Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Filosofi dan Sejarah Ketupat sebagai Ikon Hidangan Lebaran

Filosofi dan Sejarah Ketupat sebagai Ikon Hidangan Lebaran

  • account_circle admin1
  • calendar_month Rab, 11 Mei 2022
  • visibility 247
  • comment 0 komentar
(Gambar Ketupat. Source: popbela.com)

Hari raya Idul Fitri atau lebih akrab disebut dengan Lebaran menjadi momen yang ditunggu-tunggu bagi seluruh umat Islam. Di Indonesia, Lebaran menjadi sebuah momen penting untuk semua keluarga yang merayakan karena sanak saudara akan berkumpul di kampung halaman. Kerabat yang merantau di kota akan balik kampung demi merayakan Lebaran bersama keluarga besar. Kegiatan itu disebut mudik yang turut meramaikan momen Lebaran di Indonesia.

Mereka yang mudik tidak akan pergi dengan tangan kosong, ibarat kemana pun harus membawa sesuatu untuk keluarga yang ada di kampung halaman. Begitu pun sebaliknya, sembari menunggu saudara atau bahkan anak yang dalam perjalanan mudik, biasanya keluarga di kampung akan menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan mereka. Sesuatu yang khas dan tak lepas dari momen perayaan Lebaran adalah ketupat. Mengapa demikian? Karena ketupat ini tidak pernah hilang dalam perayaan Lebaran di Indonesia khususnya. Setiap tahunnya pasti ada dan biasanya dihidangkan ketika Lebaran sudah menginjak hari ke tujuh.

Namun dengan adanya ketupat yang mewarnai Lebaran di setiap tahunnya, tanpa disadari masih banyak yang belum tahu tentang filosofi dan seluk beluk ketupat. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya tahu bahwa ketupat memang sudah tradisi di kala Lebaran. Akan tetapi, sebagai generasi yang hidup di era sekarang yang serba digital, kita hendaknya tahu apa filosofi yang ada di balik tradisi ketupat kala momen Lebaran.

Sejarah Ketupat

Mengutip dari ruangguru.com, menurut Hermanus Johannes de Graaf seorang sejarawan Belanda yang menuliskan sejarah Jawa dalam karya tulisnya yang berjudul Malay Annual, Ketupat ini pertama kali muncul pada abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Demak. Ketupat yang terdiri dari nasi yang dipadatkan kemudian dibungkus dengan daun kelapa ini digunakan sebagai sarana untuk berdakwah oleh Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan ketupat. Dalam Islam, hidangan yang menjadi ikon di saat Lebaran ini dicocokkan dengan nilai keislaman oleh Sunan Kalijaga.

Dilansir dari kompas.com, Sunan Kalijaga menggabungkan pengaruh Hindu pada nilai keislaman, sehingga menjadi akulturasi yang padu antara keduanya. Menurut Fadly Rahman, Sejarawan Universitas Padjajaran Bandung, bahwa ketupat bisa jadi berasal dari zaman Hindu-Budha di Nusantara. Secara tertulis dalam prasasti yang diteliti oleh para ahli memang tidak disebutkan secara spesifik yang merujuk ke ketupat, tetapi indikasi makanan beras yang dibungkus nyiur sudah dilakukan sebelum masa pra-Islam. Bahkan masyarakat pada zaman pra-Islam telah memanfaatkan sumber daya alam nyiur dan beras sebagai makanan. Hal ini juga digunakan di Bali, namun berbeda penyebutannya. Kalau di Bali disebut dengan Tipat yang biasanya digunakan dalam ritual ibadah.

Filosofi Ketupat

Bagi masyarakat Jawa, ketupat memiliki filosofi yang kuat. Bentuk ketupat melambangkan perwujudan kiblat papat limo pancer. Artinya adalah keseimbangan alam dalam empat arah mata angin utama; Timur, Selatan, Barat dan Utara. Meskipun memiliki empat arah, namun hanya ada satu kiblat atau pusat. Keempat sisi ketupat ini diartikan sebagai empat macam nafsu yang dimiliki oleh manusia dan dikalahkan dengan berpuasa. Oleh karena itu, jika makan ketupat sendiri bisa diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengalahkan empat nafsu duniawi.

Dalam bahasa Jawa, ketupat biasanya disebut dengan Kupat yang merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku Lepat artinya mengakui kesalahan. Identiknya Ngaku Lepat ini bisa dilihat dengan tradisi sungkeman yang menjadi implementasi pengakuan kesalahan bagi orang Jawa sampai saat ini. Prosesi sungkeman ini biasanya dilakukan dengan bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun.

Jika Ngaku Lepat adalah pengakuan kesalahan, maka Laku Papat diartikan sebagai empat tindakan dalam perayaan Lebaran. Empat tindakan tersebut adalah Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Arti dari masing-masing kata ini antara lain Lebaran, memiliki makna usai. Menandakan bahwa puasa telah berakhir. Lebaran juga berasal dari kata “lebar” yang artinya permintaan maaf telah terbuka lebar.

Kemudian kata Luberan yang memiliki arti melimpah. Pesan yang tersirat disini adalah memberikan hartanya kepada orang yang kurang beruntung melalui amal. Sementara Leburan berarti saling memaafkan. Semua kesalahan bisa dimaafkan di hari itu karena manusia dituntut untuk saling memaafkan. Yang terakhir yaitu Laburan, berasal dari kata Labur yang artinya orang suci dan bebas dari dosa manusia. Kata terakhir ini memberikan pesan agar manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain. Dilihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini bisa menjadi simbol beragamnya kesalahan manusia. Namun setelah dibuka bungkusnya, muncullah nasi putih yang mencerminkan kesucian hati setelah memohon ampunan atas segala kesalahan.

Namun, akan muncul pertanyaan, mengapa ketupat hars dibungkus dengan daun kelapa atau janur? Kata janur atau daun kelapa ini diambil dari bahasa Arab  yaitu “Jaá nur” yang artinya celah datang cahaya. Nah, dengan bentuk fisik ketupat segi empat ini digambarkan sebagai hati manusia. Ketika orang sudah mengakui kesalahannya, maka hatinya menjadi seperti ketupat yang dibelah. Isinya putih bersih dan hatinya terbebas dari iri dan dengki. Hal ini bisa dikatakan demikian karena hatinya sudah dibungkus dengan cahaya atau “Ja’anur” tadi.

Jadi, momen perayaan Idul Fitri di Indonesia tidak terlepas dari budaya dan filosofi yang rinci. Segala hal yang ada patut diteladani selama itu baik dan buang jauh-jauh hal yang buruk. Ketupat sendiri mencerminkan kekentalan budaya dan kearifan lokal masyarakat yang masih eksis hingga kini. Maka, jagalah budaya selama baik dan bermanfaat bagi kerukunan umat banyak.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kesiapan Ekonomi Kreatif Menyongsong MEA

    Kesiapan Ekonomi Kreatif Menyongsong MEA

    • calendar_month Jum, 24 Okt 2014
    • account_circle admin1
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Negara kita butuh keajaiban dalam rangka menyiapkan MEA (Masyarkat Ekonomi ASEAN), yang mau tidak mau, siap tidak siap harus dilAksanakan 2015. Pemerintah dalam hal ini kementrian yang terkait selalu mengumbar ke-optimisan mereka dalam menyongsong MEA, Perangkat dari berbagai kementrian sudah di siapkan jauh-jauh hari untuk menjalankan MEA pada 2015. Kebijakan-kebijkan ekspor-Impor, isu redenominasi dan berbagai […]

  • Kesadaran Mahasiswa Tertib Parkir Minim

    Kesadaran Mahasiswa Tertib Parkir Minim

    • calendar_month Ming, 19 Nov 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 204
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Pelarangan parkir sepeda motor di sepanjang jalan samping Gedung L Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) kurang diindahkan oleh mahasiswa. Hal tersebut menunjukkan masih minimnya kesadaran mahasiswa dalam mematuhi peraturan untuk tertib parkir. “Itu kan sudah jelas, sudah ada papan pelarangannya. Kalau pinggir-pinggir jalannya penuh motor, saya mau buang sampah kan repot tho. Belum […]

  • Penampilan Seni Meriahkan Puncak Acara FEBI SEWINDU

    Penampilan Seni Meriahkan Puncak Acara FEBI SEWINDU

    • calendar_month Jum, 17 Des 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 199
    • 0Komentar

    lpminvest.com- FEBI Sewindu merupakan tajuk acara peringatan hari ulang tahun (harlah) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo ke-8 tahun. Serangkaian acara diselenggarakan demi memeriahkan harlah FEBI dan puncaknya diselenggarakan inaugurasi, Jumat, (17/12/2021). Berlokasi di Auditorium 2 Kampus 3, acara inaugurasi yang dibintangi oleh beberapa penampilan kesenian. Pelaksanaan FEBI Sewindu ini dilaksanakan dengan sangat […]

  • Aksi Demo oleh Mahasiswa UIN Walisongo di depan gerbang Kampus 3

    Seruan Aliansi Mahasiswa Walisongo: Kecelakaan Truk Picu Aksi ini

    • calendar_month Sen, 25 Nov 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 300
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Aliansi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo (UIN) Semarang gelar aksi sebagai bentuk menyuarakan dari keresahan warga Ngaliyan khususnya di Jl. Prof. Dr. Hamka pada hari Senin, (25/11/2024) pukul 16.00 WIB. Aksi ini diawali dengan orasi di gerbang depan Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, orasi disampaikan oleh perwakilan Aliansi Mahasiswa UIN. Kemudian masa aksi melakukan […]

  • Terorisme; Ideologi dan Ekonomi   

    Terorisme; Ideologi dan Ekonomi  

    • calendar_month Sen, 18 Jan 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Selepas terjadinya ledakan bom di kawasan sarinah Jakarta menimbulkan berbagai macam hipotesa terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya terorisme, antara faktor tersebut adalah sejarah, politik, ideologi, maupun ekonomi. Walaupun sebenarnya belum ada yang bisa memastikan penyebab terjadinya aksi terorisme. Secara pasti. Namun demikian, di antara faktor-faktor tersebut, ada dua faktor yang menurut penulis menjadi faktor […]

  • Sempat Salah Paham, Genwa 2019 Akhirnya Berhasil Kreasikan 5000 Balon

    Sempat Salah Paham, Genwa 2019 Akhirnya Berhasil Kreasikan 5000 Balon

    • calendar_month Kam, 22 Agu 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 175
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Flash Mob dan kreasi 5000 balon mewarnai pagi generasi walisongo (genwa) sebutan mahasiswa baru (maba) UIN Walisongo. Acara pembuka hari pamungkas Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tersebut berlangsung di lapangan utama kampus III UIN Walisongo Semarang. Nur Khotimah, koordinator Tim Kreatif PBAK 2019 menuturkan kreasi 5000 balon yang sesuai warna bendera fakultas […]

expand_less