Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » SASTRA » CERPEN » Surat yang Berlayar di Selokan

Surat yang Berlayar di Selokan

  • account_circle Redaktur LPM Invest
  • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
  • visibility 965
  • comment 0 komentar

Hujan menderas memukul atap seng rumah petak kami hingga suaranya bergemuruh hingga menggangu telinga. Air mulai merembes dari sudut langit-langit menetes pelan ke dalam ember plastik bopeng di tengah ruangan.

Aku duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah berserabut menekan kuat-kuat ujung pensilku ke atas buku tulis bersampul cokelat. Di dekat pintu Mas Galih satu satunya orang yang kupercayai di dunia ini, ia sedang menambal ban sepeda tuanya. Tangannya cemong oleh pelumas hitam. Sesekali ia meniup telapak tangannya sendiri untuk mengusir dingin.

“Mas” panggilku, setengah berteriak agar suaraku tidak kalah oleh hujan. “Syahid itu huruf belakangnya ‘d’ atau ‘t’?”

Mendengar pertanyaan ku gerakan tangan Mas Galih lansung terhenti. Kunci inggris di tangannya bergemerincing pelan saat diletakkan ke lantai semen. Ia menoleh perlahan menatapku dengan sorot mata yang sulit kuartikan.

“Pakai ‘d’ Dek,” jawabnya pelan. Suaranya serak. “Memangnya kamu sedang nulis apa?”

“Surat untuk Ibu” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari kertas. Aku merangkai huruf demi huruf dengan hati-hati. “Aku mau cerita ke Ibu kalau aku sudah mengerti kata-kata sulit yang sering muncul di berita radio.”

Mas Galih menghela napas panjang. Ia bangkit mengelap tangannya dengan kain lap lusuh lalu duduk di sebelahku. Bau karat dan keringat menguar dari tubuhnya.

“Sini, Mas lihat.”

Aku menggeser bukuku. Di sana tertulis kalimat dengan huruf-huruf besar yang sedikit berantakan: IBU, KATA MAS GALIH AYAH SUDAH SYAHID DI PERBATASAN. IBU KAPAN PULANG DARI KANTOR REZIM?

Dulu, aku mengira ‘rezim’ adalah nama sebuah perusahaan tempat orang-orang bekerja lembur. Sampai suatu subuh sebulan setelah seragam tentara Ayah dikembalikan ke rumah dalam keadaan robek dan bersimbah darah kering sebuah jip hitam tanpa pelat nomor berhenti di depan gang kami.

Orang-orang berjaket kulit mendobrak masuk. Mereka membentak dan menyeret Ibu karena Ibu terus-terusan mencetak selebaran protes menuntut keadilan atas pasukan Ayah yang sengaja dikorbankan di garis depan demi kepentingan politik elite ibukota. Ibu tidak menangis saat diikat. Ia hanya menatap Mas Galih tajam dan berbisik, “Jangan pernah berhenti bersuara, tapi jaga adikmu.”

Mas Galih menatap tulisanku cukup lama dengan raut wajahnya berubah sendu, kelopak matanya sembab menahan genangan air yang tak kunjung tumpah. Hujan di luar semakin deras tapi di dalam petak sempit ini waktu terasa berhenti sejenak. Kudengar helaan napasnya bergetar. Tangannya yang kasar terulur mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

“Tulisannya rapi sekali,” pujinya memaksakan sebuah senyum lengkung yang tidak mencapai matanya. Ujung matanya terlihat berair. “Ibu pasti bangga membacanya.”

“Nanti kita kirim lewat Pak Pos ya, Mas? Biar Ibu tahu aku pintar, terus Ibu diizinkan pulang.”

Mas Galih terdiam. Ia menatap tetesan air hujan yang jatuh ke dalam ember plastik berulang-ulang. Lalu ia merobek kelopak kertas dari bukuku dengan sangat hati-hati.

“Pak Pos tidak tahu alamat Ibu yang sekarang Dek,” ucapnya lirih. Jemarinya yang cemong mulai melipat kertas suratku mempertemukan ujung-ujungnya hingga membentuk sebuah perahu kertas kecil.

“Terus, suratnya dikirim pakai apa?” tanyaku kecewa.

“Pakai ini.” Mas Galih meletakkan perahu kertas itu ke telapak tanganku. “Nanti kalau hujannya reda, kita taruh perahu ini di selokan depan. Air selokan akan mengalir ke sungai dan sungai akan mengalir ke laut yang luas. Nanti perahu ini akan sampai ke tempat Ibu.”

Aku mengangguk setuju tersenyum lebar sambil memeluk perahu kertas itu erat-erat di dadaku. Mas Galih memalingkan wajahnya ke arah tembok basah menyembunyikan isak tangis yang akhirnya pecah terbawa suara derasnya hujan.

Sore itu aku belajar menunggu reda, berharap air bah akan membawa rinduku berlayar tanpa tahu bahwa beberapa surat memang tidak pernah ditakdirkan untuk tiba.

[Pengurus LPM Invest Periode 2025/2026]
  • Penulis: Redaktur LPM Invest

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menjaga Akademik di Tengah Organisasi, Aji Raih Wisudawan Terbaik FEBI

    Menjaga Akademik di Tengah Organisasi, Aji Raih Wisudawan Terbaik FEBI

    • calendar_month Sab, 7 Feb 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 1.335
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sabtu, (07/02/2026) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengadakan wisuda Sarjana (S1) ke-99, Magister (S2) ke-66, Doktor (S3) ke-41. Bertempat di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, periode ini meluluskan 15 wisudawan terbaik dari 8 fakultas termasuk progam pascasarjana (S3) Mukhammad Aji Ikhwanul Yunus, mahasiswa asal Jepara yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dari […]

  • Janji DEMA SEMA Akan Terus Kawal Press Release FEBI Bersuara

    Janji DEMA SEMA Akan Terus Kawal Press Release FEBI Bersuara

    • calendar_month Jum, 3 Mei 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 872
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Menindaklanjuti Aksi FEBI BERSUARA pada Kamis (02/05/2024) yang bertempat di Landmark Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Tegar Arya selaku ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo menjelaskan tujuan diadakan acara ini agar seluruh mahasiswa FEBI bisa bertemu langsung dengan para pimpinan FEBI. “Acara ini bertujuan untuk mempertemukan seluruh […]

  • Wisuda Makin Asyik dengan Pesembahan Gamelan dan Sinden

    Wisuda Makin Asyik dengan Pesembahan Gamelan dan Sinden

    • calendar_month Rab, 21 Agu 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 1.215
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melaksanakan kegiatan wisuda periode Agustus kepada Sarjana (S1) yang ke-93, Magister (S2) yang ke-60, dan Doctor (S3) yang ke–36 pada Rabu, (21/08/2024) di gedung Auditorium II kampus 3. Para wisudawan saat memasuki auditorium II diiringi dengan hadrah. Acara ini diselenggarakan dengan meriah disertai dengan penampilan gamelan serta sinden […]

  • Wujud Serambi FEBI, Hasil Pengelolaan Dana Infak dan Wakaf

    Wujud Serambi FEBI, Hasil Pengelolaan Dana Infak dan Wakaf

    • calendar_month Ming, 16 Feb 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 1.016
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Dengan tujuan utama untuk meningkatkan kajian keislaman, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo tengah menjalankan proses pembangunan serambi. Serambi atau bisa juga disebut student center ini terletak di depan mushola FEBI. Minggu, (16/2/2020). “Karena kita sebagai universitas Islam, yang di situ harus memiliki ciri Islami yang mendalam maka kita harus memfasiltasi untuk […]

  • Bearo?"> Jakie są najpopularniejsze gry w <a href=Bearo?">

    Bearo?">Jakie są najpopularniejsze gry w Bearo?

    • calendar_month Rab, 11 Jun 2025
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 778
    • 0Komentar

    Key facts: Min deposit 10 PLN | Wagering 37x | Avg RTP 96.3% | Payouts 23-47h | 1,840 gier Bearo Casino to miejsce, które przyciąga graczy z całej Polski. W ofercie znajdują się setki gier, które spełniają oczekiwania zarówno nowicjuszy, jak i doświadczonych graczy. Jakie zatem są najpopularniejsze gry w Bearo Casino? Przyjrzyjmy się bliżej […]

  • Hanya Angan

    Hanya Angan

    • calendar_month Sel, 4 Apr 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 790
    • 0Komentar

    Sebuah awal suatu sore Membawa warna jingganya membuka malam Rasa yang tidak bisa terucap Arah mana yang akan dituju Sebuah ingin hanya untuk angan Terbagi kasih melepas rindu Diterangi indahnya sinar rembulan Bersama deru angin Disaksikan dedaunan yang mengalun ria Seakan ikut merasakan indahnya malam Pandanganku jauh menerawang Tanpa sadar, malam menyapa semakin larut Kudus, […]

expand_less