Ramai ‘War Takjil’ di Sekitar Kampus 3 UIN Walisongo: Mahasiswa Hemat UMKM Merapat
- account_circle Redaktur LPM Invest
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 55
- comment 0 komentar

Ngaliyan, (23/02/2026) Sore hari, Jalanan di sekitar kampus 3 UIN Walisongo Semarang dikerumuni oleh aktivitas manusia, terutama para mahasiswa yang memenuhi pedagang takjil untuk membeli berbagai jenis takjil untuk berbuka puasa. War Takjil adalah salah satu kegiatan yang mereka lakukan selama bulan Ramadhan sembari menunggu adzan magrib tiba.
Meilina Dwi mahasiswa semester 6 UIN Walisongo Semarang, turut membagikan keseruannya dalam war takjil dengan temannya. Dari berbagai takjil yang ada di sekitar Ngaliyan, ia lebih memilih membeli takjil yang ada di sekitar kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Karena tempat yang paling dekat dengan pondoknya dan hanya perlu jalan kaki saja untuk sampai ke lokasi penjual takjil.
“Karena dekat, terus kalau dipondokku yang bukan pengurus nggak boleh bawa kendaraan, jadinya kita mencari yang dekat-dekat aja, terus murah,” Ujarnya. Harga takjil yang biasa ia beli cukup murah sehingga pengeluarannya selama Ramadan lebih hemat. “Enggak sih, soalnya murah,” imbuhnya.
Di akhir wawancara, ia menyampaikan perasaan yang dirasakan ketika War Takjil, ”Senang sih, bisa jalan-jalan, bisa keluar gitu, terus aku juga udah dapat banyak takjil, ada pentol goreng, cilor dan cireng,” pungkasnya.
Tak hanya dari kalangan mahasiswa, pedagang UMKM juga terkena dampak positif saat momen Ramadhan, Dyah Mumpuni seorang pedagang yang berasal dari Kaliwungu Kendal. Dyah mengenalkan beberapa jajanan yang dijualnya, ada pentol bakso jumbo, pentol bakso kecil, pentol bakso gede mercon, tahu bakso dan cilok.
Beliau sudah berjualan selama satu tahun, awal mulai jualan beliau tidak langsung berjualan sendiri namun masih bekerja sama dengan mitra. Setelah berjualan selama satu tahun kini Dyah sudah mempunyai satu cabang di Bringin.
“Awalnya ikut mitra teman, tapi karena kondisi keuangannya ruwet dan kondisi stok barang sering susah akhirnya saya buat usaha sendiri dan alhamdulillah lancar,” tuturnya
Dyah berjualan dari siang sampai magrib untuk hari biasa, namun saat bulan Ramadan buka setelah asar sampai sebelum magrib kadang sudah habis dengan jumlah porsi yang lebih sedikit dibanding hari biasa.
“Malah berkurang porsinya, cuma jam kerjanya pendek banget. Kalau porsi biasanya saya membawa 500-700 ribu uang kotor, kalau untuk Ramadhan biasanya saya membawa 350 ribuan, Untuk cabang yang berada di Ngaliyan sendiri, pembeli kebanyakan dari kalangan mahasiswa dengan jumlah persentase sekitar 60-80 %, ” jelasnya. Dwi Yulia Anti_[i]
[ Pengurus Invest Periode 25/26 ]
- Penulis: Redaktur LPM Invest

Saat ini belum ada komentar