Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Mahasiswa Rantau, Antara Mandiri dan Dipaksa Keadaan

Mahasiswa Rantau, Antara Mandiri dan Dipaksa Keadaan

  • account_circle admin1
  • calendar_month Rab, 5 Des 2018
  • visibility 970
  • comment 0 komentar
Oleh: Hasna Aulia Pembelajar yang tak kunjung pintar

Oleh: Hasna Aulia
Pembelajar yang tak kunjung pintar

Entah mengapa kalau mendengar kata ‘rantau’ pikiran saya langsung tertuju pada ‘rindu’. Waktu kecil, yang saya pahami tentang merantau adalah para pekerja yang meninggalkan anak istrinya di desa untuk bekerja ke luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Ya sama persis yang dilakukan ayah saya dulu, dia pergi ke Jakarta meninggalkan kami yang ratusan mil jaraknya untuk mencari uang. Wajar kalau mendengar kata rantau yang saya ingat adalah rindu, karena dulu kami sering menunggu kepulangan ayah dan memendam rindu berminggu-minggu.

Namun setelah ribuan jam duduk di bangku sekolah, agaknya saya paham bahwa merantau bukan hanya istilah bagi para pekerja. Ternyata asal usul kata ‘merantau’ berasal dari bahasa dan budaya Minangkabau yaitu ‘rantau’. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang filosofinya. Intinya sejak berabad-abad tahun lalu, orang-orang Minang memang memiliki tradisi mengembara yang kuat. Bahkan seorang laki-laki saat menginjak dewasa (20-30 tahun), sudah didorong untuk keluar dari daerah asalnya. Dari situlah dikenal istilah ‘marantau’ atau yang sekarang kita sebut dengan merantau.

Sebenarnya yang saya pengin bahas di sini adalah sense of merantaunya mahasiswa. Sependek pengetahuan saya, kebanyakan mahasiswa di pulau Jawa adalah perantau. Baik perantau antarkota, antarpulau, maupun antarnegara. Kalau dinalar, mungkin karena banyaknya universitas ternama bahkan terbaik se-Indonesia, infrastruktur lebih maju, ingin merasakan sensasi hidup jauh dari kampung halaman atau bahkan ‘terpaksa’ menjadi faktor orang-orang memilih Jawa sebagai tujuan perantauan.

Kalau boleh saya kategorikan, ada beberapa tipe mahasiswa perantau. Pertama, perantau-perantauan. Maksudnya, mereka merantau tapi sering pulang. Sebab jarak rumah dan rantau yang terlampau dekat mendorong mereka untuk pulang setiap minggu. Bahkan bisa jadi waktu yang mereka habiskan di rumah lebih banyak daripada di kos atau kontrakan, tentunya kalau jadwal kuliah bersahabat. Tipe ini yang kadang bikin saya iri, rantau rasa rumah. huh!

Kedua, perantau kelas menengah. Maksudnya, jarak rumah dengan rantau lumayan jauh, tarif yang dibutuhkan untuk pulang-pergi pun lumayan menguras kocek. Tentunya mahasiswa yang menjunjung tinggi sikap hemat perlu pikir dua kali untuk pulang. Biasanya, tipe ini pulang kampung paling tidak sebulan atau dua bulan sekali, bahkan kalau tidak ada acara-acara yang penting di rumah, mereka memilih berdiam diri di kos dan mengelus-elus dompet.

Ketiga, perantau kelas baja. Maksudnya, mereka pulang kampung biasanya sesemester sekali, setahun sekali, bahkan ­-berdasarkan curhatan seorang teman- ada yang boleh pulang hanya kalau sudah lulus. whatThe! Tipe ini memang yang paling ekstrim. Sebab jarak rumah dengan rantau yang beribu mil jauhnya membuat mereka pantang untuk pulang. Bisa dibayangkan, perantau tipe kedua saja perlu pikir dua kali untuk pulang. Tipe ini, mungkin perlu pikir dua kali dua ratus kali untuk memutuskan pulang. Maka pantas jika mental baja kita predikatkan untuk perantau tipe ketiga ini. cool!

Terlepas dari tipe-tipe yang saya sebutkan tadi, ada hal-hal yang saya pandang menarik dari mahasiswa rantau. Misalnya, dari sisi bagaimana cara mereka bertahan hidup. Mahasiswa rantau biasanya pandai mengelola uang. Mereka akan berpikir bagaimana jatah bulanan dari orang tua bisa cukup untuk keperluan kuliah, makan, mandi, dan make up (bagi yang memakai).

Selain itu, mahasiswa rantau juga biasanya gemar berburu beasiswa. Berbekal motivasi hidup layak di tanah rantau, mereka akan bertarung sekuat tenaga dan mengandalkan mental baja mereka untuk mengejar beasiswa.

Belum selesai. Kalau sudah berhemat tapi biaya hidup tetap meningkat, daftar beasiswa eh belum rejekinya, mereka tak tinggal diam. Tanpa mengganggu kegiatan perkuliahan, mahasiswa rantau biasanya memanfaatkan waktu luang untuk bekerja. Mulai dari kerja part-time di restoran, ngajar les privat, jaga angkringan, jadi kasir bahkan jual es cendol di pinggir jalan mereka lakoni demi mengurangi beban orang tua.

Bukan hanya pandai mengelola uang, mahasiswa rantau juga dituntut pandai mengelola waktu. Biasanya di rumah ada ibu dan bapak yang selalu mengingatkan makan, sholat, dan belajar. Di tanah rantau, mereka harus mengandalkan alarm hp untuk menggantikan peran ibu dan bapak (kecuali yang gak jomblo), pun fungsinya tidak sehebat ketika ibu membangunkan tidur nyenyak mereka di rumah.

Hebatnya lagi, mahasiswa rantau juga pandai mengelola perasaan. Bagaimana tidak, seminggu, sebulan, setahun mereka menahan rindu keluarga dan kampung halaman. Mereka tetap ceria menjalani hari-hari walau mungkin hati sedang bimbang. Telepon, whatssapp, video call, mungkin bisa sedikit meredam rindu. Tapi adakah obat rindu yang lebih mujarab dari bertemu? nothing! Maka dari itu mereka biasanya menyibukkan diri di organisasi kampus atau melakukan kegiatan sosial untuk menjauhkan diri dari baper yang berkelanjutan.

Tapi siapa sangka hal-hal tersebut yang justru menjadi pelajaran berharga. Di saat yang lain makan dengan puas di rumah, mahasiswa rantau sedang mencuci, menyapu, mengepel dan buru-buru mengangkat jemuran agar tak kena hujan. Di saat yang lain tidur nyenyak di kasur nyaman, mahasiswa rantau sedang sibuk-sibuknya berorganisasi dan membangun jaringan demi kebaikannya di masa depan. Di saat yang lain asyik bercengkrama dengan keluarga, mahasiswa rantau sedang memutar otak bagaimana caranya bertahan hidup tanpa membebankan orang tua. Itulah pelajaran hidup yang sesungguhnya.

Omong kosong. Tentu saja yang saya ceritakan tidak sepenuhnya benar. Tidak semua mahasiswa rantau sehebat itu. Tapi memang ada manusia-manusia strong seperti cerita di atas yang saya temui dan patut untuk kita teladani. Minimal kita bisa meneladani semangatnya untuk bertahan menjadi pembelajar di kota orang. Jadi mahasiswa rantau kok malas-malasan, lemah!

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Stadium General, Mahasiswa Baru Duduk di Lantai

    Stadium General, Mahasiswa Baru Duduk di Lantai

    • calendar_month Rab, 31 Agu 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 699
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Stadium General merupakan proses awal yang harus ditempuh mahasiswa baru UIN Walisongo, acara yang dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada mahasiswa baru perihal perkuliahan, namun momen yang seharusnya memberi kesan menyenangkan bagi mahasiswa baru ini dirasa kurang mengenakan, sebab mahasiwa merasa jenuh dengan kondisi ruangan yang kurang kondusif dan membludaknya peserta. Seperti yang dikeluhkan beberapa mahasiswa […]

  • Sebuket Tulip Merah

    Sebuket Tulip Merah

    • calendar_month Sel, 30 Jan 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 791
    • 0Komentar

    Arsha tak lagi merasa hidup setelah bunganya pergi. Napasnya sering sesak, suasana hatinya sering kali tak baik, dan mulai membenci cuaca cerah. Hal yang sebenarnya cukup menyulitkan, namun baginya yang sudah tak lagi memiliki tenaga untuk bangkit, rasa-rasanya percuma saja jika raga ini berjuang. Arsha tak lagi memiliki alasan kenapa ia harus pulang lebih cepat, […]

  • Cahaya di Tengah Mendung, Part 1

    Cahaya di Tengah Mendung, Part 1

    • calendar_month Sab, 25 Feb 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 943
    • 0Komentar

    Hari yang buruk. Mobil mogok, hujan lebat dan kehilangan pekerjaan. Semua hal yang aku benci datang secara berturut-turut mengakibatkan tubuh yang lelah luar biasa. Hati, pikiran, dan tubuh. Saking lelahnya, aku hanya bisa terdiam memperhatikan langit dari balik jendela bus tanpa ekspresi. Semuanya terasa begitu datar, bahkan hasrat untuk menangis tak ada. Selain menggenggam tiket […]

  • Konflik Urut Sewu; Tindakan Anarkis TNI-AD Terhadap Petani

    Konflik Urut Sewu; Tindakan Anarkis TNI-AD Terhadap Petani

    • calendar_month Sab, 19 Sep 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 888
    • 0Komentar

    Kebumen merupakan nama yang berasal dari kata kabumian yang artinya adalah tempat Kyai Bumi. Secara geografis Kabupaten Kebumen Jawa Tengah terletak pada 7°27′- 7°50′ Lintang Selatan dan 109°22′-109°50′ Bujur Timur. Bagian selatan Kabupaten Kebumen merupakan dataran rendah, sedang pada bagian utara berupa pegunungan, yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Serayu. Di bagian pesisir pantai selatan […]

  • Virus Covid-19 Kembali Jadi Momok Penundaan KKL FEBI Dalam Negeri

    Virus Covid-19 Kembali Jadi Momok Penundaan KKL FEBI Dalam Negeri

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 839
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sampai detik berita ini dirilis, ada 96 orang pasien yang terkonfirmasi positif virus Covid-19. Dilangsir dari liputan6.com, Yurianto menyatakan bahwa virus ini sudah menyebar ke sejumlah wilayah di Indonesia. Wilayah tersebut yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Tangerang, Bali, Manado, dan Pontianak. Sabtu, (14/3/2020). Menindaklanjuti informasi tersebut Ketua Jurusan S1 Perbankan Syariah Fakultas […]

  • Prof. Muhibbin; Mahasiswa jangan Bercita-cita menjadi PNS

    Prof. Muhibbin; Mahasiswa jangan Bercita-cita menjadi PNS

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 674
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Stadium General untuk mengawali perkuliahan Semester Genap tahun Akademik 2014/2015 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang dibuka langsung oleh Rektor UIN Walisongo Semarang. Selasa, (3/03/2015). Prof. Muhibbin selaku Rektor memberikan sambutannya di Audit 1 lantai 2 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang. Acara yang mengusung tema “Relevansi Ekonomi Islam dengan Sosial Business” […]

expand_less