Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Mengenal Prasah, Tradisi Seserahan di Desa Sidigede Jepara

Mengenal Prasah, Tradisi Seserahan di Desa Sidigede Jepara

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sab, 3 Sep 2022
  • visibility 1.453
  • comment 0 komentar

(Prosesi pengarakan kerbau untuk seserahan. Sumber: budaya-indonesia.org)

Indonesia merupakan negara yang kaya, tak hanya terbatas pada sumber daya alam namun juga dikenal memiliki aneka ragam budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Keanekaragaman ini merupakan wujud dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu. Semboyan yang berasal dari bahasa Jawa Kuno tersebut menjelaskan bahwa keanekaragaman yang ada di Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan yang tak dimiliki oleh negara lain.

Dari banyaknya keanekaragaman yang dimiliki Indonesia, salah satunya ada pada budaya. Setiap tempat memiliki berbagai adat dan budaya yang menjadi ciri khas masing-masing daerah. Mulai dari Yogyakarta dengan upacara Sekaten, Jawa Tengah dengan upacara adat Tingkeban, Jawa Timur dengan Ruwatan, dan lain-lain. Tidak hanya itu, ada lebih banyak lagi budaya dan tradisi yang ada di setiap daerah serta mungkin belum dikenal oleh masyarakat luas.

Sebuah kota di Jawa Tengah yakni Kota Jepara memiliki satu tradisi unik yang berhubungan dengan penyerahan maskawin berupa hewan kerbau. Tradisi ini bernama Prasah dan terdapat di Desa Sidigede, Welahan. Tradisi ini dikenal sebagai tradisi mahal karena tak sembarang orang bisa melakukannya. Konon, hanya orang-orang dari kalangan tertentu yang mampu melaksanakan tradisi ini.

Prasah merupakan tradisi pemberian maskawin dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan berupa seekor kerbau sebagai bentuk seserahan atau hantaran. Tradisi ini merupakan tradisi turun-temurun yang ada di Desa Sidigede, Jepara. Konon, tradisi Prasah terinspirasi dari cerita Joko Tingkir yang ingin meminang kekasihnya. Joko Tingkir harus menaklukkan kerbau sebagai bukti cintanya kepada putri kerajaan Demak saat itu sebagai persyaratan.

Saat proses penyerahan, kerbau akan diarak dan digiring oleh orang-orang yang berpengalaman dari rumah mempelai laki-laki ke rumah mempelai perempuan. Tim penarik kerbau yang berjumlah sekitar 15-30 orang itu masing-masing berperan memegang tali yang sudah dikaitkan pada kerbau tersebut. Tak hanya kerbau yang diberikan sebagai seserahan, namun juga perabotan rumah tangga seperti lemari dan lainnya. Dahulu, mempelai laki-laki di Desa Sidigede selalu membawa kerbau berukuran besar dan gemuk untuk mempersunting mempelai perempuan. Hal ini dianggap sebagai simbol kehormatan mempelai laki-laki dan keluarganya. Namun, seiring berjalannya waktu harga kerbau semakin mahal. Tak heran jika tradisi ini hanya dilakukan oleh orang-orang dari kalangan mampu karena untuk melakukan tradisi Prasah diperlukan biaya yang tidak sedikit.

Demi melaksanakan Prasah, kerbau yang disiapkan harus diikat terlebih dahulu. Setelahnya, kerbau perlu dibacakan mantra oleh sesepuh desa agar kehilangan kendali dan merasa stres. Sisi keseruan dari tradisi ini adalah saat membuat kerbau marah. Semakin kerbau marah, maka semakin seru proses arak-arakan. Dibantu warga, orang-orang yang menggiring kerbau berusaha membuat kerbau tersebut mengamuk dengan berbagai cara, seperti melempar petasan kecil dan lumpur basah. Meski sudah diikat di beberapa sisi, kerbau tersebut terus mengamuk di sepanjang jalan dan mencoba menyerang orang-orang. Orang-orang pemegang tali pengikat kerbau yang disebut tukang bracut oleh masyarakat sekitar dibuat kewalahan karena kerbau tersebut hilang kendali. Tak jarang dalam proses pengarakan kerbau, ada saja pagar rumah warga yang rusak atau orang-orang cidera karena amukan kerbau. Namun, amukan itu tak berlangsung lama karena sesampainya di kediaman mempelai perempuan, kerbau tersebut kembali dibacakan mantra oleh sesepuh desa agar kembali tenang.

Tradisi ini dinilai menarik bagi masyarakat Desa Sidigede maupun luar desa. Meskipun terdapat sedikit perbedaan pelaksanaan dari sebelum dan setelah pandemi, setiap ada prosesi keseruan tradisi Prasah selalu menjadi tontonan warga desa. Itulah keseruan budaya unik dari Jepara, Jawa Tengah. Tidak hanya mengandung makna mendalam karena terinspirasi dari kisah Joko Tingkir. Namun lebih dari itu, Prasah menjadi tontonan dan keseruan sendiri bagi masyarakat yang menyaksikan langsung. Winda_[i]

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arak-Arakan dengan Toa dan Drum, Wisudawan Merasa Senang

    Arak-Arakan dengan Toa dan Drum, Wisudawan Merasa Senang

    • calendar_month Sel, 8 Nov 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 621
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Prosesi Wisuda dalam balutan Sidang Senat Terbuka akhir tahun 2022 UIN Walisongo Semarang terselenggara di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo dengan meriah. Hal tersebut ditandai dengan ramainya penjemputan wisudawan-wisudawati dari pintu keluar venue hingga jalan-jalan utama Kampus 3, pada Selasa (8/11/2022). Penjemputan peserta wisuda dengan arak-arakan sudah menjadi budaya tersendiri oleh organisasi ekstra […]

  • Audiensi Anggaran Dana Penerbitan oleh LPM Se-UIN Walisongo

    Audiensi Anggaran Dana Penerbitan oleh LPM Se-UIN Walisongo

    • calendar_month Rab, 28 Jun 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 473
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Audiensi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang pada hari Senin (26/06/23) membuahkan hasil, meskipun beberapa tuntutan yang di bawa oleh aliansi LPM UIN Walisongo ini ada yang tidak disetujui. Audiensi ini dilaksanakan di Ruang Sidang Senat, gedung K.H. Shaleh Darat Kampus 3 UIN Walisongo. Audiensi terbuka ini dihadiri oleh Wakil […]

  • Waktu Kurang Memadahi, Donor Darah Sepi Peminat

    Waktu Kurang Memadahi, Donor Darah Sepi Peminat

    • calendar_month Rab, 9 Des 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 416
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Korps Suka Rela (KSR) UIN Walisongo kembali bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI), untuk menggelar Donor Darah di UIN Walisongo Semarang. Senin, (23/11/2015). Donor Darah kali ini mengusung tema “Kita Peduli dan Ada Untuk Berbagi”, acara di gelar di beberapa titik kampus. Yaitu di teras perpustakaan Universitas, gedung Pusat Kegiatan Mahasisa (PKM) Ushuludin, […]

  • Puisi Tanpa Tendensi

    Puisi Tanpa Tendensi

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Oleh : Pena Merah Untukmu puisi Hanya bait tanpa arti Tiada romantisme yang tersaji Imaji melayang-layang tanpa henti   Sekali lagi, untukmu puisi Duduk dengan inspirasi terpatri Kutunjukkan lika-liku duniawi Terimakasih untukmu pemberi inspirasi Sekali lagi, ini hanya bait puisi

  • Raih Skripsi Terbaik dengan Uninstall Rasa Malas Versi Muflihatul Qodriyah  

    Raih Skripsi Terbaik dengan Uninstall Rasa Malas Versi Muflihatul Qodriyah  

    • calendar_month Rab, 29 Jan 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 416
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Dengan aktivitas kerja membuat  Muflihatul Qodriyah  harus menunda pembuatan skripsi. Justru penundaan ini membawanya untuk sandang skripsi terbaik tingkat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang. “Saya kan akhir semester 7 mulai kerja freelance, cuma berlanjut gitu kontrak berapa bulan lanjut lagi jadi kesulitan bagi waktu. Pernah kerja sambil garap skripsi tapi […]

  • Dorong Potensi Mahasiswa Lewat Orsenik

    Dorong Potensi Mahasiswa Lewat Orsenik

    • calendar_month Jum, 21 Sep 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 473
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah, dan Keterampilan (Orsenik) kembali digelar di UIN Walisongo Semarang. Orsenik 2018 dibuka langsung oleh Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Muhibbin di Gedung Serba Guna Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Orsenik 2018 mengusung tema “Show Your Sportifity, Make a Creation”. Jumat, (21/09/2018). Prof. Muhibbin dalam sambutannya menerangkan bahwa Orsenik 2018 […]

expand_less