Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Kontestasi Politik Perempuan Berbasis Kesetaraan Gender

Kontestasi Politik Perempuan Berbasis Kesetaraan Gender

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sel, 25 Apr 2017
  • visibility 788
  • comment 0 komentar
doc. lpm invest

doc. lpm invest

Oleh : Iswatun Ulia

In politics if you want anything said, ask a man, If you want anything done, ask a women.

(The Iron Woman, Margareth Hilda Thatcher)

Peran perempuan tidak bisa dilepaskan dari setiap lini kehidupan. Dalam keluarga misalnya, perempuan memiliki tugas dan kodrat menyelesaikan segala keperluan rumah tangga, yang dalam bahasa Jawa dikenal sebagai 3M, macak (berhias), masak (memasak), manak (mempunyai anak). Namun dalam ranah sosial, eksistensi  perempuan sempat mengalami kemunduran, terutama saat berlakunya patriarkhi, yang mana menganggap bahwa laki-laki memliki kedudukan lebih tinggi dibanding perempuan. Istilah domestikasi, marginalisasi dan pengiburumahtanggaan menjadi platform tanpa memandang kelas sosial perempuan berasal. Pengusungan kesetaraan gender saat ini, nampaknya telah sedikit membuahkan hasil, hal ini terlihat pada partisipasi perempuan dalam pentas panggung politik.

Sebelum Indonesia menjadi Negara demokrasi, potret partisipasi perempuan dapat kita tilik pada era kolonialisme Belanda.  Dalam konstruksi sosial masyarakat yang menganggap bahwa perempuan sebagai inferior laki-laki, terlihat bahwa R.A Kartini mampu  memperjuangkan hak asasi perempuan dalam memperoleh pendidikan. Lain halnya dengan Supeni, yang dikenal sebagai politikus perempuan yang menduduki jabatan penting di parlemen.

Pada zaman Orde Baru pula, partisipasi perempuan dalam kancah politik sangat dibatasi. Perempuan memiliki hak memilih dan dipilih setiap lima tahun sekali, namun perempuan hanya diperkenankan untuk menggunakan hak memilihnya. Hal ini berarti dalam pemilu, suara perempuan digunakan untuk memperbesar suara perolehan dari sebuah partai.

Dalam Undang-undang No. 12 tahun 2003 tentang pemilu telah dijelaskan bahwa keterwakilan perempuan dalam politik memiliki prosentase sebanyak 30%. Hal ini semestinya dijadikan angin segar bagi perempuan untuk menjadikan dirinya sebagai wakil masyarakat di pemerintahan. Sekaligus dapat mendorong aktivis perempuan untuk selalu bergerak  masif memajukan diri dan menyuarakan persoalan kemiskinan, kekerasan seksual kesehatan, dan segala permasalahan perempuan.

Indonesia pada kepemimpinan era Jokowi, setidaknya telah menyingkirkan sejenak sistem patriakhi yang telah lama menjajah eksistensi perempuan, terutama di kancah politik. Pada Minggu, 26  Oktober 2014 presiden  Jokowi telah resmi mengumumkan susunan kabinet kerja yang berjumlah 34 menteri, dimana delapan diantaranya adalah perempuan. Dalam penyusunan kabinet ini, keterlibatan perempuan dalam panggung politik lebih banyak dibanding dengan kabinet kepemimpinan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa sepak terjang perempuan mengalami peningkatan.

Partisipasi aktif perempuan tersebut dalam kancah politik maupun bidang lainnya tentu bukanlah berasal dari  perempuan biasa, melainkan perempuan yang memiliki kesadaran, cara pandang, dan memiliki keberpihakan untuk memajukan diri dan kaumnya yang tertinggal. Sekaligus, dapat serta memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat dan negara.

Sebagaimana kita ketahui, pengaruh Hindhuisme dari India telah memberikan pengaruh dalam khazanah budaya Indonesia yang multikultur dan mengenalkan tokoh Dewi Saraswati. Dewi Saraswati merupakan sosok yang ideal bagi perempuan karena digambarkan memiliki empat tangan yang memegang lontar, bunga,  tasbih dan sitar serta berdiri di atas bunga teratai. Analogi tersebut menyiratkan bahwa perempuan harus memiliki pengetahuan, kecantikan batin, iman yang kuat serta harmoni dalam berkomunikasi serta mampu berdiri kuat dalam berbagai kondisi.

Dalam bahasa sansekerta dikenal pula istilah Rupasampat Wahyabyantara, yang berarti kecantikan perempuan yang utuh dan bersinar merupakan harmoni antara kecantikan lahiriah (outer beauty) dan batiniah (inner beauty). Dewi Saraswati merupakan gambaran yang ideal dan tak lekang oleh zaman, hingga di era globalisasi ini, penggambaran perempuan yang sesuai kodratnya adalah sosok yang multi dimensi harus bersikap dan berperan dalam masyarakat.

Adanya hal tersebut semestinya menjadikan kita dapat menghindari pandangan negatif bahwa perempuan tidak  lebih rendah dari pada laki-laki. Melalui derasnya arus informasi dan kecanggihan teknologi, perempuan dapat meningkatkan kualitas diri melalui pencarian pengetahuan, baik melalui jalur instansi pendidikan tinggi maupun peningkatan kemampuan diri (skill). Hingga pada akhirnya, keterlibatan perempuan dalam dunia politik tidak diragukan lagi. Waalhua’lam bisshowab.

 

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KKL; Kompetensi dan Eksistensi Syariah

    KKL; Kompetensi dan Eksistensi Syariah

    • calendar_month Rab, 26 Apr 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 958
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Prodi S1 Ekonomi Islam (EI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). 5 (lima) rombongan bus FEBI UIN Walisongo Semarang, dipersiapkan untuk peserta dan beberapa dosen pendamping yang akan melaksanakan KKL. Selasa, (25/4/17). Pemberangkatan KKL dengan rute perjalanan menuju Malang dan Pasuruan, dan tujuan mengunjungi beberapa lembaga, […]

  • Surat yang Berlayar di Selokan

    Surat yang Berlayar di Selokan

    • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 879
    • 0Komentar

    Hujan menderas memukul atap seng rumah petak kami hingga suaranya bergemuruh hingga menggangu telinga. Air mulai merembes dari sudut langit-langit menetes pelan ke dalam ember plastik bopeng di tengah ruangan. Aku duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah berserabut menekan kuat-kuat ujung pensilku ke atas buku tulis bersampul cokelat. Di dekat pintu Mas Galih […]

  • Workshop Lapangan, Calon Kru Magang Ditantang Selesaikan Tugas dalam Semalam

    Workshop Lapangan, Calon Kru Magang Ditantang Selesaikan Tugas dalam Semalam

    • calendar_month Ming, 13 Okt 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 828
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Usai berikan pelatihan dasar jurnalistik di Workshop Materi, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Invest tantang calon kru magang turun lapangan untuk mempraktikkan materi jurnalistik tempo hari dalam acara Workshop Lapangan. Minggu, (13/10/2019). Acara bertajuk ‘Membentuk Jiwa Kritis Insan Pers dalam Membaca Realitas Sosial’ tersebut berlangsung selama dua hari, dimulai pada Sabtu pagi hingga Minggu siang di kawasan […]

  • 116 Mahasiswa Akuntansi Syariah Ikuti Distingsi

    116 Mahasiswa Akuntansi Syariah Ikuti Distingsi

    • calendar_month Ming, 1 Apr 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 660
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Jurusan Akuntansi Syariah (AKS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang kembali mengadakan Distingsi I bagi mahasiswa AKS semester dua. Bertempat di Hotel Pandanaran Semarang, distingsi tersebut diikuti 116 mahasiswa. Kegiatan distingsi tersebut diadakan guna membekali mahasiswa dalam pencapaian Standar AKS. Mengusung tema “Training Persiapan Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah”, kegiatan yang […]

  • KKN RdR Kelompok 53 Bantu Konservasi Jamur Tiram di Ponpes Darul Falah Semarang

    KKN RdR Kelompok 53 Bantu Konservasi Jamur Tiram di Ponpes Darul Falah Semarang

    • calendar_month Kam, 5 Nov 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 883
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Senin ( 2/11/2020 ), kelompok 53 Kuliah Kerja Nyata dari Rumah (KKN RdR) Angkatan 75 melakukan konservasi budidaya jamur ke salah satu pembudidaya jamur. Konservasi ini  berlangsung di rumah Rudi di daerah Bawen, Semarang. Menurut keterangan Rudi seorang petani jamur, mengungkapkan bahwa teknik budidaya jamur tiram memiliki tiga aspek. “Tiga aspek dalam pembuatan benih […]

  • Ia, yang Terpaksa Melacur

    Ia, yang Terpaksa Melacur

    • calendar_month Sen, 17 Okt 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 838
    • 0Komentar

    AKU tak benar-benar mengenalnya, hanya saja aku sempat tahu nama belakangnya, Syafa, kala itu, kira-kira dua tahun yang lalu, aku berjalan di sore yang riuh di Jalan Prof. Hamka Ngaliyan Semarang. Tak sengaja ia berada di halte bus depan Ngaliyan Square, karena dari jauh ia memandangku tajam, lalu ketika dekat, kuberanikan diri untuk menghentikan langkahku […]

expand_less