Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Anak Muda Lebih Siap Menghadapi AI Dibanding Sistemnya

Anak Muda Lebih Siap Menghadapi AI Dibanding Sistemnya

  • account_circle Redaktur LPM Invest
  • calendar_month Rab, 7 Jan 2026
  • visibility 1.149
  • comment 0 komentar

Oleh : Jahfal Bachist

Saya tidak langsung sampai pada kesimpulan ini. Bahkan pada awalnya saya termasuk orang yang cukup skeptis terhadap kecerdasan buatan. Saya khawatir AI akan membuat manusia malas berpikir, menggerus proses belajar, dan perlahan mengambil alih peran yang seharusnya dijalani manusia. Kekhawatiran itu terdengar masuk akal, dan mungkin juga wajar. Namun semakin saya memperhatikan bagaimana anak muda berinteraksi dengan AI dalam kehidupan sehari-hari pandangan saya perlahan berubah.

Perubahan itu tidak datang dari diskusi akademik atau seminar teknologi, melainkan dari hal-hal sederhana. Cara anak muda menggunakan AI dengan santai, tanpa rasa takut berlebihan. Cara mereka bertanya, mencoba, salah, lalu mencoba lagi. Di situlah saya mulai merasa ada jarak yang ganjil bukan antara manusia dan teknologi tetapi antara generasi muda dan sistem yang seharusnya membimbing mereka.

Setiap kali AI dibicarakan di ruang publik nada yang muncul hampir selalu bernuansa cemas. Kita membicarakan pekerjaan yang terancam, kejujuran akademik yang dipertanyakan, dan masa depan yang terasa tidak pasti. Diskursus ini penting, tetapi terasa timpang. Terlalu fokus pada apa yang mungkin hilang, terlalu sedikit membicarakan bagaimana manusia khususnya anak muda sebenarnya sudah beradaptasi.

AI hadir sebagai alat. Digunakan untuk membantu memahami pelajaran yang sulit, menyusun ide, atau sekadar mempercepat proses berpikir. Tidak ada klaim bahwa AI selalu benar dan tidak ada anggapan bahwa teknologi ini bisa menggantikan manusia sepenuhnya. Yang ada hanyalah sikap pragmatis: kalau bisa membantu, kenapa tidak digunakan?

Saya melihat bahwa sikap ini lahir bukan karena anak muda lebih cerdas dari generasi sebelumnya, melainkan karena mereka tumbuh dalam dunia yang serba berubah. Mereka tidak memiliki kemewahan untuk bertahan pada satu cara. Aplikasi berganti, platform berubah, dan cara belajar terus menyesuaikan. Dalam konteks itu AI hanyalah satu fase baru dari proses adaptasi yang sudah biasa mereka jalani.

Didunia pendidikan AI kerap langsung diasosiasikan dengan kecurangan dan kekhawatiran soal plagiarisme menjadi fokus utama. Saya tidak menyangkal risiko tersebut, namun saya mempertanyakan arah responsnya. Ketika sistem hanya sibuk mengawasi kita kehilangan kesempatan untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana berpikir kritis di era teknologi.

Yang terjadi kemudian adalah paradoks. Anak muda dituntut kreatif, adaptif, dan siap menghadapi masa depan, tetapi sistem yang membentuk mereka masih terjebak pada pola lama. Alih-alih mendampingi, sistem justru tertinggal dari realitas yang sedang dijalani generasi mudanya sendiri.

Kesenjangan ini menurut saya bukan soal perbedaan usia. Namun ini hanyalah soal perbedaan cara memandang perubahan. Anak muda bergerak cepat karena dunia menuntut mereka untuk begitu. Sistem bergerak lambat karena terbiasa menjaga stabilitas. Setiap perubahan diperlakukan sebagai gangguan, bukan tantangan yang perlu dihadapi bersama.

Ketakutan terhadap AI sering kali bukan berasal dari teknologinya, melainkan dari kekhawatiran kehilangan kendali. Sistem dibangun untuk menciptakan keteraturan sementara AI menuntut fleksibilitas. Anak muda tidak terlalu takut kehilangan keteraturan karena mereka tumbuh dalam dunia yang sejak awal tidak sepenuhnya teratur. Mereka sudah terbiasa belajar ulang, membongkar, lalu membangun kembali.

Tentu saja saya tidak sedang mengidealkan generasi muda. Mereka juga bisa salah. Mereka bisa terlalu bergantung pada AI, tergoda kemudahan, atau kehilangan kedalaman berpikir. Namun yang membedakan adalah sikap terhadap kesalahan. Anak muda cenderung belajar sambil berjalan. Mereka tidak menunggu kepastian sempurna sebelum mencoba. Sistem, sebaliknya, sering kali menunggu kesiapan ideal yang tidak pernah benar-benar datang.

Ironisnya, sistem sering menuntut anak muda untuk berpikir kritis, tetapi tidak menyediakan ruang yang cukup untuk melatihnya. AI dianggap merusak proses berpikir, padahal persoalannya bukan pada alatnya, melainkan pada cara berpikir itu dibangun. Jika pendidikan hanya mengukur hasil akhir, maka teknologi apa pun AI atau bukan akan selalu dianggap ancaman.

Dari pengamatan ini saya sampai pada satu pemahaman penting: masalah utama AI bukan terletak pada kecerdasannya melainkan pada kesiapan sistem untuk berubah. Anak muda melihat AI sebagai alat bantu berpikir. Sistem terlalu sering melihatnya sebagai pesaing yang harus dibatasi.

Jika kondisi ini dibiarkan risikonya bukan hanya ketertinggalan teknologi tetapi juga krisis relevansi. Sistem yang tidak mampu mengikuti realitas generasi mudanya akan perlahan ditinggalkan. Bukan karena dibenci, tetapi karena tidak lagi dirasakan hadir.

Justru di era AI peran sistem menjadi semakin krusial bukan hanya sebagai pengawas yang kaku melainkan sebagai pembimbing yang memberi arah. Literasi AI, etika penggunaan, dan kesadaran akan dampak sosial seharusnya menjadi bagian inti dari proses belajar bukan sekadar reaksi darurat ketika teknologi sudah terlanjur digunakan.

Saya percaya sistem tidak harus menjadi yang paling cepat. Tetapi ia harus cukup rendah hati untuk belajar. Anak muda tidak membutuhkan larangan tanpa dialog. Mereka membutuhkan kepercayaan, pendampingan, dan ruang untuk bertanya. Dengan cara itu, AI bisa ditempatkan secara manusiawi sebagai alat, bukan penentu nilai manusia.

Ada satu pelajaran penting yang saya lihat dari cara anak muda menghadapi AI mengenai keberanian untuk mencoba tanpa harus merasa paling tahu. Dunia hari ini tidak memberi waktu untuk menunggu kesiapan sempurna. Sistem yang mampu memahami hal ini akan tetap relevan. Sistem yang bertahan pada ketakutan justru akan semakin tertinggal.

AI akan terus berkembang terlepas dari apakah kita siap atau tidak. Anak muda sudah lebih dulu hidup di dalam perubahan itu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah AI perlu ditolak atau diterima. Pertanyaannya adalah apakah sistem bersedia berubah dan berjalan bersama generasi yang sudah berada selangkah di depan.

Jika tidak, maka yang akan tertinggal bukan hanya sistemnya-tetapi juga kesempatan kita untuk memastikan bahwa perkembangan AI tetap berpihak pada manusia bukan sekadar pada teknologi itu sendiri.

[ Pengurus Invest BPH Periode 25/26 ]

  • Penulis: Redaktur LPM Invest

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Via Harus Kembali Ke Pondok Untuk Ganti Baju

    Via Harus Kembali Ke Pondok Untuk Ganti Baju

    • calendar_month Rab, 12 Okt 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 684
    • 0Komentar

    lpminvest.com-Adanya aturan jam kuliah malam memang penuh risiko. Utamanya bagi kaum perempuan, supaya sampai di kelas banyak rintangan yang harus dilalui. Terutama saat cuaca tidak bersahabat. Rabu, (05/10/16) malam, hujan mengguyur wilayah Ngaliyan, umumnya di Kota Semarang. Jalanan Kampus Tiga UIN Walisongo Semarang tampak dipenuhi genangan air dan sedikit berlumpur. Kondisi ini membuat mahasiswa ekstra […]

  • Kelopak Jingga

    Kelopak Jingga

    • calendar_month Rab, 12 Mar 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 665
    • 0Komentar

    Oleh: Ghufron Nur Hasan Apa yang sebenarnya dikau pinta, jingga Sentuhan cinta kasih Telah kusalurkan sedemikian kurang bagimu Kehadiran serta kesadaran, mana yang tak kuberi Segala gundah gulana tanpa sebabmu Terasa segar mengalir deras Tusukan duri-duri kecilmu terasa begitu tajam Menghujam bibit rasa yang telah tumbuh Waktu berbelas kasih padaku Tuk menumbuh kembangkan pedih ini […]

  • Cahaya dalam Sujud

    Cahaya dalam Sujud

    • calendar_month Sen, 12 Mar 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 672
    • 0Komentar

    Oleh: Dewi Widi Astuti Pagi ini kudapati sebuah hamparan pemandangan yang membuatku tiada hentinya bersyukur kepada-Nya betapa indah apa yang tengah berada di depanku ini, yang tengah kulihat saat ini.             “Subhanallah” desahku dengan melepas nafas setelah merasakan betapa sejuknya udara pagi ini di pondok putri daerah Yogyakarta yang sudah kurang lebih tiga tahun kutempati […]

  • Hadapi Kuliah Tatap Muka, FEBI Siapkan Berbagai Rencana

    Hadapi Kuliah Tatap Muka, FEBI Siapkan Berbagai Rencana

    • calendar_month Rab, 22 Sep 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 698
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Kuliah blended (pembelajaran kombinasi) UIN Walisongo akan diselenggarakan mulai 11 Oktober nanti hingga akhir semester ganjil ini. Kabar tersebut tertuang dalam Surat Edaran Rektor UIN Walisongo Semarang Nomor 3307/Un.10.0/R.1/DA.05.01/09/2021 tentang Pemberitahuan Perkuliahan Tatap Muka Terbatas, Rabu, (22/09/2021). Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) melalui Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama mengaku menyambut baik […]

  • Putus Sebaran Covid 19; Kelompok 6 KKN RdR 77 UIN Walisongo Adakan Pembuatan dan Penyemprotan Desinfektan di Desa Sidorejo

    Putus Sebaran Covid 19; Kelompok 6 KKN RdR 77 UIN Walisongo Adakan Pembuatan dan Penyemprotan Desinfektan di Desa Sidorejo

    • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 828
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Putus sebaran Covid-19, Kelompok 6 Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) 77 UIN Walisongo Semarang adakan pembuatan dan penyemprotan desinfektan di Dukuh Putatsari, Desa Sidorejo, Kabupaten Demak. Rabu, (10/11/2021), kegiatan tersebut mendapat respon positif dari pihak Pemerintah Desa. Warnoto Utomo selaku Kepala Desa menyambut hangat dan memberikan dukungan positif untuk terselenggarannya kegiatan […]

  • Pelaksanaan Lomba MTQ ORSENIK 2021 Menemui Kendala Utama pada Sinyal

    Pelaksanaan Lomba MTQ ORSENIK 2021 Menemui Kendala Utama pada Sinyal

    • calendar_month Kam, 11 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 855
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Gelombang kedua Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah, dan Keterampilan (ORSENIK) resmi dibuka pada Rabu, (10/11/2021). Pelaksanaan Cabor Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) dilaksanakan secara online lewat platform Zoom dengan delapan (8) peserta baik putra maupun putri. Dalam pelaksanaannya, cabor MTQ tidak dibebaskan memilih surat tapi telah ditentukan maqra’nya oleh panitia yang nantinya akan dibacakan oleh peserta. […]

expand_less