Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Anak Muda Lebih Siap Menghadapi AI Dibanding Sistemnya

Anak Muda Lebih Siap Menghadapi AI Dibanding Sistemnya

  • account_circle Redaktur LPM Invest
  • calendar_month Rab, 7 Jan 2026
  • visibility 1.008
  • comment 0 komentar

Oleh : Jahfal Bachist

Saya tidak langsung sampai pada kesimpulan ini. Bahkan pada awalnya saya termasuk orang yang cukup skeptis terhadap kecerdasan buatan. Saya khawatir AI akan membuat manusia malas berpikir, menggerus proses belajar, dan perlahan mengambil alih peran yang seharusnya dijalani manusia. Kekhawatiran itu terdengar masuk akal, dan mungkin juga wajar. Namun semakin saya memperhatikan bagaimana anak muda berinteraksi dengan AI dalam kehidupan sehari-hari pandangan saya perlahan berubah.

Perubahan itu tidak datang dari diskusi akademik atau seminar teknologi, melainkan dari hal-hal sederhana. Cara anak muda menggunakan AI dengan santai, tanpa rasa takut berlebihan. Cara mereka bertanya, mencoba, salah, lalu mencoba lagi. Di situlah saya mulai merasa ada jarak yang ganjil bukan antara manusia dan teknologi tetapi antara generasi muda dan sistem yang seharusnya membimbing mereka.

Setiap kali AI dibicarakan di ruang publik nada yang muncul hampir selalu bernuansa cemas. Kita membicarakan pekerjaan yang terancam, kejujuran akademik yang dipertanyakan, dan masa depan yang terasa tidak pasti. Diskursus ini penting, tetapi terasa timpang. Terlalu fokus pada apa yang mungkin hilang, terlalu sedikit membicarakan bagaimana manusia khususnya anak muda sebenarnya sudah beradaptasi.

AI hadir sebagai alat. Digunakan untuk membantu memahami pelajaran yang sulit, menyusun ide, atau sekadar mempercepat proses berpikir. Tidak ada klaim bahwa AI selalu benar dan tidak ada anggapan bahwa teknologi ini bisa menggantikan manusia sepenuhnya. Yang ada hanyalah sikap pragmatis: kalau bisa membantu, kenapa tidak digunakan?

Saya melihat bahwa sikap ini lahir bukan karena anak muda lebih cerdas dari generasi sebelumnya, melainkan karena mereka tumbuh dalam dunia yang serba berubah. Mereka tidak memiliki kemewahan untuk bertahan pada satu cara. Aplikasi berganti, platform berubah, dan cara belajar terus menyesuaikan. Dalam konteks itu AI hanyalah satu fase baru dari proses adaptasi yang sudah biasa mereka jalani.

Didunia pendidikan AI kerap langsung diasosiasikan dengan kecurangan dan kekhawatiran soal plagiarisme menjadi fokus utama. Saya tidak menyangkal risiko tersebut, namun saya mempertanyakan arah responsnya. Ketika sistem hanya sibuk mengawasi kita kehilangan kesempatan untuk mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana berpikir kritis di era teknologi.

Yang terjadi kemudian adalah paradoks. Anak muda dituntut kreatif, adaptif, dan siap menghadapi masa depan, tetapi sistem yang membentuk mereka masih terjebak pada pola lama. Alih-alih mendampingi, sistem justru tertinggal dari realitas yang sedang dijalani generasi mudanya sendiri.

Kesenjangan ini menurut saya bukan soal perbedaan usia. Namun ini hanyalah soal perbedaan cara memandang perubahan. Anak muda bergerak cepat karena dunia menuntut mereka untuk begitu. Sistem bergerak lambat karena terbiasa menjaga stabilitas. Setiap perubahan diperlakukan sebagai gangguan, bukan tantangan yang perlu dihadapi bersama.

Ketakutan terhadap AI sering kali bukan berasal dari teknologinya, melainkan dari kekhawatiran kehilangan kendali. Sistem dibangun untuk menciptakan keteraturan sementara AI menuntut fleksibilitas. Anak muda tidak terlalu takut kehilangan keteraturan karena mereka tumbuh dalam dunia yang sejak awal tidak sepenuhnya teratur. Mereka sudah terbiasa belajar ulang, membongkar, lalu membangun kembali.

Tentu saja saya tidak sedang mengidealkan generasi muda. Mereka juga bisa salah. Mereka bisa terlalu bergantung pada AI, tergoda kemudahan, atau kehilangan kedalaman berpikir. Namun yang membedakan adalah sikap terhadap kesalahan. Anak muda cenderung belajar sambil berjalan. Mereka tidak menunggu kepastian sempurna sebelum mencoba. Sistem, sebaliknya, sering kali menunggu kesiapan ideal yang tidak pernah benar-benar datang.

Ironisnya, sistem sering menuntut anak muda untuk berpikir kritis, tetapi tidak menyediakan ruang yang cukup untuk melatihnya. AI dianggap merusak proses berpikir, padahal persoalannya bukan pada alatnya, melainkan pada cara berpikir itu dibangun. Jika pendidikan hanya mengukur hasil akhir, maka teknologi apa pun AI atau bukan akan selalu dianggap ancaman.

Dari pengamatan ini saya sampai pada satu pemahaman penting: masalah utama AI bukan terletak pada kecerdasannya melainkan pada kesiapan sistem untuk berubah. Anak muda melihat AI sebagai alat bantu berpikir. Sistem terlalu sering melihatnya sebagai pesaing yang harus dibatasi.

Jika kondisi ini dibiarkan risikonya bukan hanya ketertinggalan teknologi tetapi juga krisis relevansi. Sistem yang tidak mampu mengikuti realitas generasi mudanya akan perlahan ditinggalkan. Bukan karena dibenci, tetapi karena tidak lagi dirasakan hadir.

Justru di era AI peran sistem menjadi semakin krusial bukan hanya sebagai pengawas yang kaku melainkan sebagai pembimbing yang memberi arah. Literasi AI, etika penggunaan, dan kesadaran akan dampak sosial seharusnya menjadi bagian inti dari proses belajar bukan sekadar reaksi darurat ketika teknologi sudah terlanjur digunakan.

Saya percaya sistem tidak harus menjadi yang paling cepat. Tetapi ia harus cukup rendah hati untuk belajar. Anak muda tidak membutuhkan larangan tanpa dialog. Mereka membutuhkan kepercayaan, pendampingan, dan ruang untuk bertanya. Dengan cara itu, AI bisa ditempatkan secara manusiawi sebagai alat, bukan penentu nilai manusia.

Ada satu pelajaran penting yang saya lihat dari cara anak muda menghadapi AI mengenai keberanian untuk mencoba tanpa harus merasa paling tahu. Dunia hari ini tidak memberi waktu untuk menunggu kesiapan sempurna. Sistem yang mampu memahami hal ini akan tetap relevan. Sistem yang bertahan pada ketakutan justru akan semakin tertinggal.

AI akan terus berkembang terlepas dari apakah kita siap atau tidak. Anak muda sudah lebih dulu hidup di dalam perubahan itu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah AI perlu ditolak atau diterima. Pertanyaannya adalah apakah sistem bersedia berubah dan berjalan bersama generasi yang sudah berada selangkah di depan.

Jika tidak, maka yang akan tertinggal bukan hanya sistemnya-tetapi juga kesempatan kita untuk memastikan bahwa perkembangan AI tetap berpihak pada manusia bukan sekadar pada teknologi itu sendiri.

[ Pengurus Invest BPH Periode 25/26 ]

  • Penulis: Redaktur LPM Invest

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • HMJ Biologi: Kesehatan sangat penting, tanpa kesehatan kita sulit berfikir

    HMJ Biologi: Kesehatan sangat penting, tanpa kesehatan kita sulit berfikir

    • calendar_month Sen, 22 Jun 2015
    • account_circle admin1
    • visibility 594
    • 0Komentar

    Lpminvest.com – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) pendidikan Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang, menggelar stand kesehatan di Taman  Jati kampus II UIN Walisongo Semarang. Kamis, (11/06/2015). Agenda tersebut dalam rangka ulang tahun HMJ pendidikan Biologi yang ke-7. Pihak HMJ mendatangkan Sri sebagai salah satu dokter dari poliklinik kampus 1 dan Arif […]

  • Resensi Novel Cantik itu Luka

    Resensi Novel Cantik itu Luka

    • calendar_month Sen, 23 Feb 2026
    • account_circle Redaktur LPM Invest
    • visibility 916
    • 0Komentar

    Identitas Buku Judul Buku: Cantik itu Luka Penulis: Eka Kurniawan Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU) Tahun Terbit: 2002 (Cetakan Pertama), terus dicetak ulang hingga kini Jumlah Halaman: 508 halaman Genre: Fiksi Sejarah, Realisme Magis Peresensi : Muhammad Fatih                Kisah ini dibuka dengan sebuah peristiwa yang tidak masuk akal di mana ada seorang perempuan bernama […]

  • Wisata Religi; Agama dan Kepentingan Pasar  

    Wisata Religi; Agama dan Kepentingan Pasar  

    • calendar_month Sab, 15 Apr 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 612
    • 0Komentar

     Oleh : M. Maulana Ali Kru Lembaga Pers Mahasiswa Invest Wisata religi menjadi pergumulan yang sangat penting untuk dibahas oleh agamawan, ekonom, budayawan, bahkan akademisi. Fenomena ini erat kaitannya dengan masyarakat Indonesia karena melihat kultur budaya masyarakatnya yang kental dengan mistik. Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam kaitannya dengan penghayatan atas agamanya masing-masing. Wisata berarti rekreasi, […]

  • FORNAS MESYA Deklarasikan Dukungan Pembumian Ekonomi Syariah di Indonesia

    FORNAS MESYA Deklarasikan Dukungan Pembumian Ekonomi Syariah di Indonesia

    • calendar_month Ming, 20 Okt 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 605
    • 0Komentar

    lpminvess.com –  Serangkaian acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Nasional Mahasiswa Ekonomi Syariah (FORNAS MESYA) ditutup dengan deklarasi dukungan terhadap pembumian ekonomi syariah di Indonesia. Deklarasi tersebut dilaksanakan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang secara serentak oleh para delegasi dan dipimpin langsung oleh presiden baru FORNAS MESYA, Muhammad Rafsanjani. Sabtu, (19/10/2019). Rangkaian acara Rakernas […]

  • Tak Pernah Ikut Kompetisi, Mahasiswa Ini Berhasil Raih Prestasi

    Tak Pernah Ikut Kompetisi, Mahasiswa Ini Berhasil Raih Prestasi

    • calendar_month Rab, 18 Sep 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 716
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) berhasil meraih tiga medali di cabang lomba catur pada Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah, dan Keterampilan (Orsenik) 2019. Tiga medali yang diperoleh yaitu emas kategori cepat putra oleh  Ihza Ahzami Akbar, perak kategori kilat putri yang diraih oleh Nafila Firda dan perunggu kategori cepat putri oleh Ifnasya Kharisma Suci. […]

  • FEBI Lepas 142 Wisudawan

    FEBI Lepas 142 Wisudawan

    • calendar_month Sen, 4 Mar 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 667
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang melepas 142 wisudawan pada Pelepasan Wisuda Ke-10 dan Pengukuhan Keluarga Alumni (KALAM) FEBI Periode 2018-2022, bertempat di Ballroom lantai 5 Harris Hotel Semarang. Senin, (4/3/2019). Berdasarkan laporan Ali Murtadho, Wakil Dekan I Bidang Akademik, wisudawan dari S2 Ekonomi Syariah sebanyak 8 orang. Adapun wisudawan […]

expand_less