Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Mengenal Prasah, Tradisi Seserahan di Desa Sidigede Jepara

Mengenal Prasah, Tradisi Seserahan di Desa Sidigede Jepara

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sab, 3 Sep 2022
  • visibility 955
  • comment 0 komentar

(Prosesi pengarakan kerbau untuk seserahan. Sumber: budaya-indonesia.org)

Indonesia merupakan negara yang kaya, tak hanya terbatas pada sumber daya alam namun juga dikenal memiliki aneka ragam budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Keanekaragaman ini merupakan wujud dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu. Semboyan yang berasal dari bahasa Jawa Kuno tersebut menjelaskan bahwa keanekaragaman yang ada di Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan yang tak dimiliki oleh negara lain.

Dari banyaknya keanekaragaman yang dimiliki Indonesia, salah satunya ada pada budaya. Setiap tempat memiliki berbagai adat dan budaya yang menjadi ciri khas masing-masing daerah. Mulai dari Yogyakarta dengan upacara Sekaten, Jawa Tengah dengan upacara adat Tingkeban, Jawa Timur dengan Ruwatan, dan lain-lain. Tidak hanya itu, ada lebih banyak lagi budaya dan tradisi yang ada di setiap daerah serta mungkin belum dikenal oleh masyarakat luas.

Sebuah kota di Jawa Tengah yakni Kota Jepara memiliki satu tradisi unik yang berhubungan dengan penyerahan maskawin berupa hewan kerbau. Tradisi ini bernama Prasah dan terdapat di Desa Sidigede, Welahan. Tradisi ini dikenal sebagai tradisi mahal karena tak sembarang orang bisa melakukannya. Konon, hanya orang-orang dari kalangan tertentu yang mampu melaksanakan tradisi ini.

Prasah merupakan tradisi pemberian maskawin dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan berupa seekor kerbau sebagai bentuk seserahan atau hantaran. Tradisi ini merupakan tradisi turun-temurun yang ada di Desa Sidigede, Jepara. Konon, tradisi Prasah terinspirasi dari cerita Joko Tingkir yang ingin meminang kekasihnya. Joko Tingkir harus menaklukkan kerbau sebagai bukti cintanya kepada putri kerajaan Demak saat itu sebagai persyaratan.

Saat proses penyerahan, kerbau akan diarak dan digiring oleh orang-orang yang berpengalaman dari rumah mempelai laki-laki ke rumah mempelai perempuan. Tim penarik kerbau yang berjumlah sekitar 15-30 orang itu masing-masing berperan memegang tali yang sudah dikaitkan pada kerbau tersebut. Tak hanya kerbau yang diberikan sebagai seserahan, namun juga perabotan rumah tangga seperti lemari dan lainnya. Dahulu, mempelai laki-laki di Desa Sidigede selalu membawa kerbau berukuran besar dan gemuk untuk mempersunting mempelai perempuan. Hal ini dianggap sebagai simbol kehormatan mempelai laki-laki dan keluarganya. Namun, seiring berjalannya waktu harga kerbau semakin mahal. Tak heran jika tradisi ini hanya dilakukan oleh orang-orang dari kalangan mampu karena untuk melakukan tradisi Prasah diperlukan biaya yang tidak sedikit.

Demi melaksanakan Prasah, kerbau yang disiapkan harus diikat terlebih dahulu. Setelahnya, kerbau perlu dibacakan mantra oleh sesepuh desa agar kehilangan kendali dan merasa stres. Sisi keseruan dari tradisi ini adalah saat membuat kerbau marah. Semakin kerbau marah, maka semakin seru proses arak-arakan. Dibantu warga, orang-orang yang menggiring kerbau berusaha membuat kerbau tersebut mengamuk dengan berbagai cara, seperti melempar petasan kecil dan lumpur basah. Meski sudah diikat di beberapa sisi, kerbau tersebut terus mengamuk di sepanjang jalan dan mencoba menyerang orang-orang. Orang-orang pemegang tali pengikat kerbau yang disebut tukang bracut oleh masyarakat sekitar dibuat kewalahan karena kerbau tersebut hilang kendali. Tak jarang dalam proses pengarakan kerbau, ada saja pagar rumah warga yang rusak atau orang-orang cidera karena amukan kerbau. Namun, amukan itu tak berlangsung lama karena sesampainya di kediaman mempelai perempuan, kerbau tersebut kembali dibacakan mantra oleh sesepuh desa agar kembali tenang.

Tradisi ini dinilai menarik bagi masyarakat Desa Sidigede maupun luar desa. Meskipun terdapat sedikit perbedaan pelaksanaan dari sebelum dan setelah pandemi, setiap ada prosesi keseruan tradisi Prasah selalu menjadi tontonan warga desa. Itulah keseruan budaya unik dari Jepara, Jawa Tengah. Tidak hanya mengandung makna mendalam karena terinspirasi dari kisah Joko Tingkir. Namun lebih dari itu, Prasah menjadi tontonan dan keseruan sendiri bagi masyarakat yang menyaksikan langsung. Winda_[i]

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemilihan Duta Prodi Meriahkan Festival Perbankan 7.0

    • calendar_month Rab, 9 Nov 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 341
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Festival Perbankan 7.0 ditutup dengan malam puncaknya, bertempat di Gedung Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang pada Selasa (8/11/2022). Acara  tersebut dihadiri oleh sejumlah mahasiswa Program Studi (Prodi) Perbankan Syariah UIN Walisongo dan beberapa juri dari jajaran dosen prodi. Acara dimeriahkan dengan pemilihan Duta Perbankan serta mendapat dukungan dari Ketua Program Studi Perbankan […]

  • Aneh

    • calendar_month Sel, 1 Mei 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Oleh: Sahrul Amar Saksena Jalanan ramai Dua orang sibuk ke ujung Seluruh ruang menyempit Menghimpit andai-andai yang membesar  Jari dan asap rokok sibuk menandingi kealpaan suaramu Jendela membelah mata Kanan dan kiri Membelah kenyataan dan harapan Bahwa di tempat yang kecil dan luas ini Aku mendatangimu dan kau tidak menyerahkan dirimu Aku menolak pulang Pulang […]

  • Pemilwa Kali Pertama Diselenggarakan Di Fakultas FEBI

    • calendar_month Sen, 22 Des 2014
    • account_circle admin1
    • visibility 331
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Universitas Islam Negri (UIN) Walisongo menyelenggrakan pemilihan mahasiswa (Pemilwa) di lima wilayah fakultas. Dalam pemilihan ini Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), kali pertamanya baru menyelenggarakan pemilhan mahasiswa . Ketua Panitia Pemilwa FEBI, Taufik sapaan akrabnya, mahasiswa jurusan Ekonomi Islam menyampaikan, untuk penyelenggaraan pemilwa yang pertama kalinya sangat menantang, karena tidak mengira banyaknya mahasiswa […]

  • Mahasiswa KKN Usai Lakukan Sidak Pantai Bersih

    • calendar_month Sen, 19 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 234
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Setiap tahun sampah selalu menjadi salah satu isu utama yang harus dituntaskan, menurut jurnal penelitian yang diterbitkan di jurnal Science setidaknya terdapat 24 juta metrik ton sampah plastik yang masuk ke lingkungan laut di seluruh dunia. Menanggapi hal tersebut, kelompok 65 KKN Reguler Dari Rumah (RDR) 75 UIN Walisongo Semarang mengadakan sidak di salah […]

  • Sempat Mengalami Kendala, Namun Paper Mob Tetap Berjalan dengan Baik

    • calendar_month Sab, 5 Agu 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 431
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sebagai bagian dari rangkaian acara pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Sabtu (5/8/2023) paper mob fakultas turut menghidupkan keseruan PBAK. Acara ini diikuti oleh seluruh mahasiswa baru namun dipisahkan tiap fakultasnya. Sesuai dengan tema PBAK tahun ini mengenai peduli lingkungan, panitia paper mob fakultas menggunakan kertas warna yang pada hari sebelumnya sudah digunakan […]

  • Racana Walisongo Melantik 24 Pengurus Harian

    • calendar_month Sab, 16 Jan 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 347
    • 0Komentar

      lpminvest.com– Pramuka Pandega yang dihimpun di gugusdepan (gudep-red) dalam satuan yang disebut Racana di UIN Walisongo, melaksakan pelantikan kepengurusan baru masa bakti 2016. Jumat, (15/01/2016). Acara yang dilaksanakan di Aula gedung Q lantai 2 kampus 2 UIN Walisongo Semarang ini dihadiri oleh Fauzin, Lift Ma’sunah, serta Suwanto sebagai Pembina Racana Walisongo Semarang. Pelantikan ini diharapkan mampu membuat […]

expand_less
Exit mobile version