Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Filosofi dan Sejarah Ketupat sebagai Ikon Hidangan Lebaran

Filosofi dan Sejarah Ketupat sebagai Ikon Hidangan Lebaran

  • account_circle admin1
  • calendar_month Rab, 11 Mei 2022
  • visibility 962
  • comment 0 komentar
(Gambar Ketupat. Source: popbela.com)

Hari raya Idul Fitri atau lebih akrab disebut dengan Lebaran menjadi momen yang ditunggu-tunggu bagi seluruh umat Islam. Di Indonesia, Lebaran menjadi sebuah momen penting untuk semua keluarga yang merayakan karena sanak saudara akan berkumpul di kampung halaman. Kerabat yang merantau di kota akan balik kampung demi merayakan Lebaran bersama keluarga besar. Kegiatan itu disebut mudik yang turut meramaikan momen Lebaran di Indonesia.

Mereka yang mudik tidak akan pergi dengan tangan kosong, ibarat kemana pun harus membawa sesuatu untuk keluarga yang ada di kampung halaman. Begitu pun sebaliknya, sembari menunggu saudara atau bahkan anak yang dalam perjalanan mudik, biasanya keluarga di kampung akan menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan mereka. Sesuatu yang khas dan tak lepas dari momen perayaan Lebaran adalah ketupat. Mengapa demikian? Karena ketupat ini tidak pernah hilang dalam perayaan Lebaran di Indonesia khususnya. Setiap tahunnya pasti ada dan biasanya dihidangkan ketika Lebaran sudah menginjak hari ke tujuh.

Namun dengan adanya ketupat yang mewarnai Lebaran di setiap tahunnya, tanpa disadari masih banyak yang belum tahu tentang filosofi dan seluk beluk ketupat. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya tahu bahwa ketupat memang sudah tradisi di kala Lebaran. Akan tetapi, sebagai generasi yang hidup di era sekarang yang serba digital, kita hendaknya tahu apa filosofi yang ada di balik tradisi ketupat kala momen Lebaran.

Sejarah Ketupat

Mengutip dari ruangguru.com, menurut Hermanus Johannes de Graaf seorang sejarawan Belanda yang menuliskan sejarah Jawa dalam karya tulisnya yang berjudul Malay Annual, Ketupat ini pertama kali muncul pada abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Demak. Ketupat yang terdiri dari nasi yang dipadatkan kemudian dibungkus dengan daun kelapa ini digunakan sebagai sarana untuk berdakwah oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan ketupat. Dalam Islam, hidangan yang menjadi ikon di saat Lebaran ini dicocokkan dengan nilai keislaman oleh Sunan Kalijaga.

Dilansir dari kompas.com, Sunan Kalijaga menggabungkan pengaruh Hindu pada nilai keislaman, sehingga menjadi akulturasi yang padu antara keduanya. Menurut Fadly Rahman, Sejarawan Universitas Padjajaran Bandung, bahwa ketupat bisa jadi berasal dari zaman Hindu-Budha di Nusantara. Secara tertulis dalam prasasti yang diteliti oleh para ahli memang tidak disebutkan secara spesifik yang merujuk ke ketupat, tetapi indikasi makanan beras yang dibungkus nyiur sudah dilakukan sebelum masa pra-Islam. Bahkan masyarakat pada zaman pra-Islam telah memanfaatkan sumber daya alam nyiur dan beras sebagai makanan. Hal ini juga digunakan di Bali, namun berbeda penyebutannya. Kalau di Bali disebut dengan Tipat yang biasanya digunakan dalam ritual ibadah.

Filosofi Ketupat

Bagi masyarakat Jawa, ketupat memiliki filosofi yang kuat. Bentuk ketupat melambangkan perwujudan kiblat papat limo pancer. Artinya adalah keseimbangan alam dalam empat arah mata angin utama; Timur, Selatan, Barat dan Utara. Meskipun memiliki empat arah, namun hanya ada satu kiblat atau pusat. Keempat sisi ketupat ini diartikan sebagai empat macam nafsu yang dimiliki oleh manusia dan dikalahkan dengan berpuasa. Oleh karena itu, jika makan ketupat sendiri bisa diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengalahkan empat nafsu duniawi.

Dalam bahasa Jawa, ketupat biasanya disebut dengan Kupat yang merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku Lepat artinya mengakui kesalahan. Identiknya Ngaku Lepat ini bisa dilihat dengan tradisi sungkeman yang menjadi implementasi pengakuan kesalahan bagi orang Jawa sampai saat ini. Prosesi sungkeman ini biasanya dilakukan dengan bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun.

Jika Ngaku Lepat adalah pengakuan kesalahan, maka Laku Papat diartikan sebagai empat tindakan dalam perayaan Lebaran. Empat tindakan tersebut adalah Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Arti dari masing-masing kata ini antara lain Lebaran, memiliki makna usai. Menandakan bahwa puasa telah berakhir. Lebaran juga berasal dari kata “lebar” yang artinya permintaan maaf telah terbuka lebar.

Kemudian kata Luberan yang memiliki arti melimpah. Pesan yang tersirat disini adalah memberikan hartanya kepada orang yang kurang beruntung melalui amal. Sementara Leburan berarti saling memaafkan. Semua kesalahan bisa dimaafkan di hari itu karena manusia dituntut untuk saling memaafkan. Yang terakhir yaitu Laburan, berasal dari kata Labur yang artinya orang suci dan bebas dari dosa manusia. Kata terakhir ini memberikan pesan agar manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain. Dilihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini bisa menjadi simbol beragamnya kesalahan manusia. Namun setelah dibuka bungkusnya, muncullah nasi putih yang mencerminkan kesucian hati setelah memohon ampunan atas segala kesalahan.

Namun, akan muncul pertanyaan, mengapa ketupat hars dibungkus dengan daun kelapa atau janur? Kata janur atau daun kelapa ini diambil dari bahasa Arab  yaitu “Jaá nur” yang artinya celah datang cahaya. Nah, dengan bentuk fisik ketupat segi empat ini digambarkan sebagai hati manusia. Ketika orang sudah mengakui kesalahannya, maka hatinya menjadi seperti ketupat yang dibelah. Isinya putih bersih dan hatinya terbebas dari iri dan dengki. Hal ini bisa dikatakan demikian karena hatinya sudah dibungkus dengan cahaya atau “Ja’anur” tadi.

Jadi, momen perayaan Idul Fitri di Indonesia tidak terlepas dari budaya dan filosofi yang rinci. Segala hal yang ada patut diteladani selama itu baik dan buang jauh-jauh hal yang buruk. Ketupat sendiri mencerminkan kekentalan budaya dan kearifan lokal masyarakat yang masih eksis hingga kini. Maka, jagalah budaya selama baik dan bermanfaat bagi kerukunan umat banyak.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • FEBI Borong Dua Juara di Cabor Bulu Tangkis

    FEBI Borong Dua Juara di Cabor Bulu Tangkis

    • calendar_month Rab, 18 Sep 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 789
    • 0Komentar

    lpminvest.com-  Atlet ganda putra Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dari cabang olahraga (cabor) bulu tangkis berhasil memborong juara. Pertandingan berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) UIN Walisongo Semarang. Rabu, (18/9/2019). Eko Ramadhan dan Iqbal Fakhoiron berhasil mengantongi juara dua ganda putra. Sedangkan ganda putri yang digawangi Siti Lailatul Rizqiyah dan Alfina Anggraeni meraih juara […]

  • Sering Ikut Lomba & Aktif Organisasi Menuntun Nurul Jadi Wisudawan Terbaik FEBI

    Sering Ikut Lomba & Aktif Organisasi Menuntun Nurul Jadi Wisudawan Terbaik FEBI

    • calendar_month Kam, 8 Feb 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 1.229
    • 0Komentar

    Nurul Fajriatus Saadah atau yang sering di panggil Nurul, mahasiswa asal Pati merupakan wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) jurusan Akuntansi Syariah (AKS) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Nurul memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,94 ketika di umumkan saat sidang senat terbuka di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang pada […]

  • Wujudkan Perdamaian Bangsa Melalui Toleransi dan Demokrasi

    Wujudkan Perdamaian Bangsa Melalui Toleransi dan Demokrasi

    • calendar_month Sel, 14 Mar 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 816
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK-red) UIN Walisongo Semarang gelar Diskusi Publik. Acara berlangsung di Laboratorium Dakwah Kampus III UIN Walisongo Semarang. Bekerjasama dengan Yayasan Langit Indonesia Cemerlang (YLIC), Direktorat Organisasi Kemasyarakatan, Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum, dan Kementerian Dalam Negeri RI. Selasa, (7/03/2017). Acara yang mengusung tema “Memperkuat Kembali Toleransi Antar Umat […]

  • Festival Ekonomi Islam; Publikasi Eksistensi FEBI

    Festival Ekonomi Islam; Publikasi Eksistensi FEBI

    • calendar_month Kam, 17 Mei 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 874
    • 0Komentar

      lpminvest.com– Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang menggelar Festival Ekonomi Islam (FEIs) 2018 bertajuk “Peran Ekonomi dan Keuangan Syariah dalam Sustainable Development Goals (SDGs)”. Rangkaian acara pada FEIs yang baru diadakan pertama kali itu diantaranya Seminar Nasional, National Islamic Economic Olimpiade, Call for Paper, Dan Workshop PSAK Syariah. Senin, (15/5/2018). Ratno […]

  • Selenggarakan Webinar, Tibra Bahas Tips And Trick Get LoA From Group of 8  Universities in Australia

    Selenggarakan Webinar, Tibra Bahas Tips And Trick Get LoA From Group of 8 Universities in Australia

    • calendar_month Sab, 23 Nov 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 939
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Tibra Overseas Edu mengadakan sebuah webinar online yang bertemakan “How to get LoA from group of 8 universities” pada hari Sabtu, (23/11/2024). Webinar ini bertujuan membantu calon Mahasiswa Internasional yang ingin melanjutkan studi di salah satu dari delapan Universitas bergengsi di Australia. Terlebih karena adanya kerjasama pihak Tibra dengan Universitas bergengsi tersebut. Patner yang […]

  • Ini Daftar Nama Wisudawan Terbaik FEBI

    Ini Daftar Nama Wisudawan Terbaik FEBI

    • calendar_month Kam, 6 Sep 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 915
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Nomor 2530/Un.10.5/D/PP.009/09/2018, FEBI mengumumkan nama-nama yang berhasil merebut beberapa nominasi wisudawan FEBI. Nominasi tersebut antara lain wisudawan terbaik dengan predikat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi dan wisudawan berprestasi di bidang kemahasiswaan. Kamis, (06/9/2018). Periode September 2018 ini FEBI meluluskan 199 wisudawan. Wisudawan dengan IPK […]

expand_less