Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Cahaya di Tengah Mendung, Part 2

Cahaya di Tengah Mendung, Part 2

  • account_circle admin1
  • calendar_month Rab, 1 Mar 2023
  • visibility 354
  • comment 0 komentar

Sumber: Pinterest

“Om, kapan-kapan main lagi yuk.”

“Kalau Om sedih ke halaman aja, tiap sore kita main di sana.”

“Kita pulang dulu ya, Om.”

Aku melambai ringan membalas tiga anak yang sekarang berpamitan itu. Raut bahagia tercetak jelas di wajah mereka, bahkan menular sesaat padaku. Ternyata mereka tinggal di lantai yang berbeda, untuk itu aku membiarkan ketiga anak itu naik lift lebih dulu.

Sepeninggal mereka, aku kembali ke diriku yang lelah. Bahuku melemas turun digantikan dengan helaan napas lelah yang bercampur dengan rasa menggigil. Aku lapar, tapi tidak mungkin memesan makanan di saat hujan masih selebat ini. Meratapi nasib yang kembali sadar bahwa diriku menganggur sekarang, sepertinya aku harus menghabiskan waktu sendiri untuk sementara waktu.

Pikirku, setelah mandi aku akan langsung tidur atau paling tidak menunggu hujan reda agar bisa memesan makanan. Namun apa yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan. Harum masakan yang menyengat indera penciuman benar-benar membuatku melangkah tergesa ke dapur.

“Dee?” panggilku tak yakin pada sosok perempuan yang mengenakan apron membelakangiku. Tak ada siapapun yang tahu sandi apartemenku kecuali aku sendiri, Mama dan Derana, sahabatku.

“Hei, habis hujan-hujanan ya?” tanya Derana sambil tersenyum manis. Aku tertegun sebentar melihatnya. Agak tidak yakin dengan kehadirannya yang super mendadak. Tak bisa dipungkiri bahwa aku juga senang karena secara tak langsung kehadirannya berhasil mencegahku kelaparan malam ini.

“Iya,” jawabku setelah jeda cukup lama.

“Pantesan kok tumben mandi sore. By the way, aku udah lihat.”

“Lihat apa?”

“Itu, surat yang kamu remas sampe bentuknya kaya bola.”

Pandanganku spontan tertuju pada gumpalan kertas yang aku masukkan pada tas koper tadi. Sekarang koper itu telah terbuka karena sebelum mandi tadi aku sempat memastikan bahwa dokumen di dalamnya selamat. Beruntung tak ada jejak basah.

“Oh itu,” aku mangut-mangut. “Menurut kamu gimana?”

“Hm…berita buruk kalau didengar sama orang tua kamu. Tapi buat aku, itu bukan sesuatu yang buruk. Namanya juga hidup.”

Baca juga: CERPEN: Cahaya di Tengah Mendung Part 1

Aku sudah menduga jawaban itu. Singkat dan terlalu sederhana, khas Derana sekali. Sudah 10 tahun aku mengenal perempuan itu dan tak ada yang berubah darinya. Mulai dari pola pikirnya yang sederhana, tak suka basa-basi dan segala tingkahnya yang tak terduga. Harusnya aku tidak terkejut dengan balasannya barusan, namun karena hari-hariku yang berjalan buruk, suasana hatiku langsung memburuk.

“Oh,” jawabku singkat. Derana tersenyum menanggapi jawabanku.

Just a bad day, not a bad life,” sambung Derana sebelum aku sempat berpaling. “Kalau aku bilang itu cuma kerjaan, ya emang karena aku nggak tau seberapa berharganya pekerjaan itu buat kamu. Tapi Jen, kamu pasti pernah denger, sesuatu yang kamu anggap buruk itu nggak sepenuhnya buruk kok. Pasti bakal ada kejutan dibaliknya.” Sembari menuang sup ayam ke mangkuk ia melanjutkan. “Aku yakin bakal ada sesuatu buat kamu setelah ini, Jen.”

“Oh ya?” balasku tak tertarik.

“Aku lihat kamu main sama anak-anak di bawah tadi,” ujar Derana tiba-tiba. “Dan kamu kelihatan seneng banget. Kamu tertawa sama mereka seolah nggak punya beba. Aku jadi bisa ambil kesimpulan dari sana. ” ujarnya lagi membuatku menoleh bingung.

“Maksudnya?”

Derana menatapku. “Kamu itu berharga, Jen.”

Aku terdiam.

“Meskipun aku nggak tau pasti asal usul kalian bisa main seseru itu, pasti mereka bilang sesuatu sebelum ngajak kamu main.”

Wajah datar tanpa antusiasmeku berubah masam sedetik kemudian. Seketika teringat pada salah satu anak yang memanggilku ‘Om’ tadi. “Mereka manggil aku pakai Om. Emang aku kelihatan setua itu sampai dipanggil Om?”

Derana memutar bola mata. “Bukan itu maksud aku, tapi…mereka pasti minta tolong ke kamu ‘kan sebelum kalian main?”

“Oh. Iya sih.”

“Nah itu, sekarang kamu paham?” Perempuan itu memandangku lekat sampai aku menahan napas tanpa sadar. “Mungkin pekerjaan ini begitu berarti buat kamu dan rasa-rasanya kamu lagi nggak pengen ngapa-ngapain sekarang setelah dipecat. Tapi Jen, terkadang kamu butuh suatu hal baru yang bisa bikin diri kamu terus berkembang. Bisa aja ‘kan dengan kamu dipecat, ada perusahaan lain yang lebih besar dan lebih butuh jasa kamu. Kamu itu berharga jika ada di lingkungan yang tepat. Contohnya kaya anak-anak tadi yang butuh kamu walau sebatas dimintai tolong buat ikutan main bola tapi kehadiran kamu itu seolah pelengkap buat mereka.”

Aku diam. Tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Hanya memandang Derana lekat sampai perempuan itu lelah sendiri. Terlihat dari dengusan napasnya disusul tamparan keras di lenganku.

“Di umurmu yang sekarang, harusnya aku nggak usah repot-repot jelasin sampai mendetail, ‘kan?”

Akhirnya aku hanya meringis kikuk. “Iya, ngerti. Makasih.”

“Oke sip, sekarang makan. Ini pakai resep dari Mama kamu.” Senyum cantik itu akhirnya terlihat kembali dilengkapi dengan sodoran mangkuk sup yang sudah dilengkapi dengan nasi. “Kamu udah jalani hari-hari yang berat dan you did well, Jenandra. Apapun yang kamu lakuin, kamu selalu baik di mata aku.”

Aku tersenyum tanpa suara membalasnya. Ucapan darinya itu, kebanyakan aku balas hanya dengan senyuman, dan Derana tidak banyak protes. Perempuan itu memahamiku, aku tahu. Sayangnya aku belum cukup memahaminya hingga menyebabkannya berpaling. Cincin yang melingkar di jari manis kirinya telah menjawab semuanya.

Perhatian Derana memang milikku sekarang, namun beberapa tahun lagi aku akan kehilangannya.

***

Selesai

Oleh: Alfina Winda

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Racana Walisongo Melantik 24 Pengurus Harian

    Racana Walisongo Melantik 24 Pengurus Harian

    • calendar_month Sab, 16 Jan 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 442
    • 0Komentar

      lpminvest.com– Pramuka Pandega yang dihimpun di gugusdepan (gudep-red) dalam satuan yang disebut Racana di UIN Walisongo, melaksakan pelantikan kepengurusan baru masa bakti 2016. Jumat, (15/01/2016). Acara yang dilaksanakan di Aula gedung Q lantai 2 kampus 2 UIN Walisongo Semarang ini dihadiri oleh Fauzin, Lift Ma’sunah, serta Suwanto sebagai Pembina Racana Walisongo Semarang. Pelantikan ini diharapkan mampu membuat […]

  • Expo UKM-UKK, Munculnya UKK Baru Sampai Keluhan Lahan Sempit

    Expo UKM-UKK, Munculnya UKK Baru Sampai Keluhan Lahan Sempit

    • calendar_month Sab, 10 Agu 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 391
    • 0Komentar

    Expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) – Unit Kegiatan Khusus (UKK) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo berlangsung meriah. Acara expo ini masih termasuk dalam rangkaian kegiatan PBAK 2024 yang diikuti oleh seluruh unit kegiatan di bawah naungan FEBI, baik UKM juga UKK. Acara ini bertempat di Auditorium I, Kampus 1 […]

  • Mas Ojek Online Dapat Orderan Jadi Wisudawan Terbaik FEBI

    Mas Ojek Online Dapat Orderan Jadi Wisudawan Terbaik FEBI

    • calendar_month Kam, 6 Agu 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 422
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sesuai Keputusan Rektor UIN Walisongo Semarang Nomor 211 tahun 2020, ada 292 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang resmi dicopot gelar mahasiswanya di acara Pelepasan Wisudawan Virtual. Meskipun berlangsung di live streaming Face Tracking Animation di youtube UIN Walisongo Semarang, akan tetapi antusias wisudawan dan mahasiswa tetap tinggi. Hal ini terbukti dalam […]

  • LPM Invest Menumbuhkan Suasana Akademik Kru Lewat SPE

    LPM Invest Menumbuhkan Suasana Akademik Kru Lewat SPE

    • calendar_month Sen, 25 Feb 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 317
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Guna menjaga budaya literasi kru di saat libur perkuliahan, LPM Invest menggelar kegiatan Sekolah Pemikiran Ekonomi (SPE) yang bertajuk Membangun Insan Pers yang Kritis dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi. Selain menjaga budaya literasi, SPE juga bertujuan sebagai upaya untuk memberikan penguatan landasan berpikir bagi kru di bidang ekonomi. “Kegiatan ini wajib diikuti oleh wadyabala […]

  • Menepis Budaya Konsumtif di Bulan Ramadan

    Menepis Budaya Konsumtif di Bulan Ramadan

    • calendar_month Ming, 19 Mei 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 383
    • 0Komentar

    Bagi umat Muslim, bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa. Keistimewaan pada bulan  yang dalam kalender Islam di urutan kesembilan, yaitu antara bulan Sya’ban dan Syawal ini di antaranya adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh bagi umat Islam di seluruh dunia sebelum meraih kemenangan Idul Fitri. Di bulan ini pula Allah menurunkan mukjizat yang besar bagi Nabi […]

  • Sistem  GPN BI; Perlu Interkoneksi dan Interopebilitas Antarlembaga

    Sistem  GPN BI; Perlu Interkoneksi dan Interopebilitas Antarlembaga

    • calendar_month Jum, 15 Nov 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 399
    • 0Komentar

    Sosialisai Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) oleh Bank Indonesia usai dilaksanakan di Kantor Bank Indonesia cabang kota Semarang. Sosialisasi ini dihadiri oleh berbagai mahasiswa dari universitas sekota Semarang. Kamis (14/11/2019). Irwan Daud, Departemen Elektronifikasi Bank Indonesia Pusat (Jakarta) memaparkan bahwa GNP adalah sistem untuk mendukung Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). “Gerakan Pembayaran Nasional ini akan mendukung […]

expand_less