Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Ia, yang Terpaksa Melacur

Ia, yang Terpaksa Melacur

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sen, 17 Okt 2016
  • visibility 498
  • comment 0 komentar

AKU tak benar-benar mengenalnya, hanya saja aku sempat tahu nama belakangnya, Syafa, kala itu, kira-kira dua tahun yang lalu, aku berjalan di sore yang riuh di Jalan Prof. Hamka Ngaliyan Semarang. Tak sengaja ia berada di halte bus depan Ngaliyan Square, karena dari jauh ia memandangku tajam, lalu ketika dekat, kuberanikan diri untuk menghentikan langkahku sejenak di halte tempat ia menunggu bus. Walaupun aku tidak hendak menunggu bus, hanya saja tiba-tiba aku ingin berkenalan dengannya. “Maaf, ikut duduk ya, saya kelelahan mau ikut istirahat,” aku berucap ke perempuan bermata sabit itu.

“Silahkan mas,” begitu ia menjawabnya, tentu dengan nada dingin, sedingin sorot matanya.

“Apakah aku boleh tahu Nona hendak kemana?,” tanyaku, bermaksud memulai pembicaraan.

“Aku hendak ke terminal Terboyo mas,” ia menjawab seperlunya.

“Nama Nona siapa? Kalau saya boleh tahu,” selidikku sembari aku mengalihkan arah badanku ke arahnya, “sreeetttt..,” yang semula aku menghadap ke arah jalan.

“Namaku Syafa, maaf ada apa ya mas,” ia menjawab dan kembali melempar tanya.

“Nggak ada apa-apa Nona, hanya saja dari tadi aku melihat Nona dari kejauhan, Nona tampak memandangku, aku penasaran, ada apa?,” aku menjawab lalu kembali bertanya.

“Oh, iya mas, soalnya dari tadi di halte ini sepi banget, saya takut, maaf, makannya saya tadi memperhatikan mas, karena ada laki-laki dan di sini dalam keadaan sepi,” ia menjelaskan.

“Paham!” jawabku singkat.

Tidak lama perbincanganku dengan Nona Syafa, bus Trans Semarang datang dari arah Boja, “saya duluan mas,” ia pamit, “Boleh saya minta nomor kontak Nona? Siapa tahu kita bisa bersua di lain waktu,” tanyaku yang hanya dibalas dengan senyum simpul, tampak lesung pipi yang sangat indah. Sungguh.

Aku bingung, permintaanku hanya dibalas dengan senyum, apa maksudnya, setelah senyuman itu kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk bus, aku tak langsung beranjak dari dudukku, tanpa sadar kuperhatikan laju bus yang dinaikinya sampai bus benar-benar hilang dari pandanganku. Baru kemudian aku melanjutkan perjalananku, karena aku ada janji dengan teman di sebuah cafe tepat di ujung jalan.

***

Malam pun  tiba, di rumah, masih ramai seperti malam biasanya, namun, entah kenapa rasa sepi mulai menggangguku, tidak seperti biasanya, biasanya aku ikut larut dalam keramaian itu. Maka kuputuskan untuk beranjak ke kamar belakang, kamar yang biasanya kugunakan untuk menulis esay, cerpen, opini, atau apa saja yang butuh kutulis.

Aku duduk menghadap laptop yang masih terlipat, segera kubuka dan kuhidupkan, bermaksud untuk menulis opini yang akan kukirim ke koran Minggu, namun, jari tetaplah jari, yang akan bergerak ketika digerakkan, gerakan jari harus diikuti dengan pikiran yang fresh, agar tulisan terarah dan berisi. Bebal, malam ini sungguh otakku bebal, terganggu senyum simpul perempuan di halte sore tadi. Tapi sayang, aku hanya tahu nama belakangnya saja, aku gagal mendapat kontaknya. Gelisah mulai menyergap.

Aku beranjak dari kursi jengki tempat biasa aku menulis, aku berbaring di kasur lantai bersama dengan serakan buku-buku. Aku memandang ke arah langit-langit rumah, aku kaget, kenapa ada wajah perempuan sore tadi?, “aiihh..,” aku menyadari kalau aku terbayang-bayang dengan perempuan bernama belakang Syafa itu.

“Tok.. tok.. tok..,” suara dari belik pintu.

“Masuk,” sautku

“Kamu ngapain kok sendirian, nggak nimbrung di ruang tv sama adik-adikmu?,” tanya tamuku.

Ia yang mengetuk pintu yang mengganggu lamunanku itu bernama Rozi, ia temanku sejak kecil, “wah, kebetulan, sini aku mau cerita,” segera kusuruh ia duduk di sampingku.

Kuceritakan mengenai perempuan yang kutemui sore tadi, ia hanya mengangguk mendengarkan dengan seksama ceritaku, lalu ia bertanya “ciri-cirinya gimana?, kok sepertinya aku tidak asing dengan nama perempuan yang mengganggu pikiranmu itu,” tanyanya tanpa basa-basi.

“Nama perempuan itu Syafa,” jawabku setelah menyedot rokok kretek yang sedari tadi hanya kuletakkan di lekukan atas asbak kaca.

“Oalahhhhh…..,” setengah berteriak menandakan ia tahu perempuan yang ku maksud.

“Aku kenal dia, dia temanku kuliah, ia benar akan ke Terboyo, karena memang ia mondok tidak jauh dari terminal Terboyo,” jawabnya, yang langsung kusambut dengan teriakan “horeeeee…,” ia terperangah melihat aku berteriak, “kenapa hore?,” tanyanya. “Kalau kamu tahu perempuan bermata sabit itu berarti kan aku bisa minta kamu kontak dia,” jawabku.

“Gampang kalau soal itu,” ia menyanggupi permintaanku.

***

Temanku, yang mengganggu lamunanku itu bercerita panjang lebar mengenai latar belakang perempuan berlesung pipi sore tadi. Tak kusangka, ternyata di balik senyumannya, ia, si perempuan indah itu, menyimpan lara yang mendalam, ia adalah perempun yang sedang mondok di sekitar terminal Terboyo, ia juga bekas pelacur, ia mondok karena setiap ia melayani laki-laki setiap malamnya hatinya meronta tak karuan, lalu ia putuskan berhenti, dan mencari ketenangan di pondok, mungkin kalau menurut pelacur lain, melakukan sex untuk bekerja dan sekaligus mendapatkan uang, tapi tidak dengan Syafa, ia melacur karena dipaksa keadaan, ibunya terlilit utang ke rentenir, padahal ibunya sedang sakit keras, hanya ia anak satu-satunya, bapaknya meninggal dua tahun lalu. Maka ia harus menanggung beban sedemikian berat untuk membantu ibunya melunasi hutang, dan mencari uang untuk biaya berobat rutin setiap minggunya.

Air mataku meleleh, tanpa sadar pipiku basah, air mata tak tertahankan, dalam hati sontak berucap, “ternyata ia memendam beban yang begitu berat, bahkan, aku yang sebagai laki-laki belum tentu mampu menanggung beban seberat itu,”.

***

Semoga, semoga saja aku dipertemukan kembali dengan perempuan bernama belakang Syafa itu, perempuan yang rela melacur untuk membantu ibu yang sangat ia cintai, dan semoga perempuan berlesung pipi itu tetap kuat menjalani hidupnya, sungguh, aku ingin bersua kembali di lain kesempatan, tentu aku akan menghibur laranya. Bersabarlah kau, wahai perempuan kuat yang mengganggu malamku. Selamat malam dan selamat istirahat, biar aku mempersiapkan diriku untuk bersua kembali denganmu, barangkali diberi kesempatan. Semoga saja.

Oleh: M. Maulana Ali_Pemred LPM Invest

  • Penulis: admin1

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aktivis Bawah Pohon

    • calendar_month Sab, 19 Sep 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 459
    • 0Komentar

    Apakah sebelumnya kalian pernah mendengar istilah ini? Aktivis bawah pohon. Begitu kami  menyebut mereka para mahasiswa dan mahasiswi yang membuka stand di bawah pohon, sebelumnya saya juga terinspirasi dari seorang dosen saya yang bercerita melihat para mahasiswa yang sedang berkumpul disepanjang jalan kampus III UIN Walisongo dibawah-bawah pohon. Memilih tempat di bawah pohon bukanlah tanpa […]

  • RESTRUKTURISASI KEUANGAN PRIBADI DI TENGAH PANDEMI

    • calendar_month Kam, 19 Nov 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 525
    • 0Komentar

      “Semua kekecewaan harus dialirkan menjadi energi positif untuk bekerja lebih baik dan lebih keras lagi, sehingga berbagai prestasi yang lebih baik dan lebih tinggi bisa diraih,”ujar Sri Mulyani. Sepertinya ungkapan tersebut sangat relevan dengan keadaan sekarang. Di tengah pandemi covid-19 yang tak tahu menahu kapan berakhirnya ini, sehingga menyebabkan hampir seluruh sektor perekonomian terdampak […]

  • Smart Card; Terobosan Baru Resmi Rilis di Wisuda Daring

    • calendar_month Kam, 6 Agu 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 634
    • 0Komentar

    UIN Walisongo Semarang untuk pertama kali menggelar wisuda secara virtual. Acara ini merupakan rangkaian wisuda Doktor (S.3) ke-21, Magister (S.2) ke-45, Sarjana (S.1) ke-78, dan Diploma (D.3) ke-27 yang digelar di kanal youtube resmi UIN Walisongo. Kamis, (6/8/2020). Sebanyak 1.661 mahasiswa diwisuda dalam wisuda bertema Smart and Green Graduation ini. Prof. Dr H Imam Taufiq, […]

  • Aurum

    • calendar_month Rab, 31 Agu 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Aku kabarkan lagi, Aurum itu Papua Dikulum lain bangsa Setengah abad lamanya, Tanah gerilya tentara Belanda sampai Amerika Sampai para badut domestik dibuat telanjang Yang Mahal harganya. Televisi sudah mirip kipas angin Mengurangi Suhu panas di Papua Dengan meng-klik para germo artisan Membuat bunyi-bunyian dari notasi iklan. O, Koran-koran Yang menungging di halaman reklame Dimana […]

  • Terobosan Baru Prodi S1 PBS; Kuliah Sambil Outbound

    • calendar_month Sel, 19 Jan 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 554
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Progam Studi baru S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo telah merancang terobosan baru mengenai kegiatan belajar-mengajar yang akan dilaksanakan pada semester genap mendatang. Pada semester gasal lalu, jurusan baru ini telah melaksanakan evaluasi prodi dengan Subbag Akademik untuk mengetahui perkembangan akademik mahasiswa; dengan mengumpulkan koordinator-koordinator kelas untuk evaluasi penilaian dan […]

  • Behind The Scene Pertunjukan Mob PBAK UIN Walisongo 2018

    • calendar_month Sen, 27 Agu 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 482
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Kegiatan PBAK (Pengenalan Budaya dan Akademik-red) UIN Walisongo selalu memberikan kejutan yang berbeda setiap tahunnya. Salah satu kejutan yang dihadirkan UIN Walisongo di hari pertama PBAK tahun ini adalah pertunjukan Man of Board (MoB). Berbeda dengan MoB tahun lalu, MoB kali ini menggunakan atribut pompom. Pertunjukkan MoB yang diiringi lagu Kebyar-Kebyar (Indonesia Merah Darahku […]

expand_less
Exit mobile version