Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Mahasiswa dalam Ekosistem Demokrasi

Mahasiswa dalam Ekosistem Demokrasi

  • account_circle admin1
  • calendar_month Ming, 17 Apr 2016
  • visibility 552
  • comment 0 komentar

Terlepas dari kuatnya konfigurasi politik elit yang membelit setiap aksi mahasiswa, sejarah telah mengakui bahwa aksi mereka sukses menggulung rezim otoritarian yang dinilai telah melakukan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme dengan tuntutan reformasi. Menjadi bukti sejarah bahwa mahasiswa banyak berperan dalam mendewasakan kehidupan bernegara untuk menjadi bangsa yang waras (demokratis-red).

Kerusuhan besar yang dipelopori oleh mahasiswa saat itu, telah menghilangkan banyak nyawa. Negara yang seharusnya menggaransi keselamatan jiwa rakyatnya serta memberikan ruang aspirasi kepadanya. Justru membungkam bahkan melenyapkan aktor-aktor demonstran yang diendus oleh penguasa sebagai penyebab kerusuhan. Dalam konteks inilah, para pengamat politik, aktivis dan masyarakat yang kritis menyebut era Soeharto sebagai rezim militer yang antikritik.

Jika kita mau cermat menilai dinamika hubungan antara mahasiswa dengan pemerintah, relasi keduanya telah berperan dalam membentuk ekosistem demokrasi di Indonesia. Aksi protes yang dilakukan oleh mahasiswa merupakan wujud refleksi kritis mereka terhadap kinerja pemerintah.

Adhie Massardi, seorang pengamat politik mengilustrasikan bentuk ideal relasi mahasiswa dengan pemerintah ibarat angin dan pohon. Bila mahasiswa angin, pemerintah adalah pohon. Pohon membutuhkan angin untuk membersihkan dahan kering dan daun yang menguning. Dahan kering, daun menguning adalah organ pohon yang sudah kehilangan fungsi utamanya; sebagai penyangga buah dan berfotosintesis. Angin juga membantu proses penyerbukan sehingga pohon pemerintah menghasilkan buah manfaat yang bisa dimakan oleh orang yang bernaung di bawahnya.

Angin kampus memang bukan bagian dari organ pohon pemerintah. Dalam sebuah ekosistem demokrasi, angin kampus tidak sendirian. Sebab, terdapat parlemen oposisi yang bisa berperan sebagai kumbang atau kupu-kupu. Juga ada pers dan institusi lainnya yang turut merontokkan dahan dan daun kering yang merusak struktur pohon pemerintah.

Pohon besar Orde Baru tampaknya tidak memahami betul ekosistem demokrasi ini. Dosis pestisida politik yang disemprotkan terlalu banyak. Sehingga, selain hama yang mati, seluruh spesies yang banyak membantu merindangkan pohon pemerintah pun ikut mati.

Setelah hampir delapan belas tahun momentum reformasi, banyak yang mempertanyakan arah gerakan mahasiswa. Memang benar, mereka telah menggelar pertemuan mahasiswa dari level regional hingga level nasional. Reorganisasi kepemimpinan setiap tahun dilakukan. Tak jarang, demonstrasi dengan berbagai tuntutan kepada penguasa menjadi ‘makanan penutup’ setiap momen pertemuan mahasiswa.

Jika rezim Orde Baru begitu ketat menyumbat kebebasan bersuara, rezim setelahnya telah memberikan kesempatan kepada siapapun untuk bebas bersuara. Mahasiswa sebenarnya memahami ‘peluang emas’ ini. Namun, hingga kini, belum ada terobosan cemerlang yang digagas oleh mahasiswa untuk survive dalam belantara demokrasi.

Sebagian besar kelompok mahasiswa mengambil peran dalam era kebebasan bersuara ini dengan menonjolkan identitas primordialnya. Pada akhirnya suara mahasiswa di mata penguasa menjadi sumbang; tidak utuh sebagai kesatuan refleksi kritis mahasiswa Indonesia terhadap situasi politik mutakhir. Belum lagi potensi tunggangan politik elit yang akan menumpulkan idealisme mahasiswa sebagai spesies pengontrol.

Idealnya, seperti pernyataan Adhie Massardi di atas. Relasi mahasiswa dan pemerintah bak angin dan pohon. Sewaktu-waktu angin kampus berhembus sepoi-sepoi merontokkan daun dan dahan kering. Membuat orang yang berteduh di bawahnya merasa nyaman. Pada momentum yang lain, angin kampus bisa berubah menjadi angin ribut yang mampu menumbangkan pohon pemerintah sekaligus membuat gelisah orang yang bernaung di bawahnya.

(Siham_Invest).

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jurnalis di Negara Demokrasi

    Jurnalis di Negara Demokrasi

    • calendar_month Jum, 7 Nov 2014
    • account_circle admin1
    • visibility 603
    • 0Komentar

    Judul buku            : Jurnalis Diburu Media Massa Penulis                  : Akhi Abdurahman Penerbit                : Cakrawala Cetakan                : Pertama, 2009 Tebal                    : 67 halaman Resensor              : Tatang Turhamun Ratusan media di indonesia telah lahir saat ini, yang berhubungan dengan demokrasi pasti ada kaitanya dengan pers. Ketika banyak media yang […]

  • Enam Tips Atasi Penyakit Insecure

    Enam Tips Atasi Penyakit Insecure

    • calendar_month Kam, 19 Nov 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 646
    • 0Komentar

      Mengingatkan salah satu iklan kartu provider 3 Indie+ pada tahun 2013 silam, dalam iklan tersebut diperagakan oleh beberapa anak kecil menceritakan permasalahan yang dialami oleh orang dewasa dan dibagian akhir iklan tersebut ada seorang anak yang mengatakan bahwa “ Jadi orang gede menyenangkan, tapi susah dijalanin ,“ lantas hal tersebutlah yang menjadi realita anak […]

  • Biarkan Semesta Yang Bekerja

    Biarkan Semesta Yang Bekerja

    • calendar_month Rab, 18 Des 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 861
    • 0Komentar

    Oleh: Thoriqotul Hidayah Biarkan semesta yang bekerja Tanpa kau paksa, tanpa kau tanya Ada caranya sendiri, meski tak selalu jelas Menenun nasib dengan benang yang bebas Kau tak perlu tahu ke mana angin berlari Atau kapan hujan akan berhenti Cukup serahkan langkah pada waktu Dan biarkan dunia menjawab rindu Takdir, bagai bintang di malam pekat […]

  • Prodi Ekonomi Islam Mengkaji Wisatawan Pulau Dewata; Penyokong Wisata Halal

    Prodi Ekonomi Islam Mengkaji Wisatawan Pulau Dewata; Penyokong Wisata Halal

    • calendar_month Rab, 4 Mar 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 501
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Mahasiswa Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang beserta pembimbing Kuliah Kerja Lapangan (KKL) melanjutkan studi lapangan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang terletak di Puja Mandala Kabupaten Badung, Bali. Mayoritas pendapatan daerah didapatkan dari sektor pariwisata, yang menjadi penyokong dalam penerapkan wisata halal. “Wisata halal di sini diartikan […]

  • Mahasiswa KKN Turut Andil dalam Budaya ‘Tali Jabutan’ di Peringatan Maulid Nabi

    Mahasiswa KKN Turut Andil dalam Budaya ‘Tali Jabutan’ di Peringatan Maulid Nabi

    • calendar_month Jum, 30 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 776
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Di tengah pandemi COVID-19, Pondok Pesantren (Ponpes) Tabarukan Cengker-Giri, Kabupaten Gresik, tetap antusias menyambut Maulid Nabi Muhammad pada Kamis (29/10/2020). Kompak mengenakan pakaian putih rapi, acara tersebut berlangsung di halaman pondok yang terletak di Jalan Sunan Giri, Gang 15J Keteg, Desa Giri Kebomas, Gresik. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) angkatan […]

  • Apakah Investasi dan Trading Sama?

    Apakah Investasi dan Trading Sama?

    • calendar_month Rab, 23 Mar 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 713
    • 0Komentar

    Oleh: M. Shodiq Al Hakim (Wadyabala Invest 2018) Di era sekarang, masyarakat millenial pastinya sudah sering mendengar istilah trading dan investasi. Namun, tahu kah kamu apa itu trading dan investasi? Terkadang kita memang sedikit keliru dalam memaknai trading maupun investasi. Bahkan tak sedikit orang yang menganggap bahwa hal itu sama dan tidak ada bedanya. Faktanya […]

expand_less