Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Masa Pandemi, Masa Tumbuh Subur Patriarki

Masa Pandemi, Masa Tumbuh Subur Patriarki

  • account_circle admin1
  • calendar_month Kam, 25 Jun 2020
  • visibility 151
  • comment 0 komentar
Oleh : Aisyah Septiasari Kru LPM Invest 2017

Oleh : Aisyah Septiasari
Kru LPM Invest 2017

“Lha ngunu, cah wedok yo kudune resik-resik omah, masak, umbah-umbah,” kata mbahku setiap mendapati aku sedang melakukan aktivitas sehari-hari di rumah. Bukan perkataan pakar ataupun ilmuwan terkemuka, tapi cukup membuatku berpikir bahwa di masyarakat ini perlu ada yang dirubah, pola pikir.

Mungkin sebagian besar perempuan, adanya perkataan seperti itu dianggap biasa. Ya, karena itu tugas perempuan bagi mereka. Belum pernah kudengar juga perkataan seperti “lhaa ngunu, cah lanang yo masak, resik-resik omah,” dan sebagainya. Tapi perkataan atau stigma yang melekat pada perempuan bahwa perempuan harus mengurus bab permasakan, berberes rumah, dan sebagainya, membuatku jengah.

Padahal hal tersebut, bukan hanya tanggung jawab perempuan saja, melainkan laki-laki juga harus bisa seperti itu. Lebih tepatnya karena laki-laki juga bagian dari penghuni rumah, maka seharusnya itu tanggung jawab bersama. Perihal bekerja, Bapak dan Ibuku sama-sama bekerja, apa bedanya?

Pemikiran patriarki seperti ini menunjukkan bahawasanya stigma “domestikasi perempuan” masih sangat kental pada lingkungan sekitar, terlebih orang-orang tua yang pemikirannya kolot. Hal ini menjadikan perempuan tidak dipandang sebagai subjek yang memiliki hak dan kewajiban sama terhadap laki-laki yang tidak dibebankan untuk mengurus pekerjaan rumah. Namun, dipandang sebagai objek yang harus melakukan semua hal yang berhubungan tentang domestik rumah tangga.

Padahal hakikatnya perempuan dan laki-laki sama saja, yang membedakan adalah ketakwaan dihadapan Tuhan. Begitu jika kita berbicara ideal dalam beragama. Perempuan dan laki-laki memiliki tanggung jawab dan tugas yang sama, mengemban amanah sebagai khalifah di bumi. Perempuan juga tidak mengabdikan dirinya mutlak kepada lelaki. Hal ini yang perlu digaris bawahi, karena domestikasi perempuan lebih tumbuh subur saat sudah menikah.

Seharusnya, menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai mitra. Mitra yang baik, bekerja sama, dan juga kesalingan (mubadalah). Sehingga, stigma terhadap perempuan yang tumbuh subur di tengah masyarakat bisa secara perlahan tumbang. Istilah “setinggi-tingginya pendidikan perempuan, nanti juga kerjanya tetap didapur” seharusnya hari ini sudah tidak relevan. Pada era ini banyak dapur yang dihuni oleh laki-laki ahli masak, dan banyak perempuan yang dikenal dunia lewat karyanya.

Sejak diberlakukannya gerakan #dirumahaja tidak menjamin perempuan aman, bahkan sejahtera. Angka kekerasan domestik atau KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) meningkat. Dimana perempuan yang mengalami KDRT merasa aman saat keluar rumah, sekarang sudah sangat susah untuk keluar dengan adanya pandemi ini. Apalagi pelaku harus WFH (work from home) memiliki banyak ruang untuk menyerang korban (sering dialami oleh perempuan), dan menjadi indikator KDRT sering dilakukan.

Dilansir dari kumparan.com peningkatan kekerasan yang signifikan ini memang telah diprediksi oleh berbagai lembaga dan aktivis. Badan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) mencatat, 1 dari 3 perempuan pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual, yang biasanya dilakukan oleh pasangannya. Probabilitas ini bisa meningkat saat krisis terjadi, termasuk ketika perang maupun pandemi.

Di negara China, angka KDRT meningkat tiga kali lipat di bulan Februari, persisnya dari angka 47 kasus menjadi 162 kasus. Di Perancis disebutkan meningkat menjadi 36%, Australia naik hingga 75%, di Indonesia sendiri, menurut LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) Jakarta angka KDRT juga meningkat. Tercatat kurun waktu 16 Maret sampai 19 April saat pandemi yakni ada pelaporan 97 kasus, yang paling banyak adalah 33 kasus itu KDRT. Pengaduan kasus KDRT memegang poin tertinggi saat corona, dan masih sama dengan catatan tahunan LBH APIK pada tahun 2019.

Beban ganda yang dialami perempuan saat pandemi cukup serius. Apalagi dalam keluarga secara struktural masih sangat patriarki, sehingga sangat mendomestikasi perempuan. Secara tidak langsung, perempuan adalah kaum yang rentan terpapar virus. Karena, tiap hari harus ke pasar, belanja demi memenuhi kebutuhan nutrisi pangan bagi keluarganya. Dituntut untuk selalu menjaga kualitas makanan tetap sehat dan membersihkan rumah agar steril dan bersih. Hal ini bisa menjadi pemicu adanya KDRT terhadap perempuan. Hal ini menjadikan perempuan sulit keluar rumah untuk melaporkan atau sekedar meminta bantuan dari orang sekitar.

Dengan adanya pandemi seperti ini, kita sebagai perempuan harus memerangi pemikiran patriarki yang telah tumbuh subur di tengah masyarakat agar mampu bertahan. Secara perlahan, maka konsep patriarki tersebut bisa hilang dan menyadarkan orang sekitar bahwasanya perempuan dan laki-laki itu sama. Sama sebagai manusia yang layak untuk hidup setara tanpa adanya diskriminasi dan domestikasi. Keunggulan bukan dilihat dari jenis kelamin, namun dilihat dari kerja keras  tiap individu, entah itu laki-laki maupun perempuan.

Bertahan di tengah pandemi seperti ini, tentu harus banyak mengedukasi orang sekitar, terutama orang terdekat kita untuk melawan stigma yang ada. Semisal ada yang berkata bahwa memasak dan bersih-bersih merupakan pekerjaan perempuan, bilang saja bahwa pekerjaan tersebut tidak mutlak untuk perempuan. Namun, semua jenis kelamin baik itu laki-laki harus memiliki tanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Teori mubadalah atau disebut kesalingan harus diterapkan dalam kehidupan sehari. Agar kedepannya lebih ringan saat menjalani kehidupan, apalagi saat pandemi seperti ini. Bahwasanya, perempuan dan laki-laki itu sama saja dihadapan Tuhan. Yang membedakan adalah ketakwaan terhadapNya.

Dikutip dari buku Qiro’ah Mubadalah, bahwasanya laki-laki dan perempuan adalah sama-sama manusia seutuhnya. Keadilan tidak didefinisikan secara esensial untuk tertib moral dan sosial dimana laki-laki diposisikan lebih tinggi dan dilayani, tetapi keadilan yang hakiki dan substansional dimana laki-laki maupun perempuan diposisikan sebagai manusia setara dan bermitra yang saling kerja sama. Kualitas laki-laki dan perempuan sebagai manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan yang ditandai oleh seberapa jauh hidup memberi manfaat pada kemanusiaan.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fasilitas Keamanan Kampus Minim, Aksi Curanmor Kembali Terjadi.

    Fasilitas Keamanan Kampus Minim, Aksi Curanmor Kembali Terjadi.

    • calendar_month Kam, 8 Mar 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 198
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Setelah beberapa waktu lalu berita mengenai pencurian sepeda motor di kampus UIN Walisongo mulai memudar, kini peristiwa tersebut kembali terjadi. Naasnya, kejadian kali ini di alami oleh Rahul, Mahasiswa semester dua S1 Perbankan Syariah. Kamis, (8/3/2018). Kejadian itu terjadi di parkiran gedung L sekitar pukul 10.20-12.00. disaat korban masih kuliah. “Saat itu saya ada […]

  • Pulang Kuliah, Mahasiswa IAIN Walisongo ditodong orang tak dikenal

    Pulang Kuliah, Mahasiswa IAIN Walisongo ditodong orang tak dikenal

    • calendar_month Sen, 3 Nov 2014
    • account_circle admin1
    • visibility 136
    • 0Komentar

    lpminvest.com-Tindakan kejahatan menimpa mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, selasa (2/9). Ketika itu Umam (21) baru saja pulang kuliah bersama kawannya Kholilah. Tanpa mereka duga tiba-tiba datang seorang laki-laki tidak dikenal membawa senjata tajam hampiri mereka. Kejadian tersebut terjadi di depan gerbang kampus 1 IAIN Walisongo pukul 18.30 Wib. Pada saat kejadian, situasi dilokasi  gelap dan sepi. Umam mahasiswa Fakultas […]

  • SPE 2020, Menelisik Ekonomi Kapitalis di Tengah Pandemi

    SPE 2020, Menelisik Ekonomi Kapitalis di Tengah Pandemi

    • calendar_month Sab, 18 Jul 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 169
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sekolah Pemikiran Ekonomi (SPE)  adalah agenda tahunan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Invest Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumbya, acara kali ini dilakukan secara virtual melalui Google Meet. Diikuti kurang lebih 35 mahasiswa dan berlangsung selama tiga hari yakni tanggal 17 hingga 19 Juli 2020. Bertajuk Membangun Opini […]

  • Wujudkan Perdamaian Bangsa Melalui Toleransi dan Demokrasi

    Wujudkan Perdamaian Bangsa Melalui Toleransi dan Demokrasi

    • calendar_month Sel, 14 Mar 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 191
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK-red) UIN Walisongo Semarang gelar Diskusi Publik. Acara berlangsung di Laboratorium Dakwah Kampus III UIN Walisongo Semarang. Bekerjasama dengan Yayasan Langit Indonesia Cemerlang (YLIC), Direktorat Organisasi Kemasyarakatan, Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum, dan Kementerian Dalam Negeri RI. Selasa, (7/03/2017). Acara yang mengusung tema “Memperkuat Kembali Toleransi Antar Umat […]

  • Mas Ojek Online Dapat Orderan Jadi Wisudawan Terbaik FEBI

    Mas Ojek Online Dapat Orderan Jadi Wisudawan Terbaik FEBI

    • calendar_month Kam, 6 Agu 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 179
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sesuai Keputusan Rektor UIN Walisongo Semarang Nomor 211 tahun 2020, ada 292 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang resmi dicopot gelar mahasiswanya di acara Pelepasan Wisudawan Virtual. Meskipun berlangsung di live streaming Face Tracking Animation di youtube UIN Walisongo Semarang, akan tetapi antusias wisudawan dan mahasiswa tetap tinggi. Hal ini terbukti dalam […]

  • Upaya Penanggulangan Longsor, Kelompok  55 KKN RdR UIN Walisongo Lakukan Kegiatan Penanaman Pohon Trembesi dan Mangga

    Upaya Penanggulangan Longsor, Kelompok 55 KKN RdR UIN Walisongo Lakukan Kegiatan Penanaman Pohon Trembesi dan Mangga

    • calendar_month Sab, 6 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 325
    • 0Komentar

    lpminvest.com-Lakukan upaya penanggulangan erosi dan longsor di Desa Pasigitan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Kelompok 55 Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) angkatan 77 UIN Walisongo Semarang adakan kegiatan penanaman pohon di pinggiran jalan desa tersebut. Sabtu, (6/11/2021). Adapun pohon yang ditanam berjumlah 50 dengan rincian pohon trembesi berjumlah 40 batang dan pohon manga […]

expand_less