Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Cahaya di Tengah Mendung, Part 2

Cahaya di Tengah Mendung, Part 2

  • account_circle admin1
  • calendar_month Rab, 1 Mar 2023
  • visibility 626
  • comment 0 komentar

Sumber: Pinterest

“Om, kapan-kapan main lagi yuk.”

“Kalau Om sedih ke halaman aja, tiap sore kita main di sana.”

“Kita pulang dulu ya, Om.”

Aku melambai ringan membalas tiga anak yang sekarang berpamitan itu. Raut bahagia tercetak jelas di wajah mereka, bahkan menular sesaat padaku. Ternyata mereka tinggal di lantai yang berbeda, untuk itu aku membiarkan ketiga anak itu naik lift lebih dulu.

Sepeninggal mereka, aku kembali ke diriku yang lelah. Bahuku melemas turun digantikan dengan helaan napas lelah yang bercampur dengan rasa menggigil. Aku lapar, tapi tidak mungkin memesan makanan di saat hujan masih selebat ini. Meratapi nasib yang kembali sadar bahwa diriku menganggur sekarang, sepertinya aku harus menghabiskan waktu sendiri untuk sementara waktu.

Pikirku, setelah mandi aku akan langsung tidur atau paling tidak menunggu hujan reda agar bisa memesan makanan. Namun apa yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan. Harum masakan yang menyengat indera penciuman benar-benar membuatku melangkah tergesa ke dapur.

“Dee?” panggilku tak yakin pada sosok perempuan yang mengenakan apron membelakangiku. Tak ada siapapun yang tahu sandi apartemenku kecuali aku sendiri, Mama dan Derana, sahabatku.

“Hei, habis hujan-hujanan ya?” tanya Derana sambil tersenyum manis. Aku tertegun sebentar melihatnya. Agak tidak yakin dengan kehadirannya yang super mendadak. Tak bisa dipungkiri bahwa aku juga senang karena secara tak langsung kehadirannya berhasil mencegahku kelaparan malam ini.

“Iya,” jawabku setelah jeda cukup lama.

“Pantesan kok tumben mandi sore. By the way, aku udah lihat.”

“Lihat apa?”

“Itu, surat yang kamu remas sampe bentuknya kaya bola.”

Pandanganku spontan tertuju pada gumpalan kertas yang aku masukkan pada tas koper tadi. Sekarang koper itu telah terbuka karena sebelum mandi tadi aku sempat memastikan bahwa dokumen di dalamnya selamat. Beruntung tak ada jejak basah.

“Oh itu,” aku mangut-mangut. “Menurut kamu gimana?”

“Hm…berita buruk kalau didengar sama orang tua kamu. Tapi buat aku, itu bukan sesuatu yang buruk. Namanya juga hidup.”

Baca juga: CERPEN: Cahaya di Tengah Mendung Part 1

Aku sudah menduga jawaban itu. Singkat dan terlalu sederhana, khas Derana sekali. Sudah 10 tahun aku mengenal perempuan itu dan tak ada yang berubah darinya. Mulai dari pola pikirnya yang sederhana, tak suka basa-basi dan segala tingkahnya yang tak terduga. Harusnya aku tidak terkejut dengan balasannya barusan, namun karena hari-hariku yang berjalan buruk, suasana hatiku langsung memburuk.

“Oh,” jawabku singkat. Derana tersenyum menanggapi jawabanku.

Just a bad day, not a bad life,” sambung Derana sebelum aku sempat berpaling. “Kalau aku bilang itu cuma kerjaan, ya emang karena aku nggak tau seberapa berharganya pekerjaan itu buat kamu. Tapi Jen, kamu pasti pernah denger, sesuatu yang kamu anggap buruk itu nggak sepenuhnya buruk kok. Pasti bakal ada kejutan dibaliknya.” Sembari menuang sup ayam ke mangkuk ia melanjutkan. “Aku yakin bakal ada sesuatu buat kamu setelah ini, Jen.”

“Oh ya?” balasku tak tertarik.

“Aku lihat kamu main sama anak-anak di bawah tadi,” ujar Derana tiba-tiba. “Dan kamu kelihatan seneng banget. Kamu tertawa sama mereka seolah nggak punya beba. Aku jadi bisa ambil kesimpulan dari sana. ” ujarnya lagi membuatku menoleh bingung.

“Maksudnya?”

Derana menatapku. “Kamu itu berharga, Jen.”

Aku terdiam.

“Meskipun aku nggak tau pasti asal usul kalian bisa main seseru itu, pasti mereka bilang sesuatu sebelum ngajak kamu main.”

Wajah datar tanpa antusiasmeku berubah masam sedetik kemudian. Seketika teringat pada salah satu anak yang memanggilku ‘Om’ tadi. “Mereka manggil aku pakai Om. Emang aku kelihatan setua itu sampai dipanggil Om?”

Derana memutar bola mata. “Bukan itu maksud aku, tapi…mereka pasti minta tolong ke kamu ‘kan sebelum kalian main?”

“Oh. Iya sih.”

“Nah itu, sekarang kamu paham?” Perempuan itu memandangku lekat sampai aku menahan napas tanpa sadar. “Mungkin pekerjaan ini begitu berarti buat kamu dan rasa-rasanya kamu lagi nggak pengen ngapa-ngapain sekarang setelah dipecat. Tapi Jen, terkadang kamu butuh suatu hal baru yang bisa bikin diri kamu terus berkembang. Bisa aja ‘kan dengan kamu dipecat, ada perusahaan lain yang lebih besar dan lebih butuh jasa kamu. Kamu itu berharga jika ada di lingkungan yang tepat. Contohnya kaya anak-anak tadi yang butuh kamu walau sebatas dimintai tolong buat ikutan main bola tapi kehadiran kamu itu seolah pelengkap buat mereka.”

Aku diam. Tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Hanya memandang Derana lekat sampai perempuan itu lelah sendiri. Terlihat dari dengusan napasnya disusul tamparan keras di lenganku.

“Di umurmu yang sekarang, harusnya aku nggak usah repot-repot jelasin sampai mendetail, ‘kan?”

Akhirnya aku hanya meringis kikuk. “Iya, ngerti. Makasih.”

“Oke sip, sekarang makan. Ini pakai resep dari Mama kamu.” Senyum cantik itu akhirnya terlihat kembali dilengkapi dengan sodoran mangkuk sup yang sudah dilengkapi dengan nasi. “Kamu udah jalani hari-hari yang berat dan you did well, Jenandra. Apapun yang kamu lakuin, kamu selalu baik di mata aku.”

Aku tersenyum tanpa suara membalasnya. Ucapan darinya itu, kebanyakan aku balas hanya dengan senyuman, dan Derana tidak banyak protes. Perempuan itu memahamiku, aku tahu. Sayangnya aku belum cukup memahaminya hingga menyebabkannya berpaling. Cincin yang melingkar di jari manis kirinya telah menjawab semuanya.

Perhatian Derana memang milikku sekarang, namun beberapa tahun lagi aku akan kehilangannya.

***

Selesai

Oleh: Alfina Winda

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Belajar dariKebijakan Ekonomi Kontroversial Umar bin Khattab

    Belajar dariKebijakan Ekonomi Kontroversial Umar bin Khattab

    • calendar_month Sen, 6 Feb 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 1.195
    • 0Komentar

    Tanpa konflik hidup kurang menarik. Begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk menggambarkan Indonesia dewasa ini yah Investers. Bukan berarti sejak dulu tidak ada konflik, hanya saja akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sedang cengeng dan sensi menghadapi situasi. Sehingga masalah kecil terkesan dibesar-besarkan dan menjadi viral di media sosial. Salah satu masalah terkini yang paling menyulut kontroversi […]

  • betblast Affiliate Program – How It Works"> <a href=betblast Affiliate Program – How It Works">

    betblast Affiliate Program – How It Works">betblast Affiliate Program – How It Works

    • calendar_month Rab, 11 Jun 2025
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 272
    • 0Komentar

    Key facts: Min deposit £10 | Wagering 37x | Avg RTP 96.3% | Payouts 23-47h | 1,840 games The Betblast Casino Affiliate Program is an exciting opportunity for those looking to earn by promoting one of the UK’s emerging online casinos. In this article, we’ll explore how this affiliate program functions, its advantages, and some […]

  • Penampilan Seni Meriahkan Puncak Acara FEBI SEWINDU

    Penampilan Seni Meriahkan Puncak Acara FEBI SEWINDU

    • calendar_month Jum, 17 Des 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 874
    • 0Komentar

    lpminvest.com- FEBI Sewindu merupakan tajuk acara peringatan hari ulang tahun (harlah) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo ke-8 tahun. Serangkaian acara diselenggarakan demi memeriahkan harlah FEBI dan puncaknya diselenggarakan inaugurasi, Jumat, (17/12/2021). Berlokasi di Auditorium 2 Kampus 3, acara inaugurasi yang dibintangi oleh beberapa penampilan kesenian. Pelaksanaan FEBI Sewindu ini dilaksanakan dengan sangat […]

  • Mahasiswa Fisika Cetuskan Sistem Monitoring Tambak Udang Berbasis Internet

    Mahasiswa Fisika Cetuskan Sistem Monitoring Tambak Udang Berbasis Internet

    • calendar_month Rab, 17 Okt 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 750
    • 0Komentar

      lpminvest.com- Olimpiade Sains Mahasiswa (OSM) merupakan ajang kompetisi untuk Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) tingkat Regional UIN, dan IAIN Se-Indonesia. Salah satu cabang lomba yang diperlombakan adalah Inovasi Teknologi Tepat Guna (ITTG), dimana setiap peserta diwajibkan membuat suatu temuan baru berbasis teknologi dalam rangka meningkatkan pemberdayaan sumber daya alam. Salah satu inovasi menarik […]

  • Kajur D3 PBS FEBI UIN Walisongo Turut Prihatin atas ‘Depresi Rupiah’

    Kajur D3 PBS FEBI UIN Walisongo Turut Prihatin atas ‘Depresi Rupiah’

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 630
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Stabilitas ekonomi makro di tanah air belakangan sempat mengalami ‘depresi finansial’. Pasalnya nilai tukar rupiah melemah hingga mencapai level 13.000 Rupiah. Hal demikian tentu akan berimbas pada aktifitas ekonomi makro di Indonesia. Harian Kompas, 30/03/2015, mewartakan bahwa nilai tukar Rupiah masih akan menghadapi sejumlah tantangan, baik dari sisi perekonomian global maupum domestik. Deputi Gubernur […]

  • Sempat Cuti Kuliah, Kru Invest Jadi Wisudawati Terbaik

    Sempat Cuti Kuliah, Kru Invest Jadi Wisudawati Terbaik

    • calendar_month Rab, 7 Mar 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 696
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Salah satu kru Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Invest, Siti Rohmawati menjadi wisudawati terbaik dengan mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,83. Rabu, (7/03/2018). Rahma, sapaan akrabnya merupakan mahasiswi jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang sempat cuti kuliah selama satu tahun karena patah tulang akibat kecelakaan yang pernah dialaminya di daerah Demak-Kudus, […]

expand_less