Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Masa Pandemi, Masa Tumbuh Subur Patriarki

Masa Pandemi, Masa Tumbuh Subur Patriarki

  • account_circle admin1
  • calendar_month Kam, 25 Jun 2020
  • visibility 741
  • comment 0 komentar
Oleh : Aisyah Septiasari Kru LPM Invest 2017

Oleh : Aisyah Septiasari
Kru LPM Invest 2017

“Lha ngunu, cah wedok yo kudune resik-resik omah, masak, umbah-umbah,” kata mbahku setiap mendapati aku sedang melakukan aktivitas sehari-hari di rumah. Bukan perkataan pakar ataupun ilmuwan terkemuka, tapi cukup membuatku berpikir bahwa di masyarakat ini perlu ada yang dirubah, pola pikir.

Mungkin sebagian besar perempuan, adanya perkataan seperti itu dianggap biasa. Ya, karena itu tugas perempuan bagi mereka. Belum pernah kudengar juga perkataan seperti “lhaa ngunu, cah lanang yo masak, resik-resik omah,” dan sebagainya. Tapi perkataan atau stigma yang melekat pada perempuan bahwa perempuan harus mengurus bab permasakan, berberes rumah, dan sebagainya, membuatku jengah.

Padahal hal tersebut, bukan hanya tanggung jawab perempuan saja, melainkan laki-laki juga harus bisa seperti itu. Lebih tepatnya karena laki-laki juga bagian dari penghuni rumah, maka seharusnya itu tanggung jawab bersama. Perihal bekerja, Bapak dan Ibuku sama-sama bekerja, apa bedanya?

Pemikiran patriarki seperti ini menunjukkan bahawasanya stigma “domestikasi perempuan” masih sangat kental pada lingkungan sekitar, terlebih orang-orang tua yang pemikirannya kolot. Hal ini menjadikan perempuan tidak dipandang sebagai subjek yang memiliki hak dan kewajiban sama terhadap laki-laki yang tidak dibebankan untuk mengurus pekerjaan rumah. Namun, dipandang sebagai objek yang harus melakukan semua hal yang berhubungan tentang domestik rumah tangga.

Padahal hakikatnya perempuan dan laki-laki sama saja, yang membedakan adalah ketakwaan dihadapan Tuhan. Begitu jika kita berbicara ideal dalam beragama. Perempuan dan laki-laki memiliki tanggung jawab dan tugas yang sama, mengemban amanah sebagai khalifah di bumi. Perempuan juga tidak mengabdikan dirinya mutlak kepada lelaki. Hal ini yang perlu digaris bawahi, karena domestikasi perempuan lebih tumbuh subur saat sudah menikah.

Seharusnya, menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai mitra. Mitra yang baik, bekerja sama, dan juga kesalingan (mubadalah). Sehingga, stigma terhadap perempuan yang tumbuh subur di tengah masyarakat bisa secara perlahan tumbang. Istilah “setinggi-tingginya pendidikan perempuan, nanti juga kerjanya tetap didapur” seharusnya hari ini sudah tidak relevan. Pada era ini banyak dapur yang dihuni oleh laki-laki ahli masak, dan banyak perempuan yang dikenal dunia lewat karyanya.

Sejak diberlakukannya gerakan #dirumahaja tidak menjamin perempuan aman, bahkan sejahtera. Angka kekerasan domestik atau KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) meningkat. Dimana perempuan yang mengalami KDRT merasa aman saat keluar rumah, sekarang sudah sangat susah untuk keluar dengan adanya pandemi ini. Apalagi pelaku harus WFH (work from home) memiliki banyak ruang untuk menyerang korban (sering dialami oleh perempuan), dan menjadi indikator KDRT sering dilakukan.

Dilansir dari kumparan.com peningkatan kekerasan yang signifikan ini memang telah diprediksi oleh berbagai lembaga dan aktivis. Badan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) mencatat, 1 dari 3 perempuan pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual, yang biasanya dilakukan oleh pasangannya. Probabilitas ini bisa meningkat saat krisis terjadi, termasuk ketika perang maupun pandemi.

Di negara China, angka KDRT meningkat tiga kali lipat di bulan Februari, persisnya dari angka 47 kasus menjadi 162 kasus. Di Perancis disebutkan meningkat menjadi 36%, Australia naik hingga 75%, di Indonesia sendiri, menurut LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) Jakarta angka KDRT juga meningkat. Tercatat kurun waktu 16 Maret sampai 19 April saat pandemi yakni ada pelaporan 97 kasus, yang paling banyak adalah 33 kasus itu KDRT. Pengaduan kasus KDRT memegang poin tertinggi saat corona, dan masih sama dengan catatan tahunan LBH APIK pada tahun 2019.

Beban ganda yang dialami perempuan saat pandemi cukup serius. Apalagi dalam keluarga secara struktural masih sangat patriarki, sehingga sangat mendomestikasi perempuan. Secara tidak langsung, perempuan adalah kaum yang rentan terpapar virus. Karena, tiap hari harus ke pasar, belanja demi memenuhi kebutuhan nutrisi pangan bagi keluarganya. Dituntut untuk selalu menjaga kualitas makanan tetap sehat dan membersihkan rumah agar steril dan bersih. Hal ini bisa menjadi pemicu adanya KDRT terhadap perempuan. Hal ini menjadikan perempuan sulit keluar rumah untuk melaporkan atau sekedar meminta bantuan dari orang sekitar.

Dengan adanya pandemi seperti ini, kita sebagai perempuan harus memerangi pemikiran patriarki yang telah tumbuh subur di tengah masyarakat agar mampu bertahan. Secara perlahan, maka konsep patriarki tersebut bisa hilang dan menyadarkan orang sekitar bahwasanya perempuan dan laki-laki itu sama. Sama sebagai manusia yang layak untuk hidup setara tanpa adanya diskriminasi dan domestikasi. Keunggulan bukan dilihat dari jenis kelamin, namun dilihat dari kerja keras  tiap individu, entah itu laki-laki maupun perempuan.

Bertahan di tengah pandemi seperti ini, tentu harus banyak mengedukasi orang sekitar, terutama orang terdekat kita untuk melawan stigma yang ada. Semisal ada yang berkata bahwa memasak dan bersih-bersih merupakan pekerjaan perempuan, bilang saja bahwa pekerjaan tersebut tidak mutlak untuk perempuan. Namun, semua jenis kelamin baik itu laki-laki harus memiliki tanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Teori mubadalah atau disebut kesalingan harus diterapkan dalam kehidupan sehari. Agar kedepannya lebih ringan saat menjalani kehidupan, apalagi saat pandemi seperti ini. Bahwasanya, perempuan dan laki-laki itu sama saja dihadapan Tuhan. Yang membedakan adalah ketakwaan terhadapNya.

Dikutip dari buku Qiro’ah Mubadalah, bahwasanya laki-laki dan perempuan adalah sama-sama manusia seutuhnya. Keadilan tidak didefinisikan secara esensial untuk tertib moral dan sosial dimana laki-laki diposisikan lebih tinggi dan dilayani, tetapi keadilan yang hakiki dan substansional dimana laki-laki maupun perempuan diposisikan sebagai manusia setara dan bermitra yang saling kerja sama. Kualitas laki-laki dan perempuan sebagai manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan yang ditandai oleh seberapa jauh hidup memberi manfaat pada kemanusiaan.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UIN Walisongo Beri Bantuan APD untuk Tenaga Medis Sekitar Ngaliyan

    UIN Walisongo Beri Bantuan APD untuk Tenaga Medis Sekitar Ngaliyan

    • calendar_month Kam, 9 Apr 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 724
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang memberikan sumbangan berupa Alat Pelindung Diri (APD) kepada tenaga medis yang bertugas di wilayah sekitar kampus yakni Puskesmas Ngaliyan, Puskesmas Tambakaji, Puskesmas Purwoyoso dan Klinik Pratama UIN Walisongo. Kamis, 9/4/2020. Maka melalui Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 yang dibentuk UIN melakukan penggalangan dana melalui donasi para pimpinan dan pegawai […]

  • Tingkatkan Kebersamaan, Kru LPM Invest Rayakan Tahun Baru

    Tingkatkan Kebersamaan, Kru LPM Invest Rayakan Tahun Baru

    • calendar_month Kam, 31 Des 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 724
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Merayakan tahun baru memang sudah menjadi kebiasaan muda-mudi di negeri ini, dengan bermacam cara mereka menikmati akhir tahun 2015 sekaligus merayakan tahun baru 2016. Begitu juga dengan kru LPM Invest yang merayakan malam tahun barunya di kantor Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang. (31/12/2015). Selain merayakan tahun baru, momen ini juga dijadikan sebagai […]

  • Hikayat Para Pemeluk Luka

    Hikayat Para Pemeluk Luka

    • calendar_month Kam, 5 Feb 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 784
    • 0Komentar

    ​Di hamparan aspal yang membentang tanpa ujung, sebuah jalur tunggal yang kita sebut takdir. Semua orang adalah pengelana. Tidak ada bangku untuk beristirahat, tidak ada persimpangan untuk berbalik arah. Ribuan langkah berderap serempak, menciptakan irama monoton yang memenuhi udara. ​Jika dilihat dari ketinggian kerumunan itu tampak seperti sungai yang mengalir dalam remang. Namun, jika kau […]

  • Sadar Pentingnya Protokol Kesehatan, Mahasiswa KKN Lakukan Aksi Blusukan  di Tengah Pandemi

    Sadar Pentingnya Protokol Kesehatan, Mahasiswa KKN Lakukan Aksi Blusukan di Tengah Pandemi

    • calendar_month Sen, 19 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 694
    • 0Komentar

    lpminvest.com- COVID-19 masih ada di negara Indonesia, terkhusus Kota Semarang, Jawa Tengah. Hal ini membuat Elisa Martha seorang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) ke-75 UIN Walisongo Semarang tergugah hatinya untuk memutus mata rantai COVID-19. Minggu, (18/10/2020). Dalam hal ini, sosialisasi penggunaan masker dan perawatan masker yang benar menjadi hal nomor wahid […]

  • Status Mahasiswa Bukan Penghalang Jadi Pengusaha

    Status Mahasiswa Bukan Penghalang Jadi Pengusaha

    • calendar_month Rab, 21 Mar 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 704
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Mengaku sempat tidak diperbolehkan berbisnis oleh ayahnya, owner Sate Taichan Mang Enak, Muhamad Al-Firdausiahla (19) kini mampu meraup omzet 300 hingga 400 ribu rupiah per hari. Pria asli Semarang ini berhasil membuktikan kepada ayahnya bahwa ia mampu berbisnis tanpa mengganggu kuliahnya. Karena baginya, status mahasiswa tidak menjadi penghalang untuk segera memulai bisnis. “Kalau […]

  • Aksi Demo oleh Mahasiswa UIN Walisongo di depan gerbang Kampus 3

    Seruan Aliansi Mahasiswa Walisongo: Kecelakaan Truk Picu Aksi ini

    • calendar_month Sen, 25 Nov 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 962
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Aliansi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo (UIN) Semarang gelar aksi sebagai bentuk menyuarakan dari keresahan warga Ngaliyan khususnya di Jl. Prof. Dr. Hamka pada hari Senin, (25/11/2024) pukul 16.00 WIB. Aksi ini diawali dengan orasi di gerbang depan Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, orasi disampaikan oleh perwakilan Aliansi Mahasiswa UIN. Kemudian masa aksi melakukan […]

expand_less