Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Ekofeminisme; Menyoal Keintiman Perempuan dan Alam

Ekofeminisme; Menyoal Keintiman Perempuan dan Alam

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sel, 27 Feb 2018
  • visibility 870
  • comment 0 komentar
Oleh: Iswatun Ulia

Oleh: Iswatun Ulia, Kru LPM Invest

Permasalahan lingkungan nampaknya saat ini masih menjadi masalah yang sangat krusial. Konflik lingkungan acap kali terjadi di Indonesia. Berbagai bentuk perlawananpun tak luput disuguhkan sebagai ajang perlawanan demi menuntut keadilan. Namun, tak jarang pula tuntutan keadilan yang diinginkan harus melalui proses yang amat panjang hingga nyawa yang menjadi taruhannya.

Banyak sekali contoh gerakan perlawanan perempuan di Indonesia, diantaranya adalah perjuangan menolak pabrik semen di Kendeng oleh para Kartini Pegunungan Kendeng. Pada 21 Maret 2017, media massa Indonesia serentak memberitakan sebuah aksi teatrikal di depan Istana Merdeka Jakarta (liputan6.com). Sembilan orang perempuan Kendeng merelakan kaki mereka dicor dengan semen.  Pengecoran kaki ini merupakan simbol atas pemaknaan semiotik bahwa keberadaan pabrik semen yang ada diwilayah mereka akan mengancam keberlangsungan hidup warga di daerah Kendeng.

Munculnya gerakan perempuan Kendeng, tak lepas dari kegelisahan perempuan terhadap praktik-praktik perusakan ekologis yang tak jarang situasi ini dimanfaatkan oleh para kapitalis hingga berujung pada ketidakadilan gender. Keresahan gerakan perempuan terhadap kerusakan lingkungan ini yang kemudian melahirkan kelompok Ekofeminisme.

Ekofenisme secara etimologis diperkenalkan oleh Francoise d’Eaubonne dalam bukunya Le Feminisme oula Mort (Feminisme atau Kematian). Ia merupakan seorang feminis dari Perancis pada kisaran tahun 1974. Teori ekofeminisme adalah teori yang menjelaskan hubungan antara kaum perempuan dengan alam. Teori  ini dicetuskan oleh Vandana Shiva yang merupakan seorang ilmuan sosial berasal dari India. Teori ekofeminisme menggabungkan konsep ekologi dengan feminisme yang merupakan kerangka berpikir untuk memahami kuatnya relasi perempuan dengan alam. Ekofeminisme lahir didasari kondisi dimana bumi yang digambarkan sebagai ibu telah dieksploitasi, dijarah dan dirusak sistem kapitalisme yang berkuasa dengan melanggengkan budaya patriarkhi dan feodalisme .

Perempuan dan alam memiliki beberapa kesamaan, pertama, yaitu persamaan dalam fungsi ‘menghasilkan’. Alam dianggap cenderung bersifat pasif, yang mana alam menghasilkan sumber daya yang begitu melimpah, hasil alam tersebut kemudian dimanfaatkan dan dinikmati oleh manusia. Sedangkan perempuan memiliki fungsi menghasilkan, yang dalam hal ini adalah fungsi reproduksi-biologis, yaitu menghasilkan keturunan yang bertujuan untuk melanggengkan keturunan, melakukan pekerjaan rumah tangga, dan menyediakan makanan yang bergantung pada alam. Antara alam dan perempuan keduanya sama-sama harus dijaga dan dilindungi untuk keberlangsungan kehidupan. Kedua, alam dan perempuan merupakan dua objek yang berbeda, namun keduanya mengalami penindasan. Penindasan yang didominasi dilakukan oleh kaum laki-laki (patriakhi). Sebagaimana perempuan saat ini sangat rentan terhadap kasus pelecehan dan juga diskriminasi. Sedangkan alam, begitu dengan mudahnya di eksploitasi oleh para ‘pemerkosa’ lingkungan.

Keberadaan perempuan dan alam begitu dekat. Keintiman perempuan dan alam bisa dilihat ketika perempuan bersentuhan langsung dengan alam. Misalnya, perempuan memanfaatkan rotan untuk membuat anyaman, membuat produk-produk rumah tangga, bahkan memanfaatkan hasil alam untuk dijadikan lauk demi kelangsungan hidup keluarga. Melihat kedekatan perempuan dengan alam, maka perempuan menjadi kelompok pertama yang lebih rentan dan merasakan dampak jika alam mengalami kerusakan.

Kelompok ekofeminisme melihat bahwa perempuan lebih banyak bersentuhan langsung dengan alam, sehingga partisipasi perempuan patut diikutsertakan dalam pengelolaan alam. Kelompok ekofeminisme juga memiliki ciri khas dalam cara pandang. Hal ini dapat dilihat dari klaim yang diajukan kelompok ini, yaitu jika kita ingin keluar dari krisis lingkungan, maka perempuan harus memiliki porsi yang setara dengan laki-laki. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan bahwa kelompok ekofeminisme mengharapkan adanya pengakuan terhadap peran perempuan dalam menjaga keberlangsungan lingkungan agar tetap terjaga.

Wallahua’lambisshowab

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suasana Lomba Debat Terbuka Tegang, FPK Berhasil Sabet Juara

    Suasana Lomba Debat Terbuka Tegang, FPK Berhasil Sabet Juara

    • calendar_month Jum, 12 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 922
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Jumat, (12/11/2021) Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah, dan Keterampilan (ORSENIK) UIN Walisongo tahap dua menggelar cabang lomba (cabor) Debat Terbuka. Lomba tersebut diikuti oleh seluruh fakultas yang berjumlah delapan (8). Setiap fakultas mengirimkan tiga delegasi terbaik untuk diperlombakan hingga menciptakan suasana tegang dan sengit. Acara diadakan secara offline di ruang sidang Fakultas Syariah dan Hukum […]

  • Kisah Wisudawan Inspiratif FEBI, Sang Pengantar Koran

    Kisah Wisudawan Inspiratif FEBI, Sang Pengantar Koran

    • calendar_month Sel, 27 Agu 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 638
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Sudah barang umum mahasiswa UIN Walisongo kuliah sambil bekerja. Biasanya, mereka bekerja sebagai driver ojek online, penjaga toko atau warung makan, ngelesi atau menjadi pegawai cetering. Namun, yang dikerjakan salah satu calon wisudawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) ini berbeda dan jarang diambil oleh mahasiswa. Ialah Nashrur Rohim, calon wisudawan dari jurusan […]

  • Ini Kiat Sukses Dua Atlet Cantik FEBI Jawara Wall Climbing

    Ini Kiat Sukses Dua Atlet Cantik FEBI Jawara Wall Climbing

    • calendar_month Sen, 24 Sep 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 577
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang berhasil merebut dua medali sekaligus di cabang olahraga (cabor) wall climbing kategori speed pada Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah, dan Keterampilan (Orsenik) 2018. Minggu, (23/9/2018). Dua medali tersebut terdiri dari satu medali emas yang diraih oleh Salsabila Ridho, mahasiswi S1 Perbankan Syariah dan satu medali perak […]

  • Berbeda dari Tahun Sebelumnya, Kontingen Bersamai Maskot Fakultas 2023

    Berbeda dari Tahun Sebelumnya, Kontingen Bersamai Maskot Fakultas 2023

    • calendar_month Jum, 4 Agu 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 959
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Jumat (4/8/2023) Pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2023 terdapat beberapa rangkaian acara. Salah satunya penampilan maskot yakni penampilan ciri khas setiap fakultas sebagai bentuk pengenalan kepada Mahasiswa baru Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.  Penampilan maskot kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya dengan adanya kontingen Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di setiap fakultas […]

  • 274 Calon Wisudawan FEBI Lepas Status Mahasiswanya

    274 Calon Wisudawan FEBI Lepas Status Mahasiswanya

    • calendar_month Sen, 26 Agu 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 603
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Sebanyak 274 calon wisudawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang angkatan 11 mengikuti prosesi Pelepasan Wisuda. Senin, (26/8/2019). Acara tersebut bertempat di Ballroom lantai 5 Haris Hotel Semarang. Dalam laporan yang disampaikan Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kelembagaan FEBI Ali Murtadho, calon wisudawan dari jurusan S2 Ekonomi Syariah sebanyak 7 orang […]

  • Apakah Investasi dan Trading Sama?

    Apakah Investasi dan Trading Sama?

    • calendar_month Rab, 23 Mar 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 856
    • 0Komentar

    Oleh: M. Shodiq Al Hakim (Wadyabala Invest 2018) Di era sekarang, masyarakat millenial pastinya sudah sering mendengar istilah trading dan investasi. Namun, tahu kah kamu apa itu trading dan investasi? Terkadang kita memang sedikit keliru dalam memaknai trading maupun investasi. Bahkan tak sedikit orang yang menganggap bahwa hal itu sama dan tidak ada bedanya. Faktanya […]

expand_less