Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Aku Berbisnis, Maka Aku Ada

Aku Berbisnis, Maka Aku Ada

  • account_circle admin1
  • calendar_month Ming, 17 Apr 2016
  • visibility 589
  • comment 0 komentar

Tingginya angka pengangguran di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah sampai hari ini belum mampu mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Teriakan buruh yang masih nyaring kita dengar, mengindikasikan bahwa ada permasalahan ketenagakerjaan di Republik ini. Badan Pusat Statistik mencatat, angka pengangguran pada Agustus 2015 mencapai 7,6 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka mencapai 6,18 persen.

Menurut Martius (2004), salah satu faktor terjadinya pengangguran adalah defisit lapangan pekerjaan dan perekonomian secara keseluruhan serta surplusnya jumlah tenaga kerja melebihi kesempatan kerja. Pengangguran macam ini, Martinus menyebutnya dengan pengangguran Deflatoir.

Mengapa bangsa ini mengalami defisit lapangan pekerjaan? Karena mayoritas warga negara kita lebih gemar memilih antri menjadi pekerja ketimbang antri menjadi pengusaha, lebih-lebih menjadi Pegawai Negeri Sipil. Logika sederhananya adalah semakin banyak bangsa ini melahirkan pengusaha sukses, semakin tinggi pula kesempatan rakyat mendapatkan pekerjaan. Demikian sebaliknya, semakin sedikit pengusaha sukses yang kita temukan di negeri ini, semakin sulit rakyat mendapatkan pekerjaan. Kalaupun rakyat mendapatkan pekerjaan, status pekerjaan mereka belum tentu memberikan harapan untuk hidup layak.

Mengapa bangsa ini mengalami surplus tenaga kerja? Karena orientasi pendidikan kita mendidik agar generasi penerus bangsa menjadi pekerja. Bayangkan saja, ratusan ribu lulusan SMA, SMK sederajat hingga perguruan tinggi antri menjadi pekerja, dari buruh pasar hingga buruh outsourcing di perusahaan. Jika tidak puas dengan hasil pekerjaan di negaranya sendiri, mereka memilih menjadi tenaga kerja di luar negeri, walaupun status mereka tetap sama (buruh-red), setidaknya perusahaan luar negeri mampu membayar tinggi keringat para TKI ketimbang gaji di negaranya sendiri.

Sengkarut pengangguran yang menimpa bangsa ini, seharusnya memukul idealisme mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agen perubahan sosial. Apa solusi riil mahasiswa untuk menyelesaikan problem pengangguran? Apakah problem pengangguran akan selesai ketika mahasiswa berdemonstrasi menuntut pemerintah?

Menurut hemat saya, hal mudah yang bisa dilakukan mahasiswa untuk mengurangi angka pengangguran adalah berwirausaha. Mahasiswa tidak perlu malu memulai bisnisnya sejak dini. Banyak sosok muda sukses yang bisa dijadikan teladan dalam merintis bisnis. Sebut saja Valentina Meiliyana, dengan produknya Valentina Meiliyana Shoes, ia bisa mendapat omset 45 hingga 50 juta rupiah perbulan.

Sosok muda lain adalah Yasa Singgih, dengan rintisan bisnisnya kaos oblong bergambar Presiden Soekarno, Yasa Singgih kini memiliki Men’s Republic online shop  dan tempat nongkrong bernama “In Teh Kopi.”

Riset yang dilakukan Nurul Indarti dan Rokhima Rostiani (2008), Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi Perbandingan Antara Indonesia, Jepang dan Norwegia, bisa kita jadikan rujukan bahwa intensi kewirausahaan mahasiswa Indonesia lebih tinggi dibanding mahasiswa Jepang dan Norwegia. Demikian pula kebutuhan akan prestasi, efikasi diri dan kesiapan instrumen mahasiswa Indonesia, berperingkat lebih tinggi dibanding kedua negara maju tersebut.

Dari telaah Nurul dan Rokhima di atas, sesungguhnya mahasiswa Indonesia memiliki bekal yang cukup untuk berwirausaha. Untuk memulainya, mahasiswa bisa mencoba berbisnis dalam bentuk usaha yang kecil seperti, bisnis fashion, bisnis kuliner, membuka jasa percetakan, dan usaha lain yang pangsa pasarnya ada di lingkungan kampus.

Dengan dukungan finansial dan kebijakan pemerintah yang merangsang geliat bisnis mahasiswa untuk berkembang, praktis akan memangkas antrian panjang lulusan perguruan tinggi yang melamar menjadi karyawan.

Siham_(Invest).

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cahaya dalam Sujud

    Cahaya dalam Sujud

    • calendar_month Sen, 12 Mar 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 615
    • 0Komentar

    Oleh: Dewi Widi Astuti Pagi ini kudapati sebuah hamparan pemandangan yang membuatku tiada hentinya bersyukur kepada-Nya betapa indah apa yang tengah berada di depanku ini, yang tengah kulihat saat ini.             “Subhanallah” desahku dengan melepas nafas setelah merasakan betapa sejuknya udara pagi ini di pondok putri daerah Yogyakarta yang sudah kurang lebih tiga tahun kutempati […]

  • Menyelamatkan “Mesin” Ekonomi Kita: Hentikan Gempuran Pajak pada Kelas Menengah

    Menyelamatkan “Mesin” Ekonomi Kita: Hentikan Gempuran Pajak pada Kelas Menengah

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 824
    • 0Komentar

    Ditengah narasi optimisme pertumbuhan ekonomi makro yang sering didengungkan pemerintah ada realitas pahit yang terjadi dimana kelas menengah Indonesia sedang “megap-megap”. Pemerintah perlu segera menahan kebijakan perluasan pajak yang membebani konsumsi masyarakat dan mengalihkan perhatian pada upaya memulihkan daya beli. Kebijakan yang terus menambah beban pajak bagi kelas menengah sementara pendapatan mereka tidak meningkat ini  […]

  • Sadar Pentingnya Protokol Kesehatan, Mahasiswa KKN Lakukan Aksi Blusukan  di Tengah Pandemi

    Sadar Pentingnya Protokol Kesehatan, Mahasiswa KKN Lakukan Aksi Blusukan di Tengah Pandemi

    • calendar_month Sen, 19 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 649
    • 0Komentar

    lpminvest.com- COVID-19 masih ada di negara Indonesia, terkhusus Kota Semarang, Jawa Tengah. Hal ini membuat Elisa Martha seorang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) ke-75 UIN Walisongo Semarang tergugah hatinya untuk memutus mata rantai COVID-19. Minggu, (18/10/2020). Dalam hal ini, sosialisasi penggunaan masker dan perawatan masker yang benar menjadi hal nomor wahid […]

  • Cahaya di Tengah Mendung, Part 2

    Cahaya di Tengah Mendung, Part 2

    • calendar_month Rab, 1 Mar 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 626
    • 0Komentar

    “Om, kapan-kapan main lagi yuk.” “Kalau Om sedih ke halaman aja, tiap sore kita main di sana.” “Kita pulang dulu ya, Om.” Aku melambai ringan membalas tiga anak yang sekarang berpamitan itu. Raut bahagia tercetak jelas di wajah mereka, bahkan menular sesaat padaku. Ternyata mereka tinggal di lantai yang berbeda, untuk itu aku membiarkan ketiga […]

  • Menepis Budaya Konsumtif di Bulan Ramadan

    Menepis Budaya Konsumtif di Bulan Ramadan

    • calendar_month Ming, 19 Mei 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 749
    • 0Komentar

    Bagi umat Muslim, bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa. Keistimewaan pada bulan  yang dalam kalender Islam di urutan kesembilan, yaitu antara bulan Sya’ban dan Syawal ini di antaranya adanya kewajiban berpuasa sebulan penuh bagi umat Islam di seluruh dunia sebelum meraih kemenangan Idul Fitri. Di bulan ini pula Allah menurunkan mukjizat yang besar bagi Nabi […]

  • NOVEL “3726 MDPL”

    NOVEL “3726 MDPL”

    • calendar_month Sab, 11 Jan 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 29.881
    • 0Komentar

    Identitas Buku Judul                : 3726 MDPL Penulis             : Nurwina Sari Penerbit           : Romancious Tanggal terbit  : 19 September 2024 Tebal               : 280 Halaman Genre               : Romance, Fiction dan Campus life Peresensi          : Dwi Rahma Novel ini mengisahkan tentang Rangga Raja, Ketua Panitia OSPEK Fakultas Kehutanan 2023, yang juga diam-diam menyibukkan dirinya dengan mengagumi Andini, adik […]

expand_less