Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RESENSI » Gambaran Kehampaan Melalui Film Call Me Chihiro

Gambaran Kehampaan Melalui Film Call Me Chihiro

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sel, 2 Jan 2024
  • visibility 526
  • comment 0 komentar

Poster Film Call Me Chihiro, Sumber: Twitter Netfix Indonesia

Identitas Film

Judul                    : Call Me Chihiro

Produksi              : Asmik Ace, Digital Ace

Doproduksi oleh : Netflix, Asmik Ace

Distribusi             : Asmik Ace

Sutradara            : Imaizumi Rikiya

Produser             : Akira Yamano

Penulis naskah    : Kaori Sawai, Rikiya Imaizumi

Durasi                  : 134 menit

Tanggal rilis         : 23 Februari 2023

Sinopsis Film

Film ini merupakan adaptasi dari manga dengan judul Chihiro-San karya Hiroyuki Yasuda. Film dengan genre Slice Of Life ini bercerita mengenai tokoh utama Chihiro (Kasumi Arimura), mantan pekerja seksual yang beralih menjadi pelayan di sebuah toko bento kecil di kota tepi pantai.

Menggunakan sinematografis yang bagus dan tepat serta menyajikan nuansa gembira yang terasa sejak awal cerita. Dimulai dengan keseharian Chihiro di toko Bento Noko Noko. Keramahannya dalam menyapa pembeli meski terang-terangan mendapat kalimat cercaan dari Nagai pekerja paruh waktu mengenai pekerjaan Chihiro sebelumnya. Sesuai dengan genre Slice Of Life, film ini memiliki alur lambat, di mana akan disajikan bagaimana keramahan Chihiro dapat menarik orang-orang untuk menyukainya. Selain itu, film ini juga mengupas keseharian tokoh lain meskipun hanya bagian dasarnya.

Keramahan Chihiro selalu muncul dengan senyumnya yang khas. Ia selalu menanggapi dengan santai segala situasi yang terjadi. Karakter itu di tunjukkan pada part saat ia tetap tenang dan santai bahkan saat diam-diam di foto Okaji (Hana Toyoshima) yang merupakan seorang gadis SMA tahun kedua. Okaji diceritakan sebagai gadis pemalu, tertarik pada kebebasan Chihiro yang melangkah ke mana saja tanpa beban. Okaji tidak pernah nyaman di rumahnya. Ia akhirnya memberanikan diri berbicara dengan Chihiro yang kemudian mendapat tanggapan positif dari Chihiro  yang membuat Okaji entah bagaimana melekat. Perangai positif Chihiro membuat Okaji mengalami perkembangan sikap yang lebih baik.

Interaksi Chihiro dengan beberapa tokoh lain seperti Makoto (Tetta Shimada) yang merupakan anak laki-laki kelas 3 yang suka jahil tapi mandiri, Bito (Mitsuru Hirata) yang merupakan pemilik toko Bento Noko Noko, Tae (Jun Fubuki) yang merupakan istri Bito yang dirawat dan penglihatannya semakin hilang, dan Taniguchi (Ryuya Wakaba) seorang pekerja konstruksi, membuat penonton dapat memahami bagaimana daya tarik yang dibawa Chihiro dalam film. Ramah tamah terhadap siapa pun termasuk gelandangan tua yang akhirnya membawa Chihiro bertemu dengan Becchin (Itsugi Nagasawa) anak SMA tahun kedua yang nantinya juga berteman dengan Okaji. Interaksi Chihiro dengan beberapa tokoh tersebut membawa interaksi lain antar para tokoh. Cara Chihiro yang tak ragu menyapa terlebih dahulu dan terus membawa aura yang menyenangkan ketika bicara membuat orang di sekitarnya ikut senang jika diajaknya mengobrol.

Seorang sahabat baik bernama Basil (Van) yang hadir membuat film yang awalnya riang dan tawa perlahan menjadi melankolis. Curahan hati yang mengalir di antara keduanya menghadirkan nuansa sunyi dalam film. Obrolan-obrolan dengan bahasan yang lebih mendalam selalu terjadi saat tampil adegan mereka. Selain dengan Basil, hadir juga Utsumi (Lily Franky)  yang merupakan mantan bos tempat Chihiro dulu bekera. Alur yang akhirnya mengungkapkan bagaimana sejatinya hubungan antar keduanya.

Sepanjang film di putar terdapat beberapa kali adegan Chihiro yang sendiri dan sepi, serta bagaimana sorot matanya dapat selalu memancarkan kekosongan yang menghadirkan tanda tanya, apakah ia tengah berbohong? Ia selalu menjawab dengan lantang jika seseorang bertanya mengenai pekerjaannya yang dulu. Ia juga selalu berterus terang apabila suka atau tidak suka kepada sikap seseorang. Namun dengan keterbukaannya itu, sebenarnya tidak ada satu pun orang yang benar-benar mengenal Chihiro. Semua orang dapat jatuh cinta dengannya, dapat berjalan bersama bahkan hal lainnya, tapi tak satu pun mengenalnya dengan baik. Kehampaan makin tergambar ketika segmen pendek dari Chihiro bersama Tae istri pemilik toko bento, Chihiro dengan Van, dan Chihiro dengan Utsumi.

Perasaan hangat sepanjang film memunculkan perasaan seolah tengah dipeluk, nyaman, menenangkan, namun sesak, belum lagi ditambah latar suara yang mendukung tiap suasana yang hadir. Setiap karakter film dibangun cukup baik dengan permasalahan sendiri-sendiri dan penanganan masalah dengan Chihiro yang mengambil peran besar di dalam penyelesaian itu tanpa ia sadari. Meski tiap penyelesaian tokoh tak secara gamblang dijelaskan, tetapi cukup untuk menyebut bahwa Chihiro merupakan jelmaan peri yang membantu para tokoh berjalan keluar dari masalah walaupun  ia sendiri tetap kesepian. Film ini juga tidak melepas gelar mantan pekerja seksual si pemeran utama yang melibatkan adegan-adegan di mana Chihiro melakukan candaan dan adegan ke arah seksual.

Pesan dalam film tersampaikan cukup baik, meski sangat disayangkan  tokoh lainnya perlahan mendapat teman dan kasih sayang sebagai jalan keluar dari masalah namun pemeran utama justru memilih menghindari perasaan cinta, sehingga tidak ada penyelesaian pasti mengenai kehampaan Chihiro. Perjalanan menuju akhir makin terasa jika cerianya Chihiro hanyalah sampul rapi tanpa celah, penutup kehampaan yang hanya tampak jelas saat ia sendirian. Walaupun tanpa kepastian akhir sedih/bahagia, secara tersirat dapat dipahami jika pemeran utama mau menerima kasih sayang dan mencoba menerima. Ia berfikir bahwa jika ia dapat mengasihi orang lain  maka kehampaan dalam dirinya juga akan sirna sebagaimana tokoh lain yang saling mengasihi di ujung cerita.

Sayangnya dengan durasi sekitar dua jam tidak ada gambaran jelas tentang aksi semua tokoh, terlebih banyaknya permasalahan yang dituangkan dalam film. Adegan yang berlangsung juga tidak selalu digambarkan jelas asal-usulnya, sehingga mengenai alasan setiap tokoh melakukan ini dan itu dikembalikan kepada preferensi penonton. Hadirnya konflik tak hanya sebagai penyambut di awal, bahkan masa lalu Chihiro dan bagaimana pekerjaan seksualnya dulu baru dapat dipahami menuju akhir film._[i]

Oleh: Mahda Nuurainiyah (Sekretaris Redaksi)

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gandeng 15 Desa; Dinkes Pati sebagai Fasilitator Peduli Covid

    Gandeng 15 Desa; Dinkes Pati sebagai Fasilitator Peduli Covid

    • calendar_month Sen, 12 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 189
    • 0Komentar

    lpminvest.com- “Pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan, mulai dari himbauan, ancang-ancang ekonomi sampai pemberian stimulus di berbagai sektor. Sebaliknya, justru masyarakat yang merasa menjadi korban malah enggan untuk melindungi diri dan orang sekitar, perlindungan terkecil misal memakai masker dan rajin cuci tangan,” statement yang diungkapkan  Dina sebagai bukti Sharing Session Peduli Covid-19 dimulai. Minggu,(11/10/2020). Sesuai tema […]

  • Nugraha Dorong UIN Walisongo Terapkan GNNT

    Nugraha Dorong UIN Walisongo Terapkan GNNT

    • calendar_month Jum, 28 Apr 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 183
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Seminar nasional bertajuk “Gerakan Sadar Digital, Menuju Ekonomi yang Ideal” memeriahkan harlah UKM Forum Studi Hukum Ekonomi Islam (ForSHEI) yang ke – 9. Kamis. (27/4/2017). Bertempat di Auditorium II kampus III, Dian Nugraha selaku Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Regional Jawa Tengah menyampaikan materi bertema “Menjawab Tantangan Era Digital dengan Optimalisasi Layanan […]

  • Ini Tiga Musuh Utama Indonesia Menurut Mantan Anggota DPR RI

    Ini Tiga Musuh Utama Indonesia Menurut Mantan Anggota DPR RI

    • calendar_month Kam, 29 Mar 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 167
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Mantan anggota DPR RI periode 2009 -2014, Tugabus Dedi Suwendi Gumelar mengibaratkan negara Indonesia sebagai sebuah pohon. Kini, pohon tersebut tengah menghadapi tiga musuh yang merongrong kedaulatan Indonesia, yaitu jiwa yang koruptif, terorisme, serta narkoba dan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Menurut Miing, sapaan akrabnya, korupsi bukan hanya terkait mengambil uang negara. […]

  • Kesenjangan Memicu Radikalisme; Lembaga Filantropi Islam Dapat Berperan

    Kesenjangan Memicu Radikalisme; Lembaga Filantropi Islam Dapat Berperan

    • calendar_month Jum, 12 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Perdamaian dunia nampaknya masih menjadi mimpi dan cita-cita bagi seluruh masyarakat di penjuru dunia. Hal tersebut terlihat dari masih banyaknya kelompok radikal yang mengarah kepada terorisme di beberapa negara Timur Tengah, Eropa, bahkan Indonesia. Mereka menentang pemerintahan legal dengan mengatasnamakan keadilan dan jihad. Selain itu, mereka juga memiliki motif untuk kesejahteraan baik secara lahiriah maupun […]

  • Keresahan CAMABA FEBI Terkait Penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT)

    Keresahan CAMABA FEBI Terkait Penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT)

    • calendar_month Sen, 17 Jul 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 203
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Terhitung tiga hari setelah penutupan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi Calon Mahasiswa Baru (CAMABA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang yang dinyatakan lolos. Masih banyak CAMABA yang merasakan keresahan tentang penentuan besaran UKT yang tidak sesuai ekspetasi. Terutama di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Menurut hasil survei yang beberapa hari lalu dilakukan oleh […]

  • Kandidat Pemimpin Mahasiswa Optimis Menghidupkan Kegiatan UKM

    Kandidat Pemimpin Mahasiswa Optimis Menghidupkan Kegiatan UKM

    • calendar_month Jum, 23 Des 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 162
    • 0Komentar

      lpminvest.com– Paradigma mahasiswa menjadi masalah yang menarik untuk diperdebatkan para kandidat Dewan Mahasiawa (Dema) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) di gedung Laboratorium Dakwah (Labda). Jumat, (23/12/16). Banyaknya acara yang diselenggarakan oleh lembaga intra kampus baik Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) acap […]

expand_less