Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Mahasiswa dalam Ekosistem Demokrasi

Mahasiswa dalam Ekosistem Demokrasi

  • account_circle admin1
  • calendar_month Ming, 17 Apr 2016
  • visibility 698
  • comment 0 komentar

Terlepas dari kuatnya konfigurasi politik elit yang membelit setiap aksi mahasiswa, sejarah telah mengakui bahwa aksi mereka sukses menggulung rezim otoritarian yang dinilai telah melakukan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme dengan tuntutan reformasi. Menjadi bukti sejarah bahwa mahasiswa banyak berperan dalam mendewasakan kehidupan bernegara untuk menjadi bangsa yang waras (demokratis-red).

Kerusuhan besar yang dipelopori oleh mahasiswa saat itu, telah menghilangkan banyak nyawa. Negara yang seharusnya menggaransi keselamatan jiwa rakyatnya serta memberikan ruang aspirasi kepadanya. Justru membungkam bahkan melenyapkan aktor-aktor demonstran yang diendus oleh penguasa sebagai penyebab kerusuhan. Dalam konteks inilah, para pengamat politik, aktivis dan masyarakat yang kritis menyebut era Soeharto sebagai rezim militer yang antikritik.

Jika kita mau cermat menilai dinamika hubungan antara mahasiswa dengan pemerintah, relasi keduanya telah berperan dalam membentuk ekosistem demokrasi di Indonesia. Aksi protes yang dilakukan oleh mahasiswa merupakan wujud refleksi kritis mereka terhadap kinerja pemerintah.

Adhie Massardi, seorang pengamat politik mengilustrasikan bentuk ideal relasi mahasiswa dengan pemerintah ibarat angin dan pohon. Bila mahasiswa angin, pemerintah adalah pohon. Pohon membutuhkan angin untuk membersihkan dahan kering dan daun yang menguning. Dahan kering, daun menguning adalah organ pohon yang sudah kehilangan fungsi utamanya; sebagai penyangga buah dan berfotosintesis. Angin juga membantu proses penyerbukan sehingga pohon pemerintah menghasilkan buah manfaat yang bisa dimakan oleh orang yang bernaung di bawahnya.

Angin kampus memang bukan bagian dari organ pohon pemerintah. Dalam sebuah ekosistem demokrasi, angin kampus tidak sendirian. Sebab, terdapat parlemen oposisi yang bisa berperan sebagai kumbang atau kupu-kupu. Juga ada pers dan institusi lainnya yang turut merontokkan dahan dan daun kering yang merusak struktur pohon pemerintah.

Pohon besar Orde Baru tampaknya tidak memahami betul ekosistem demokrasi ini. Dosis pestisida politik yang disemprotkan terlalu banyak. Sehingga, selain hama yang mati, seluruh spesies yang banyak membantu merindangkan pohon pemerintah pun ikut mati.

Setelah hampir delapan belas tahun momentum reformasi, banyak yang mempertanyakan arah gerakan mahasiswa. Memang benar, mereka telah menggelar pertemuan mahasiswa dari level regional hingga level nasional. Reorganisasi kepemimpinan setiap tahun dilakukan. Tak jarang, demonstrasi dengan berbagai tuntutan kepada penguasa menjadi ‘makanan penutup’ setiap momen pertemuan mahasiswa.

Jika rezim Orde Baru begitu ketat menyumbat kebebasan bersuara, rezim setelahnya telah memberikan kesempatan kepada siapapun untuk bebas bersuara. Mahasiswa sebenarnya memahami ‘peluang emas’ ini. Namun, hingga kini, belum ada terobosan cemerlang yang digagas oleh mahasiswa untuk survive dalam belantara demokrasi.

Sebagian besar kelompok mahasiswa mengambil peran dalam era kebebasan bersuara ini dengan menonjolkan identitas primordialnya. Pada akhirnya suara mahasiswa di mata penguasa menjadi sumbang; tidak utuh sebagai kesatuan refleksi kritis mahasiswa Indonesia terhadap situasi politik mutakhir. Belum lagi potensi tunggangan politik elit yang akan menumpulkan idealisme mahasiswa sebagai spesies pengontrol.

Idealnya, seperti pernyataan Adhie Massardi di atas. Relasi mahasiswa dan pemerintah bak angin dan pohon. Sewaktu-waktu angin kampus berhembus sepoi-sepoi merontokkan daun dan dahan kering. Membuat orang yang berteduh di bawahnya merasa nyaman. Pada momentum yang lain, angin kampus bisa berubah menjadi angin ribut yang mampu menumbangkan pohon pemerintah sekaligus membuat gelisah orang yang bernaung di bawahnya.

(Siham_Invest).

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kalahkan Peserta Se-Indonesia, Chasan Raih Juara Kaligrafi Nasional

    Kalahkan Peserta Se-Indonesia, Chasan Raih Juara Kaligrafi Nasional

    • calendar_month Sen, 6 Nov 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 767
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Berbekal alat kaligrafi seadanya, Chasan Bisri berhasil menyabet juara tingkat nasional dalam lomba kaligrafi hiasan mushaf Festival Seni Qurani (FSQ). FSQ merupakan bagian dari semarak miladiyah (hari lahir) UKM Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) Al-Mizan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang diselenggarakan pada Rabu, (1/11). Ia menjadi juara nasional setelah berhasil mengalahkan 50 peserta […]

  • Merayakan Setiap Perjuangan para Wisudawan UIN Walisongo Semarang

    Merayakan Setiap Perjuangan para Wisudawan UIN Walisongo Semarang

    • calendar_month Sab, 2 Nov 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 671
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sabtu, (02/11/2024) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melaksanakan sidang senat terbuka Magister (S2) ke-61 dan Sarjana (S1) ke-94 yang  bertempat Auditorium 2 kampus 3. Dalam acara Sidang Senat terbuka, UIN Walisongo Semarang meluluskan sebanyak 558 wisudawan dan wisudawati. Diantaranya, 30 wisudawan  Magister (S2), dan 528 wisudawan Strata 1 (S1). Prosesi wisuda dilaksanakan dalam […]

  • Resensi Novel Cantik itu Luka

    Resensi Novel Cantik itu Luka

    • calendar_month Sen, 23 Feb 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 1.029
    • 0Komentar

    Identitas Buku Judul Buku: Cantik itu Luka Penulis: Eka Kurniawan Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU) Tahun Terbit: 2002 (Cetakan Pertama), terus dicetak ulang hingga kini Jumlah Halaman: 508 halaman Genre: Fiksi Sejarah, Realisme Magis Peresensi : Muhammad Fatih                Kisah ini dibuka dengan sebuah peristiwa yang tidak masuk akal di mana ada seorang perempuan bernama […]

  • Kelopak Jingga

    Kelopak Jingga

    • calendar_month Rab, 12 Mar 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 627
    • 0Komentar

    Oleh: Ghufron Nur Hasan Apa yang sebenarnya dikau pinta, jingga Sentuhan cinta kasih Telah kusalurkan sedemikian kurang bagimu Kehadiran serta kesadaran, mana yang tak kuberi Segala gundah gulana tanpa sebabmu Terasa segar mengalir deras Tusukan duri-duri kecilmu terasa begitu tajam Menghujam bibit rasa yang telah tumbuh Waktu berbelas kasih padaku Tuk menumbuh kembangkan pedih ini […]

  • Pelatihan Public Speaking bagi Mahasiswa FEBI; Salah Satu Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi

    Pelatihan Public Speaking bagi Mahasiswa FEBI; Salah Satu Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi

    • calendar_month Jum, 8 Okt 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 786
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Kamis dan Jumat (7-8/10/2021) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang mengadakan Pelatihan Public Speaking. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa dalam kemampuannya berkomunikasi. Acara yang digelar dengan nuansa Islami itu dibantu oleh Grup Nafsul Mutmainnah Achievment (NMA) selaku trainer. Pembekalan public speaking ini bertempat di Miniatur Kampung Surga, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. […]

  • Smart Card; Terobosan Baru Resmi Rilis di Wisuda Daring

    Smart Card; Terobosan Baru Resmi Rilis di Wisuda Daring

    • calendar_month Kam, 6 Agu 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 948
    • 0Komentar

    UIN Walisongo Semarang untuk pertama kali menggelar wisuda secara virtual. Acara ini merupakan rangkaian wisuda Doktor (S.3) ke-21, Magister (S.2) ke-45, Sarjana (S.1) ke-78, dan Diploma (D.3) ke-27 yang digelar di kanal youtube resmi UIN Walisongo. Kamis, (6/8/2020). Sebanyak 1.661 mahasiswa diwisuda dalam wisuda bertema Smart and Green Graduation ini. Prof. Dr H Imam Taufiq, […]

expand_less