur,” katanya waktu itu. Sejak saat itu, teman-temannya yang dulu akrab dengannya mulai menjauhi dan memusuhinya.

Di sudut kamar, ada sebuah buku diary yang terbuka. Halaman-halamannya basah oleh air mata, berisi curahan hati tentang dilema yang dia hadapi. “Aku hanya ingin jujur… tapi kenapa malah seperti ini? Apa aku salah kalau ingin berbuat benar? Apa aku harus mengalah agar punya teman?” tulisnya dengan tangan bergetar. Di halaman sebelumnya terselip foto-foto kenangan saat dia masih tertawa bersama teman-temannya, sebelum kejadian ulangan itu mengubah segalanya.

Back to reality

“Gina,” panggilku pelan sambil membersihkan lukanya dengan hati-hati. “Kamu tahu? Mereka yang menyakitimu lewat kata-kata, mereka yang sebenarnya lemah. Mereka hanya mampu bersembunyi di balik layar, tidak berani menghadapimu secara langsung.”

Difa menatapku terkejut. “Kakak… bagaimana bisa tahu?”

“Kakak pernah melalui masa-masa sulit juga,” jawabku dengan senyum tulus. “Dan percayalah, hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan memikirkan kata-kata mereka yang tidak mengenalmu dengan baik. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira.”

Setelah selesai membalut lukanya, aku mengeluarkan kartu nama psikiater anak yang kupercaya, Dr. Maya. “Kalau kamu mau bicara lebih banyak, dokter ini bisa membantumu. Dia sangat baik dan pasti bisa membantumu melihat betapa berharganya dirimu.”

Gina mengambil kartu itu dengan ragu. “Terima kasih, Kak. Aku… aku akan mencoba.”

Setelah memastikan Gina dijemput oleh ibunya, aku kembali ke ruang jaga untuk mengisi beberapa berkas. Pikiranku masih dipenuhi bayangan Gina ketika suara gaduh dari lorong mengalihkan perhatianku. Para perawat bergegas mendorong brankar berisi seorang pria paruh baya. Kakinya terluka parah, dengan darah yang masih mengalir.

Begitu aku menyentuh lukanya untuk membersihkan…

Flash

Aku melihat dia berdiri di atas tangga kayu yang sudah tua, mencoba mengganti lampu yang berkedip-kedip. Di bawah, cucunya yang masih kecil bermain-main dengan mobil-mobilan. Melihat cucunya hampir tersandung mainan, dia refleks bergerak cepat, membuat dirinya sendiri kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai keramik yang keras.

Back to reality

“Pak Hasan, cucunya tidak apa-apa kan?” tanyaku sambil mengobati lukanya dengan telaten.

“Lho, kok tahu nama saya? Dan… tahu soal cucu saya?” dia menatapku dengan mata penuh tanya.

Aku tersenyum hangat. “Saya dengar dari perawat tadi. Bapak sungguh kakek yang luar biasa, rela terluka demi melindungi cucu. Tapi lain kali, lebih baik minta bantuan untuk mengganti lampu ya, Pak. Nyawa Bapak juga sama berharganya.”

Malam semakin larut ketika aku menyelesaikan shift-ku. Sambil membereskan peralatan, pikiranku melayang pada semua pasien yang kutemui hari ini. Setiap luka yang kusentuh membawa ceritanya sendiri – kisah tentang pengorbanan, kesedihan, perjuangan, dan harapan. Kemampuan ini memang terkadang membuatku lelah secara emosional, tapi juga memberiku kesempatan untuk memahami dan membantu mereka dengan cara yang lebih dalam.

“Setiap luka punya ceritanya sendiri,” gumamku pelan sambil menatap langit malam dari jendela rumah sakit. “Dan setiap cerita layak untuk didengar, setiap jiwa layak untuk diselamatkan.”

Di perjalanan pulang, aku berdoa semoga Gina akan menemukan kekuatannya kembali, dan semoga Pak Hasan lekas sembuh. Besok adalah hari baru, dengan cerita-cerita baru yang menunggu untuk didengar dan luka-luka baru yang menunggu untuk disembuhkan. Dan aku, Difa, akan selalu siap mendengarkan kisah di balik setiap luka yang kusentuh.

[ Pengurus Invest Website Periode 24/25 ]
  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Seminar dan Lokakarya HMJ S1 PBAS; Mahasiswa Harus Bangun Kepercayaan Diri Lewat Industri Perbankan

    • calendar_month Sen, 8 Mei 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 621
    • 0Komentar

    lpminvest.com­- Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) S1 Perbankan Syariah (PBAS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang mengadakan Semiloka (Seminar dan Lokakarya) Nasional di Gedung Teater Soshum Lantai 3, pada Senin (8/5/2023). Semiloka Nasional ini akan diadakan selama 2 hari yaitu hari senin dan kamis mendatang. Seminar Nasional ini mengusung tema “Membangun Kepercayaan Diri […]

  • Kebijakan Baru, FEBI Bentuk Komunitas Penerima Beasiswa Prestasi

    • calendar_month Sen, 23 Okt 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 644
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Hasil seleksi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) menetapkan 35 mahasiswa terpilih sebagai nominator penerima Beasiswa Prestasi. Selanjutnya, diadakan sosialisasi bagi para nominator sekaligus pembentukan komunitas penerima Beasiswa Prestasi FEBI. Jumat, (20/10/17). “Ini kebijakan baru di tingkat fakultas, yang di tahun sebelumnya belum ada. Maka tahun ini kita adakan. Komunitas ini secara bersama-sama akan […]

  • Soft Launching Lagu “Profesorku Keren” Ikut Memeriahkan Febiversary ke-9

    • calendar_month Jum, 9 Des 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 863
    • 0Komentar

    lpminvest.com –  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) memperingati anniversary yang ke-9 pada jumat, (9/12/2022) bertempat di area Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini megangkat tema “Getting Better and Contribute More”. Acara ini dimeriahkan oleh sejumlah dosen, tenaga pendidik (tendik), dan mahasiswa FEBI. Acara febiversary dimulai pukul 07.00 yang […]

  • Kalahkan Monster Oligarki, DEMA FEBI Selenggarakan Nobar “Sa Pu Hutan”

    • calendar_month Kam, 9 Des 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 858
    • 0Komentar

      lpminvest.com–Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (DEMA FEBI) UIN Walisongo Semarang menyelengarakan acara Nonton Bareng (Nobar) film yang bertajuk Sa Pu Hutan, episode ketiga dari seri film “Demi 1%.” Acara tersebut dibuka untuk umum, pada Kamis, (9/12/2021). Nobar ini di selenggarakan untuk kalahkan monster oligarki, serta melindungi bumi dari kerusakan lingkungan dan […]

  • Prodi D3 Perbankan Syariah  Menandatangani MoU dengan LKS

    • calendar_month Kam, 6 Apr 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 763
    • 0Komentar

      lpminvest.com– Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang kembali mengadakan acara dengan tema “Evaluasi Kegiatan PKL/magang dan Silaturrahmi dengan Mitra Kerja”. Acara ini diselenggarakan di Ball room hotel Pandanaran Semarang. Selasa, (4/4/2017). Acara ini dihadiri  segenap civitas akademika dilingkungan Prodi D3 Perbankan Syariah, serta mitra kerja lembaga keuangan syariah. Menurut Dekan FEBI, […]

  • KSPM Manfaatkan Kahoot Sebagai Edukasi dalam Acara IRING 2024

    • calendar_month Jum, 8 Mar 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 600
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar acara Investor Gathering dengan tema “Market indonesia pasca tahun politik dan tantangan global” pada Rabu (7/3/2024), yang di laksanakan di Gedung Teater Soshum Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Peserta acara Investor Gathering ini dari KSPM se-Kota Semarang, yang kebetulan pada event kali […]

expand_less
Exit mobile version