Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Ia, yang Terpaksa Melacur

Ia, yang Terpaksa Melacur

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sen, 17 Okt 2016
  • visibility 842
  • comment 0 komentar

AKU tak benar-benar mengenalnya, hanya saja aku sempat tahu nama belakangnya, Syafa, kala itu, kira-kira dua tahun yang lalu, aku berjalan di sore yang riuh di Jalan Prof. Hamka Ngaliyan Semarang. Tak sengaja ia berada di halte bus depan Ngaliyan Square, karena dari jauh ia memandangku tajam, lalu ketika dekat, kuberanikan diri untuk menghentikan langkahku sejenak di halte tempat ia menunggu bus. Walaupun aku tidak hendak menunggu bus, hanya saja tiba-tiba aku ingin berkenalan dengannya. “Maaf, ikut duduk ya, saya kelelahan mau ikut istirahat,” aku berucap ke perempuan bermata sabit itu.

“Silahkan mas,” begitu ia menjawabnya, tentu dengan nada dingin, sedingin sorot matanya.

“Apakah aku boleh tahu Nona hendak kemana?,” tanyaku, bermaksud memulai pembicaraan.

“Aku hendak ke terminal Terboyo mas,” ia menjawab seperlunya.

“Nama Nona siapa? Kalau saya boleh tahu,” selidikku sembari aku mengalihkan arah badanku ke arahnya, “sreeetttt..,” yang semula aku menghadap ke arah jalan.

“Namaku Syafa, maaf ada apa ya mas,” ia menjawab dan kembali melempar tanya.

“Nggak ada apa-apa Nona, hanya saja dari tadi aku melihat Nona dari kejauhan, Nona tampak memandangku, aku penasaran, ada apa?,” aku menjawab lalu kembali bertanya.

“Oh, iya mas, soalnya dari tadi di halte ini sepi banget, saya takut, maaf, makannya saya tadi memperhatikan mas, karena ada laki-laki dan di sini dalam keadaan sepi,” ia menjelaskan.

“Paham!” jawabku singkat.

Tidak lama perbincanganku dengan Nona Syafa, bus Trans Semarang datang dari arah Boja, “saya duluan mas,” ia pamit, “Boleh saya minta nomor kontak Nona? Siapa tahu kita bisa bersua di lain waktu,” tanyaku yang hanya dibalas dengan senyum simpul, tampak lesung pipi yang sangat indah. Sungguh.

Aku bingung, permintaanku hanya dibalas dengan senyum, apa maksudnya, setelah senyuman itu kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk bus, aku tak langsung beranjak dari dudukku, tanpa sadar kuperhatikan laju bus yang dinaikinya sampai bus benar-benar hilang dari pandanganku. Baru kemudian aku melanjutkan perjalananku, karena aku ada janji dengan teman di sebuah cafe tepat di ujung jalan.

***

Malam pun  tiba, di rumah, masih ramai seperti malam biasanya, namun, entah kenapa rasa sepi mulai menggangguku, tidak seperti biasanya, biasanya aku ikut larut dalam keramaian itu. Maka kuputuskan untuk beranjak ke kamar belakang, kamar yang biasanya kugunakan untuk menulis esay, cerpen, opini, atau apa saja yang butuh kutulis.

Aku duduk menghadap laptop yang masih terlipat, segera kubuka dan kuhidupkan, bermaksud untuk menulis opini yang akan kukirim ke koran Minggu, namun, jari tetaplah jari, yang akan bergerak ketika digerakkan, gerakan jari harus diikuti dengan pikiran yang fresh, agar tulisan terarah dan berisi. Bebal, malam ini sungguh otakku bebal, terganggu senyum simpul perempuan di halte sore tadi. Tapi sayang, aku hanya tahu nama belakangnya saja, aku gagal mendapat kontaknya. Gelisah mulai menyergap.

Aku beranjak dari kursi jengki tempat biasa aku menulis, aku berbaring di kasur lantai bersama dengan serakan buku-buku. Aku memandang ke arah langit-langit rumah, aku kaget, kenapa ada wajah perempuan sore tadi?, “aiihh..,” aku menyadari kalau aku terbayang-bayang dengan perempuan bernama belakang Syafa itu.

“Tok.. tok.. tok..,” suara dari belik pintu.

“Masuk,” sautku

“Kamu ngapain kok sendirian, nggak nimbrung di ruang tv sama adik-adikmu?,” tanya tamuku.

Ia yang mengetuk pintu yang mengganggu lamunanku itu bernama Rozi, ia temanku sejak kecil, “wah, kebetulan, sini aku mau cerita,” segera kusuruh ia duduk di sampingku.

Kuceritakan mengenai perempuan yang kutemui sore tadi, ia hanya mengangguk mendengarkan dengan seksama ceritaku, lalu ia bertanya “ciri-cirinya gimana?, kok sepertinya aku tidak asing dengan nama perempuan yang mengganggu pikiranmu itu,” tanyanya tanpa basa-basi.

“Nama perempuan itu Syafa,” jawabku setelah menyedot rokok kretek yang sedari tadi hanya kuletakkan di lekukan atas asbak kaca.

“Oalahhhhh…..,” setengah berteriak menandakan ia tahu perempuan yang ku maksud.

“Aku kenal dia, dia temanku kuliah, ia benar akan ke Terboyo, karena memang ia mondok tidak jauh dari terminal Terboyo,” jawabnya, yang langsung kusambut dengan teriakan “horeeeee…,” ia terperangah melihat aku berteriak, “kenapa hore?,” tanyanya. “Kalau kamu tahu perempuan bermata sabit itu berarti kan aku bisa minta kamu kontak dia,” jawabku.

“Gampang kalau soal itu,” ia menyanggupi permintaanku.

***

Temanku, yang mengganggu lamunanku itu bercerita panjang lebar mengenai latar belakang perempuan berlesung pipi sore tadi. Tak kusangka, ternyata di balik senyumannya, ia, si perempuan indah itu, menyimpan lara yang mendalam, ia adalah perempun yang sedang mondok di sekitar terminal Terboyo, ia juga bekas pelacur, ia mondok karena setiap ia melayani laki-laki setiap malamnya hatinya meronta tak karuan, lalu ia putuskan berhenti, dan mencari ketenangan di pondok, mungkin kalau menurut pelacur lain, melakukan sex untuk bekerja dan sekaligus mendapatkan uang, tapi tidak dengan Syafa, ia melacur karena dipaksa keadaan, ibunya terlilit utang ke rentenir, padahal ibunya sedang sakit keras, hanya ia anak satu-satunya, bapaknya meninggal dua tahun lalu. Maka ia harus menanggung beban sedemikian berat untuk membantu ibunya melunasi hutang, dan mencari uang untuk biaya berobat rutin setiap minggunya.

Air mataku meleleh, tanpa sadar pipiku basah, air mata tak tertahankan, dalam hati sontak berucap, “ternyata ia memendam beban yang begitu berat, bahkan, aku yang sebagai laki-laki belum tentu mampu menanggung beban seberat itu,”.

***

Semoga, semoga saja aku dipertemukan kembali dengan perempuan bernama belakang Syafa itu, perempuan yang rela melacur untuk membantu ibu yang sangat ia cintai, dan semoga perempuan berlesung pipi itu tetap kuat menjalani hidupnya, sungguh, aku ingin bersua kembali di lain kesempatan, tentu aku akan menghibur laranya. Bersabarlah kau, wahai perempuan kuat yang mengganggu malamku. Selamat malam dan selamat istirahat, biar aku mempersiapkan diriku untuk bersua kembali denganmu, barangkali diberi kesempatan. Semoga saja.

Oleh: M. Maulana Ali_Pemred LPM Invest

  • Penulis: admin1

Rekomendasi Untuk Anda

  • PU LPM Invest; Mulai Sekarang Kita harus Perkuat Kemampuan Riset

    PU LPM Invest; Mulai Sekarang Kita harus Perkuat Kemampuan Riset

    • calendar_month Ming, 9 Apr 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 755
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Invest Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang mengadakan acara Bongkar Nalar dan Upgrading untuk pengurus baru. Minggu, (09/04/2016). Acara yang diadakan di gedung H3 Kampus III UIN Walisongo ini diikuti oleh 15 pengurus yang beberapa hari lalu terpilih dalam acara pergantian pengurus di Gedung M5 Kampus III […]

  • Menutup Akhir Tahun 2014 Ala FEBI   

    Menutup Akhir Tahun 2014 Ala FEBI  

    • calendar_month Sel, 6 Jan 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 721
    • 0Komentar

    lpminvest.com-Penghujung tahun 2014, Badan Pelaksana Kegiatan Mahasiswa (BPKM) Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam (FEBI)  mengadakan acara Gebyar Akhir Tahun FEBI. Acara tersebut dilaksanakan sebagai peringatan perpindahan dari tahun 2014 ke 2015, acara ini diadakan di Audit II kampus III Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Selasa (30/12/14). Acara yang bertajuk “Pengajian Budaya Menutup Tahun 2014” […]

  • Tingkatkan Kepedulian, UIN Walisongo Canangkan Klaster Keperpustakaan

    Tingkatkan Kepedulian, UIN Walisongo Canangkan Klaster Keperpustakaan

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 769
    • 0Komentar

    lpminvest.com- “Perpustakaan adalah jantung perguruan tinggi” –Harvard University.  Slogan tersebut nampaknya sudah tidak asing lagi didengar, khususnya bagi mahasiswa. Sebagaimana saat ini yang akan dicanangkan UIN Walisongo. Ketidakefektifan dalam sosialiasi mengenai keperpustakaan menjadi latar belakang dicetuskannya rencana kelas keperpustakaan, yang akan bertempat di American Corner. Rancangan program tersebut dilakukan melalui pembentukan kelas yang beranggotakan 30 […]

  • Fisik Tak Mengubah Guna

    Fisik Tak Mengubah Guna

    • calendar_month Sel, 1 Mei 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 733
    • 0Komentar

    Oleh: Dwi Ari A. Kala tarian impi terngiang di pikiran Sesak sendu menyelimuti perjuangan Dua hasil terselip di permukaan harap Antara kegagalan dan keberhasilan Keduanya langkah ikrar citamu Sepenuh daya kau peruntukkan Tuk berjuang melawan soal di medan perang Menaklukkan waktu bagai musuh Ketenangan adalah bakat batin tak tertandingi Perguruan tinggi yang kau harap Hanya […]

  • Ini Tiga Musuh Utama Indonesia Menurut Mantan Anggota DPR RI

    Ini Tiga Musuh Utama Indonesia Menurut Mantan Anggota DPR RI

    • calendar_month Kam, 29 Mar 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 711
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Mantan anggota DPR RI periode 2009 -2014, Tugabus Dedi Suwendi Gumelar mengibaratkan negara Indonesia sebagai sebuah pohon. Kini, pohon tersebut tengah menghadapi tiga musuh yang merongrong kedaulatan Indonesia, yaitu jiwa yang koruptif, terorisme, serta narkoba dan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Menurut Miing, sapaan akrabnya, korupsi bukan hanya terkait mengambil uang negara. […]

  • Biaya Wisuda Luring Pertama di Masa Pandemi, Wisudawan Tidak Merasa Keberatan

    Biaya Wisuda Luring Pertama di Masa Pandemi, Wisudawan Tidak Merasa Keberatan

    • calendar_month Sel, 24 Mei 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 1.029
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Masa pandemi sedikit longgar yang ditandai dengan keadaan ekonomi cukup stabil. Hal tersebut dicerminkan dengan pengakuan wisudawan yang tidak keberatan dalam memenuhi biaya acara wisuda periode Mei 2022 UIN Walisongo Semarang. Bertempat di Auditorium 2 Kampus 3, para wisudawan tampil maksimal dengan balutan toga dan baju yang telah dipersiapkan. Berbicara mengenai biaya wisuda tentunya […]

expand_less