Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Semenjak Kamu Pergi, Aku Bukan Lagi Penyair

Semenjak Kamu Pergi, Aku Bukan Lagi Penyair

  • account_circle admin1
  • calendar_month Ming, 5 Mei 2019
  • visibility 732
  • comment 0 komentar

Oleh: Ahyar Manarul Hidayat Fatah


Entah apa yang membuatku bersedia datang ke tempat ini, Le Quartier Restaurant. Sebuah restoran dengan desain yang kental nuansa Paris ini sudah lama sekali aku tidak menyambanginya.

Malam ini gerimis mencoba mendinginkan siapa saja yang ditetesinya. Dedaunan, pot bunga, atap restoran, atau bahkan otakku yang selalu pening dengan berbagai pekerjaan setiap hari.

Turun dari mobil, berbekal sebuah payung hitam aku berhasil mendapati pintu rumah makan tersebut dan langsung masuk. Di sebelah kanan dari pintu masuk terdapat seorang perempuan duduk di bangku paling ujung. Dres biru donker yang membalut tubuhnya, serta bibir tipis dan merah yang melengkung membentuk senyum, membuat dia terlihat tetap cantik seperti empat tahun yang lalu. Namanya Elina, dia tak banyak berubah.

Dia melambaikan tangan dan melempar senyum, isyarat bahwa aku harus menghampirinya. Memang benar, untuk apa lagi aku datang ke sini selain untuk menemuinya.

“Silakan duduk, Mas,” dia mengawali.

Kemudian aku menurutinya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku. Sampai tiba-tiba aku sedikit dikagetkan dengan minuman yang sudah dia pesan lebih dulu. “Loh ini kan…”

“Sidecar eskrim vanilla. Minuman favorit kamu.” Dia memotong seenaknya.

“Kamu masih ingat saja,” ucapku.

“Tentu aku ingat, bahkan hampir semuanya tentangmu. Kamu tidak banyak berubah ya Mas.” Ia menatapku. Matanya tajam terlihat memperhatikanku dengan jeli.

“Ya begitulah,” jawabku kikuk.

Hujan di luar masih terus menghujam bumi. Jalanan berlubang telah penuh dengan airnya. Kenangan para pengendara yang ban kendaraannya terseok karena genangan itu sayup-sayup terputar lagi. Sebagian tertawa mengingatnya, dan lainnya mungkin mengumpat karenanya.

Di hadapannya seperti ini, kenangan lamaku bersamanya juga ikut terbawa suasanya. Tatapan matanya yang lentik penuh kemanjaan. Tutur katanya yang lembut serasi dengan bibirnya yang merah muda. Jiwaku bergolak. Antara kepahitan yang dia ukir dan manisnya kisah yang dia sodorkan kepadaku.

Lensa matanya tak berpindah dari objek wajahku. Menyadari aku merasa tak nyaman dengan pandangan matanya, dia bergegas melanjutkan pembicaraan yang lain.

“Kamu apa kabar Mas?”

“Aku baik, kamu gimana?” tanyaku datar.

“Tidak lebih baik ketika kamu masih mengirimi aku puisi.”

Jawabannya membuatku sedikit kaget, sedikit menggelitik. Kemudian aku menambahi.

“Puisiku hanya kata-kata receh, kamu bisa menemukannya dimana saja. Ini masa sosmed, angkringan, atau struk pembayaran indomaret.”

“Hehehe… Kamu bisa aja Mas, nyatanya aku kecanduan,” dia mencoba mencairkan suasana. Gigi gingsulnya masih saja menyempurnakan senyumnya.

“Kamu menyuruhku ke sini cuma buat minta puisi?” tanyaku masih tetap datar dan sedikit ketus.

“Rama (kali ini dia memanggil namaku yang asli), setiap orang pernah salah, dan tidak lebih bijak orang yang tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain. Alasan mengapa seseorang harus memaafkan orang lain,” ia mencoba menjelaskan. Suaranya pelan, raut mukanya nampak  mengiba.

Sekarang aku tahu maksud dia memintaku datang ke tempat ini.

Matanya yang bening kini mulai mengembun. Lengkung bibir 10 sentinya menyusut. Melihat pemandangan itu, hatiku kembali tersentuh. Tapi lagi-lagi kenyataan pahit yang pernah ia lakukan dengan cepat menepis kelemahan hatiku. Kebencianlah yang memang pantas aku keluarkan.

“Terus menurutmu bekhianat adalah sebuah kebijaksanaan?” tanyaku dengan singkat dan tegas.

“Jika kamu tidak mau mendengarkan apapun, maka berpuisilah. Aku siap mendengarkan sajak-sajakmu walaupun isinya umpatan-umpatan kebencian. Lakukanlah!”

Aku menghela nafas kemudian berdiri. “Kamu tidak akan mendengar apapun lagi mengenai puisiku.” Aku berbalik melangkah pergi. “Kamu tak lagi pantas menerima puisi-puisiku, bahkan jika itu hanya sekedar puisi berisi umpatan.”

Baru tiga langkah, dia berbicara dari belakang dalam keadaan masih duduk. Seperti berpuisi pelan dan ketegasan tiap katanya terasa. Aku berhenti dan mencoba menyimak.

Aku pikir untaian sajakmu kemarin adalah bait syair yang agung,

Suci dari dosa-dosa kebencian dan dendam.

Namun, sebotol whisky telah tumpah pada kain sajadah.

Aku tidak sadar,

Wangi melati telah membaur dengan harum

Sari anggur putih.

Dibuatnya aku mabuk dan kecanduan.

 

Dia berhenti, dan aku tersenyum ketus sambil setengah menengok. “Itu kamu sudah bisa berpuisi, tidak perlu aku lagi. Dan ketahuilah, semenjak kamu pergi, aku bukan lagi penyair. Mendengar kau membacakan puisimu, membuatku semakin muak dengan puisi,” kataku sembari mengembalikan arah pandanganku ke depan. Aku melanjutkan langkah yang sempat terhenti.

“Di luar habis turun hujan, banyak genangan. Semoga bisa menenggelamkan kebencian dan dendam yang ada padamu. Setidaknya jika baru sampai mata kaki,” katanya setengah teriak.

Aku tetap melanjutkan langkah dengan tidak peduli. Tidak peduli dengan kata-katanya Elina, atau para pengunjung yang penasaran terus menatap kami bergantian. Angin bekas hujan telah membekukan hatiku. Biarlah aku pergi membawa kebencian ini.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gedung Belum Memadahi, UIN Walisongo Buka Tiga Fakultas baru.

    • calendar_month Ming, 8 Nov 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 731
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Sebagai tindak lanjut Bertransformasinya IAIN Walisongo menjadi UIN Walisongo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin meresmikan tiga Fakultas baru. Rabu, (4/11/2015). Acara yang dilaksankan di Auditorium II kampus III UIN Walisongo ini dihadiri oleh Menteri Agama RI, serta perwakilan dari Polisi Daerah (POLDA) Jawa Tengah, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kantor wilayah (KANWIL) agama Propinsi Jawa […]

  • Sang Ada yang Fana

    • calendar_month Sel, 7 Apr 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 684
    • 0Komentar

    Berkawan dengan sang ada, Mungkinkah dia kekal? Tidak, nanti akan kukenalkan dengan fana Waktu akan bersiteru juga “Sang ada pasti pergi” Tiada kekal di medan sandiwara Semangat, Sigap dan siaga, lumpuhkan lelah itu Semua raga berilusi, “lekas membaik”   World Heath Day 2020

  • Shihabudin; Pemuda Objek dan Penyelesai Masalah

    • calendar_month Sen, 27 Mar 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 757
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Walisongo Semarang mengadakan Seminar Kepemudaan dengan tema “Mengoptimalkan Peran Pemuda dalam Merealisasikan Nilai-Nilai Nasionalis yang Berlandaskan Ahlus Sunnah Wal Jamaah”. Seminar diadakan di Auditoriun II Kampus 3 UIN Walisongo. Jumat, (24/3/2017). Seminar yang merupakan bagian dari serangkaian Forum Silaturahmi Mahasiswa (FORSIMA) PAI se-Jawa Tengah ini […]

  • Smart Card; Terobosan Baru Resmi Rilis di Wisuda Daring

    • calendar_month Kam, 6 Agu 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 1.020
    • 0Komentar

    UIN Walisongo Semarang untuk pertama kali menggelar wisuda secara virtual. Acara ini merupakan rangkaian wisuda Doktor (S.3) ke-21, Magister (S.2) ke-45, Sarjana (S.1) ke-78, dan Diploma (D.3) ke-27 yang digelar di kanal youtube resmi UIN Walisongo. Kamis, (6/8/2020). Sebanyak 1.661 mahasiswa diwisuda dalam wisuda bertema Smart and Green Graduation ini. Prof. Dr H Imam Taufiq, […]

  • Festival Pasar Sehat UMKM Kecamatan Ngaliyan, Wadah Kolaborasi Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bersama KitaZone

    • calendar_month Sen, 1 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 782
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan UMKM KitaZone dalam Festival Pasar Sehat UMKM Ngaliyan. Festival ini digelar oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro di halaman Kantor Kecamatan Ngaliyan, Sabtu-Minggu (30-31/10/2021). Anggota Kelompok 11 KKN RdR ke-77 UIN Walisongo turut serta membantu UMKM […]

  • Perempuan di Titik Nol

    • calendar_month Rab, 30 Apr 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 1.130
    • 0Komentar

    Judul            : Perempuan di titik nolPenulis         : Nawal el-SaadawiPenerjemah : Amir Sutaarga (Bahasa Indonesia)Tahun terbit : 2002 (edisi ke-6)Penerbit       : Yayasan Obor Indonesia, JakartaHalaman      : 156 halamanJudul asli      : Emra’a enda noktas el sifr Buku ini menceritakan perjalanan hidup Firdaus sejak […]

expand_less
Exit mobile version