Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Bagaimana Kerikil Pagi Hari di Telapak Kaki

Bagaimana Kerikil Pagi Hari di Telapak Kaki

  • account_circle admin1
  • calendar_month Rab, 8 Apr 2020
  • visibility 723
  • comment 0 komentar
th

Oleh : Ahyar Manarul Hidayah Fatah Sumber Gambar : google

Pagi yang terik, sinar matahari mencakar wajah dan membakar tubuhku yang semalam gigil meminta kehangatan Tuhan. Sial, aku kesiangan lagi. Ayam sudah berhenti berkokok dan anak-anak sekolah sudah sepi dari jalanan. Tidak, aku lupa. Sekolah sudah lama diliburkan karena situasi seperti ini. Lalu anakku? Dia masih tertidur pulas. Bukan karena sekolah libur, dia memang tidak pernah sekolah. Dia hanya tenang dalam kesederhanaan berpikir tentang hidup. Baginya, melewati hari cukup dengan membawa satu persoalan; bagaimana perut yang dibawa pagi tidak merasa lapar ketika berjumpa sore. Mana mungkin aku membelikannya kertas berlapis-lapis atau sebatang pensil yang tidak bisa dimakan. Anakku, dia hamba Tuhan yang dititipkan untuk menghibur kehidupanku yang begini-begini saja. “Tidak usah berpikir terlalu rumit nak, dijadikannya kamu anakku adalah untuk menyederhanakan kerumitan hidup yang tidak perlu.” Ucapku dalam hati.

Seperti mendengar aku membicarakannya dalam hati, ia perlahan-lahan membuka mata dan bergeliat menentang terik matahari. “Sudah siang pak?,” ia tiba-tiba bertanya sembari mengangkat badannya yang lekat dengan debu. Aku tersenyum menyambut putraku yang baru saja bertemu pagi. “Iya nak, segera bergegas mandi, kita akan berpetualang lagi hari ini. Bukankah kamu ingin menemukan pahlawan kesukaan kamu?”

“Iya pak, tentu saja. Aku ingin bertemu Batman,” Ucapnya semangat. Membalikan badan dan bergegas mandi.

***

Matahari sudah satu penggal tingginya, ku susuri sudut-sudut kota yang biru. Baru beberapa saja yang berhasil ku masukan ke dalam gerobak. Beberapa tumpuk kardus bekas, botol-botol bekas, dan dua buah kaleng Kong Guan. Anakku juga turut serta di dalamnya, setia menemaniku, menjaga pundi-pundi rupiah yang satu persatu ku kumpulkan. Selain karena bangun kesiangan, tentu saja hal lain yang mempengaruhi adalah wabah penyakit yang menghantui seluruh penjuru negeri. Jalanan sepi, sudut-sudut pemukiman hening; hanya beberapa saja yang berani keluar rumah, dan di pasar begitu jelas terlihat kerinduan penjual kepada pelanggannya. Aku pun, kesulitan menghimpun rosok dengan jumlah seperti biasa.

“Pak Karman,” Ada yang memanggil namaku. Ternyata Pak Budi, pemiliki warung makan yang biasanya aku mengambil botol-botol plastik bekas darinya.

“Hai Pak Budi, apa kabar, kenapa warungnya tutup?” aku menyahut.

“Musim kaya gini, dimana-mana warung tutup Pak Karman. Tidak ada pelanggan yang datang. Lagian, semua orang sekarang sedang takut terkena penyakit itu,” ia menjelaskan.

“Kamu apa tidak takut?” lanjutnya bertanya.

Sambil tersenyum kecil aku menjawab. “Aku juga manusia Pak, aku pun takut. Tapi aku juga takut kalau sampai anakku tidak bisa makan. Juga, apa yang mau diambil dari aku yang tidak punya apa-apa. Virus pun sepertinya malas, hahaha.” Aku menjawab dengan sedikit bercanda.

Aku jadi berpikir, memang tidak ada keuntungan menggangguku yang tidak memilki apa-apa ini. Apa yang mau diambil si virus itu. Sekotor-kotornya aku berpakaian, dia tidak akan tertarik untuk tinggal. Tidak ada untungnya.

“Bapak, hari ini kita ke Perumahan Dalem Indah lagi kan?” tanya putraku.

Aku spontan menyahut “Tentu saja Nak,” Ku sunggingkan sedikit senyum.

Memang untungnya sampai saat ini pemulung belum dilarang masuk. Anakku ingin kembali mengadu keberuntungannya di perumahan kalangan menengah itu. Wajar saja, kemarin ia bahagia tiada kira ketika kami berhasil mendapati Spiderman mainan di tong sampah di depan salah satu rumah. Hari ini ia berharap hal yang sama, menemukan sosok “pahlawan” baru untuk dibawa pulang. Untuk menemani Si Spiderman bermain bersamanya. Batman, ia berharap menemukannya nanti. Tentu aku tidak berani menjual barang plastik ini, biarlah menjadi hiburan untuk putraku.

***

Tibalah kami di perumahan yang dimaksud. Satu demi satu rumah dilewati. Tidak banyak yang bisa diambil. Sejauh kami berjalan, ku perhatikan semua pintu rumah tertutup rapat. Hening. Bahkan gonggongan anjing pun tak luput dari keheningan itu. Sampai ku temukan satu rumah yang seperti sedang sedikit ada aktivitas. Ku fokuskan perhatianku pada tong sampah di luar pagar. Mulai memilah sampah yang masih bernilai. Tak ku hiraukan pemilik rumah yang sedang sibuk membereskan sepetak halaman rumah. Sedikit berantakan dengan sampah berceceran dan kursi yang bertumpuk-tumpuk tidak rapi.

Aku yakin sudah tidak ada lagi yang bisa diambil dari tong sampah itu. Bertolaklah aku darinya. Baru empat langkah, terdengar ada yang memanggil.

“Hai kang rosok tunggu, ke sini sebentar,” Benar saja. Pemilik rumah tadi yang memanggilku.

Kembalilah aku pada tempat sampah tadi yang dekat dengan pagar itu. Di seberang pagar, perempuan berkulit putih berambut pirang sebahu, lengkap dengan sarung tangan dan masker, perempuan yang memanggilku tadi.

“Anda memanggail saya Bu?” ku gerakan badanku setengah membungkuk dan senyum menyertai.

“Iya, tunggu sebentar di sini. Aku ada beberapa kardus bekas. Tidak usah kamu bayar, gratis,” ucapnya dengan nada sedikit lebih tinggi dari nada obrolan normal orang pada umumnya.

“Terima kasih,” jawabku. Tidak tahu aku salah apa. Tapi yasudah, aku cuma menurut.

Tidak berselang lama kembalilah perempuan tadi. Membawa setumpuk kardus yang jumlahnya bisa dihitung jari. Aku paham betul, itu kardus bekas minuman ringan.

“Nih dibawa ya, beruntung kamu mampir di depan rumahku, dapat barang gratis,” Ucapnya sambil menyodorkan setumpuk kardus tadi. Ku terima dengan senang hati dan…

“hihihi..” aku tertawa ringan.

“Kenapa tertawa, ada yang lucu?” tanyanya dengan mata sedikit melotot.

Entah kenapa aku beraninya menjawab dengan niat sedikit guyon.

“Tentu saja gratis Bu, ini hanya beberapa kardus saja. Dibayar pun paling cuma laku dua ribu perak. Hehehe..” aku menjelaskan.

“Dasar tukang rosok tidak tahu diri. Udah dikasih malah ngelunjak,” bentaknya dengan mata yang lebih melotot daripada tadi.

“Maaf bu, saya tidak bermaksud…”

“Cukup, pergi dari sini sekarang juga,” ia memotong. Masih dalam keadaan marah ia melanjutkan..

“Aku tidak mau lebih emosi lagi dari ini. Semalam hajatanku dibubarkan aparat dengan alasan mencegah penyebaran virus sialan itu. Sekarang kamu jangan ikut-ikutan membuatku geram. Pergi! Aku juga tidak mau tertular virus hanya karena berinteraksi dengan orang kotor seperti kamu. Pergi!” bentaknya dengan nada tinggi. Tangannya menunjuk jauh, pertanda aku harus segera pergi sebelum hal buruk terjadi.

Tanpa pikir panjang aku langsung beranjak dari tempat tersebut. Pergi jauh dari rumah menyeramkan itu. Aku bayangkan, jika sudah menikah, pasti suaminya jarang pulang ke rumah karena takut diterkam istrinya sendiri.

***

Kaki dan roda gerobakku sudah berpijak jauh dari tempat tadi. Ku minta anakku untuk sementara tidak lagi mencari mainan baru di tempat itu. Aku kapok.

Hujan menghampiri senja begitu deras. Berteduhlah kami di bawah fly over. Aku bertanya pada Tuhan, “Tuhan, Engkau tahu kami kehausan sepanjang hari. Tapi apakah artinya kami harus meminum air hujan?”

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Marak Intoleransi, Guru Besar dan Akademisi Buat Petisi Untuk Presiden

    Marak Intoleransi, Guru Besar dan Akademisi Buat Petisi Untuk Presiden

    • calendar_month Sel, 28 Feb 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 687
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Silaturrahim Guru Besar dan Akademisi se-Jawa Tengah bertajuk “Rahim Bangsa, Meski Berbeda, Kita Saudara” ini berlangsung di Auditorium 1 Lantai II UIN Walisongo Semarang. Selasa, (28/02/2017). Para Guru Besar dan Akademisi ini mendiskusikan keadaan Indonesia akhir-akhir ini ramai, pasalnya, prasangka, kebencian, fitnah, intoleransi kian mengancam demikrasi dan kebhinekaan kita. Dari silaturrahim ini tercetus ide […]

  • Ijazah SMA Berpenghasilan Ratusan Juta

    Ijazah SMA Berpenghasilan Ratusan Juta

    • calendar_month Sel, 10 Mar 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 794
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia saat ini menjadikan masyarakat berpeluang besar untuk mendirikan bisnis yang menjanjikan, terutama dalam bidang kuliner. ‘Warung Pojok’ di Jalan Wonodri Sendang  No.17 F Semarang  adalah salah satu contoh bisnis kuliner yang mampu bertahan selama 15 tahun. Dewi, si pemilik warung  pojok mengaku, nama “Pojok” dipilih karena letak warung yang […]

  • Mempererat Tali Persaudaraan Melalui Musik

    Mempererat Tali Persaudaraan Melalui Musik

    • calendar_month Kam, 13 Nov 2014
    • account_circle admin1
    • visibility 756
    • 0Komentar

    lpminvest.com-Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, menggelar parade musik di samping auditorium 2 kampus 3. Rabu, (12/11/2014). Acara yang bertajuk “Semarak Persatuan; bersama UKM musik UIN Walisongo Semarang” ini diadakan dalam rangka mempererat tali persaudaraan antara UKM Musik satu dengan yang lainnya, serta untuk memperingati hari pahlawan. “Acara ini untuk […]

  • Prodi Ekonomi Islam Luluskan Mahasiswa Semester Tujuh, Ternyata Cumlaude Semua

    Prodi Ekonomi Islam Luluskan Mahasiswa Semester Tujuh, Ternyata Cumlaude Semua

    • calendar_month Rab, 13 Jan 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 892
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Perhelatan sidang munaqosah Prodi Ekonomi Islam rampung digelar pada 30 Desember 2020. Melalui prosesi sidang dalam ruang maya ini, Prodi Ekonomi Islam luluskan 15 mahasiswa semester 7 dengan berpredikat cumlaude. Nama-nama mahasiswa tersebut antara lain Milhatun Nisa, Umair Abdullah Kholilurrahman, Yeni Rahayu, Dhea Aulia Damayanti, Itsna Tifani Barokatur Rizqoh, Arsakti Foreignyca Dewi, Sara Desmala, […]

  • Semarak FEBI Bersholawat

    Semarak FEBI Bersholawat

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 665
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Setelah baru saja resmi dilantik, Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang mengadakan program pertamanya yang bertajuk Febi Bersholawat. Acara perdana ini dilaksanakan di depan Kantor FEBI Kampus 3 UIN Walisongo. Selasa, (03/03/2015). Selain dihadiri oleh mahasiswa, dalam acara ini juga turut dihadiri Dekan, Wakil Dekan dan segenap pimpinan […]

  • Barrier Gate Menuai Kemacetan

    Barrier Gate Menuai Kemacetan

    • calendar_month Sel, 26 Jun 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 763
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Penggunaan barrier gate di setiap pintu masuk utama UIN Walisongo akhirnya diberlakukan pada awal perkuliahan pascalibur lebaran. Siapapun yang keluar-masuk kampus menggunakan kendaraan wajib mengambil karcis untuk dapat melewati palang pintu otomatis. Selasa (26/7/18). Pemberlakuan sistem barrier gate ini menuai kontroversi. Pasalnya, hal tersebut mengakibatkan antrean mengular hingga ke jalan raya di hari pertama […]

expand_less