Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Lebaran Tanpa Mudik

Lebaran Tanpa Mudik

  • account_circle admin1
  • calendar_month Jum, 7 Jun 2019
  • visibility 782
  • comment 0 komentar
Oleh: Hasna Aulia Kru Lpm Invest

Oleh: Hasna Aulia
Kru Lpm Invest

Bukan hanya baju baru, angpau, bingkisan, atau kue kering. Mudik juga salah satu prioritas yang dipersiapkan masyarakat Indonesia menjelang lebaran (Idul Fitri). Di mana tradisinya, para perantau baik yang bekerja maupun yang berjihad mencari ilmu berbondong-bondong pulang ke kampung halaman untuk menikmati lebaran bersama keluarga. Uniknya, boleh jadi hal ini hanya terjadi di Indonesia.

Konon tradisi mudik sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit. Pada masa itu, para pejabat yang ditempatkan di berbagai wilayah pulang untuk menemui raja dan melepas rindu dengan keluarga di kampung halamannya. Namun istilah mudik baru santer di tahun 1970-an.

Kalau kata orang Jawa, mudik merupakan singkatan dari “mulih dilik” yang artinya pulang sebentar atau sementara. Ada juga yang mengatakan kepanjangan mudik ialah “mulih disik” artinya pulang dulu. Maksud “pulang” di sini adalah untuk menemui keluarga di rumah setelah sekian lama merantau. Tidak berbeda, mudik bagi orang Betawi dimaknai “kembali ke udik”. Udik berarti kampung. Jadi maksudnya pulang ke kampung halaman. Berangkat dari situlah istilah pulang kampung mengalami penyederhanaan bahasa dari udik menjadi mudik. (Silverio, 2018)

Lalu bagaimana mudik bisa menjadi ritual tahunan dan euforia tersendiri di Indonesia? Begini, faktor yang paling mungkin dan logis adalah karena banyaknya orang merantau dari desa ke kota. Banyaknya perpindahan (migrasi) inilah yang membuat mudik terasa massal terjadi menjelang lebaran.

Walaupun ada beberapa faktor migrasi seperti faktor demografis, geografis, dan psikologis. Tapi menurut Bambang dalam jurnalnya (Mudik Lebaran, 2011), faktor yang paling mendukung masyarakat Indonesia migrasi dari desa ke kota adalah faktor ekonomi. Sebagian besar orang melakukan migrasi untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan demi memperbaiki nasib.

Namun bukan hanya para pekerja yang ingin memperbaiki nasib, para pelajar yang menuntut ilmu di luar daerah tempat tinggalnya (biasanya mahasiswa dan santri) juga turut merasakan euforia mudik. Setelah sekian lama belajar di kota orang, momen paling ditunggu-tunggu adalah mudik menjelang lebaran, walaupun mungkin mereka bisa saja pulang di hari-hari libur biasa.

u

Sensasinya tentu berbeda, ketika mudik lebaran mereka harus siap siaga berebut membeli tiket transportasi jauh-jauh hari. Seperti yang kita tahu, tiket transportasi khususnya jalur darat bisa ludes terjual bahkan dua minggu sebelum lebaran. Bukan benar-benar habis, hanya saja semakin mendekati lebaran harga tiket semakin mahal.

Sedangkan pelajar yang mudik menggunakan kendaraan pribadi seperti motor, tidak kalah seru sensasinya. Semakin mereka pulang mendekati lebaran, akan semakin merasakan nikmatnya macet dan puasa di jalanan. Tapi di balik itu, ada sisi unik dan menggelitik yang membuat saya tak habis pikir.

Mereka para pemudik yang memakai motor memasang tulisan-tulisan lucu di tas punggung, barang bawaan, dan di tempat-tempat lain yang bisa dengan jelas dibaca orang. Misalnya tulisan “Mak, aku muleh. Sepurane mak, aku mung iso gowo tas, durung iso gowo mantu”. Satu lagi, tulisan yang sangat visioner dan tidak kalah menggelitik yaitu “Mudik tahun iki lagi iso gowo S2. Bismillah tahun ngarep iso gowo S3 (istri)”. Kreatif dan segar memang, mungkin hal tersebut menjadi hiburan tersendiri dikala macet sambil menahan lapar dan dahaga.

Begitulah serba-serbi mudik. Para perantau rela melewati situasi-situasi yang tidak mengenakkan demi bisa berkumpul bersama keluarga saat lebaran. Maka seperti yang dikatakan Bambang (2011), bahwa mudik lebaran bagi masyarakat Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu ibadah atau ritual tahunan yang tidak boleh dilanggar.

Memilih Tidak Mudik

Ternyata, mudik yang disebut sebagai ritual tahunan wajib bagi masyarakat Indonesia tidak sepenuhnya benar. Buktinya ada beberapa orang yang memilih menetap di perantauan dan rela merayakan lebaran jauh dari keluarga.

Berdasarkan pengamatan dan dialog saya dengan orang-orang yang memilih tidak mudik saat lebaran, saya dapat mengategorikan mereka menjadi tiga tipe. Pertama, tipe pekerja tangguh. Mereka biasanya orang-orang desa yang terdesak kebutuhan ekonomi. Oleh karena diiming-imingi upah yang berkali-kali lipat, mereka rela lembur di saat yang lain libur. Mereka rela tidak mudik demi mencukupi kebutuhan yang mendesak dan menghidupi keluarganya.

Kedua, tipe perantau tetap. Tipe ini adalah perantau-perantau yang sudah terlalu lama tinggal di perantauan dan memutuskan untuk menetap. Maka biasanya tipe ini sudah berusia lanjut. Ketika saya bertanya alasan mereka enggan untuk mudik, jawabnya balik bertanya, “mau mudik ke mana?”. Saya mencoba husnudzon, mungkin saja sanak saudaranya juga perantau semua. Atau kemungkinan terburuknya, orang tua mereka memang sudah tiada. Sehingga mereka memilih tinggal daripada mudik tapi sama saja sepi dan merusak suasana hati.

Ketiga, tipe mahasiswa. Tipe ini yang paling memprihatinkan bagi saya. Mana ada orang tua yang enggan berkumpul dengan anaknya saat lebaran. Pun sebaliknya, mana ada anak yang ingin jauh dari orang tuanya saat lebaran. Tipe ketiga ini biasanya mahasiswa yang merantau antar-pulau maupun antar-negara.

Ada beberapa alasan yang mereka utarakan ketika saya berdialog dengan mereka, antara lain: tiket pesawat mahal. Ya, tiket pesawat bisa mencapai jutaan rupiah menjelang lebaran; tanggungan kuliah. Kebanyakan mahasiswa memilih untuk pulang setelah ujian akhir semester; pulang ke rumah saudara. Biasanya para perantau memiliki saudara yang tinggal dekat dengan daerah rantaunya. Mereka lebih memutuskan pulang ke rumah saudaranya daripada harus mudik dan menghabiskan banyak duit.

Menurut pengakuan tiga tipe di atas, sesungguhnya mereka sangat ingin mudik dan lebaran bersama keluarga. Namun mereka rela menahan rindu demi keputusan terbaiknya. Mereka inilah pemilik jiwa yang tangguh. Terlepas dari semua itu, hemat saya, mudik tidak mudik bukanlah perkara wajib, yang terpenting minal ‘aidin walfaizin yakni jiwa kita meraih kemenangan setelah sebulan berpuasa dan hati kita bisa mudik (kembali) ke fitrah (suci). Amin.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akhir PBAK 2024 Diwarnai dengan Ekspo UKM-U, Band Musik, Sekaligus Penutupan

    Akhir PBAK 2024 Diwarnai dengan Ekspo UKM-U, Band Musik, Sekaligus Penutupan

    • calendar_month Ming, 11 Agu 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 677
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Hari terakhir PBAK dilaksanakan pada Minggu, (11/08/2024) terdapat Expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas yang bertempat di GSG dan Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Terdapat sebanyak 18 UKM dan UKK tingkat Universitas yang turut memeriahkan kegiatan ekspo dan stand hari ini. UKM dan UKK tingkat Universitas yang mengikuti ekspo UKM UKK […]

  • Kelompok 53 KKN RdR Lakukan Pendampingan Ngaji untuk Lansia

    Kelompok 53 KKN RdR Lakukan Pendampingan Ngaji untuk Lansia

    • calendar_month Sel, 27 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 866
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Selasa (27/10/2020) Tim Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) (Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah) ke-75 Kelompok 53 UIN Walisongo Semarang menggelar pendampingan ngaji bersama para ibu usia lanjut (lansia). Kegiatan tersebut bertempat di Masjid Roudlotul Jannah, Perumahan Bank Niaga, Tambakaji, Ngaliyan. Para ibu lansia membuktikan ungkapan menuntut ilmu tak kenal usia. Sebab […]

  • Prodi Ekonomi Islam Luluskan Mahasiswa Semester Tujuh, Ternyata Cumlaude Semua

    Prodi Ekonomi Islam Luluskan Mahasiswa Semester Tujuh, Ternyata Cumlaude Semua

    • calendar_month Rab, 13 Jan 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 810
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Perhelatan sidang munaqosah Prodi Ekonomi Islam rampung digelar pada 30 Desember 2020. Melalui prosesi sidang dalam ruang maya ini, Prodi Ekonomi Islam luluskan 15 mahasiswa semester 7 dengan berpredikat cumlaude. Nama-nama mahasiswa tersebut antara lain Milhatun Nisa, Umair Abdullah Kholilurrahman, Yeni Rahayu, Dhea Aulia Damayanti, Itsna Tifani Barokatur Rizqoh, Arsakti Foreignyca Dewi, Sara Desmala, […]

  • KKL; Kompetensi dan Eksistensi Syariah

    KKL; Kompetensi dan Eksistensi Syariah

    • calendar_month Rab, 26 Apr 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 857
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Prodi S1 Ekonomi Islam (EI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL). 5 (lima) rombongan bus FEBI UIN Walisongo Semarang, dipersiapkan untuk peserta dan beberapa dosen pendamping yang akan melaksanakan KKL. Selasa, (25/4/17). Pemberangkatan KKL dengan rute perjalanan menuju Malang dan Pasuruan, dan tujuan mengunjungi beberapa lembaga, […]

  • PKK dan Kader Desa Kecila Bersama Mahasiswa KKN Beri Bantuan ke Korban Bencana Alam

    PKK dan Kader Desa Kecila Bersama Mahasiswa KKN Beri Bantuan ke Korban Bencana Alam

    • calendar_month Sen, 9 Nov 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 661
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) ke-75 kelompok 122 dirangkul oleh Kader dan PKK Desa Kecila. Mereka bersama-sama memberikan bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor di wilayah RW 2 desa tersebut. Kegiatan berlangsung pada Rabu (04/11/2020). Bencana banjir dan tanah longsor melanda sebagian wilayah di Desa Kecila, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten […]

  • Mengaumlah

    Mengaumlah

    • calendar_month Kam, 1 Mei 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 588
    • 0Komentar

    Oleh: Mahda Nuurainiyah   Yang tertindas, tak punya rupa, Mewujud berupa angka belaka Dalam data tanpa suara,   Maka mengaumlah pada hari itu, Hari tunggal berhimpunnya suara, Serentak rintihan pekik disoroti, Puas-puaskan!   Tiada usang dalam hal berbenah, Tiada akhir untuk revolusi, Tuntutlah tuntut sampai runtut,   Buang sejenak topeng setan bernama sopan, Pastikan semua […]

expand_less