Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Menepis Budaya Konsumtif di Bulan Ramadan

Menepis Budaya Konsumtif di Bulan Ramadan

  • account_circle admin1
  • calendar_month Ming, 19 Mei 2019
  • visibility 872
  • comment 0 komentar
Oleh: Nida Ulya Shofana Kru Lpm Invest 2017

Oleh: Nida Ulya Shofana
Kru Lpm Invest 2017

Bagi umat Muslim, bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa. Keistimewaan pada bulan  yang dalam kalender Islam di urutan kesembilan, yaitu antara bulan Sya’ban dan Syawal ini di antaranya adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh bagi umat Islam di seluruh dunia sebelum meraih kemenangan Idul Fitri. Di bulan ini pula Allah menurunkan mukjizat yang besar bagi Nabi Muhammad Saw, yaitu Al-Quran. Selain itu, setiap ibadah yang dilakukan di bulan mulia ini akan dilipatgandakan pahalanya.

Mengutip dari laman republika.co.id, Ramadan dapat dimaknai sebagai bulan untuk mengasah jiwa, mempertajam pikiran, dan kejernihan hati melalui ibadah sehingga dapat membakar dosa dan sifat tercela. Hal ini selaras dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. “Barangsiapa yang berpuasa (di Bulan) Ramadan (dalam kondisi) keimanan dan mengharapkan (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim).

Puasa dalam perspektif bahasa artinya menahan. Orang yang sedang menahan disebut sha’im atau orang yang sedang berpuasa. Secara istilah, puasa merupakan serangkaian usaha mukalaf untuk menahan diri dari kegiatan yang dapat mengurangi pahala atau membatalkan puasa dimulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam.

Secara logika, menilik pengertian di atas seharusnya puasa mampu menekan angka konsumsi karena masyarakat sedang menahan diri, termasuk menahan diri dari makan, minum, dan belanja. Namun realitasnya, angka konsumsi masyarakat menjelang puasa hingga lebaran justru berkecenderungan meningkat. Makna konsumsi yang semula untuk memenuhi kebutuhan hidup telah berubah menjadi pelampiasan hasrat dan pemenuhan keinginan setelah menahan diri.

Peningkatan jumlah konsumsi berarti ada lonjakan permintaan. Sesuai teori ekonomi yang berlaku apabila permintaan meningkat sementara persediaan barang berkurang maka akan terjadi kenaikan harga untuk barang tertentu. Mengantisipasi hal itu, pemerintah sebagai salah satu pelaku ekonomi makro akan menyiapkan stok barang yang lebih banyak dan menjaga kestabilan harga agar tidak terjadi inflasi yang terlalu tinggi.

Bukti lain kenaikan jumlah konsumsi masyarakat ditunjukkan oleh kemunculan penjual-penjual baru di jalanan hingga pertokoan yang laris diserbu dari tahun ke tahun. Aneka jajanan berbuka tidak pernah sepi pembeli. Display mini market pun menjadi lebih sesak oleh penambahan produk makanan yang cenderung dicari masyarakat seperti sirup dan roti kaleng.

Pola perilaku konsumtif masyarakat juga merambah pasar digital. Melansir kompas.com, lalu lintas akses menuju situs e-commerce pada Ramadan tahun lalu meningkat 5% hingga 10%. Diperkirakan Ramadan tahun ini pun mengalami peningkatan. Hal ini didukung oleh promo besar-besaran platform belanja online dan gaya hidup masyarakat yang instan.

Euforia Ramadan dalam menyambut Idul Fitri membentuk mindset serba baru yang menuntut masyarakat untuk membeli lebih, dengan kata lain masyarakat akan tetap membeli barang meskipun tidak terlalu dibutuhkan dan berharga mahal. Masyarakat cenderung konsumtif karena memiliki dua sumber pendapatan menjelang Idul fitri, yaitu pendapatan tetap dan Tunjangan Hari Raya (THR). THR adalah bentuk apresiasi perusahaan kepada karyawan di samping gaji yang biasanya berjumlah dua hingga tiga kali lipat gaji. Kenaikan pendapatan ini mendorong masyarakat membelanjakan uangnya untuk kebutuhan di Hari Raya, dari primer hingga tersier.

Perilaku konsumtif dan berlebih-lebihan menyalahi esensi puasa dan tidak disukai Allah. Hal ini dijelaskan dalam Qs. Al Isra : 26-27, yaitu “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.

Puasa hendaklah dipahami secara batiniah agar timbul kesadaran filosofis puasa yang bermuara pada ketaqwaan kepada Allah dengan cara menumbuhkan kepekaan nurani. Mari manfaatkan momen Ramadan yang menjanjikan pahala berlipat ganda sebagai sarana pengikat ukhuwah dan berbagi untuk sesama agar mencapai kemenangan yang hakiki.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Najwa Shihab Gagal Hadir, Panitia Bimbang Salurkan Donasi 4000 Buku

    Najwa Shihab Gagal Hadir, Panitia Bimbang Salurkan Donasi 4000 Buku

    • calendar_month Rab, 29 Agu 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 873
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Salah satu rangkaian kegiatan dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di hari terakhir adalah gerakan donasi 4000 buku yang diikuti seluruh Mahasiswa baru UIN Walisongo Semarang. Rabu, (29/8/2018). Donasi 4000 buku ini diterima dengan baik oleh mahasiswa baru. Mereka merasa kegiatan tersebut sangat bermanfaat untuk orang-orang yang membutuhkan, khususnya di daerah yang masih […]

  • Workshop Lapangan, Calon Kru Magang Ditantang Selesaikan Tugas dalam Semalam

    Workshop Lapangan, Calon Kru Magang Ditantang Selesaikan Tugas dalam Semalam

    • calendar_month Ming, 13 Okt 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 855
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Usai berikan pelatihan dasar jurnalistik di Workshop Materi, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Invest tantang calon kru magang turun lapangan untuk mempraktikkan materi jurnalistik tempo hari dalam acara Workshop Lapangan. Minggu, (13/10/2019). Acara bertajuk ‘Membentuk Jiwa Kritis Insan Pers dalam Membaca Realitas Sosial’ tersebut berlangsung selama dua hari, dimulai pada Sabtu pagi hingga Minggu siang di kawasan […]

  • FORSHEI Adakan Kelas Asah Skill; Peningkatan Kapabilitas Kepenulisan Mahasiswa

    FORSHEI Adakan Kelas Asah Skill; Peningkatan Kapabilitas Kepenulisan Mahasiswa

    • calendar_month Ming, 24 Okt 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 783
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Minggu, (24/10/2021) Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (FORSHEI) UIN Walisongo mengadakan Kelas Asah Skill dengan mengusung tema “Meningkatkan Kapabilitas dalam Kepenulisan sebagai Langkah Aktualisasi Diri.” Acara dilaksanakan menggunakan media zoom meeting, diikuti oleh mahasiswa FEBI dan dihadiri pembicara seorang jurnalis dari Suara Merdeka. Tujuan dilaksanakannya acara ini untuk menambah wawasan serta pengetahuan bagi peserta […]

  • FEBI Lepas 142 Wisudawan

    FEBI Lepas 142 Wisudawan

    • calendar_month Sen, 4 Mar 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 802
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang melepas 142 wisudawan pada Pelepasan Wisuda Ke-10 dan Pengukuhan Keluarga Alumni (KALAM) FEBI Periode 2018-2022, bertempat di Ballroom lantai 5 Harris Hotel Semarang. Senin, (4/3/2019). Berdasarkan laporan Ali Murtadho, Wakil Dekan I Bidang Akademik, wisudawan dari S2 Ekonomi Syariah sebanyak 8 orang. Adapun wisudawan […]

  • Plagiarisme Jadi Materi Wajib Bagi Mahasiswa Baru

    Plagiarisme Jadi Materi Wajib Bagi Mahasiswa Baru

    • calendar_month Sel, 28 Agu 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 915
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Materi wajib untuk mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) tentang plagiarisme disampaikan di hari kedua kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Selasa, (28/8/2018). Syaifullah, Ketua Pusat Pengembanagan Bahasa (PPB) UIN Walisongo merasa prihatin dengan mahasiswa yang terbiasa mengerjakan tugas dengan cara instan. “Mahasiswa kebanyakan suka dengan cara instan untuk menyelesaikan tugas […]

  • Hari Santri Nasional, Refleksi Jati Diri Santri

    Hari Santri Nasional, Refleksi Jati Diri Santri

    • calendar_month Sen, 24 Okt 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 635
    • 0Komentar

    Hari Santri Nasional bukan hanya tentang euforia perayaan, tetapi bagaimana pemaknaannya untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik. Selain itu, kaum santri harus benar-benar memahamkan dirinya, mereka harus sadar bahwa santri memiliki peran yang sangat penting demi keberlangsungan Indonesia ke depan. Sepak terjang Nahdhatul Ulama sebagai lembaga keagamaan tidak bisa dipisahkan dari keterlibatannya dalam percaturan politik di […]

expand_less