Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Semenjak Kamu Pergi, Aku Bukan Lagi Penyair

Semenjak Kamu Pergi, Aku Bukan Lagi Penyair

  • account_circle admin1
  • calendar_month Ming, 5 Mei 2019
  • visibility 739
  • comment 0 komentar
Oleh: Ahyar Manarul Hidayat Fatah

Oleh: Ahyar Manarul Hidayat Fatah


Entah apa yang membuatku bersedia datang ke tempat ini, Le Quartier Restaurant. Sebuah restoran dengan desain yang kental nuansa Paris ini sudah lama sekali aku tidak menyambanginya.

Malam ini gerimis mencoba mendinginkan siapa saja yang ditetesinya. Dedaunan, pot bunga, atap restoran, atau bahkan otakku yang selalu pening dengan berbagai pekerjaan setiap hari.

Turun dari mobil, berbekal sebuah payung hitam aku berhasil mendapati pintu rumah makan tersebut dan langsung masuk. Di sebelah kanan dari pintu masuk terdapat seorang perempuan duduk di bangku paling ujung. Dres biru donker yang membalut tubuhnya, serta bibir tipis dan merah yang melengkung membentuk senyum, membuat dia terlihat tetap cantik seperti empat tahun yang lalu. Namanya Elina, dia tak banyak berubah.

Dia melambaikan tangan dan melempar senyum, isyarat bahwa aku harus menghampirinya. Memang benar, untuk apa lagi aku datang ke sini selain untuk menemuinya.

“Silakan duduk, Mas,” dia mengawali.

Kemudian aku menurutinya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutku. Sampai tiba-tiba aku sedikit dikagetkan dengan minuman yang sudah dia pesan lebih dulu. “Loh ini kan…”

“Sidecar eskrim vanilla. Minuman favorit kamu.” Dia memotong seenaknya.

“Kamu masih ingat saja,” ucapku.

“Tentu aku ingat, bahkan hampir semuanya tentangmu. Kamu tidak banyak berubah ya Mas.” Ia menatapku. Matanya tajam terlihat memperhatikanku dengan jeli.

“Ya begitulah,” jawabku kikuk.

Hujan di luar masih terus menghujam bumi. Jalanan berlubang telah penuh dengan airnya. Kenangan para pengendara yang ban kendaraannya terseok karena genangan itu sayup-sayup terputar lagi. Sebagian tertawa mengingatnya, dan lainnya mungkin mengumpat karenanya.

Di hadapannya seperti ini, kenangan lamaku bersamanya juga ikut terbawa suasanya. Tatapan matanya yang lentik penuh kemanjaan. Tutur katanya yang lembut serasi dengan bibirnya yang merah muda. Jiwaku bergolak. Antara kepahitan yang dia ukir dan manisnya kisah yang dia sodorkan kepadaku.

Lensa matanya tak berpindah dari objek wajahku. Menyadari aku merasa tak nyaman dengan pandangan matanya, dia bergegas melanjutkan pembicaraan yang lain.

“Kamu apa kabar Mas?”

“Aku baik, kamu gimana?” tanyaku datar.

“Tidak lebih baik ketika kamu masih mengirimi aku puisi.”

Jawabannya membuatku sedikit kaget, sedikit menggelitik. Kemudian aku menambahi.

“Puisiku hanya kata-kata receh, kamu bisa menemukannya dimana saja. Ini masa sosmed, angkringan, atau struk pembayaran indomaret.”

“Hehehe… Kamu bisa aja Mas, nyatanya aku kecanduan,” dia mencoba mencairkan suasana. Gigi gingsulnya masih saja menyempurnakan senyumnya.

“Kamu menyuruhku ke sini cuma buat minta puisi?” tanyaku masih tetap datar dan sedikit ketus.

“Rama (kali ini dia memanggil namaku yang asli), setiap orang pernah salah, dan tidak lebih bijak orang yang tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain. Alasan mengapa seseorang harus memaafkan orang lain,” ia mencoba menjelaskan. Suaranya pelan, raut mukanya nampak  mengiba.

Sekarang aku tahu maksud dia memintaku datang ke tempat ini.

Matanya yang bening kini mulai mengembun. Lengkung bibir 10 sentinya menyusut. Melihat pemandangan itu, hatiku kembali tersentuh. Tapi lagi-lagi kenyataan pahit yang pernah ia lakukan dengan cepat menepis kelemahan hatiku. Kebencianlah yang memang pantas aku keluarkan.

“Terus menurutmu bekhianat adalah sebuah kebijaksanaan?” tanyaku dengan singkat dan tegas.

“Jika kamu tidak mau mendengarkan apapun, maka berpuisilah. Aku siap mendengarkan sajak-sajakmu walaupun isinya umpatan-umpatan kebencian. Lakukanlah!”

Aku menghela nafas kemudian berdiri. “Kamu tidak akan mendengar apapun lagi mengenai puisiku.” Aku berbalik melangkah pergi. “Kamu tak lagi pantas menerima puisi-puisiku, bahkan jika itu hanya sekedar puisi berisi umpatan.”

Baru tiga langkah, dia berbicara dari belakang dalam keadaan masih duduk. Seperti berpuisi pelan dan ketegasan tiap katanya terasa. Aku berhenti dan mencoba menyimak.

Aku pikir untaian sajakmu kemarin adalah bait syair yang agung,

Suci dari dosa-dosa kebencian dan dendam.

Namun, sebotol whisky telah tumpah pada kain sajadah.

Aku tidak sadar,

Wangi melati telah membaur dengan harum

Sari anggur putih.

Dibuatnya aku mabuk dan kecanduan.

 

Dia berhenti, dan aku tersenyum ketus sambil setengah menengok. “Itu kamu sudah bisa berpuisi, tidak perlu aku lagi. Dan ketahuilah, semenjak kamu pergi, aku bukan lagi penyair. Mendengar kau membacakan puisimu, membuatku semakin muak dengan puisi,” kataku sembari mengembalikan arah pandanganku ke depan. Aku melanjutkan langkah yang sempat terhenti.

“Di luar habis turun hujan, banyak genangan. Semoga bisa menenggelamkan kebencian dan dendam yang ada padamu. Setidaknya jika baru sampai mata kaki,” katanya setengah teriak.

Aku tetap melanjutkan langkah dengan tidak peduli. Tidak peduli dengan kata-katanya Elina, atau para pengunjung yang penasaran terus menatap kami bergantian. Angin bekas hujan telah membekukan hatiku. Biarlah aku pergi membawa kebencian ini.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ziarah ke Makam Waliyullah; Sebuah Usaha Mahasiswa KKN untuk Menggali Pengetahuan

    Ziarah ke Makam Waliyullah; Sebuah Usaha Mahasiswa KKN untuk Menggali Pengetahuan

    • calendar_month Sen, 21 Feb 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 1.066
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Mahasiswa KKN MIT-DR 13 Kelompok 36 bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Lianah ziarah ke makam Wali Joko dan Wali Gambyang yang ada di Kabupaten Kendal. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal Minggu, (20/2/2022). Ziarah ke makam Para Waliyullah itu bertujuan untuk mengingat kematian sekaligus menghormati jasa-jasa dan memohonkan ampunan bagi beliau. Wali Joko merupakan seorang […]

  • Wisata Religi; Agama dan Kepentingan Pasar  

    Wisata Religi; Agama dan Kepentingan Pasar  

    • calendar_month Sab, 15 Apr 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 710
    • 0Komentar

     Oleh : M. Maulana Ali Kru Lembaga Pers Mahasiswa Invest Wisata religi menjadi pergumulan yang sangat penting untuk dibahas oleh agamawan, ekonom, budayawan, bahkan akademisi. Fenomena ini erat kaitannya dengan masyarakat Indonesia karena melihat kultur budaya masyarakatnya yang kental dengan mistik. Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam kaitannya dengan penghayatan atas agamanya masing-masing. Wisata berarti rekreasi, […]

  • MADRE

    MADRE

    • calendar_month Sab, 22 Des 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 819
    • 0Komentar

    Tak ada bahan, Kalimatku habis Sedari aku menjudulkan namamu Bagaimana bisa merangkai kata Sedang engkau lebih indah Dari syair-syair para pujangga   Tak ada bahan, Tintaku kering Seiring aku mengaksarakan namamu Bagaimana mau bersajak Sedang kasihmu terlampau luas untuk kujejak   Tak ada bahan, Kertasku raib Sejak kuniatkan untuk menulismu Bagaimana mampu menulis bait Sedang […]

  • Sering Ikut Lomba & Aktif Organisasi Menuntun Nurul Jadi Wisudawan Terbaik FEBI

    Sering Ikut Lomba & Aktif Organisasi Menuntun Nurul Jadi Wisudawan Terbaik FEBI

    • calendar_month Kam, 8 Feb 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 1.239
    • 0Komentar

    Nurul Fajriatus Saadah atau yang sering di panggil Nurul, mahasiswa asal Pati merupakan wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) jurusan Akuntansi Syariah (AKS) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Nurul memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,94 ketika di umumkan saat sidang senat terbuka di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang pada […]

  • Tarif Trump 32%: Pemicu Lompatan Ekonomi Indonesia?

    Tarif Trump 32%: Pemicu Lompatan Ekonomi Indonesia?

    • calendar_month Sab, 5 Apr 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 949
    • 0Komentar

    Kebijakan terbaru Donald Trump menaikkan tarif impor kepada beberapa negara menjadi perbincangan pasar global karena berpotensi mengubah lanskap perdagangan internasional, kekhawatiran akan perang dagang dan berdampak signifikan terhadap pantai rasokan serta pertumbuhan ekonomi berbagai negara. Salah satu kebijakan ini yaitu menaikkan tarif impor kepada Negara Indonesia menjadi 32 persen. Sebagai mitra dagang dari Amerika Serikat […]

  • Mahasiswa dalam Ekosistem Demokrasi

    Mahasiswa dalam Ekosistem Demokrasi

    • calendar_month Ming, 17 Apr 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 731
    • 0Komentar

    Terlepas dari kuatnya konfigurasi politik elit yang membelit setiap aksi mahasiswa, sejarah telah mengakui bahwa aksi mereka sukses menggulung rezim otoritarian yang dinilai telah melakukan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme dengan tuntutan reformasi. Menjadi bukti sejarah bahwa mahasiswa banyak berperan dalam mendewasakan kehidupan bernegara untuk menjadi bangsa yang waras (demokratis-red). Kerusuhan besar yang dipelopori oleh […]

expand_less