Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Surat yang Berlayar di Selokan

Surat yang Berlayar di Selokan

  • account_circle Redaktur LPM Invest
  • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
  • visibility 278
  • comment 0 komentar

Hujan menderas memukul atap seng rumah petak kami hingga suaranya bergemuruh hingga menggangu telinga. Air mulai merembes dari sudut langit-langit menetes pelan ke dalam ember plastik bopeng di tengah ruangan.

Aku duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah berserabut menekan kuat-kuat ujung pensilku ke atas buku tulis bersampul cokelat. Di dekat pintu Mas Galih satu satunya orang yang kupercayai di dunia ini, ia sedang menambal ban sepeda tuanya. Tangannya cemong oleh pelumas hitam. Sesekali ia meniup telapak tangannya sendiri untuk mengusir dingin.

“Mas” panggilku, setengah berteriak agar suaraku tidak kalah oleh hujan. “Syahid itu huruf belakangnya ‘d’ atau ‘t’?”

Mendengar pertanyaan ku gerakan tangan Mas Galih lansung terhenti. Kunci inggris di tangannya bergemerincing pelan saat diletakkan ke lantai semen. Ia menoleh perlahan menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan.

“Pakai ‘d’ Dek,” jawabnya pelan. Suaranya serak. “Memangnya kamu sedang nulis apa?”

“Surat untuk Ibu” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari kertas. Aku merangkai huruf demi huruf dengan hati-hati. “Aku mau cerita ke Ibu kalau aku sudah mengerti kata-kata sulit yang sering muncul di berita radio.”

Mas Galih menghela napas panjang. Ia bangkit mengelap tangannya dengan kain lap lusuh lalu duduk di sebelahku. Bau karat dan keringat menguar dari tubuhnya.

“Sini, Mas lihat.”

Aku menggeser bukuku. Di sana tertulis kalimat dengan huruf-huruf besar yang sedikit berantakan: IBU, KATA MAS GALIH AYAH SUDAH SYAHID DI PERBATASAN. IBU KAPAN PULANG DARI KANTOR REZIM?

Dulu, aku mengira ‘rezim’ adalah nama sebuah perusahaan tempat orang-orang bekerja lembur. Sampai suatu subuh sebulan setelah seragam tentara Ayah dikembalikan ke rumah dalam keadaan robek dan bersimbah darah kering sebuah jip hitam tanpa pelat nomor berhenti di depan gang kami.

Orang-orang berjaket kulit mendobrak masuk. Mereka membentak dan menyeret Ibu karena Ibu terus-terusan mencetak selebaran protes menuntut keadilan atas pasukan Ayah yang sengaja dikorbankan di garis depan demi kepentingan politik elite ibukota. Ibu tidak menangis saat diikat. Ia hanya menatap Mas Galih tajam dan berbisik, “Jangan pernah berhenti bersuara, tapi jaga adikmu.”

Mas Galih menatap tulisanku cukup lama dengan raut wajahnya berubah sendu, kelopak matanya sembab menahan genangan air yang tak kunjung tumpah. Hujan di luar semakin deras tapi di dalam petak sempit ini waktu terasa berhenti sejenak. Kudengar helaan napasnya bergetar. Tangannya yang kasar terulur mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

“Tulisannya rapi sekali,” pujinya memaksakan sebuah senyum lengkung yang tidak mencapai matanya. Ujung matanya terlihat berair. “Ibu pasti bangga membacanya.”

“Nanti kita kirim lewat Pak Pos ya, Mas? Biar Ibu tahu aku pintar, terus Ibu diizinkan pulang.”

Mas Galih terdiam. Ia menatap tetesan air hujan yang jatuh ke dalam ember plastik berulang-ulang. Lalu ia merobek kelopak kertas dari bukuku dengan sangat hati-hati.

“Pak Pos tidak tahu alamat Ibu yang sekarang Dek,” ucapnya lirih. Jemarinya yang cemong mulai melipat kertas suratku mempertemukan ujung-ujungnya hingga membentuk sebuah perahu kertas kecil.

“Terus, suratnya dikirim pakai apa?” tanyaku kecewa.

“Pakai ini.” Mas Galih meletakkan perahu kertas itu ke telapak tanganku. “Nanti kalau hujannya reda, kita taruh perahu ini di selokan depan. Air selokan akan mengalir ke sungai dan sungai akan mengalir ke laut yang luas. Nanti perahu ini akan sampai ke tempat Ibu.”

Aku mengangguk setuju tersenyum lebar sambil memeluk perahu kertas itu erat-erat di dadaku. Mas Galih memalingkan wajahnya ke arah tembok basah menyembunyikan isak tangis yang akhirnya pecah terbawa suara derasnya hujan.

Sore itu aku belajar menunggu reda, berharap air bah akan membawa rinduku berlayar tanpa tahu bahwa beberapa surat memang tidak pernah ditakdirkan untuk tiba.

[Pengurus LPM Invest Periode 2025/2026]
  • Penulis: Redaktur LPM Invest

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bekali Kepengurusan Baru, FEBI Selenggarakan Pelatihan Kepemimpinan

    Bekali Kepengurusan Baru, FEBI Selenggarakan Pelatihan Kepemimpinan

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 410
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan yang bertempat di Green Valley, Bandungan. Acara ini dilaksanakan selama dua hari, dimulai sejak hari Selasa – Rabu (30 – 31/1/2024). Kegiatanya diikuti oleh 40 peserta, yakni 5 peserta hasil screening Dewan Mahasiswa (DEMA) FEBI dan 35 peserta dari seluruh Organisasi Mahasiswa […]

  • Rektor UIN Walisong Himbau Pelaksanaan Orsenik Berjalan Tertib

    Rektor UIN Walisong Himbau Pelaksanaan Orsenik Berjalan Tertib

    • calendar_month Jum, 22 Sep 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 358
    • 0Komentar

    lpminvest.com- UIN Walisongo Semarang kembali menggelar ajang tahunan Orientasi, Olahraga, Seni, Ilmiah dan Keterampilan (ORSENIK). Orsenik 2017 dibuka langsung oleh Muhibbin selaku Rektor UIN Walisongo secara simbolik dengan melakukan service bulu tangkis, bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) Kampus 3. Jum’at (22/9/2017). Orsenik akan berlangsung selama tiga hari (22-24/9). Pelaksanaan orsenik terdiri dari 37 cabang […]

  • Gelar Tournament Mobile Legend, Begini Konsepnya

    Gelar Tournament Mobile Legend, Begini Konsepnya

    • calendar_month Jum, 11 Sep 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 433
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) EBI Sport Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo untuk pertama kalinya menggelar Turnamen E-Sport. Berlangsung selama empat hari yaitu mulai tanggal 11-14 September 2020. Turnamen Mobile Legend hanya untuk mahasiswa aktif UIN Walisongo Semarang dengan kuota terbatas, yaitu 32 atlet. Disiarkan langsung melalui kanal youtube UKM EBI Sport […]

  • Muhibbin; Kuliah yang Penting Fokus dan Tekun

    Muhibbin; Kuliah yang Penting Fokus dan Tekun

    • calendar_month Sel, 23 Mei 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Lpminvest.com – Bertempat di Gedung Serba Guna Kampus III UIN Walisongo Semarang mahasiswa baru (maba-red) UIN Walisongo yang terjaring dari jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) melaksanakan lapor diri. Selasa, (12/5/2017). Lapor diri maba jalur SNMPTN berbarengan dengan dilaksanakannya ujian tulis Seleksi Bersama Masuk Perguruan tinggi Negeri (SBMPTN). “Lapor diri ini memang sengaja […]

  • Gambaran Kehampaan Melalui Film Call Me Chihiro

    Gambaran Kehampaan Melalui Film Call Me Chihiro

    • calendar_month Sel, 2 Jan 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 1.248
    • 0Komentar

    Identitas Film Judul                    : Call Me Chihiro Produksi              : Asmik Ace, Digital Ace Doproduksi oleh : Netflix, Asmik Ace Distribusi             : Asmik Ace Sutradara            : Imaizumi Rikiya Produser             : Akira Yamano Penulis naskah    : Kaori Sawai, Rikiya Imaizumi Durasi              […]

  • Ini Tiga Musuh Utama Indonesia Menurut Mantan Anggota DPR RI

    Ini Tiga Musuh Utama Indonesia Menurut Mantan Anggota DPR RI

    • calendar_month Kam, 29 Mar 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 378
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Mantan anggota DPR RI periode 2009 -2014, Tugabus Dedi Suwendi Gumelar mengibaratkan negara Indonesia sebagai sebuah pohon. Kini, pohon tersebut tengah menghadapi tiga musuh yang merongrong kedaulatan Indonesia, yaitu jiwa yang koruptif, terorisme, serta narkoba dan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Menurut Miing, sapaan akrabnya, korupsi bukan hanya terkait mengambil uang negara. […]

expand_less