Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Ia, yang Terpaksa Melacur

Ia, yang Terpaksa Melacur

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sen, 17 Okt 2016
  • visibility 288
  • comment 0 komentar

AKU tak benar-benar mengenalnya, hanya saja aku sempat tahu nama belakangnya, Syafa, kala itu, kira-kira dua tahun yang lalu, aku berjalan di sore yang riuh di Jalan Prof. Hamka Ngaliyan Semarang. Tak sengaja ia berada di halte bus depan Ngaliyan Square, karena dari jauh ia memandangku tajam, lalu ketika dekat, kuberanikan diri untuk menghentikan langkahku sejenak di halte tempat ia menunggu bus. Walaupun aku tidak hendak menunggu bus, hanya saja tiba-tiba aku ingin berkenalan dengannya. “Maaf, ikut duduk ya, saya kelelahan mau ikut istirahat,” aku berucap ke perempuan bermata sabit itu.

“Silahkan mas,” begitu ia menjawabnya, tentu dengan nada dingin, sedingin sorot matanya.

“Apakah aku boleh tahu Nona hendak kemana?,” tanyaku, bermaksud memulai pembicaraan.

“Aku hendak ke terminal Terboyo mas,” ia menjawab seperlunya.

“Nama Nona siapa? Kalau saya boleh tahu,” selidikku sembari aku mengalihkan arah badanku ke arahnya, “sreeetttt..,” yang semula aku menghadap ke arah jalan.

“Namaku Syafa, maaf ada apa ya mas,” ia menjawab dan kembali melempar tanya.

“Nggak ada apa-apa Nona, hanya saja dari tadi aku melihat Nona dari kejauhan, Nona tampak memandangku, aku penasaran, ada apa?,” aku menjawab lalu kembali bertanya.

“Oh, iya mas, soalnya dari tadi di halte ini sepi banget, saya takut, maaf, makannya saya tadi memperhatikan mas, karena ada laki-laki dan di sini dalam keadaan sepi,” ia menjelaskan.

“Paham!” jawabku singkat.

Tidak lama perbincanganku dengan Nona Syafa, bus Trans Semarang datang dari arah Boja, “saya duluan mas,” ia pamit, “Boleh saya minta nomor kontak Nona? Siapa tahu kita bisa bersua di lain waktu,” tanyaku yang hanya dibalas dengan senyum simpul, tampak lesung pipi yang sangat indah. Sungguh.

Aku bingung, permintaanku hanya dibalas dengan senyum, apa maksudnya, setelah senyuman itu kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk bus, aku tak langsung beranjak dari dudukku, tanpa sadar kuperhatikan laju bus yang dinaikinya sampai bus benar-benar hilang dari pandanganku. Baru kemudian aku melanjutkan perjalananku, karena aku ada janji dengan teman di sebuah cafe tepat di ujung jalan.

***

Malam pun  tiba, di rumah, masih ramai seperti malam biasanya, namun, entah kenapa rasa sepi mulai menggangguku, tidak seperti biasanya, biasanya aku ikut larut dalam keramaian itu. Maka kuputuskan untuk beranjak ke kamar belakang, kamar yang biasanya kugunakan untuk menulis esay, cerpen, opini, atau apa saja yang butuh kutulis.

Aku duduk menghadap laptop yang masih terlipat, segera kubuka dan kuhidupkan, bermaksud untuk menulis opini yang akan kukirim ke koran Minggu, namun, jari tetaplah jari, yang akan bergerak ketika digerakkan, gerakan jari harus diikuti dengan pikiran yang fresh, agar tulisan terarah dan berisi. Bebal, malam ini sungguh otakku bebal, terganggu senyum simpul perempuan di halte sore tadi. Tapi sayang, aku hanya tahu nama belakangnya saja, aku gagal mendapat kontaknya. Gelisah mulai menyergap.

Aku beranjak dari kursi jengki tempat biasa aku menulis, aku berbaring di kasur lantai bersama dengan serakan buku-buku. Aku memandang ke arah langit-langit rumah, aku kaget, kenapa ada wajah perempuan sore tadi?, “aiihh..,” aku menyadari kalau aku terbayang-bayang dengan perempuan bernama belakang Syafa itu.

“Tok.. tok.. tok..,” suara dari belik pintu.

“Masuk,” sautku

“Kamu ngapain kok sendirian, nggak nimbrung di ruang tv sama adik-adikmu?,” tanya tamuku.

Ia yang mengetuk pintu yang mengganggu lamunanku itu bernama Rozi, ia temanku sejak kecil, “wah, kebetulan, sini aku mau cerita,” segera kusuruh ia duduk di sampingku.

Kuceritakan mengenai perempuan yang kutemui sore tadi, ia hanya mengangguk mendengarkan dengan seksama ceritaku, lalu ia bertanya “ciri-cirinya gimana?, kok sepertinya aku tidak asing dengan nama perempuan yang mengganggu pikiranmu itu,” tanyanya tanpa basa-basi.

“Nama perempuan itu Syafa,” jawabku setelah menyedot rokok kretek yang sedari tadi hanya kuletakkan di lekukan atas asbak kaca.

“Oalahhhhh…..,” setengah berteriak menandakan ia tahu perempuan yang ku maksud.

“Aku kenal dia, dia temanku kuliah, ia benar akan ke Terboyo, karena memang ia mondok tidak jauh dari terminal Terboyo,” jawabnya, yang langsung kusambut dengan teriakan “horeeeee…,” ia terperangah melihat aku berteriak, “kenapa hore?,” tanyanya. “Kalau kamu tahu perempuan bermata sabit itu berarti kan aku bisa minta kamu kontak dia,” jawabku.

“Gampang kalau soal itu,” ia menyanggupi permintaanku.

***

Temanku, yang mengganggu lamunanku itu bercerita panjang lebar mengenai latar belakang perempuan berlesung pipi sore tadi. Tak kusangka, ternyata di balik senyumannya, ia, si perempuan indah itu, menyimpan lara yang mendalam, ia adalah perempun yang sedang mondok di sekitar terminal Terboyo, ia juga bekas pelacur, ia mondok karena setiap ia melayani laki-laki setiap malamnya hatinya meronta tak karuan, lalu ia putuskan berhenti, dan mencari ketenangan di pondok, mungkin kalau menurut pelacur lain, melakukan sex untuk bekerja dan sekaligus mendapatkan uang, tapi tidak dengan Syafa, ia melacur karena dipaksa keadaan, ibunya terlilit utang ke rentenir, padahal ibunya sedang sakit keras, hanya ia anak satu-satunya, bapaknya meninggal dua tahun lalu. Maka ia harus menanggung beban sedemikian berat untuk membantu ibunya melunasi hutang, dan mencari uang untuk biaya berobat rutin setiap minggunya.

Air mataku meleleh, tanpa sadar pipiku basah, air mata tak tertahankan, dalam hati sontak berucap, “ternyata ia memendam beban yang begitu berat, bahkan, aku yang sebagai laki-laki belum tentu mampu menanggung beban seberat itu,”.

***

Semoga, semoga saja aku dipertemukan kembali dengan perempuan bernama belakang Syafa itu, perempuan yang rela melacur untuk membantu ibu yang sangat ia cintai, dan semoga perempuan berlesung pipi itu tetap kuat menjalani hidupnya, sungguh, aku ingin bersua kembali di lain kesempatan, tentu aku akan menghibur laranya. Bersabarlah kau, wahai perempuan kuat yang mengganggu malamku. Selamat malam dan selamat istirahat, biar aku mempersiapkan diriku untuk bersua kembali denganmu, barangkali diberi kesempatan. Semoga saja.

Oleh: M. Maulana Ali_Pemred LPM Invest

  • Penulis: admin1

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ngaji Budaya Sebagai Bentuk Ekspresi Keberagaman Indonesia

    Ngaji Budaya Sebagai Bentuk Ekspresi Keberagaman Indonesia

    • calendar_month Jum, 26 Mei 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 442
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN)  dan  Organisasi Daerah (Orda) UIN Walisongo saling berkolaborasi untuk menyukseskan acara Nusantara Culture Festival pada Kamis, (25/05/2023) yang dilaksanakan di Lapangan Kampus 3. Kegiatan ini diselenggarakan untuk mengajak elemen-elemen kedaerahan. “Adanya kegiatan Nusantara Culture Festival, teman-teman DEMA Universitas  ingin mengajak elemen-elemen kedaerahan yang ada di lingkungan […]

  • Biarkan Semesta Yang Bekerja

    Biarkan Semesta Yang Bekerja

    • calendar_month Rab, 18 Des 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 476
    • 0Komentar

    Oleh: Thoriqotul Hidayah Biarkan semesta yang bekerja Tanpa kau paksa, tanpa kau tanya Ada caranya sendiri, meski tak selalu jelas Menenun nasib dengan benang yang bebas Kau tak perlu tahu ke mana angin berlari Atau kapan hujan akan berhenti Cukup serahkan langkah pada waktu Dan biarkan dunia menjawab rindu Takdir, bagai bintang di malam pekat […]

  • Kawal Hasil Audiensi Sampai Terealisasi; ‘Pengajuan Beasiswa dan Keringanan Angsuran UKT’

    Kawal Hasil Audiensi Sampai Terealisasi; ‘Pengajuan Beasiswa dan Keringanan Angsuran UKT’

    • calendar_month Rab, 7 Jul 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 253
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Perwakilan aliansi mahasiswa walisongo sedang melakukan audiensi dengan Wakil Rektor II di Gedung Rektorat UIN Walisongo Semarang pada Rabu (07/07/2021). Aksi tersebut diikuti oleh aliansi mahasiswa dari berbagai fakultas yang ada di UIN Walisongo Semarang. Memang untuk aksi saat itu tidak melibatkan massa yang banyak seperti biasanya. Massa dilarang masuk kampus dikarenakan khawatir akan melanggar […]

  • PKK dan Kader Desa Kecila Bersama Mahasiswa KKN Beri Bantuan ke Korban Bencana Alam

    PKK dan Kader Desa Kecila Bersama Mahasiswa KKN Beri Bantuan ke Korban Bencana Alam

    • calendar_month Sen, 9 Nov 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 266
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) ke-75 kelompok 122 dirangkul oleh Kader dan PKK Desa Kecila. Mereka bersama-sama memberikan bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor di wilayah RW 2 desa tersebut. Kegiatan berlangsung pada Rabu (04/11/2020). Bencana banjir dan tanah longsor melanda sebagian wilayah di Desa Kecila, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten […]

  • Sempat Mengalami Kendala, Namun Paper Mob Tetap Berjalan dengan Baik

    Sempat Mengalami Kendala, Namun Paper Mob Tetap Berjalan dengan Baik

    • calendar_month Sab, 5 Agu 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 407
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sebagai bagian dari rangkaian acara pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Sabtu (5/8/2023) paper mob fakultas turut menghidupkan keseruan PBAK. Acara ini diikuti oleh seluruh mahasiswa baru namun dipisahkan tiap fakultasnya. Sesuai dengan tema PBAK tahun ini mengenai peduli lingkungan, panitia paper mob fakultas menggunakan kertas warna yang pada hari sebelumnya sudah digunakan […]

  • Seminar Bisnis Digital Semarang Raih Rekor Muri

    Seminar Bisnis Digital Semarang Raih Rekor Muri

    • calendar_month Sen, 4 Nov 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 335
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Menghadirkan pembicara Didik Mulato, ribuan pebisnis di Semarang menghadiri undangan Seminar Bisnis Digital yang diadakan di UTC Convention Center Semarang. Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Bisnis Digital ini sudah berlangsung di 27 Provinsi. Salah satunya di kota Atlas inilah acara tersebut berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan jumlah peserta seminar terbanyak […]

expand_less