Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Bagaimana Kerikil Pagi Hari di Telapak Kaki

Bagaimana Kerikil Pagi Hari di Telapak Kaki

  • account_circle admin1
  • calendar_month Rab, 8 Apr 2020
  • visibility 665
  • comment 0 komentar
th

Oleh : Ahyar Manarul Hidayah Fatah Sumber Gambar : google

Pagi yang terik, sinar matahari mencakar wajah dan membakar tubuhku yang semalam gigil meminta kehangatan Tuhan. Sial, aku kesiangan lagi. Ayam sudah berhenti berkokok dan anak-anak sekolah sudah sepi dari jalanan. Tidak, aku lupa. Sekolah sudah lama diliburkan karena situasi seperti ini. Lalu anakku? Dia masih tertidur pulas. Bukan karena sekolah libur, dia memang tidak pernah sekolah. Dia hanya tenang dalam kesederhanaan berpikir tentang hidup. Baginya, melewati hari cukup dengan membawa satu persoalan; bagaimana perut yang dibawa pagi tidak merasa lapar ketika berjumpa sore. Mana mungkin aku membelikannya kertas berlapis-lapis atau sebatang pensil yang tidak bisa dimakan. Anakku, dia hamba Tuhan yang dititipkan untuk menghibur kehidupanku yang begini-begini saja. “Tidak usah berpikir terlalu rumit nak, dijadikannya kamu anakku adalah untuk menyederhanakan kerumitan hidup yang tidak perlu.” Ucapku dalam hati.

Seperti mendengar aku membicarakannya dalam hati, ia perlahan-lahan membuka mata dan bergeliat menentang terik matahari. “Sudah siang pak?,” ia tiba-tiba bertanya sembari mengangkat badannya yang lekat dengan debu. Aku tersenyum menyambut putraku yang baru saja bertemu pagi. “Iya nak, segera bergegas mandi, kita akan berpetualang lagi hari ini. Bukankah kamu ingin menemukan pahlawan kesukaan kamu?”

“Iya pak, tentu saja. Aku ingin bertemu Batman,” Ucapnya semangat. Membalikan badan dan bergegas mandi.

***

Matahari sudah satu penggal tingginya, ku susuri sudut-sudut kota yang biru. Baru beberapa saja yang berhasil ku masukan ke dalam gerobak. Beberapa tumpuk kardus bekas, botol-botol bekas, dan dua buah kaleng Kong Guan. Anakku juga turut serta di dalamnya, setia menemaniku, menjaga pundi-pundi rupiah yang satu persatu ku kumpulkan. Selain karena bangun kesiangan, tentu saja hal lain yang mempengaruhi adalah wabah penyakit yang menghantui seluruh penjuru negeri. Jalanan sepi, sudut-sudut pemukiman hening; hanya beberapa saja yang berani keluar rumah, dan di pasar begitu jelas terlihat kerinduan penjual kepada pelanggannya. Aku pun, kesulitan menghimpun rosok dengan jumlah seperti biasa.

“Pak Karman,” Ada yang memanggil namaku. Ternyata Pak Budi, pemiliki warung makan yang biasanya aku mengambil botol-botol plastik bekas darinya.

“Hai Pak Budi, apa kabar, kenapa warungnya tutup?” aku menyahut.

“Musim kaya gini, dimana-mana warung tutup Pak Karman. Tidak ada pelanggan yang datang. Lagian, semua orang sekarang sedang takut terkena penyakit itu,” ia menjelaskan.

“Kamu apa tidak takut?” lanjutnya bertanya.

Sambil tersenyum kecil aku menjawab. “Aku juga manusia Pak, aku pun takut. Tapi aku juga takut kalau sampai anakku tidak bisa makan. Juga, apa yang mau diambil dari aku yang tidak punya apa-apa. Virus pun sepertinya malas, hahaha.” Aku menjawab dengan sedikit bercanda.

Aku jadi berpikir, memang tidak ada keuntungan menggangguku yang tidak memilki apa-apa ini. Apa yang mau diambil si virus itu. Sekotor-kotornya aku berpakaian, dia tidak akan tertarik untuk tinggal. Tidak ada untungnya.

“Bapak, hari ini kita ke Perumahan Dalem Indah lagi kan?” tanya putraku.

Aku spontan menyahut “Tentu saja Nak,” Ku sunggingkan sedikit senyum.

Memang untungnya sampai saat ini pemulung belum dilarang masuk. Anakku ingin kembali mengadu keberuntungannya di perumahan kalangan menengah itu. Wajar saja, kemarin ia bahagia tiada kira ketika kami berhasil mendapati Spiderman mainan di tong sampah di depan salah satu rumah. Hari ini ia berharap hal yang sama, menemukan sosok “pahlawan” baru untuk dibawa pulang. Untuk menemani Si Spiderman bermain bersamanya. Batman, ia berharap menemukannya nanti. Tentu aku tidak berani menjual barang plastik ini, biarlah menjadi hiburan untuk putraku.

***

Tibalah kami di perumahan yang dimaksud. Satu demi satu rumah dilewati. Tidak banyak yang bisa diambil. Sejauh kami berjalan, ku perhatikan semua pintu rumah tertutup rapat. Hening. Bahkan gonggongan anjing pun tak luput dari keheningan itu. Sampai ku temukan satu rumah yang seperti sedang sedikit ada aktivitas. Ku fokuskan perhatianku pada tong sampah di luar pagar. Mulai memilah sampah yang masih bernilai. Tak ku hiraukan pemilik rumah yang sedang sibuk membereskan sepetak halaman rumah. Sedikit berantakan dengan sampah berceceran dan kursi yang bertumpuk-tumpuk tidak rapi.

Aku yakin sudah tidak ada lagi yang bisa diambil dari tong sampah itu. Bertolaklah aku darinya. Baru empat langkah, terdengar ada yang memanggil.

“Hai kang rosok tunggu, ke sini sebentar,” Benar saja. Pemilik rumah tadi yang memanggilku.

Kembalilah aku pada tempat sampah tadi yang dekat dengan pagar itu. Di seberang pagar, perempuan berkulit putih berambut pirang sebahu, lengkap dengan sarung tangan dan masker, perempuan yang memanggilku tadi.

“Anda memanggail saya Bu?” ku gerakan badanku setengah membungkuk dan senyum menyertai.

“Iya, tunggu sebentar di sini. Aku ada beberapa kardus bekas. Tidak usah kamu bayar, gratis,” ucapnya dengan nada sedikit lebih tinggi dari nada obrolan normal orang pada umumnya.

“Terima kasih,” jawabku. Tidak tahu aku salah apa. Tapi yasudah, aku cuma menurut.

Tidak berselang lama kembalilah perempuan tadi. Membawa setumpuk kardus yang jumlahnya bisa dihitung jari. Aku paham betul, itu kardus bekas minuman ringan.

“Nih dibawa ya, beruntung kamu mampir di depan rumahku, dapat barang gratis,” Ucapnya sambil menyodorkan setumpuk kardus tadi. Ku terima dengan senang hati dan…

“hihihi..” aku tertawa ringan.

“Kenapa tertawa, ada yang lucu?” tanyanya dengan mata sedikit melotot.

Entah kenapa aku beraninya menjawab dengan niat sedikit guyon.

“Tentu saja gratis Bu, ini hanya beberapa kardus saja. Dibayar pun paling cuma laku dua ribu perak. Hehehe..” aku menjelaskan.

“Dasar tukang rosok tidak tahu diri. Udah dikasih malah ngelunjak,” bentaknya dengan mata yang lebih melotot daripada tadi.

“Maaf bu, saya tidak bermaksud…”

“Cukup, pergi dari sini sekarang juga,” ia memotong. Masih dalam keadaan marah ia melanjutkan..

“Aku tidak mau lebih emosi lagi dari ini. Semalam hajatanku dibubarkan aparat dengan alasan mencegah penyebaran virus sialan itu. Sekarang kamu jangan ikut-ikutan membuatku geram. Pergi! Aku juga tidak mau tertular virus hanya karena berinteraksi dengan orang kotor seperti kamu. Pergi!” bentaknya dengan nada tinggi. Tangannya menunjuk jauh, pertanda aku harus segera pergi sebelum hal buruk terjadi.

Tanpa pikir panjang aku langsung beranjak dari tempat tersebut. Pergi jauh dari rumah menyeramkan itu. Aku bayangkan, jika sudah menikah, pasti suaminya jarang pulang ke rumah karena takut diterkam istrinya sendiri.

***

Kaki dan roda gerobakku sudah berpijak jauh dari tempat tadi. Ku minta anakku untuk sementara tidak lagi mencari mainan baru di tempat itu. Aku kapok.

Hujan menghampiri senja begitu deras. Berteduhlah kami di bawah fly over. Aku bertanya pada Tuhan, “Tuhan, Engkau tahu kami kehausan sepanjang hari. Tapi apakah artinya kami harus meminum air hujan?”

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Upaya Tim KKN Posko 97 Dalam Menekan Angka Kecanduan Handphone di Desa Sukomulyo

    Upaya Tim KKN Posko 97 Dalam Menekan Angka Kecanduan Handphone di Desa Sukomulyo

    • calendar_month Rab, 31 Jul 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 801
    • 0Komentar

    Selasa (30/07/24), Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) ke- 18 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang adakan kegiatan seminar edukasi tentang penggunaan handphone yang mengangkat tema “Bijak Dalam Penggunaan Handphone Bagi Siswa”. Kegiatan ini bertempat di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Sukomulyo yang diikuti 59 siswa dari kelas 3 sampai 6.  Ahmad Kasyif […]

  • Serukan Aksi Oposisi Menjaga Demokrasi, PMII UIN Walisongo Layangkan Press Release, Aksi dan Diskusi

    Serukan Aksi Oposisi Menjaga Demokrasi, PMII UIN Walisongo Layangkan Press Release, Aksi dan Diskusi

    • calendar_month Jum, 9 Feb 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 772
    • 0Komentar

    lpminvest.com –  PMII Komisariat UIN Walisongo Semarang mengadakan diskusi dalam rangka seruan aksi dan pernyataan sikap atas keberpihakan presiden pada pemilu kali ini, Minggu (04/02/2024). Pada kegiatan tersebut, PMII komisariat UIN Walisongo turut menggandeng beberapa organisasi yang juga menyoroti isu terkait seperti Aliansi Mahasiswa Walisongo, Aksi Kamisan Semarang, termasuk juga Maring Institute. Meskipun sempat diguyur […]

  • Rheyna, Wisudawan Terbaik S-1 Ajak Seluruh Wisudawan untuk Wujudkan Mimpi

    Rheyna, Wisudawan Terbaik S-1 Ajak Seluruh Wisudawan untuk Wujudkan Mimpi

    • calendar_month Kam, 8 Feb 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 655
    • 0Komentar

    lpminvest.com –  Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang sukses selenggarakan acara Wisuda Doktor (S.3) Ke-34, Magister (S.2) Ke-58, dan Sarjana (S.1) Ke-91dengan satu sesi dalam sidang senat terbuka pada Rabu (7/2/2024). Acara ini bertempat di Auditorium II kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Alunan gamelan yang dimainkan oleh UKM Teater Wadas dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi […]

  • Ganda O Sagala; Revisi UU KPK Jangan Dinilai Satu Sisi

    Ganda O Sagala; Revisi UU KPK Jangan Dinilai Satu Sisi

    • calendar_month Jum, 18 Okt 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 838
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Walisongo Public Discussion telah digelar di Audit 1 Lantai 2 Kampus I UIN Walisongo Semarang. Diskusi yang bertajuk “Apa Kabar Revisi UU KPK” ini menghadirkan narasumber dari praktisi hukum advokat Jawa Tengah dan akademisi hukum yaitu Eman Suleman dan Ganda Olivianus Sagala. Kamis, (17/10/2019). Ketua DEMA UIN Walisongo, Priyo Ihsan Aji menuturkan tujuan diskusi […]

  • Mengenal Prasah, Tradisi Seserahan di Desa Sidigede Jepara

    Mengenal Prasah, Tradisi Seserahan di Desa Sidigede Jepara

    • calendar_month Sab, 3 Sep 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 1.923
    • 0Komentar

    Indonesia merupakan negara yang kaya, tak hanya terbatas pada sumber daya alam namun juga dikenal memiliki aneka ragam budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Keanekaragaman ini merupakan wujud dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu. Semboyan yang berasal dari bahasa Jawa Kuno tersebut menjelaskan bahwa keanekaragaman yang ada di […]

  • Dorong Potensi UMKM Dusun Watulawang, Mahasiswa KKN MP Nawasena Gandeng WHC Lakukan Pendampingan Sertifikasi Halal

    Dorong Potensi UMKM Dusun Watulawang, Mahasiswa KKN MP Nawasena Gandeng WHC Lakukan Pendampingan Sertifikasi Halal

    • calendar_month Ming, 21 Jul 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 646
    • 0Komentar

    KKN MP (Kuliah Kerja Nyata Mandiri Pengakuan) Nawasena UIN Walisongo Semarang kembali menggelar kegiatan Pendampingan Sertifikasi Halal  pada Minggu, 21 Juli 2024 pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung di Dusun Watulawang tepatnya di Posko KKN MP Nawasena. Kegiatan pendampingan sertifikasi halal yang dilakukan kedua kalinya ini bertujuan untuk membantu UMKM yang ada di Dusun Watulawang […]

expand_less