Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Anak Muda Lebih Siap Menghadapi AI Dibanding Sistemnya

Anak Muda Lebih Siap Menghadapi AI Dibanding Sistemnya

  • account_circle Redaktur LPM Invest
  • calendar_month Rab, 7 Jan 2026
  • visibility 1.151
  • comment 0 komentar

Oleh : Jahfal Bachist

Saya tidak langsung sampai pada kesimpulan ini. Bahkan pada awalnya saya termasuk orang yang cukup skeptis terhadap kecerdasan buatan. Saya khawatir AI akan membuat manusia malas berpikir, menggerus proses belajar, dan perlahan mengambil alih peran yang seharusnya dijalani manusia. Kekhawatiran itu terdengar masuk akal, dan mungkin juga wajar. Namun semakin saya memperhatikan bagaimana anak muda berinteraksi dengan AI dalam kehidupan sehari-hari pandangan saya perlahan berubah.

Perubahan itu tidak datang dari diskusi akademik atau seminar teknologi, melainkan dari hal-hal sederhana. Cara anak muda menggunakan AI dengan santai, tanpa rasa takut berlebihan. Cara mereka bertanya, mencoba, salah, lalu mencoba lagi. Di situlah saya mulai merasa ada jarak yang ganjil bukan antara manusia dan teknologi tetapi antara generasi muda dan sistem yang seharusnya membimbing mereka.

Setiap kali AI dibicarakan di ruang publik nada yang muncul hampir selalu bernuansa cemas. Kita membicarakan pekerjaan yang terancam, kejujuran akademik yang dipertanyakan, dan masa depan yang terasa tidak pasti. Diskursus ini penting, tetapi terasa timpang. Terlalu fokus pada apa yang mungkin hilang, terlalu sedikit membicarakan bagaimana manusia khususnya anak muda sebenarnya sudah beradaptasi.

AI hadir sebagai alat. Digunakan untuk membantu memahami pelajaran yang sulit, menyusun ide, atau sekadar mempercepat proses berpikir. Tidak ada klaim bahwa AI selalu benar dan tidak ada anggapan bahwa teknologi ini bisa menggantikan manusia sepenuhnya. Yang ada hanyalah sikap pragmatis: kalau bisa membantu, kenapa tidak digunakan?

Saya melihat bahwa sikap ini lahir bukan karena anak muda lebih cerdas dari generasi sebelumnya, melainkan karena mereka tumbuh dalam dunia yang serba berubah. Mereka tidak memiliki kemewahan untuk bertahan pada satu cara. Aplikasi berganti, platform berubah, dan cara belajar terus menyesuaikan. Dalam konteks itu AI hanyalah satu fase baru dari proses adaptasi yang sudah biasa mereka jalani.

Didunia pendidikan AI kerap langsung diasosiasikan dengan kecurangan dan kekhawatiran soal plagiarisme menjadi fokus utama. Saya tidak menyangkal risiko tersebut, namun saya mempertanyakan arah responsnya. Ketika sistem hanya sibuk mengawasi kita kehilangan kesempatan untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana berpikir kritis di era teknologi.

Yang terjadi kemudian adalah paradoks. Anak muda dituntut kreatif, adaptif, dan siap menghadapi masa depan, tetapi sistem yang membentuk mereka masih terjebak pada pola lama. Alih-alih mendampingi, sistem justru tertinggal dari realitas yang sedang dijalani generasi mudanya sendiri.

Kesenjangan ini menurut saya bukan soal perbedaan usia. Namun ini hanyalah soal perbedaan cara memandang perubahan. Anak muda bergerak cepat karena dunia menuntut mereka untuk begitu. Sistem bergerak lambat karena terbiasa menjaga stabilitas. Setiap perubahan diperlakukan sebagai gangguan, bukan tantangan yang perlu dihadapi bersama.

Ketakutan terhadap AI sering kali bukan berasal dari teknologinya, melainkan dari kekhawatiran kehilangan kendali. Sistem dibangun untuk menciptakan keteraturan sementara AI menuntut fleksibilitas. Anak muda tidak terlalu takut kehilangan keteraturan karena mereka tumbuh dalam dunia yang sejak awal tidak sepenuhnya teratur. Mereka sudah terbiasa belajar ulang, membongkar, lalu membangun kembali.

Tentu saja saya tidak sedang mengidealkan generasi muda. Mereka juga bisa salah. Mereka bisa terlalu bergantung pada AI, tergoda kemudahan, atau kehilangan kedalaman berpikir. Namun yang membedakan adalah sikap terhadap kesalahan. Anak muda cenderung belajar sambil berjalan. Mereka tidak menunggu kepastian sempurna sebelum mencoba. Sistem, sebaliknya, sering kali menunggu kesiapan ideal yang tidak pernah benar-benar datang.

Ironisnya, sistem sering menuntut anak muda untuk berpikir kritis, tetapi tidak menyediakan ruang yang cukup untuk melatihnya. AI dianggap merusak proses berpikir, padahal persoalannya bukan pada alatnya, melainkan pada cara berpikir itu dibangun. Jika pendidikan hanya mengukur hasil akhir, maka teknologi apa pun AI atau bukan akan selalu dianggap ancaman.

Dari pengamatan ini saya sampai pada satu pemahaman penting: masalah utama AI bukan terletak pada kecerdasannya melainkan pada kesiapan sistem untuk berubah. Anak muda melihat AI sebagai alat bantu berpikir. Sistem terlalu sering melihatnya sebagai pesaing yang harus dibatasi.

Jika kondisi ini dibiarkan risikonya bukan hanya ketertinggalan teknologi tetapi juga krisis relevansi. Sistem yang tidak mampu mengikuti realitas generasi mudanya akan perlahan ditinggalkan. Bukan karena dibenci, tetapi karena tidak lagi dirasakan hadir.

Justru di era AI peran sistem menjadi semakin krusial bukan hanya sebagai pengawas yang kaku melainkan sebagai pembimbing yang memberi arah. Literasi AI, etika penggunaan, dan kesadaran akan dampak sosial seharusnya menjadi bagian inti dari proses belajar bukan sekadar reaksi darurat ketika teknologi sudah terlanjur digunakan.

Saya percaya sistem tidak harus menjadi yang paling cepat. Tetapi ia harus cukup rendah hati untuk belajar. Anak muda tidak membutuhkan larangan tanpa dialog. Mereka membutuhkan kepercayaan, pendampingan, dan ruang untuk bertanya. Dengan cara itu, AI bisa ditempatkan secara manusiawi sebagai alat, bukan penentu nilai manusia.

Ada satu pelajaran penting yang saya lihat dari cara anak muda menghadapi AI mengenai keberanian untuk mencoba tanpa harus merasa paling tahu. Dunia hari ini tidak memberi waktu untuk menunggu kesiapan sempurna. Sistem yang mampu memahami hal ini akan tetap relevan. Sistem yang bertahan pada ketakutan justru akan semakin tertinggal.

AI akan terus berkembang terlepas dari apakah kita siap atau tidak. Anak muda sudah lebih dulu hidup di dalam perubahan itu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah AI perlu ditolak atau diterima. Pertanyaannya adalah apakah sistem bersedia berubah dan berjalan bersama generasi yang sudah berada selangkah di depan.

Jika tidak, maka yang akan tertinggal bukan hanya sistemnya-tetapi juga kesempatan kita untuk memastikan bahwa perkembangan AI tetap berpihak pada manusia bukan sekadar pada teknologi itu sendiri.

[ Pengurus Invest BPH Periode 25/26 ]

  • Penulis: Redaktur LPM Invest

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wakil Dekan III; Menulis Harus Jadi Keterampilan Mahasiswa

    Wakil Dekan III; Menulis Harus Jadi Keterampilan Mahasiswa

    • calendar_month Kam, 23 Nov 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 650
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Dunia mahasiswa tidak lepas dari menulis. Menyadari akan pentingnya menulis, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Invest Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam mengadakan Pelatihan Menulis bertempat di Auditorium I Lantai 2 Kampus I UIN Walisongo Semarang. Kamis, (23/11/2017). Khoirul Anwar, Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam pun mengapresiasi acara pelatihan menulis yang bertajuk “Eksis […]

  • Kelompok KKN UIN Walisongo Berikan Psikoedukasi Bullying Bagi Siswa SD di Regunung

    Kelompok KKN UIN Walisongo Berikan Psikoedukasi Bullying Bagi Siswa SD di Regunung

    • calendar_month Rab, 26 Okt 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 951
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Mahasiswa KKN Reguler Kelompok 47 UIN Walisongo Semarang lakukan Psikoedukasi untuk Kelas 6 SD 03 Regunung, Kabupaten Semarang. Kegiatan psikoedukasi bertajuk “Mencegah Perilaku Bullying” yang dilaksanakan pada Senin (24/10/2022). Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman dan edukasi terkait tindakan preventif bullying bagi anak-anak sekolah dasar. Psikoedukasi adalah memberikan pengetahuan tentang berbagai […]

  • Pelabelan Nama Ilmiah Pada Tanaman, Usaha Edukatif Mahasiswa KKN kepada Masyarakat

    Pelabelan Nama Ilmiah Pada Tanaman, Usaha Edukatif Mahasiswa KKN kepada Masyarakat

    • calendar_month Kam, 19 Nov 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 1.073
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Senin (2/11/2020) tetap produktif di tengah pandemi, mahasiswi Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) ke-75  posko 117 UIN Walisongo melakukan pelabelan nama pada tanaman. Kegiatan tersebut  dilaksanakan di Dukuh Dudukan, Desa Linggapura, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes. Kegiatan pelabelan nama ilmiah pada tanaman ini merupakan kegiatan memberikan infomasi tentang nama ilmiah, nama lokal, […]

  • UIN Walisongo Tunda Pelaksanaan Wisuda dan Himbau Optimalisasi Kuliah Daring

    UIN Walisongo Tunda Pelaksanaan Wisuda dan Himbau Optimalisasi Kuliah Daring

    • calendar_month Sen, 23 Mar 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 1.540
    • 0Komentar

    lpminvest.com-  Optimalisasi Kegiatan Akademik Online dan Penundaan Pelaksanaan Wisuda tengah dilakukan oleh UIN Walisongo Semarang. Hal ini guna Pencegahan Penyebaran Covid-19 di kawasan kampus. Informasi ini tertuang di surat edaran rektor Nomor B-1716/Un.10.0/R.1/PP.00.9/03/2020. Senin, (23/3/2020). Adapun informasi yang disampaikan yaitu, pertama seluruh kegiatan akademik yang dilaksanakan secara daring/online supaya dijalankan secara optimal. Kedua, kegiatan wisuda […]

  • Stadium General, Mahasiswa Baru Duduk di Lantai

    Stadium General, Mahasiswa Baru Duduk di Lantai

    • calendar_month Rab, 31 Agu 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 708
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Stadium General merupakan proses awal yang harus ditempuh mahasiswa baru UIN Walisongo, acara yang dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada mahasiswa baru perihal perkuliahan, namun momen yang seharusnya memberi kesan menyenangkan bagi mahasiswa baru ini dirasa kurang mengenakan, sebab mahasiwa merasa jenuh dengan kondisi ruangan yang kurang kondusif dan membludaknya peserta. Seperti yang dikeluhkan beberapa mahasiswa […]

  • Membludak, Peserta Stadium General Duduk Lesehan

    Membludak, Peserta Stadium General Duduk Lesehan

    • calendar_month Kam, 14 Mar 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 786
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Nyanyian lagu Hanya Ingin Kau Tahu dari Republik Band terdengar menggema dalam Auditorium II Kampus III UIN Walisongo Semarang. Nyanyian lagu yang dibawakan oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro, Suharmono, menjadi pengantar dimulainya Stadium General yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo. Para peserta pun berteriak heboh […]

expand_less