Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Masa Pandemi, Masa Tumbuh Subur Patriarki

Masa Pandemi, Masa Tumbuh Subur Patriarki

  • account_circle admin1
  • calendar_month Kam, 25 Jun 2020
  • visibility 789
  • comment 0 komentar
Oleh : Aisyah Septiasari Kru LPM Invest 2017

Oleh : Aisyah Septiasari
Kru LPM Invest 2017

“Lha ngunu, cah wedok yo kudune resik-resik omah, masak, umbah-umbah,” kata mbahku setiap mendapati aku sedang melakukan aktivitas sehari-hari di rumah. Bukan perkataan pakar ataupun ilmuwan terkemuka, tapi cukup membuatku berpikir bahwa di masyarakat ini perlu ada yang dirubah, pola pikir.

Mungkin sebagian besar perempuan, adanya perkataan seperti itu dianggap biasa. Ya, karena itu tugas perempuan bagi mereka. Belum pernah kudengar juga perkataan seperti “lhaa ngunu, cah lanang yo masak, resik-resik omah,” dan sebagainya. Tapi perkataan atau stigma yang melekat pada perempuan bahwa perempuan harus mengurus bab permasakan, berberes rumah, dan sebagainya, membuatku jengah.

Padahal hal tersebut, bukan hanya tanggung jawab perempuan saja, melainkan laki-laki juga harus bisa seperti itu. Lebih tepatnya karena laki-laki juga bagian dari penghuni rumah, maka seharusnya itu tanggung jawab bersama. Perihal bekerja, Bapak dan Ibuku sama-sama bekerja, apa bedanya?

Pemikiran patriarki seperti ini menunjukkan bahawasanya stigma “domestikasi perempuan” masih sangat kental pada lingkungan sekitar, terlebih orang-orang tua yang pemikirannya kolot. Hal ini menjadikan perempuan tidak dipandang sebagai subjek yang memiliki hak dan kewajiban sama terhadap laki-laki yang tidak dibebankan untuk mengurus pekerjaan rumah. Namun, dipandang sebagai objek yang harus melakukan semua hal yang berhubungan tentang domestik rumah tangga.

Padahal hakikatnya perempuan dan laki-laki sama saja, yang membedakan adalah ketakwaan dihadapan Tuhan. Begitu jika kita berbicara ideal dalam beragama. Perempuan dan laki-laki memiliki tanggung jawab dan tugas yang sama, mengemban amanah sebagai khalifah di bumi. Perempuan juga tidak mengabdikan dirinya mutlak kepada lelaki. Hal ini yang perlu digaris bawahi, karena domestikasi perempuan lebih tumbuh subur saat sudah menikah.

Seharusnya, menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai mitra. Mitra yang baik, bekerja sama, dan juga kesalingan (mubadalah). Sehingga, stigma terhadap perempuan yang tumbuh subur di tengah masyarakat bisa secara perlahan tumbang. Istilah “setinggi-tingginya pendidikan perempuan, nanti juga kerjanya tetap didapur” seharusnya hari ini sudah tidak relevan. Pada era ini banyak dapur yang dihuni oleh laki-laki ahli masak, dan banyak perempuan yang dikenal dunia lewat karyanya.

Sejak diberlakukannya gerakan #dirumahaja tidak menjamin perempuan aman, bahkan sejahtera. Angka kekerasan domestik atau KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) meningkat. Dimana perempuan yang mengalami KDRT merasa aman saat keluar rumah, sekarang sudah sangat susah untuk keluar dengan adanya pandemi ini. Apalagi pelaku harus WFH (work from home) memiliki banyak ruang untuk menyerang korban (sering dialami oleh perempuan), dan menjadi indikator KDRT sering dilakukan.

Dilansir dari kumparan.com peningkatan kekerasan yang signifikan ini memang telah diprediksi oleh berbagai lembaga dan aktivis. Badan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) mencatat, 1 dari 3 perempuan pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual, yang biasanya dilakukan oleh pasangannya. Probabilitas ini bisa meningkat saat krisis terjadi, termasuk ketika perang maupun pandemi.

Di negara China, angka KDRT meningkat tiga kali lipat di bulan Februari, persisnya dari angka 47 kasus menjadi 162 kasus. Di Perancis disebutkan meningkat menjadi 36%, Australia naik hingga 75%, di Indonesia sendiri, menurut LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) Jakarta angka KDRT juga meningkat. Tercatat kurun waktu 16 Maret sampai 19 April saat pandemi yakni ada pelaporan 97 kasus, yang paling banyak adalah 33 kasus itu KDRT. Pengaduan kasus KDRT memegang poin tertinggi saat corona, dan masih sama dengan catatan tahunan LBH APIK pada tahun 2019.

Beban ganda yang dialami perempuan saat pandemi cukup serius. Apalagi dalam keluarga secara struktural masih sangat patriarki, sehingga sangat mendomestikasi perempuan. Secara tidak langsung, perempuan adalah kaum yang rentan terpapar virus. Karena, tiap hari harus ke pasar, belanja demi memenuhi kebutuhan nutrisi pangan bagi keluarganya. Dituntut untuk selalu menjaga kualitas makanan tetap sehat dan membersihkan rumah agar steril dan bersih. Hal ini bisa menjadi pemicu adanya KDRT terhadap perempuan. Hal ini menjadikan perempuan sulit keluar rumah untuk melaporkan atau sekedar meminta bantuan dari orang sekitar.

Dengan adanya pandemi seperti ini, kita sebagai perempuan harus memerangi pemikiran patriarki yang telah tumbuh subur di tengah masyarakat agar mampu bertahan. Secara perlahan, maka konsep patriarki tersebut bisa hilang dan menyadarkan orang sekitar bahwasanya perempuan dan laki-laki itu sama. Sama sebagai manusia yang layak untuk hidup setara tanpa adanya diskriminasi dan domestikasi. Keunggulan bukan dilihat dari jenis kelamin, namun dilihat dari kerja keras  tiap individu, entah itu laki-laki maupun perempuan.

Bertahan di tengah pandemi seperti ini, tentu harus banyak mengedukasi orang sekitar, terutama orang terdekat kita untuk melawan stigma yang ada. Semisal ada yang berkata bahwa memasak dan bersih-bersih merupakan pekerjaan perempuan, bilang saja bahwa pekerjaan tersebut tidak mutlak untuk perempuan. Namun, semua jenis kelamin baik itu laki-laki harus memiliki tanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Teori mubadalah atau disebut kesalingan harus diterapkan dalam kehidupan sehari. Agar kedepannya lebih ringan saat menjalani kehidupan, apalagi saat pandemi seperti ini. Bahwasanya, perempuan dan laki-laki itu sama saja dihadapan Tuhan. Yang membedakan adalah ketakwaan terhadapNya.

Dikutip dari buku Qiro’ah Mubadalah, bahwasanya laki-laki dan perempuan adalah sama-sama manusia seutuhnya. Keadilan tidak didefinisikan secara esensial untuk tertib moral dan sosial dimana laki-laki diposisikan lebih tinggi dan dilayani, tetapi keadilan yang hakiki dan substansional dimana laki-laki maupun perempuan diposisikan sebagai manusia setara dan bermitra yang saling kerja sama. Kualitas laki-laki dan perempuan sebagai manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan yang ditandai oleh seberapa jauh hidup memberi manfaat pada kemanusiaan.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PENGANTIN

    PENGANTIN

    • calendar_month Jum, 16 Des 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 734
    • 0Komentar

    Kau sunting mesra ayat jihad Dengan lagu logika sesaat Dengan senyum manis Julang anganmu berpeluk bidadari sintal Mencuat payudara legit berlapis   Tepuk sorak Iblis Picukan segera pertemuan princess Segeralah kau mati sebab kunci bidadari di sini Membuka hati dan peluk pelangi mimpi surgawi Ayat jihadmu telah dikufurkan nafsumu merangkum kematian Massif dirimu dan manusia […]

  • FEBI Borong Dua Juara di Cabor Bulu Tangkis

    FEBI Borong Dua Juara di Cabor Bulu Tangkis

    • calendar_month Rab, 18 Sep 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 812
    • 0Komentar

    lpminvest.com-  Atlet ganda putra Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dari cabang olahraga (cabor) bulu tangkis berhasil memborong juara. Pertandingan berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) UIN Walisongo Semarang. Rabu, (18/9/2019). Eko Ramadhan dan Iqbal Fakhoiron berhasil mengantongi juara dua ganda putra. Sedangkan ganda putri yang digawangi Siti Lailatul Rizqiyah dan Alfina Anggraeni meraih juara […]

  • Tanpa Kasih Orang Tua Sejak Kecil, Rivaldi Lulus Cepat dengan Predikat Terbaik FEBI

    Tanpa Kasih Orang Tua Sejak Kecil, Rivaldi Lulus Cepat dengan Predikat Terbaik FEBI

    • calendar_month Rab, 29 Jan 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 795
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Wisuda Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang ke-13 sejumlah 95 wisudawan, yang terdiri dari 77 orang Sarjana Strata Satu (S1), 16 Ahli Madya dan dua orang Magister Strata Dua (S2). Prosesi pelepasan wisudawan UIN Walisongo yang yang ke-77 ini berlangsung di Audit II kampus III UIN Walisongo Semarang. Wisudawan Terbaik FEBI dengan Indeks Prestasi […]

  • Kedua Kalinya, EBI Sport Adakan Turnamen Futsal

    Kedua Kalinya, EBI Sport Adakan Turnamen Futsal

    • calendar_month Sen, 4 Nov 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 780
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) UIN Walisongo Semarang, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) EBI Sport Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) UIN Walisongo untuk kedua kalinya mengadakan event turnamen futsal FEBI CUP. Turnamen futsal ini diselenggarakan bagi FE/FEB/FEBI se-Pulau Jawa dan Bali. Senin, (4/11/2019). “Ini merupakan event lanjutan dari tahun sebelumnya. Tapi pada tahun […]

  • 4 Rekomendasi Tontonan dalam Platform Audiovisual nan Mengedukasi

    4 Rekomendasi Tontonan dalam Platform Audiovisual nan Mengedukasi

    • calendar_month Rab, 4 Agu 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 834
    • 0Komentar

    Pendidikan sangat luas jangkauannya, tidak terbatas pada pendidikan formal saja. Lebih dari itu, pendidikan informal juga menjadi bagian dari ranah pendidikan yang patut diajarkan dan disebarluaskan kepada masyarakat. Semuanya bertujuan satu yaitu mengedukasi serta memberi pencerahan kepada orang-orang agar tahu dan mengamalkan ajaran pendidikan yang baik dan luhur. Tahun 2021 ini kita sedang berada dalam […]

  • Kegiatan yang Disukai Peserta, Penutupan PBAK 2023

    Kegiatan yang Disukai Peserta, Penutupan PBAK 2023

    • calendar_month Ming, 6 Agu 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 938
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Rangkaian penutupan kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) selama 3 hari telah berada diakhir acara. Berbagai kegiatan mulai dari Pra-PBAK, orasi kemahasiswaan dengan mengundang bintang tamu, Expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), hingga menginjak hari terakhir pada Minggu, (6/7/2023) berjalan dengan lancar. Muhammad Anang Ma’ruf selaku ketua panitia PBAK mengungkapkan, persiapan PBAK dimulai sejak […]

expand_less