Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Masa Pandemi, Masa Tumbuh Subur Patriarki

Masa Pandemi, Masa Tumbuh Subur Patriarki

  • account_circle admin1
  • calendar_month Kam, 25 Jun 2020
  • visibility 764
  • comment 0 komentar
Oleh : Aisyah Septiasari Kru LPM Invest 2017

Oleh : Aisyah Septiasari
Kru LPM Invest 2017

“Lha ngunu, cah wedok yo kudune resik-resik omah, masak, umbah-umbah,” kata mbahku setiap mendapati aku sedang melakukan aktivitas sehari-hari di rumah. Bukan perkataan pakar ataupun ilmuwan terkemuka, tapi cukup membuatku berpikir bahwa di masyarakat ini perlu ada yang dirubah, pola pikir.

Mungkin sebagian besar perempuan, adanya perkataan seperti itu dianggap biasa. Ya, karena itu tugas perempuan bagi mereka. Belum pernah kudengar juga perkataan seperti “lhaa ngunu, cah lanang yo masak, resik-resik omah,” dan sebagainya. Tapi perkataan atau stigma yang melekat pada perempuan bahwa perempuan harus mengurus bab permasakan, berberes rumah, dan sebagainya, membuatku jengah.

Padahal hal tersebut, bukan hanya tanggung jawab perempuan saja, melainkan laki-laki juga harus bisa seperti itu. Lebih tepatnya karena laki-laki juga bagian dari penghuni rumah, maka seharusnya itu tanggung jawab bersama. Perihal bekerja, Bapak dan Ibuku sama-sama bekerja, apa bedanya?

Pemikiran patriarki seperti ini menunjukkan bahawasanya stigma “domestikasi perempuan” masih sangat kental pada lingkungan sekitar, terlebih orang-orang tua yang pemikirannya kolot. Hal ini menjadikan perempuan tidak dipandang sebagai subjek yang memiliki hak dan kewajiban sama terhadap laki-laki yang tidak dibebankan untuk mengurus pekerjaan rumah. Namun, dipandang sebagai objek yang harus melakukan semua hal yang berhubungan tentang domestik rumah tangga.

Padahal hakikatnya perempuan dan laki-laki sama saja, yang membedakan adalah ketakwaan dihadapan Tuhan. Begitu jika kita berbicara ideal dalam beragama. Perempuan dan laki-laki memiliki tanggung jawab dan tugas yang sama, mengemban amanah sebagai khalifah di bumi. Perempuan juga tidak mengabdikan dirinya mutlak kepada lelaki. Hal ini yang perlu digaris bawahi, karena domestikasi perempuan lebih tumbuh subur saat sudah menikah.

Seharusnya, menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai mitra. Mitra yang baik, bekerja sama, dan juga kesalingan (mubadalah). Sehingga, stigma terhadap perempuan yang tumbuh subur di tengah masyarakat bisa secara perlahan tumbang. Istilah “setinggi-tingginya pendidikan perempuan, nanti juga kerjanya tetap didapur” seharusnya hari ini sudah tidak relevan. Pada era ini banyak dapur yang dihuni oleh laki-laki ahli masak, dan banyak perempuan yang dikenal dunia lewat karyanya.

Sejak diberlakukannya gerakan #dirumahaja tidak menjamin perempuan aman, bahkan sejahtera. Angka kekerasan domestik atau KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) meningkat. Dimana perempuan yang mengalami KDRT merasa aman saat keluar rumah, sekarang sudah sangat susah untuk keluar dengan adanya pandemi ini. Apalagi pelaku harus WFH (work from home) memiliki banyak ruang untuk menyerang korban (sering dialami oleh perempuan), dan menjadi indikator KDRT sering dilakukan.

Dilansir dari kumparan.com peningkatan kekerasan yang signifikan ini memang telah diprediksi oleh berbagai lembaga dan aktivis. Badan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) mencatat, 1 dari 3 perempuan pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual, yang biasanya dilakukan oleh pasangannya. Probabilitas ini bisa meningkat saat krisis terjadi, termasuk ketika perang maupun pandemi.

Di negara China, angka KDRT meningkat tiga kali lipat di bulan Februari, persisnya dari angka 47 kasus menjadi 162 kasus. Di Perancis disebutkan meningkat menjadi 36%, Australia naik hingga 75%, di Indonesia sendiri, menurut LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) Jakarta angka KDRT juga meningkat. Tercatat kurun waktu 16 Maret sampai 19 April saat pandemi yakni ada pelaporan 97 kasus, yang paling banyak adalah 33 kasus itu KDRT. Pengaduan kasus KDRT memegang poin tertinggi saat corona, dan masih sama dengan catatan tahunan LBH APIK pada tahun 2019.

Beban ganda yang dialami perempuan saat pandemi cukup serius. Apalagi dalam keluarga secara struktural masih sangat patriarki, sehingga sangat mendomestikasi perempuan. Secara tidak langsung, perempuan adalah kaum yang rentan terpapar virus. Karena, tiap hari harus ke pasar, belanja demi memenuhi kebutuhan nutrisi pangan bagi keluarganya. Dituntut untuk selalu menjaga kualitas makanan tetap sehat dan membersihkan rumah agar steril dan bersih. Hal ini bisa menjadi pemicu adanya KDRT terhadap perempuan. Hal ini menjadikan perempuan sulit keluar rumah untuk melaporkan atau sekedar meminta bantuan dari orang sekitar.

Dengan adanya pandemi seperti ini, kita sebagai perempuan harus memerangi pemikiran patriarki yang telah tumbuh subur di tengah masyarakat agar mampu bertahan. Secara perlahan, maka konsep patriarki tersebut bisa hilang dan menyadarkan orang sekitar bahwasanya perempuan dan laki-laki itu sama. Sama sebagai manusia yang layak untuk hidup setara tanpa adanya diskriminasi dan domestikasi. Keunggulan bukan dilihat dari jenis kelamin, namun dilihat dari kerja keras  tiap individu, entah itu laki-laki maupun perempuan.

Bertahan di tengah pandemi seperti ini, tentu harus banyak mengedukasi orang sekitar, terutama orang terdekat kita untuk melawan stigma yang ada. Semisal ada yang berkata bahwa memasak dan bersih-bersih merupakan pekerjaan perempuan, bilang saja bahwa pekerjaan tersebut tidak mutlak untuk perempuan. Namun, semua jenis kelamin baik itu laki-laki harus memiliki tanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Teori mubadalah atau disebut kesalingan harus diterapkan dalam kehidupan sehari. Agar kedepannya lebih ringan saat menjalani kehidupan, apalagi saat pandemi seperti ini. Bahwasanya, perempuan dan laki-laki itu sama saja dihadapan Tuhan. Yang membedakan adalah ketakwaan terhadapNya.

Dikutip dari buku Qiro’ah Mubadalah, bahwasanya laki-laki dan perempuan adalah sama-sama manusia seutuhnya. Keadilan tidak didefinisikan secara esensial untuk tertib moral dan sosial dimana laki-laki diposisikan lebih tinggi dan dilayani, tetapi keadilan yang hakiki dan substansional dimana laki-laki maupun perempuan diposisikan sebagai manusia setara dan bermitra yang saling kerja sama. Kualitas laki-laki dan perempuan sebagai manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan yang ditandai oleh seberapa jauh hidup memberi manfaat pada kemanusiaan.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramai ‘War Takjil’ di Sekitar Kampus 3 UIN Walisongo: Mahasiswa Hemat UMKM Merapat

    Ramai ‘War Takjil’ di Sekitar Kampus 3 UIN Walisongo: Mahasiswa Hemat UMKM Merapat

    • calendar_month Kam, 19 Mar 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 981
    • 0Komentar

    Ngaliyan, (23/02/2026) Sore hari, Jalanan di sekitar kampus 3 UIN Walisongo Semarang dikerumuni oleh aktivitas manusia, terutama para mahasiswa yang memenuhi  pedagang takjil untuk membeli berbagai jenis takjil untuk berbuka puasa. War Takjil adalah salah satu kegiatan yang mereka lakukan selama bulan Ramadhan sembari menunggu adzan magrib tiba. Meilina Dwi mahasiswa semester 6  UIN Walisongo […]

  • Dari Ratusan Pendaftar, Berikut Daftar Nama yang Lolos Menjadi Kru Magang LPM Invest 2023

    Dari Ratusan Pendaftar, Berikut Daftar Nama yang Lolos Menjadi Kru Magang LPM Invest 2023

    • calendar_month Sel, 5 Sep 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 886
    • 0Komentar

    Rangkaian seleksi Open Recruitment LPM Invest 2023 telah memasuki tahap akhir. Setelah sebelumnya sudah dilaksanakan pembukaan pendaftaran dan pengumpulan karya pada (06-25/08/2023) yang diikuti oleh sekitar 170-an mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Kemudian dilanjutkan dengan Selayang Pandang LPM Invest yang sudah dilaksanakan pada (26/08/2023). Hingga memasuki ke tahap wawancara yang sudah terlaksana dalam […]

  • Meski Sibuk Kerja Sampingan, Mahasiswi FDK ini Raih Predikat Skripsi Terbaik

    Meski Sibuk Kerja Sampingan, Mahasiswi FDK ini Raih Predikat Skripsi Terbaik

    • calendar_month Rab, 28 Agu 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 724
    • 0Komentar

    lpminvest.com_ Sri Setyawati, mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo semarang menjadi peraih predikat skripsi terbaik di fakultasnya. Dengan predikat tersebut, ia ingin menunjukkan bahwasannya kuliah sambil kerja tidak menjadi penghalang untuk berprestasi dan lulus tepat waktu. Rabu, (28/8/2019). “Ada orang yang bilang mahasiswa yang kerja pasti skripsinya susah kelarnya  dan keteteran tapi itu menurut […]

  • Adiwarman Karim, Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa

    Adiwarman Karim, Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa

    • calendar_month Sen, 22 Jun 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 974
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Seminar dengan Keynote Speaker Adiwarman Azwar Karim pakar ekonomi Islam dihadiri oleh peserta kurang lebih 110. Dua narasumber handal juga turut mewarnai seminar ini, yaitu Hendro Wibowo selaku Akademisi dan Praktisi Ekonomi Islam dan Muyassarah Akademisi/Dosen FEBI UIN Walisongo Semarang berlangsung secara virtual di Google Meet. Senin, (22/06/2020) Rangkaian acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa […]

  • Puisi Untuk Ibu

    Puisi Untuk Ibu

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 758
    • 0Komentar

    Oleh: Dyah Naf’ul Ummah Ibu, aku tak sepenuhnya mengerti tentangmu Tak sepenuhnya ingat akan kasihmu Bahkan aku tak pernah memahami Semua perjuangan untuk aku, anakmu Ibu, kutuliskan beberapa bait puisi ini untukmu Hanya rangkaian kata sederhana Dengan harapan penggugur rindu Di kala senja Dan penenang hati di kala lara Ibu, aku tahu Takdir telah memisahkan […]

  • Stadium General, Mahasiswa Baru Duduk di Lantai

    Stadium General, Mahasiswa Baru Duduk di Lantai

    • calendar_month Rab, 31 Agu 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 706
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Stadium General merupakan proses awal yang harus ditempuh mahasiswa baru UIN Walisongo, acara yang dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada mahasiswa baru perihal perkuliahan, namun momen yang seharusnya memberi kesan menyenangkan bagi mahasiswa baru ini dirasa kurang mengenakan, sebab mahasiwa merasa jenuh dengan kondisi ruangan yang kurang kondusif dan membludaknya peserta. Seperti yang dikeluhkan beberapa mahasiswa […]

expand_less