Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Umar Chapra dan Mannan; Utang Negara dalam Anggaran Defisit

Umar Chapra dan Mannan; Utang Negara dalam Anggaran Defisit

  • account_circle admin1
  • calendar_month Ming, 14 Jun 2020
  • visibility 798
  • comment 0 komentar
Oleh : Dwi Ari Apriliani Sumber gambar : Google

Oleh : Dwi Ari Apriliani
Sumber gambar : Google

Sedari kecil, anak bangsa selalu dibubuhi dengan istilah gemah ripah loh jenawi toto tentrem kerto raharjo. Aset kekayaan sumber daya alam yang melimpah selalu digadang-gadang, bahkan sampai lupa mendidik pribadi yang memiliki profesionalitas tinggi yang dibekali dengan amanah. Krisis keimanan sangat sulit untuk ditaklukkan. Bagaimana mau menyanggah pernyataan ini? Jika realita kerap membawa kita untuk menyaksikan para petinggi pemerintahan melakukan penjarahan kekayaan negara di semua bidang. Tragisnya lagi, hal ini dilakukan secara kolektif dan sistematik.

Negara menggunakan anggaran defisit, jelas bukan untuk memberi fasilitas pejabat melakukan korupsi. Anggaran ini dipakai karena pendapatan negara tidak cukup untuk pembangunan ekonomi sehingga neraca pembayaran menjadi tidak seimbang. Dalam hal ini kebijakan fiskal berperan sebagai alokasi yang mampu menstabilkan suatu anggaran yang ada. Fiskal berada di ruang lingkup ekonomi makro yang peranannya untuk menciptakan perekonomian yang kondusif agar pertumbuhan ekonomi maksimal, serta mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang nantinya juga dapat mengurangi angka pengangguran.

Dalam anggaran defisit ini artinya pengeluaran negara jauh lebih besar dibanding penerimaan. Namun sejenak kita berbicara perihal anggaran yang tercermin di Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN), dimana penerimaan negara mencakup pajak dan bukan pajak serta pengeluaran rutin untuk infrastruktur. Pembiayaan pembangunan saat ini dioptimalkan demi menutup gap penyediaan infrastruktur dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Peningkatan IPM ditempuh pemerintah melalui sektor pendidikan, kesehatan dan perlindungan sosial.

Jenis anggaran yang diterapkan selama ini membuat ketergantungan utang luar negeri semakin meningkat. Perlu diperhatikan bahwa, tingginya beban utang terhadap PDB akan berpotensi mengurangi keleluasaan pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya untuk menstimulus perekonomian ke depan. Akan tetapi, dengan kebijakan berutang, ekonomi Indonesia mampu bertahan di tengah pandemi covid-19. Kondisi terberat perekonomian secara global seperti ini memaksa negara untuk jeli dalam menetapkan kebijakan, terutama terkait utang negara. Diproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini masih mampu mencapai 2,3 persen (yoy) atau dapat terkontraksi -0,4 persen (yoy). Sedangkan asumsi PDB nominal tahun 2020 ini mampu menduduki Rp 16.500 triliun hingga Rp 16.800 triliun, dengan rasio utang terhadap PDB sekisar 36 persen.

Menurut data yang dilansir dari kompas.com menyebutkan bahwa utang negara pada April 2020 setara dengan 31,78 persen terhadap PDB yaitu mencapai Rp 5.172,48 Triliun. Hal ini jika dibandingkan dengan utang bulan sebelumnya, justru jauh lebih rendah Rp 20,08 Triliun. Sedangkan ketika menengok tahun lalu maka meningkat
sebesar 14,22 persen. Ini masih dalam koridor wajar karena tidak melanggar UU Nomor 17 Tahun 2003 terkait batas maksimal rasio utang pemerintah sebesar 60 persen dari PDB.

Rincian utang negara yang tertuang di APBN pada April 2020 yaitu; pertama, Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 4.338,44 Triliun yang meliputi SBN rupiah Rp 3.112,15 dan dalam bentu valuta asing sejumlah Rp 1.226,29. Kedua, pinjaman negara sebesar Rp 834,04 Triliun yang terdiri dari pinjaman luar negeri Rp 824,12 Triliun, dan Rp 9,92 Triliun pinjaman dalam negeri. Khusus pinjaman luar negeri ini ada tiga jenis yaitu Rp 333 Triliun pinjaman bilateral, Rp 448,45 Triliun pinjaman multilateral dan Rp 42,68 Triliun dari commercial bank. Pada bulan april 2020 ini pemerintah usai membayar bunga utang sebesar Rp 92,82 Triliun. Adapun target pembayaran bunga tahun ini yakni Rp 335,16 Triliun. Gambaran singkat utang negara di atas semoga mampu membukakan pemikiran kita tentang bagaimna bunga berperan tragis dalam perekonomian. Hal ini menjadikan Ekonom Muslim M. Mannan dan M. Umar Chapra lain pendapat dalam menyikapi sistem anggaran yang dipakai di suatu negara.

Tertulis dari jurnal Hukum dan Pranata Sosial, Mannan menyampaikan bentuk persetujuannya ketika negara menggunakan sistem anggaran defisit. Solusi yang ditawarkan untuk menutup defisit yaitu dengan merasionalisasi struktur pajak atau dengan mengambil sistem kredit (utang). Namun ada catatan, utang dalam artian di sini yakni harus dibuat tanpa ada tekanan dari kreditor karena akan mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kedaulatan
negara muslim serta utang yang dimaksud harus tanpa bunga agar tidak memberatkan pihak yang berutang.

Pemikiran Chapra hampir sama dengan Mannan, akan tetapi solusi yang disuguhkan berbeda. Menurutnya anggaran defisit harus ditutup dengan mereformasi sistem perpajakan dan bukan dengan ekspansi moneter dan berutang. Chapra lebih memandang bahwa peningkatan pajak jauh lebih rasional dibanding berutang yang akan
membawa kepada riba. Kemudian, dalam jurnal Studi Islam Tahun 2017 dipaparkan bahwa pajak harus dijalankan atas asas keadilan dengan menitikberatkan tiga kriteria yaitu; 1) pajak dipungut untuk membiayai apa yang dipandang mutlak diperlukan untuk mewujudkan maqoshid, 2) beban tidak boleh sama sehubungan dengan kemampuan orang untuk memikulnya, 3) dana pajak yang terkumpul harus digunakan setulusnya untuk tujuan pengumpulannya.

Selanjutnya, Chapra menjelaskan bahwa pemerintah juga dapat menggunakan cara sewa untuk membangun proyek infrastruktur yang dibiayai oleh sektor swasta atas dasar kompetisi menurut spesifikasi pemerintah. Ditambah juga bisa dengan sukuk syariah berbasis penyewaan dengan kontrak ijarah, ijarah muntahiyyah bittamlik, dan ijarah mawshufah fi dhimmah. Kaitannya dengan gagasan Chapra ini sudah tertuang di laman www.djppr.kemenkeu.go.id yang berisikan bahwa utang pemerintah digunakan untuk belanja produktif dan Penyertaan Modal Negara (PMN). PMN ini akan memberikan ruang gerak yang leluasa untuk BUMN melakukan leverage jika disbanding dengan belanja negara. Pemanfaat utang negara yang produktif serta sumber pembiayaan yang efisien dan berisiko rendah akan meringankan beban generasi mendatang.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pra PBAK FEBI 2023 Usung Tema: Ekonomi Kreatif dan Pilar Perekonomian Masa Depan Indonesia

    Pra PBAK FEBI 2023 Usung Tema: Ekonomi Kreatif dan Pilar Perekonomian Masa Depan Indonesia

    • calendar_month Kam, 3 Agu 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 687
    • 0Komentar

    Kegiatan Pra-Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tahun 2023 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang diisi Seminar Lokakarya. Mengangkat tema “Ekonomi kreatif sebagai pilar perekonomian masa depan Indonesia”.  Seminar ini dihadiri sebanyak 713 Mahasiswa Baru (MABA) FEBI (03/08/23). Reza selaku ketua panitia PBAK FEBI menjelaskan maksud dan tujuan tema yang diambil yaitu sebagai pembuka […]

  • PBAK Online Hari Kedua: Ta’arufan Dulu dengan Dunia Kampus

    PBAK Online Hari Kedua: Ta’arufan Dulu dengan Dunia Kampus

    • calendar_month Sel, 8 Sep 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 1.094
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Selasa (8/9/2020). Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan  (PBAK) UIN Walisongo Semarang disiarkan langsung melalui kanal YouTube DEMA Universitas dan juga DEMA Fakultas masing-masing. Dalam acara hari ini, terdapat kegiatan dengan judul pengenalan dunia kampus yang dinarasumberi langsung oleh Mukhsin Jamil selaku Wakil Rektor I bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Walisongo Semarang. Keadaan sekolah tentu berbeda […]

  • Kajur D3 PBS FEBI UIN Walisongo Turut Prihatin atas ‘Depresi Rupiah’

    Kajur D3 PBS FEBI UIN Walisongo Turut Prihatin atas ‘Depresi Rupiah’

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 683
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Stabilitas ekonomi makro di tanah air belakangan sempat mengalami ‘depresi finansial’. Pasalnya nilai tukar rupiah melemah hingga mencapai level 13.000 Rupiah. Hal demikian tentu akan berimbas pada aktifitas ekonomi makro di Indonesia. Harian Kompas, 30/03/2015, mewartakan bahwa nilai tukar Rupiah masih akan menghadapi sejumlah tantangan, baik dari sisi perekonomian global maupum domestik. Deputi Gubernur […]

  • Kesiapan Ekonomi Kreatif Menyongsong MEA

    Kesiapan Ekonomi Kreatif Menyongsong MEA

    • calendar_month Jum, 24 Okt 2014
    • account_circle admin1
    • visibility 884
    • 0Komentar

    Negara kita butuh keajaiban dalam rangka menyiapkan MEA (Masyarkat Ekonomi ASEAN), yang mau tidak mau, siap tidak siap harus dilAksanakan 2015. Pemerintah dalam hal ini kementrian yang terkait selalu mengumbar ke-optimisan mereka dalam menyongsong MEA, Perangkat dari berbagai kementrian sudah di siapkan jauh-jauh hari untuk menjalankan MEA pada 2015. Kebijakan-kebijkan ekspor-Impor, isu redenominasi dan berbagai […]

  • Budi Setyo Purnomo: “Ada Tujuh Dosa Media yang Perlu Diperhatikan”

    Budi Setyo Purnomo: “Ada Tujuh Dosa Media yang Perlu Diperhatikan”

    • calendar_month Sel, 10 Apr 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 836
    • 0Komentar

      lpminvest.com– Antrean panjang nampak di halaman auditorium 2 kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Pasalnya, para mahasiswa antusias mengikuti acara Seminar dan Pameran Seni Rupa yang dipersembahkan oleh Kantor Penyiaran Islam Daerah (KPID) dan Rumah Rupa Walisongo.  Senin, (9/4/2018). Seminar dan Pameran Seni Rupa tersebut dihadiri oleh Mahasiswa UIN Walisongo dari berbagai jurusan. Acara yang […]

  • Tradisi dan Haru di Wisuda UIN Walisongo, Catatan Fasilitas Jadi Sorotan

    Tradisi dan Haru di Wisuda UIN Walisongo, Catatan Fasilitas Jadi Sorotan

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 1.077
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sabtu (24/05/2025), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar Sidang Senat Terbuka wisuda ke-38 untuk program Doktor (S3), ke-63 untuk Magister (S2), dan ke-96 untuk Sarjana (S1), yang bertempat di Gedung Prof. Tgk. Ismail Ya’kub (Auditorium II), Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Wisuda kali ini diikuti sebanyak 1.029 wisudawan dan wisudawati yang terdiri dari […]

expand_less