Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Semenjak Kamu Pergi, Aku Bukan Lagi Penyair

Semenjak Kamu Pergi, Aku Bukan Lagi Penyair

  • account_circle admin1
  • calendar_month Ming, 5 Mei 2019
  • visibility 735
  • comment 0 komentar
Oleh: Ahyar Manarul Hidayat Fatah

Oleh: Ahyar Manarul Hidayat Fatah


Entah apa yang membuatku bersedia datang ke tempat ini, Le Quartier Restaurant. Sebuah restoran dengan desain yang kental nuansa Paris ini sudah lama sekali aku tidak menyambanginya.

Malam ini gerimis mencoba mendinginkan siapa saja yang ditetesinya. Dedaunan, pot bunga, atap restoran, atau bahkan otakku yang selalu pening dengan berbagai pekerjaan setiap hari.

Turun dari mobil, berbekal sebuah payung hitam aku berhasil mendapati pintu rumah makan tersebut dan langsung masuk. Di sebelah kanan dari pintu masuk terdapat seorang perempuan duduk di bangku paling ujung. Dres biru donker yang membalut tubuhnya, serta bibir tipis dan merah yang melengkung membentuk senyum, membuat dia terlihat tetap cantik seperti empat tahun yang lalu. Namanya Elina, dia tak banyak berubah.

Dia melambaikan tangan dan melempar senyum, isyarat bahwa aku harus menghampirinya. Memang benar, untuk apa lagi aku datang ke sini selain untuk menemuinya.

“Silakan duduk, Mas,” dia mengawali.

Kemudian aku menurutinya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku. Sampai tiba-tiba aku sedikit dikagetkan dengan minuman yang sudah dia pesan lebih dulu. “Loh ini kan…”

“Sidecar eskrim vanilla. Minuman favorit kamu.” Dia memotong seenaknya.

“Kamu masih ingat saja,” ucapku.

“Tentu aku ingat, bahkan hampir semuanya tentangmu. Kamu tidak banyak berubah ya Mas.” Ia menatapku. Matanya tajam terlihat memperhatikanku dengan jeli.

“Ya begitulah,” jawabku kikuk.

Hujan di luar masih terus menghujam bumi. Jalanan berlubang telah penuh dengan airnya. Kenangan para pengendara yang ban kendaraannya terseok karena genangan itu sayup-sayup terputar lagi. Sebagian tertawa mengingatnya, dan lainnya mungkin mengumpat karenanya.

Di hadapannya seperti ini, kenangan lamaku bersamanya juga ikut terbawa suasanya. Tatapan matanya yang lentik penuh kemanjaan. Tutur katanya yang lembut serasi dengan bibirnya yang merah muda. Jiwaku bergolak. Antara kepahitan yang dia ukir dan manisnya kisah yang dia sodorkan kepadaku.

Lensa matanya tak berpindah dari objek wajahku. Menyadari aku merasa tak nyaman dengan pandangan matanya, dia bergegas melanjutkan pembicaraan yang lain.

“Kamu apa kabar Mas?”

“Aku baik, kamu gimana?” tanyaku datar.

“Tidak lebih baik ketika kamu masih mengirimi aku puisi.”

Jawabannya membuatku sedikit kaget, sedikit menggelitik. Kemudian aku menambahi.

“Puisiku hanya kata-kata receh, kamu bisa menemukannya dimana saja. Ini masa sosmed, angkringan, atau struk pembayaran indomaret.”

“Hehehe… Kamu bisa aja Mas, nyatanya aku kecanduan,” dia mencoba mencairkan suasana. Gigi gingsulnya masih saja menyempurnakan senyumnya.

“Kamu menyuruhku ke sini cuma buat minta puisi?” tanyaku masih tetap datar dan sedikit ketus.

“Rama (kali ini dia memanggil namaku yang asli), setiap orang pernah salah, dan tidak lebih bijak orang yang tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain. Alasan mengapa seseorang harus memaafkan orang lain,” ia mencoba menjelaskan. Suaranya pelan, raut mukanya nampak  mengiba.

Sekarang aku tahu maksud dia memintaku datang ke tempat ini.

Matanya yang bening kini mulai mengembun. Lengkung bibir 10 sentinya menyusut. Melihat pemandangan itu, hatiku kembali tersentuh. Tapi lagi-lagi kenyataan pahit yang pernah ia lakukan dengan cepat menepis kelemahan hatiku. Kebencianlah yang memang pantas aku keluarkan.

“Terus menurutmu bekhianat adalah sebuah kebijaksanaan?” tanyaku dengan singkat dan tegas.

“Jika kamu tidak mau mendengarkan apapun, maka berpuisilah. Aku siap mendengarkan sajak-sajakmu walaupun isinya umpatan-umpatan kebencian. Lakukanlah!”

Aku menghela nafas kemudian berdiri. “Kamu tidak akan mendengar apapun lagi mengenai puisiku.” Aku berbalik melangkah pergi. “Kamu tak lagi pantas menerima puisi-puisiku, bahkan jika itu hanya sekedar puisi berisi umpatan.”

Baru tiga langkah, dia berbicara dari belakang dalam keadaan masih duduk. Seperti berpuisi pelan dan ketegasan tiap katanya terasa. Aku berhenti dan mencoba menyimak.

Aku pikir untaian sajakmu kemarin adalah bait syair yang agung,

Suci dari dosa-dosa kebencian dan dendam.

Namun, sebotol whisky telah tumpah pada kain sajadah.

Aku tidak sadar,

Wangi melati telah membaur dengan harum

Sari anggur putih.

Dibuatnya aku mabuk dan kecanduan.

 

Dia berhenti, dan aku tersenyum ketus sambil setengah menengok. “Itu kamu sudah bisa berpuisi, tidak perlu aku lagi. Dan ketahuilah, semenjak kamu pergi, aku bukan lagi penyair. Mendengar kau membacakan puisimu, membuatku semakin muak dengan puisi,” kataku sembari mengembalikan arah pandanganku ke depan. Aku melanjutkan langkah yang sempat terhenti.

“Di luar habis turun hujan, banyak genangan. Semoga bisa menenggelamkan kebencian dan dendam yang ada padamu. Setidaknya jika baru sampai mata kaki,” katanya setengah teriak.

Aku tetap melanjutkan langkah dengan tidak peduli. Tidak peduli dengan kata-katanya Elina, atau para pengunjung yang penasaran terus menatap kami bergantian. Angin bekas hujan telah membekukan hatiku. Biarlah aku pergi membawa kebencian ini.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Meski Gagal Mendapatkan Emas, Paskibra FEBI Sabet 4 Kategori Kemenangan

    Meski Gagal Mendapatkan Emas, Paskibra FEBI Sabet 4 Kategori Kemenangan

    • calendar_month Kam, 19 Sep 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 756
    • 0Komentar

    lpminvest.com –  Salah satu cabang perlombaan yang dilaksanakan di hari kedua Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah dan Keterampilan (Orsenik) 2019 adalah Lomba Formasi Pengibaran Bendera (LFPB). Meski hanya mampu menyabet medali perunggu, pada cabang perlombaan tersebut Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) berhasil memborong empat kategori kemenangan. Selain kategori Lomba Formasi Pengibaran […]

  • 4 Rekomendasi Tontonan dalam Platform Audiovisual nan Mengedukasi

    4 Rekomendasi Tontonan dalam Platform Audiovisual nan Mengedukasi

    • calendar_month Rab, 4 Agu 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 813
    • 0Komentar

    Pendidikan sangat luas jangkauannya, tidak terbatas pada pendidikan formal saja. Lebih dari itu, pendidikan informal juga menjadi bagian dari ranah pendidikan yang patut diajarkan dan disebarluaskan kepada masyarakat. Semuanya bertujuan satu yaitu mengedukasi serta memberi pencerahan kepada orang-orang agar tahu dan mengamalkan ajaran pendidikan yang baik dan luhur. Tahun 2021 ini kita sedang berada dalam […]

  • FEBI Komitmen Tindak Lanjuti Go Green and Smart Campus

    FEBI Komitmen Tindak Lanjuti Go Green and Smart Campus

    • calendar_month Jum, 13 Des 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 639
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Program FEBI Go Green menjadi bagian dari rangkain acara peringatan Hari Ulang Tahun Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang yang keenam. Program ini  ditandatangani oleh Imam Taufiq, Rektor UIN Walisongo Semarang besera Dekan dan Wakil Dekan FEBI. Jumat, (13/12/2019) “Penandatanganan FEBI Go Green adalah bentuk komitmen untuk mendukung gerakan Go Green and Smart […]

  • Nah, Ini Formasi MOB Mahasiswa Baru UIN Walisongo 2016

    Nah, Ini Formasi MOB Mahasiswa Baru UIN Walisongo 2016

    • calendar_month Sen, 22 Agu 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 757
    • 0Komentar

     

  • Narasumber KPK RI Berhalangan Hadir Menuai Kekecewaan Maba

    Narasumber KPK RI Berhalangan Hadir Menuai Kekecewaan Maba

    • calendar_month Sab, 26 Agu 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 667
    • 0Komentar

    lpminvest.com-  Pemberian materi Pedidikan anti korupsi pada hari ketiga proses Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tuai kekecewaan sebagian mahasiswa. (Rabu, 23/8/17). Rencana pemberian materi pendidikan anti korupsi dari KPK RI hanya disampaikan oleh satu narasumber. Padahal seharusnya disampaikan oleh dua narasumber yang mana tiap narasumber akan mengisi empat fakultas. Berdasarkan keterangan, pengisian materi oleh KPK […]

  • Kelopak Jingga

    Kelopak Jingga

    • calendar_month Rab, 12 Mar 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 665
    • 0Komentar

    Oleh: Ghufron Nur Hasan Apa yang sebenarnya dikau pinta, jingga Sentuhan cinta kasih Telah kusalurkan sedemikian kurang bagimu Kehadiran serta kesadaran, mana yang tak kuberi Segala gundah gulana tanpa sebabmu Terasa segar mengalir deras Tusukan duri-duri kecilmu terasa begitu tajam Menghujam bibit rasa yang telah tumbuh Waktu berbelas kasih padaku Tuk menumbuh kembangkan pedih ini […]

expand_less