Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Anakku di Tanganku

Anakku di Tanganku

  • account_circle admin1
  • calendar_month Jum, 29 Mar 2019
  • visibility 345
  • comment 0 komentar
Oleh: Dyah Naf’ul Ummah Mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam 2016

Oleh: Dyah Naf’ul Ummah
Mahasiswi Jurusan Ekonomi Islam 2016

Suara takbir pertama Ramadhan menggema dengan indahnya, pukulan demi pukulan beduk beriringan seirama, langit pun bersih bertemankan bintang di sekelilingnya. Tetapi tidak denganku, nafasku sesak, lidahku kaku, mataku bengkak karena lelah menangis.  Aku tak bisa menerima kenyataan Syahrizal suamiku meninggalkanku di bulan Ramadhan yang baru saja menyapa, setelah mobil menabraknya saat akan pulang dari masjid. Separuh nyawaku berteriak dan berlari mengejarnya, tapi sayang, itu belum cukup untuk menyelamatkannya.

**

Embun perlahan-lahan pergi meninggalkan dedaunan yang ia singgahi semalam, saat mentari hangat menyapa semesta. Kutatap Saiful Azzam. Anakku masih asik memainkan boneka kayu dari ayahnya. Itu sajalah yang ia lakukan setiap pagi. Selama ini ia dikucilkan karena diangap gila, tapi aku tau, anakku tak gila, ia hanya lemah dalam berfikir tapi sejatinya ia normal seperti anak-anak yang lain.

Baru sebentar kupalingkan padanganku pada sudut lain, Azzam sudah tak ada dalam pandangan, begitu cepat ia menghilang, ahhh sudahlah, bukan aku tak ingin mencari, tetapi ia selalu menghilang setiap pagi. Kaki tuaku hampir tak sanggup jika harus berlarian hingga jauh mengejar Azzam.

Selepas menyiapkan sarapan, kudengar ada suara memanggilku.

”Fatimah, oo Fatimah, kenapa kau biarkan Azzam jalan sendirian? Aku tanya Azzam ingin ke sekolah, tapi dia tak pakai seragam. Sebab itulah, aku antarkan dia pulang untuk bersiap-siap dulu.”

“Terimakasih lah Zul kau antarkan anakku balik, kalau tidak, dah pergi kemana entah. Maaf kita sekeluarga selalu merepotkan,” kataku pelan Zul. Zul atau tepatnya Zulkifli, ia adalah teman baik almarhum abang sekaligus guru sekolah Azzam.

“Tak repot lah Fat. Azzam dah seperti anakku. Bantu dia siap-siap, biar sekalian aku antar dia ke sekolah.”

“Kau pergi lah dulu, biar aku yang antar Azzam ke sekolah.”

“Ehh tak usah Fat, biar aku tunggu Azzam.”

“Sudahlah Zul, kalau aku bilang aku yang akan antar anakku ke sekolah, aku antarlah, jangan turut campur dalam urusan aku!”

Kulihat beberapa saat Zul terdiam dan mengalah. Ia kemudian pergi meninggalkan Azzam yang sedari tadi ada di belakang. Aku bukan tak ingin Azzam mengenyam pendidikan, ibu mana yang tega melihat anaknya bodoh. Tapi, biarkan ia tertinggal asal bukan harga dirinya yang diinjak. Aku sanggup mengajarnya sepenuh nyawaku, tetapi tidak untuk melihatnya dibuat malu.

“Ibu, kenapa Ibu tak ijinkan Paman antarkan Azzam pergi ke sekolah?”

Aku tak mampu menjawab. Kurangkul Azzam dan mengajaknya masuk ke dalam rumah, akan kubuktikan bahwa Azzam tidak gila, ia hanya lamban, dan Azzam mampu seperti anak-anak mereka, karena anak memiliki hak yang sama untuk bahagia.

Kuajarkan Azzam banyak hal. Membaca , menulis, menggambar dan bahkan untuk hal mengaji, kutinggalkan pekerjanku untuk sementara waktu untuk memastikkan anakku dapat bimbingan yang terbaik. Semua kebiasaan yang sering ia lakukan bersama ayahnya mulai ia lupakan, hidup terlalu keras Nak. Tanpa sadar aku menangis.

**

“Ibu kan sudah bilang, baca dengan teliti, jangan malas lah Zam. Ibu tau kau lamban, tapi takkanlah mengeja huruf seperti ini kau tak bisa-bisa. Kalau kau tak serius dalam belajar, sampai kapanpun kau tak kan pandai Azzam!!”

“Azzam lapar bu. Azzam ingin makan sebentar boleh?”

“Jangan banyak alasan Azzam. Baru tadi kita berbuka, takkan pukul 9 kau sudah lapar. Alasan. Kau memang pemalas!”

  Marahku terhadap Azzam malam itu seperti tak dapat dibendung. Aku tau Azzam lelah, tapi aku jauh lebih lelah. Tanpa sadar kuayunkan tanganku ke pipi mungilnya “plakkk”. Dan ya, untuk pertama kalinya ini kulakukan.

Azzam berlari menuju kamar. Dibantingnya pintu sekeras mungkin. Aku salah. Tak semestinya anak 12 tahun kupaksa demikian rupa. Obsesiku telah menyakiti Azzam. Aku menangis. Perlahan-lahan kuketuk pintunya. Sedaya upayaku membujuknya, tapi aku gagal. Tak ada jawaban di sana. Perlahan-lahan kubuka pintunya, dia tertidur. Pipinya memerah bekas tamparanku. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku sudah terlalu kasar terhadapnya, tapi aku tak sengaja, aku terlalu sayangkan anakku. Dia pewarisku, dan dia satu-satunya. Salahkah aku menjadikannya tangguh? Ahhh sudahlah, aku sudah lelah berfikir. Kuusap-usap rambutnya lalu kukecup keningnya perlahan “Semoga kau memaafkan Ibu, Nak,” bisikku perlahan

Matahari seperti tepat di atas ubun-ubun, sangat panas. Kulihat Azzam telah bangun tapi ia diam, sama sekali tak mengeluarkan kata. Mungkin ia masih marah. Kubiarkan saja ia. Mungkin nanti ia akan seperti biasanya. Aku tetap pada pendirianku. Kupaksa ia tetap belajar. Ia seperti tak mempedulikanku, dan aku tetap memaksanya. Aku tau dia lembah tapi itu tak bermakna dia tak mampu, itu yang selalu kutanamkan pada dirinya.

“Ibu, tolong jangan paksa aku. Azzam tak sehat Bu. Lain kali ya,” kata Azzam memelas.

“Azzam, tak baik kita buat alasan agar terhindar dari belajar. Hari ini Azzam cuma  menulis, tak perlu membaca ataupun menghafal. Setelah itu Azzam boleh nonotn TV ataupun tidur.”

“Ibu, tapi Azzam letih, Bu.”

“Kau ni mau jadi apa Azzam? Pemalas. Ibu hanya suruh kau menulis, tapi kau  tak mau. Azzam kira kalau tak ada usaha, kita bisa pandai dengan sendirinya?”

Marahku kian memuncak lagi. Masalah demi masalah kurasa makin bertambah. Hidup dalam caci maki banyak orang. Taada seorangpun wanita di dunia ini yang senang bergelar janda. Dan taada seorang ibu yang sanggup mendengar anak dicaci maki dan diasingkan, bahkan dianggap gila. Pukulanku kuayunkan lebih keras dan baru berhenti ketika kulihat darah pada lengannya dan suara tangisnya.

“Azzam, maafkan Ibu, Nak.”

“Kenapa Ibu pukul Azzam, Bu? Apa salah Azzam? Ibu tak sayang Azzam!!” teriak Azzam padakku. Kesedihan benar-benar kulihat dari pancaran matanya. Kukejar dan kucari ia. Entah di mana dia sembunyi. Kulihat ia memeluk lututnya sendiri. Azzam ketakutan melihatku. Kupujuk ia. Sungguh, hatiku hancur melihatnya penuh luka.

“Sayang, maafkan Ibu, Nak. Sini Ibu obati luka Azzam.” Lembut aku membujuknya tetapi ia masih takut. Ia tak memberi perlawanan. Hanya saja aku tau tatapan itu adalah ketakutan. Kuusap lukanya dengan kain basah lalu kuoleskan obat merah. Azzam kesakitan.  Kubujuk ia perlahan-lahan masuk ke dalam kamar untuk tidur. Belum satu jam ia sudah tidur puas.

**

Pagi itu masih menunjukkan pukul 07.00 saat aku terjaga dari tidurku. Entahlah, pagi itu rasa malas menyeruak masuk dalam jiwaku. Aku seperti ingin beristirahat lebih lama lagi. Kuintip dari belakang pintu Azzam masih dalam tempat tidurnya. Kubuat secangkir kopi dan coba menikmati pagi. Sudah lama hal itu tak tak kujalani sejak Abang pergi. Kuhirup aroma kopi, masih sama seperti dulu. Aku bagai merebus syair bersama kopi yang kutuang dalam cangkir. Kopi bersajak manis dengan ingatanku terhadap senyumnya menjebak. Ingatanku selalu kuat, membuat beban hidup semakin berat. Ingatanku kembali pada beberapa memori 12 tahun lalu ketika aku mengandung Azzam di usia 7 bulan.

Masih kuingat wajah suamiku yang exited menanti kelahiran Azzam. Ia selalu mendendangkan salawat sebelum tidur. Tapi semua senyuman itu hilang saat aku terpeleset yang menyebabkan air ketubanku pecah, dan harus segera dioperasi karena belum cukup waktu untuk melahirkan normal. Itulah kenapa Azzam mengalami Periventricular Leukomalacia (PVL) atau komplikasi paling umum kedua yang melibatkan sistem pada otak bayi prematur. Hancur hatiku kala itu, tetapi Abang Shah tak henti menyemangatiku. Ini garis hidup yang telah ditentukan. Kita akan sayang anak kita walau bagaimanapun ia. Kucurahkan rasa pada Azzam sepenuhnya. Tapi semenjak Abang Shah tiada, aku ragu. Separuh cahaya dalam hidupku padam. Aku sendirian. Tapi hidup harus kena kuteruskan. Azzam satu-satunya kenangan pada abang. Kusadari aku salah.

Tanpa sadar, sudah sedari lama aku termenung. Matahari pun kian meninggi dan berpindah tempat peraduannya. Aneh sekali Azzam belum bangun. Badannya begitu dingin, wajahnya membiru. Aku terus membangunkannya tapi aku gagal. Ia masih lena dalam tidurnya. Kuusap-usap rambutnya ia tetap tak bersuara. Perlahan, kudekatkan kepalaku ke dadanya. Jantungnya tak berdetak. Nafasnya pun sudah tiada.

Tuhan, jangan kau hukum aku dengan balasan yang aku sendiri tak akan mampu. Aku kehilangan separuh nyawaku. Dan jangan biarkan kau ambil separuh lagi bersamamu. Tuhan, jika kau perkenakan, izinkan aku menyambut hari raya bersamanya walau hanya sekali ini saja. Tapi, rintihanku hampa, aku tau tiada yang mampu mengubah takdir Yang Maha Kuasa. Tetapi tetap saja aku merayu, aku ingin menebus semua kesalahanku pada anakku, dan menunaikan janji kepada arwah suamiku.

Takbir raya menjadi saksi atas hilang cahaya hidupku menemui sang pencipta. Menciptakan kesunyian yang tiada siapa sanggup membawa penawarnya. Menggores luka  dan rasa berdosa karena gagal menjaga amanah-Nya serta saksi atas jiwa-jiwa yang digantung kebahagiannya. Tuhan, aku ikhlas dengan takdir yang kau tuliskan padaku, tapi  bantulah hatiku menemui jalan dari setiap pertanyaan. Jika setelah kematian ada kehidupan, pantaskah aku dipanggil ibu? Yang surga-Mu ada di bawah telapak kakinya. Yang murka-Mu adalah murkanya. Lantas bagaimana denganku yang tanpa sengaja menghilangkan cahaya senyum dari wajahnya. Tuhan, kau Yang Maha Tahu. Ambisiku membuatnya menjadi sosok tegar memang salah, tapi setiap lafaz cinta yang aku sampaikan tak pernah sekalipun dusta. Anakku Azzam, kehidupan yang akan datang semoga kau menganggap aku sebagai ibumu. Azzam anak surga, tenanglah di sana menjaga ayah.

Kutinggalkan pemakaman yang masih harum dengan taburan bunga, melangkahkan kaki sampai pada titik akhirnya, menemani lisan yang tak akan putus dengan lantunan doa. . Doa ibu taakan pernah putus untuk sosok yang kusebut cinta.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hikayat Para Pemeluk Luka

    Hikayat Para Pemeluk Luka

    • calendar_month Kam, 5 Feb 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 152
    • 0Komentar

    ​Di hamparan aspal yang membentang tanpa ujung, sebuah jalur tunggal yang kita sebut takdir. Semua orang adalah pengelana. Tidak ada bangku untuk beristirahat, tidak ada persimpangan untuk berbalik arah. Ribuan langkah berderap serempak, menciptakan irama monoton yang memenuhi udara. ​Jika dilihat dari ketinggian kerumunan itu tampak seperti sungai yang mengalir dalam remang. Namun, jika kau […]

  • Pelepasan Balon, Jadi Objek Potret Mahasiswa Baru

    Pelepasan Balon, Jadi Objek Potret Mahasiswa Baru

    • calendar_month Sel, 23 Agu 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 253
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Peresmian pembukaan OPAK yang ditandai dengan pelepasan balon oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Prof Dr. Muhibbin menuai antusias mahasiswa baru, selasa (23/8/16). Pelepasan balon dilakukan tepat setelah Rektor UIN Walisongo menabuh gong kebesaran UIN Walisongo sebanayak sembilan kali. Prof Muhibbin mengatakan dalam sambutannya pada Upacara Pembukaan OPAK bahwa sembilan kali penabuhan […]

  • LPM INVEST Resmi Terbitkan 4 Majalah Oikos

    LPM INVEST Resmi Terbitkan 4 Majalah Oikos

    • calendar_month Jum, 1 Okt 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 335
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam pers, Semoga pembaca setia produk LPM Invest terkhusus Majalah Oikos senantiasa dalam keadaan sehat. Aamiin. Pada Minggu (26/9/2021), Majalah Oikos Edisi 6, 7, 8, dan 9 telah terbit. Adapun dari keempat majalah tersebut mengangkat tema: Pertama, Sertifikasi Halal Wajib Tapi Tak Siap; Kedua, Warung Makan Etnik, Wujud Identitas Kultural dan Pergulatan […]

  • Ketua HMJ Hukum Pidana Islam; Akademik menjadi Faktor Mahasiswa Minim Berorganisasi

    Ketua HMJ Hukum Pidana Islam; Akademik menjadi Faktor Mahasiswa Minim Berorganisasi

    • calendar_month Rab, 13 Des 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 318
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Salah satu rangkaian acara Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilwa) UIN Walisongo Semarang adalah pelaksanaan debat kandidat. Debat kandidat ini dilaksanakan serentak  di delapan fakultas. Rabu, (13/12/2017). Di tengah lalu lalang mahasiswa, debat kandidat calon ketua lembaga intra Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) berlangsung di pelataran Kantor […]

  • Tanah Air Beta Terampas Kapitalis

    Tanah Air Beta Terampas Kapitalis

    • calendar_month Kam, 7 Des 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Oleh: Akhyar Manarul HF Ungkapan Indonesia Tanah Air Beta tentu sudah tidak asing lagi bagi rakyat Indonesia. Negara dengan kekayaan yang sangat melimpah menjadi surga dunia bagi rakyatnya. Namun kini Indonesia Tanah Air Kapitalis seolah lebih tepat diungkapkan. Rakyat tergusur oleh kepentingan asing dan para pemilik modal yang hendak menguasai kekayaan Indonesia. Mirisnya, hal tersebut […]

  • Politik Zakat di Indonesia

    Politik Zakat di Indonesia

    • calendar_month Sab, 12 Agu 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 302
    • 0Komentar

    Oleh : Imam Yahya Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bersama  Islamic Development Bank (IDB), merilis informasi  bahwa pada tahun 2015 target pendapatan zakat umat Islam Indonesia sebanyak Rp 4.2 trilliyun (metrotvnews.com/18/1/2015). Sebuah angka yang fantastis bagi fund ricing yang mengedepankan nilai-nilai religiusitas. Target ini dilandasi potensi […]

expand_less