Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Filosofi dan Sejarah Ketupat sebagai Ikon Hidangan Lebaran

Filosofi dan Sejarah Ketupat sebagai Ikon Hidangan Lebaran

  • account_circle admin1
  • calendar_month Rab, 11 Mei 2022
  • visibility 845
  • comment 0 komentar
(Gambar Ketupat. Source: popbela.com)

Hari raya Idul Fitri atau lebih akrab disebut dengan Lebaran menjadi momen yang ditunggu-tunggu bagi seluruh umat Islam. Di Indonesia, Lebaran menjadi sebuah momen penting untuk semua keluarga yang merayakan karena sanak saudara akan berkumpul di kampung halaman. Kerabat yang merantau di kota akan balik kampung demi merayakan Lebaran bersama keluarga besar. Kegiatan itu disebut mudik yang turut meramaikan momen Lebaran di Indonesia.

Mereka yang mudik tidak akan pergi dengan tangan kosong, ibarat kemana pun harus membawa sesuatu untuk keluarga yang ada di kampung halaman. Begitu pun sebaliknya, sembari menunggu saudara atau bahkan anak yang dalam perjalanan mudik, biasanya keluarga di kampung akan menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan mereka. Sesuatu yang khas dan tak lepas dari momen perayaan Lebaran adalah ketupat. Mengapa demikian? Karena ketupat ini tidak pernah hilang dalam perayaan Lebaran di Indonesia khususnya. Setiap tahunnya pasti ada dan biasanya dihidangkan ketika Lebaran sudah menginjak hari ke tujuh.

Namun dengan adanya ketupat yang mewarnai Lebaran di setiap tahunnya, tanpa disadari masih banyak yang belum tahu tentang filosofi dan seluk beluk ketupat. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya tahu bahwa ketupat memang sudah tradisi di kala Lebaran. Akan tetapi, sebagai generasi yang hidup di era sekarang yang serba digital, kita hendaknya tahu apa filosofi yang ada di balik tradisi ketupat kala momen Lebaran.

Sejarah Ketupat

Mengutip dari ruangguru.com, menurut Hermanus Johannes de Graaf seorang sejarawan Belanda yang menuliskan sejarah Jawa dalam karya tulisnya yang berjudul Malay Annual, Ketupat ini pertama kali muncul pada abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Demak. Ketupat yang terdiri dari nasi yang dipadatkan kemudian dibungkus dengan daun kelapa ini digunakan sebagai sarana untuk berdakwah oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan ketupat. Dalam Islam, hidangan yang menjadi ikon di saat Lebaran ini dicocokkan dengan nilai keislaman oleh Sunan Kalijaga.

Dilansir dari kompas.com, Sunan Kalijaga menggabungkan pengaruh Hindu pada nilai keislaman, sehingga menjadi akulturasi yang padu antara keduanya. Menurut Fadly Rahman, Sejarawan Universitas Padjajaran Bandung, bahwa ketupat bisa jadi berasal dari zaman Hindu-Budha di Nusantara. Secara tertulis dalam prasasti yang diteliti oleh para ahli memang tidak disebutkan secara spesifik yang merujuk ke ketupat, tetapi indikasi makanan beras yang dibungkus nyiur sudah dilakukan sebelum masa pra-Islam. Bahkan masyarakat pada zaman pra-Islam telah memanfaatkan sumber daya alam nyiur dan beras sebagai makanan. Hal ini juga digunakan di Bali, namun berbeda penyebutannya. Kalau di Bali disebut dengan Tipat yang biasanya digunakan dalam ritual ibadah.

Filosofi Ketupat

Bagi masyarakat Jawa, ketupat memiliki filosofi yang kuat. Bentuk ketupat melambangkan perwujudan kiblat papat limo pancer. Artinya adalah keseimbangan alam dalam empat arah mata angin utama; Timur, Selatan, Barat dan Utara. Meskipun memiliki empat arah, namun hanya ada satu kiblat atau pusat. Keempat sisi ketupat ini diartikan sebagai empat macam nafsu yang dimiliki oleh manusia dan dikalahkan dengan berpuasa. Oleh karena itu, jika makan ketupat sendiri bisa diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengalahkan empat nafsu duniawi.

Dalam bahasa Jawa, ketupat biasanya disebut dengan Kupat yang merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku Lepat artinya mengakui kesalahan. Identiknya Ngaku Lepat ini bisa dilihat dengan tradisi sungkeman yang menjadi implementasi pengakuan kesalahan bagi orang Jawa sampai saat ini. Prosesi sungkeman ini biasanya dilakukan dengan bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun.

Jika Ngaku Lepat adalah pengakuan kesalahan, maka Laku Papat diartikan sebagai empat tindakan dalam perayaan Lebaran. Empat tindakan tersebut adalah Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Arti dari masing-masing kata ini antara lain Lebaran, memiliki makna usai. Menandakan bahwa puasa telah berakhir. Lebaran juga berasal dari kata “lebar” yang artinya permintaan maaf telah terbuka lebar.

Kemudian kata Luberan yang memiliki arti melimpah. Pesan yang tersirat disini adalah memberikan hartanya kepada orang yang kurang beruntung melalui amal. Sementara Leburan berarti saling memaafkan. Semua kesalahan bisa dimaafkan di hari itu karena manusia dituntut untuk saling memaafkan. Yang terakhir yaitu Laburan, berasal dari kata Labur yang artinya orang suci dan bebas dari dosa manusia. Kata terakhir ini memberikan pesan agar manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain. Dilihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini bisa menjadi simbol beragamnya kesalahan manusia. Namun setelah dibuka bungkusnya, muncullah nasi putih yang mencerminkan kesucian hati setelah memohon ampunan atas segala kesalahan.

Namun, akan muncul pertanyaan, mengapa ketupat hars dibungkus dengan daun kelapa atau janur? Kata janur atau daun kelapa ini diambil dari bahasa Arab  yaitu “Jaá nur” yang artinya celah datang cahaya. Nah, dengan bentuk fisik ketupat segi empat ini digambarkan sebagai hati manusia. Ketika orang sudah mengakui kesalahannya, maka hatinya menjadi seperti ketupat yang dibelah. Isinya putih bersih dan hatinya terbebas dari iri dan dengki. Hal ini bisa dikatakan demikian karena hatinya sudah dibungkus dengan cahaya atau “Ja’anur” tadi.

Jadi, momen perayaan Idul Fitri di Indonesia tidak terlepas dari budaya dan filosofi yang rinci. Segala hal yang ada patut diteladani selama itu baik dan buang jauh-jauh hal yang buruk. Ketupat sendiri mencerminkan kekentalan budaya dan kearifan lokal masyarakat yang masih eksis hingga kini. Maka, jagalah budaya selama baik dan bermanfaat bagi kerukunan umat banyak.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Erie Sudewo Bertandang Ke UIN Walisongo

    Erie Sudewo Bertandang Ke UIN Walisongo

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 607
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Pendiri Dompet Duafa, Erie Sudewo memberikan motivasi kepada ratusan mahasiswa dalam acara Stadium General Semester Genap Tahun Akademik 2014/2015 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo. Selasa, (3/3/2015). Dalam kesempatan itu, Ia menyampaikan materi berkaitan dengan bisnis dan sosial, kapitalis dan feodal, perbedaan tujuan antara ekonomi Islam dan ekonomi konvensional, […]

  • FEBI Bawa Pulang Lima Medali dari Cabang Karate

    FEBI Bawa Pulang Lima Medali dari Cabang Karate

    • calendar_month Sab, 22 Sep 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 656
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Karate merupakan salah-satu cabor  yang dilombakan di hari kedua Orientasi, Seni, Ilmiah, dan Keterampilan (Orsenik) 2018. Bertempat di Audit II kampus III UIN Walisongo Semarang. Di perlombaan tersebut Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam berhasil membawa pulang lima medali dari 16 kelas karate yang dipertandingkan. Sabtu, (22/9/2018). Lima medali tersebut terdiri dari satu medali emas […]

  • Waktu Latihan Terbatas Tak Halangi Jadi Juara

    Waktu Latihan Terbatas Tak Halangi Jadi Juara

    • calendar_month Rab, 17 Apr 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 543
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Setelah melalui beberapa pertandingan sengit antarjurusan dan angkatan, tim futsal S1 Perbankan Syariah (PBAS) 2017 berhasil meraih gelar juara pertama Piala FEBI 2019. Selasa, (16/4/2019). Piala FEBI 2019 merupakan turnamen futsal yang diadakan UKM Ebi Sport bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi Syariah (AKS). Fahrizal, kapten tim futsal S1 PBAS 2017 mengaku tidak […]

  • betblast casino – A Comprehensive Guide"> Mobile Gaming at <a href=betblast casino – A Comprehensive Guide">

    betblast casino – A Comprehensive Guide">Mobile Gaming at betblast casino – A Comprehensive Guide

    • calendar_month Rab, 11 Jun 2025
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Key facts: Min deposit £10 | Wagering 37x | Avg RTP 96.3% | Payouts 23-47h | 1,840 games Betblast Casino has become a popular destination for mobile gaming enthusiasts in the UK. Its platform is designed to cater to players who appreciate the thrill of gambling on the go, all while ensuring a top-notch experience. […]

  • Membludak, Peserta Stadium General Duduk Lesehan

    Membludak, Peserta Stadium General Duduk Lesehan

    • calendar_month Kam, 14 Mar 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 657
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Nyanyian lagu Hanya Ingin Kau Tahu dari Republik Band terdengar menggema dalam Auditorium II Kampus III UIN Walisongo Semarang. Nyanyian lagu yang dibawakan oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro, Suharmono, menjadi pengantar dimulainya Stadium General yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo. Para peserta pun berteriak heboh […]

  • Ini Daftar Fakultas Pemenang Lomba Orasi Aksi Orsenik 2018

    Ini Daftar Fakultas Pemenang Lomba Orasi Aksi Orsenik 2018

    • calendar_month Jum, 21 Sep 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 571
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Orasi aksi merupakan salah satu cabang perlombaan yang dipertandingkan di hari pertama Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah dan Keterampilan (Orsenik) 2018. Orasi aksi diselenggarakan di depan perpustakaan pusat Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Jumat, (21/9/2018). Pilihan tema yang diangkat pada orasi aksi yaitu lingkungan, korupsi, dan pendidikan. Adapun jumlah masa yang disepakati untuk menyampaikan satu […]

expand_less