Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Jejak Luka yang Berbicara

Jejak Luka yang Berbicara

  • account_circle admin1
  • calendar_month Kam, 12 Jun 2025
  • visibility 966
  • comment 0 komentar

Oleh : Selvina Idha Alifiani

Rumah Sakit Saga Pariwana telah menjadi rumah keduaku selama enam tahun terakhir. Di sini, aku menjalani peranku sebagai seorang bidan dengan kemampuan yang tidak biasa. Namaku Difa, usiaku baru menginjak 29 tahun. Awalnya kukira kemampuan ini adalah kutukan, namun seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa ini adalah anugerah yang harus kugunakan dengan bijak. Setiap kali tanganku menyentuh luka seseorang, aku seakan ditarik ke dalam pusaran waktu, menyaksikan langsung bagaimana luka itu tercipta. Sensasi ini selalu membuatku merinding, namun juga membantuku memahami pasien-pasienku lebih dalam.

Sore itu, suasana unit gawat darurat lebih ramai dari biasanya. Di tengah hiruk pikuk para perawat yang berlalu lalang, mataku tertuju pada seorang gadis remaja yang duduk gemetar di pojok ruangan. Namanya Gina, usianya baru 15 tahun. Tangannya yang pucat dipenuhi goresan-goresan merah yang masih baru. Tatapan matanya kosong, seolah jiwanya telah pergi entah kemana. Melihatnya, hatiku seperti tercubit. Berapa banyak rasa sakit yang harus dia tanggung hingga memilih menyakiti diri sendiri?

“Gina, biar Kakak obati lukanya ya,” kataku selembut mungkin, mencoba menenangkan ketakutan yang terpancar dari matanya.

Gina hanya mengangguk pelan, matanya masih berkaca-kaca. Begitu tanganku menyentuh lukanya, dunia di sekelilingku berputar seperti pusaran air…

Flash

Aku terseret ke dalam sebuah kamar remaja yang bernuansa biru pastel. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan foto-foto polaroid dan poster idol K-pop. Di kamar tersebut aku melihat Gina duduk meringkuk di sudut tempat tidurnya, tangannya gemetar memegang silet sementara matanya terpaku pada layar ponsel. Air mata mulai mengalir perlahan membasahi pipinya.

Notifikasi ponselnya terus berdering tanpa henti. Grup chat kelasnya dipenuhi hinaan dan cacian. “Dasar sombong!” “Mentang-mentang pintar, tidak mau berbagi!” “Lihat saja, kita buat dia menyesal!” Foto-fotonya yang diedit secara memalukan tersebar di grup. Bahkan ada yang membuat akun palsu mengatasnamakan dirinya, mengirimkan pesan-pesan tidak sopan kepada guru.

Kulihat di meja belajarnya tergeletak kertas ulangan matematika dengan nilai sempurna, sementara di sampingnya ada pengumuman hasil ulangan kelas yang baru ditempel di grup. Dari 30 siswa, hanya Gina yang tidak perlu mengikuti remidi. Semua bermula ketika dia menolak memberikan contekan saat ulangan matematika minggu lalu. “Maaf, aku tidak bisa. Itu tidak jujur,” katanya waktu itu. Sejak saat itu, teman-temannya yang dulu akrab dengannya mulai menjauhi dan memusuhinya.

Di sudut kamar, ada sebuah buku diary yang terbuka. Halaman-halamannya basah oleh air mata, berisi curahan hati tentang dilema yang dia hadapi. “Aku hanya ingin jujur… tapi kenapa malah seperti ini? Apa aku salah kalau ingin berbuat benar? Apa aku harus mengalah agar punya teman?” tulisnya dengan tangan bergetar. Di halaman sebelumnya terselip foto-foto kenangan saat dia masih tertawa bersama teman-temannya, sebelum kejadian ulangan itu mengubah segalanya.

Back to reality

“Gina,” panggilku pelan sambil membersihkan lukanya dengan hati-hati. “Kamu tahu? Mereka yang menyakitimu lewat kata-kata, mereka yang sebenarnya lemah. Mereka hanya mampu bersembunyi di balik layar, tidak berani menghadapimu secara langsung.”

Difa menatapku terkejut. “Kakak… bagaimana bisa tahu?”

“Kakak pernah melalui masa-masa sulit juga,” jawabku dengan senyum tulus. “Dan percayalah, hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan memikirkan kata-kata mereka yang tidak mengenalmu dengan baik. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira.”

Setelah selesai membalut lukanya, aku mengeluarkan kartu nama psikiater anak yang kupercaya, Dr. Maya. “Kalau kamu mau bicara lebih banyak, dokter ini bisa membantumu. Dia sangat baik dan pasti bisa membantumu melihat betapa berharganya dirimu.”

Gina mengambil kartu itu dengan ragu. “Terima kasih, Kak. Aku… aku akan mencoba.”

Setelah memastikan Gina dijemput oleh ibunya, aku kembali ke ruang jaga untuk mengisi beberapa berkas. Pikiranku masih dipenuhi bayangan Gina ketika suara gaduh dari lorong mengalihkan perhatianku. Para perawat bergegas mendorong brankar berisi seorang pria paruh baya. Kakinya terluka parah, dengan darah yang masih mengalir.

Begitu aku menyentuh lukanya untuk membersihkan…

Flash

Aku melihat dia berdiri di atas tangga kayu yang sudah tua, mencoba mengganti lampu yang berkedip-kedip. Di bawah, cucunya yang masih kecil bermain-main dengan mobil-mobilan. Melihat cucunya hampir tersandung mainan, dia refleks bergerak cepat, membuat dirinya sendiri kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai keramik yang keras.

Back to reality

“Pak Hasan, cucunya tidak apa-apa kan?” tanyaku sambil mengobati lukanya dengan telaten.

“Lho, kok tahu nama saya? Dan… tahu soal cucu saya?” dia menatapku dengan mata penuh tanya.

Aku tersenyum hangat. “Saya dengar dari perawat tadi. Bapak sungguh kakek yang luar biasa, rela terluka demi melindungi cucu. Tapi lain kali, lebih baik minta bantuan untuk mengganti lampu ya, Pak. Nyawa Bapak juga sama berharganya.”

Malam semakin larut ketika aku menyelesaikan shift-ku. Sambil membereskan peralatan, pikiranku melayang pada semua pasien yang kutemui hari ini. Setiap luka yang kusentuh membawa ceritanya sendiri – kisah tentang pengorbanan, kesedihan, perjuangan, dan harapan. Kemampuan ini memang terkadang membuatku lelah secara emosional, tapi juga memberiku kesempatan untuk memahami dan membantu mereka dengan cara yang lebih dalam.

“Setiap luka punya ceritanya sendiri,” gumamku pelan sambil menatap langit malam dari jendela rumah sakit. “Dan setiap cerita layak untuk didengar, setiap jiwa layak untuk diselamatkan.”

Di perjalanan pulang, aku berdoa semoga Gina akan menemukan kekuatannya kembali, dan semoga Pak Hasan lekas sembuh. Besok adalah hari baru, dengan cerita-cerita baru yang menunggu untuk didengar dan luka-luka baru yang menunggu untuk disembuhkan. Dan aku, Difa, akan selalu siap mendengarkan kisah di balik setiap luka yang kusentuh.

[ Pengurus Invest Website Periode 24/25 ]
  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengaruh media sosial terhadap persepsi diri

    Dampak Media Sosial Terhadap Persepsi Diri : Antara Kenyataan dan Ekspetasi

    • calendar_month Ming, 22 Des 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 1.195
    • 0Komentar

    Oleh: Tsalis Mazidatul Khoir Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Platform seperti Instagram, TikTok, Twitter (X), dan Facebook kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga tempat bagi penggunanya untuk berbagi cerita, pengalaman, dan bahkan lifestyle mereka. Beragam hal yang kerap disebarluaskan melalui media sosial biasanya berupa hal-hal menyenangkan. Sehingga, […]

  • UIN Walisongo Merayakan Prestasi Wisudawan dengan Konsep Wisuda yang Inovatif

    UIN Walisongo Merayakan Prestasi Wisudawan dengan Konsep Wisuda yang Inovatif

    • calendar_month Rab, 8 Nov 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 774
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo menyelenggarakan Acara Wisuda  Doktor (S.3) Ke-33, Magister (S.2) ke-57, Sarjana (S.1) ke-90 yang bertempat di Auditorium 2  Kampus 3 UIN Walisongo pada hari Rabu, (8/11/2023) yang dilaksanakan satu sesi dimulai pada pukul 07.00-11.00 WIB. Jumlah wisudawan pada periode November kali ini berjumlah 629 orang yang terdiri 1 orang Doctor […]

  • Dedi dan Tim Raih Predikat Majalah Bayangan Terbaik dalam Workshop Lapangan 2019

    Dedi dan Tim Raih Predikat Majalah Bayangan Terbaik dalam Workshop Lapangan 2019

    • calendar_month Ming, 13 Okt 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 723
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Usai mengikuti workshop materi pada Kamis dan Jumat (10-11/10/2019) kemarin, calon kru magang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Invest 2019 mengikuti workshop lapangan. Workshop lapangan merupakan penerapan langsung materi kejurnalistikan yang telah dipelajari sebelumnya. Kegiatan tersebut diadakan selama dua hari pada Sabtu dan Minggu di Candi Gedong Songo Semarang. Saat workshop lapangan, calon kru magang 2019 […]

  • Kawal Hasil Audiensi Sampai Terealisasi; ‘Pengajuan Beasiswa dan Keringanan Angsuran UKT’

    Kawal Hasil Audiensi Sampai Terealisasi; ‘Pengajuan Beasiswa dan Keringanan Angsuran UKT’

    • calendar_month Rab, 7 Jul 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 645
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Perwakilan aliansi mahasiswa walisongo sedang melakukan audiensi dengan Wakil Rektor II di Gedung Rektorat UIN Walisongo Semarang pada Rabu (07/07/2021). Aksi tersebut diikuti oleh aliansi mahasiswa dari berbagai fakultas yang ada di UIN Walisongo Semarang. Memang untuk aksi saat itu tidak melibatkan massa yang banyak seperti biasanya. Massa dilarang masuk kampus dikarenakan khawatir akan melanggar […]

  • Meruwat Kerukunan Beragama Melalui Pameran Kitab Suci Lintas Agama

    Meruwat Kerukunan Beragama Melalui Pameran Kitab Suci Lintas Agama

    • calendar_month Jum, 29 Des 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 1.069
    • 0Komentar

    S e m a r a n g – Untuk meningkatkan kerukunan umat beragama di Kota Semarang, Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang bersama Komisi Kitab Suci Kevikepan Semarang mengadakan Pameran Kitab Suci Lintas Agama dengan tema “Damai Kotaku Semarang Hebat”. Acara yang dihelat di Gedung Sukasari, kompleks Gereja Katedral Sub Tutela Matris, Jl.Dr.Sutomo Semarang […]

  • Indonesia Impor Beras, Keuntungan atau Kerugian?

    Indonesia Impor Beras, Keuntungan atau Kerugian?

    • calendar_month Kam, 18 Jan 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 977
    • 0Komentar

    Maraknya kabar impor beras yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada awal tahun 2018, tentu banyak menimbulkan berbagai perspektif. Pemerintah menilai akhir-akhir ini terjadi lonjakan harga beras di pasaran. Berdasarkan data yang dikutip dari laman resmi detik.com per tanggal 4 Desember 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis harga beras bulan November 2017. Harga beras […]

expand_less