Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Dampak Media Sosial Terhadap Persepsi Diri : Antara Kenyataan dan Ekspetasi

Dampak Media Sosial Terhadap Persepsi Diri : Antara Kenyataan dan Ekspetasi

  • account_circle admin1
  • calendar_month Ming, 22 Des 2024
  • visibility 1.196
  • comment 0 komentar

Oleh: Tsalis Mazidatul Khoir

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Platform seperti Instagram, TikTok, Twitter (X), dan Facebook kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga tempat bagi penggunanya untuk berbagi cerita, pengalaman, dan bahkan lifestyle mereka. Beragam hal yang kerap disebarluaskan melalui media sosial biasanya berupa hal-hal menyenangkan. Sehingga, dibalik keindahan yang seringkali diperlihatkan, tersimpan tekanan yang dapat mempengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Sebenarnya, bagaimana cara media sosial membentuk persepsi diri pada tiap individu? Apakah pengaruhnya lebih cenderung positif atau negatif?

Persepsi diri adalah cara seseorang menilai dan memahami dirinya sendiri. Hal ini mencakup penilaian terhadap citra tubuh, kemampuan, dan nilai diri. Di era digital, persepsi diri seringkali dipengaruhi oleh berbagai hal yang kita konsumsi dari media sosial. Pencapaian tiap orang yang terpampang melalui gadget mampu berimbas pada bagaimana cara kita memandang diri sendiri. Ketika melihat unggahan yang menampilkan kehidupan sempurna, secara naluri kita akan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Sumber: RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro

Pengaruh penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memicu munculnya perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Fenomena tersebut dikenal sebagai social comparison atau perbandingan sosial, yang terjadi ketika seseorang membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain berdasarkan apa yang mereka lihat di media sosial.

Penggunaan media sosial yang berlebihan ini akan berdampak negatif terhadap cara kita memandang diri sendiri. Salah satu dampak yang sering muncul adalah perbandingan sosial yang tidak sehat. Ketika kita terus-menerus melihat kesempurnaan orang lain kemudian membandingkan kepada diri sendiri, kita akan cenderung merasa sangat kurang. Hal ini mampu mengurangi kepercayaan diri yang akhirnya memunculkan perasaan kurang bahagia.

Dampak lainnya yaitu ketergantungan pada validasi eksternal. Kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan jumlah like, komentar, dan pengikut di media sosial. Ketergantungan pada validasi semacam ini dapat menyebabkan seseorang menginginkan banyak perhatian, dan sering merasa tidak cukup jika tidak mendapatkan perhatian yang diharapkan. Selain itu, media sosial menjadikan kita tidak realistis terhadap citra tubuh. Ini dikarenakan kita yang selalu ingin terlihat sempurna dan kurang puas dengan kekuatan diri kita yang sebenarnya. Contoh sederhananya, banyak pengguna media sosial yang menggunakan filter dan teknik pengeditan untuk menampilkan bentuk diri yang sempurna dan disukai banyak orang. Akibatnya, standar kecantikan menjadi tidak realistis, dan hal ini menimbulkan rasa tertekan bagi seseorang untuk memenuhi ekspektasi tersebut.

Adanya ketergantungan dari validasi juga berhubungan dengan fenomena FOMO (Fear of Missing Out), hal ini menjadikan masalah. Media sosial sering kali menyajikan aktivitas kehidupan yang seru dan menyenangkan, menampilkan trend terkini yang terus menerus berganti. Cepatnya perubahan trend dapat terjadi dalam kurun waktu yang sangat singkat, bahkan dapat terjadi beberapa hari saja. Sehingga, ketika seseorang tidak mampu mengikuti pengalaman serupa dapat memunculkan rasa khawatir berlebih apabila tertinggal trend. FOMO yang terus dirasakan seseorang lama-kelamaan bisa mempengaruhi kesehatan mental.

Oleh karena itu, perlunya memiliki kemampuan mengendalikan diri yang baik dalam menggunakan media sosial. Sehingga media sosial tidak lagi berimbas negatif, justru dapat memberikan manfaat bagi perkembangan persepsi diri. Lalu, apa saja dampak positif yang bisa kita rasakan?

1. Inspirasi dan Motivasi

Hal ini ketika terdapat pengguna media sosial rutin membagikan experience tentang bagaimana perjuangan mereka dan tujuan yang berhasil mereka capai sampai saat ini. Konten semacam itu bisa menjadi sumber inspirasi bagi pengguna lain serta memberikan motivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan mereka.

2. Ajang menunjukkan identitas

Media sosial mampu memberikan kita ruang, bahkan peluang bagi seseorang untuk mengekspresikan diri. Bukan cuma berbagai pengalaman hidup, pegiat media sosial dapat saling share mengenai minat, hobi, bahkan mimpi-mimpi yang mereka inginkan. Dengan demikian, tiap individu akan mampu membangun identitasnya secara lebih jelas.

3. Dukungan komunitas

Media sosial memungkinkan penggunanya menemukan komunitas yang memiliki minat ataupun pengalaman serupa. Kesamaan dalam komunitas dapat membangun keterikatan emosional antar anggotanya, ini bisa menjadikan pengguna media sosial memiliki dukungan emosional bagi diri mereka.

Pengaruh media sosial terhadap persepsi diri memang tidak bisa dianggap remeh. Untuk meminimalisir dampak negatifnya, kita perlu mengatur penggunaan media sosial dengan bijak. Pertama, dengan membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial agar tidak terjebak dalam dunia virtual dan hal ini akan membantu seseorang untuk lebih fokus pada kehidupan nyata. Selanjutnya, pilihlah akun-akun yang menginspirasi dan memotivasi, serta hindari konten-konten yang bersifat toxic karena bisa membuat kita merasa lebih buruk. Dan sadarilah bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Jangan terpaku pada kesempurnaan yang tampak, karena setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing.

Jangan lupa untuk selalu bersyukur dan menghargai diri sendiri. Ingatlah bahwa kebahagiaan dan kepuasan tidak ditentukan oleh jumlah likes atau komentar. Serta keberhargaan diri juga tidak ditentukan oleh opini orang lain. Kita tidak boleh membiarkan hal-hal negatif mendikte nilai diri kita. Bahkan harus diingat, bahwa kehidupan nyata jauh lebih berharga dari yang ditampakkan di layar media sosial. Jika media sosial dikelola dengan tepat maka bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat untuk mendukung perkembangan diri, bukan malah merusaknya.

[ Pengurus Invest BPH Periode 24/25 ]
  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LPM Invest Menumbuhkan Suasana Akademik Kru Lewat SPE

    • calendar_month Sen, 25 Feb 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 670
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Guna menjaga budaya literasi kru di saat libur perkuliahan, LPM Invest menggelar kegiatan Sekolah Pemikiran Ekonomi (SPE) yang bertajuk Membangun Insan Pers yang Kritis dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi. Selain menjaga budaya literasi, SPE juga bertujuan sebagai upaya untuk memberikan penguatan landasan berpikir bagi kru di bidang ekonomi. “Kegiatan ini wajib diikuti oleh wadyabala […]

  • Walikota Bersama PCNU Semarang Nobatkan Habib Syech Penggerak Shalawat dan Nasionalisme

    • calendar_month Jum, 13 Apr 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 688
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Hari lahir kota Semarang ke-471 dimeriahkan dengan Semarang Bersholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qadir di Halaman Balaikota, Kamis malam (12/4/2018). “Kehadiran Habib Syech dengan ribuan Syechermania di kota Semarang layak menjadi destinasi wisata religi,” kata Sekda Semarang, Ir. Agus Riyanto. Walikota Semarang, lanjutnya,  merupakan Syechermania atau penggemar Habib Syech karena cinta salawat […]

  • Presiden DEMA UIN Walisongo: Jangan Ada Mahar di Pemilihan Rektor

    • calendar_month Ming, 24 Mar 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 898
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Beberapa hari yang lalu masyarakat Indonesia dikejutkan dengan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Muchammad Romahurmuziy atau yang kerap disapa Gus Romy. OTT tersebut dilakukan atas dugaan kasus suap jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag). KPK menggeladah kantor Kemenag dan menyita sejumlah uang. Setelah KPK melakukan […]

  • Wadek I FEBI: Filantropi Zakat dan Wakaf sebagai Instrumen Indeks Pembangunan Manusia

    • calendar_month Rab, 25 Sep 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 859
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Nur Fathoni Wakil Dekan I Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang mengharapkan filantropi zakat dan wakaf tidak lagi hanya dikaitkan dengan kedermawanan dalam Islam saja. Menurutnya, filantropi zakat dan wakaf kini dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Mahasiswa (IPM). Hal itu diungkapkan saat menyampaikan sambutan […]

  • Asah Kepekaan Sosial Kru Baru Lewat Workshop

    • calendar_month Jum, 11 Okt 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 734
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Demi menumbuhkan kepekaan sosial sebagai jurnalis, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Invest Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang mengadakan acara Workshop Materi untuk kru baru usai dinyatakan lolos seleksi. Kamis, (10/10/2019). Bertempat di Pondok Pesantren Al-Ihya 2, Ngaliyan, Semarang, acara ini mengusung tema “Membentuk Jiwa Kritis Insan Pers dalam Membaca Realitas Sosial”.  […]

  • Kesenjangan Memicu Radikalisme; Lembaga Filantropi Islam Dapat Berperan

    • calendar_month Jum, 12 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 894
    • 0Komentar

    Perdamaian dunia nampaknya masih menjadi mimpi dan cita-cita bagi seluruh masyarakat di penjuru dunia. Hal tersebut terlihat dari masih banyaknya kelompok radikal yang mengarah kepada terorisme di beberapa negara Timur Tengah, Eropa, bahkan Indonesia. Mereka menentang pemerintahan legal dengan mengatasnamakan keadilan dan jihad. Selain itu, mereka juga memiliki motif untuk kesejahteraan baik secara lahiriah maupun […]

expand_less
Exit mobile version