Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RESENSI » Keseimbangan Hidup

Keseimbangan Hidup

  • account_circle admin1
  • calendar_month Jum, 8 Des 2017
  • visibility 177
  • comment 0 komentar

emhaJudul               : Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem

Penulis             : Emha Ainun Nadjib

Penerbit           : Noura Books

Cetakan           : Kelima, September 2017

Halaman          : x + 230 halaman.

ISBN               : 978-602-385-150-8

Peresensi         : Mukhammad Faridul Huda

Buku karya Emha Ainun Najib (Cak Nun) ini merupakan buku yang tergolong ringan untuk dibaca dibanding buku-buku lain yang pernah ditulisnya. Dengan judul buku “Hidup itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem” penulis mencoba menggambaran topik bacaan secara sederhana dan menarik. Buku ini berisikan nasihat-nasihat kearifan Cak Nun yang dikemas dengan berbagai pendekatan, baik dari sisi budaya, politik, kearifan lokal, tafsir, bahkan sains.

Bagi para penggemar atau yang sering mendengar ceramah Cak Nun, pasti akan merasa mendengar secara langsung nasihat-nasihat tersebut. Namun dalam bentuk tulisan, Cak Nun memang memiliki gaya bahasa yang khas, yakni santai. Seperti yang pernah dikatakan seorang Budayawan Sufi, Candra Malik “Cak Nun adalah penjaga Telaga Al Kautsar. Dia mempersilakan siapa pun yang berjumpa dengannya untuk membasuh badan rohani dan melepas dahaga batin. Dia menemani kita untuk istirahat sejenak dari kerumitan dan menyuguhkan kesederhanaan. Dalam buku ini, sebagaimana dalam kesehariannya, Cak Nun menyampaikan kabar langit dengan bahasa bumi”

“Masyarakat Madani” istilah yang kini sering digunakan untuk menggambarkan masyarakat yang adil dan makmur. Dalam Islam ada istilah “Baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur“, namun disitu ketambahan wa rabbun ghafur. Maksudnya, kaya atau miskin tidak masalah asal hatinya tidak bimbang dan tetap bersyukur. Dalam hal ini Cak Nun menganalogikan seperti hidup rukun, tentram, dan raharja yang ke semuanya diterima Allah. Alasan Allah menambahkan wa rabbun ghafur agar manusia tahu bahwa kesenangan saja tidak cukup, jika tidak diimbangi dengan ketaatan pada Allah.

Dalam pemahaman melalui pengalaman dan rasa, Cak Nun menjelaskan bahwa kebenaran sains bukan hal yang sebenarnya benar. Setiap orang memiliki kebenarannya sendiri, saya memiliki kebenaran saya sendiri dan kamu punya kebenaran kamu sendiri. Karena posisi manusia bukan di “adalah”, tapi di “semoga”. Tidak di “pasti”, tapi di “insya Allah”. Bagi Cak Nun kebenaran yang sejati merupakan yang kita cari bersama-sama dan selama hidup kita, yang ujungnya  berupa semoga. Karena Allah juga tidak menagih manusia untuk menemukan kebenaran, yang Allah perintahkan hanyalah untuk mencarinya.

Seperti halnya bertani, seorang petani tak akan pernah tahu hasil yang ia tanam, apakah berbuah atau tidak, yang dia tahu hanyalah menanam dan merawatnya. Karena yang menetukan hasilnya hanyalah Allah.

Dalam buku ini Cak Nun mengajak pembaca untuk sadar bahwa hidup itu tidak melulu tentang diri sendiri. Hidup itu berkesinambungan dan saling memberikan timbal balik, baik untuk diri kita sendiri, keturunan kita, maupun orang lain. Seperti halnya bahwa hidup itu tidak terus-menerus menerima tetapi juga memberi, meskipun dalam ilmu ekonomi memberi merupakan hal yang merugikan, karena akan mengurangi harta kita.

Seperti yang dikatakan oleh Rasullah SAW “yang engkau miliki adalah yang engkau berikan,” dengan maksud agar harta benda kita bisa merata dan dimanfaatkan orang lain. Kalau kita terlalu ambisius, malah akan menyebabkan ketimpangan sosial. Seperti halnya yang sudah terjadi di Indonesia, kekayaan alam melimpah tapi rakyatnya tak biasa merasakan. Yang bisa merasakan hanyalah kalangan-kalangan pejabat negara dan yang kaya-kaya saja. Kerjapun susah, sampai-sampai pergi ke luar negeri untuk mencari nafkah.

Dengan analogi yang dijelaskan oleh Cak Nun tersebut, diharapkan pembaca mampu memahami bahwa tujuan dari agama adalah mendidik manusia agar mampu untuk mengendalikan dirinya. Kita sholat lima waktu agar kita memiliki ritme dalam hidup untuk mengendalikan diri, ada waktunya bangun, wudhu, shalat, dan berhenti. Tidak bisa seenaknya diringkas atau dibolak-balik.

Jangan sampai hidup kita seperti di dalam internet, bebas melampiaskan keinginan, bebas berbicara tapi tanpa tanggung jawab. Bohong atau tidak bukan masalah identitas diri di internet, hal ini menjadikan mental manusia seperti pengecut dalam menyampaikan pendapat. “Jangan memasuki suatu sistem atau suatu keadaan yang membuatmu melampiaskan diri. Tapi, dekat-dekatlah dengan sesama sahabat yang membuatmu mengendalikan diri. Karena Islam itu mengendalikan, sementara internet melampiaskan. Hidup itu harus pintas ngegas dan ngerem“.

Melihat semakin banyaknya kelompok-kelompok Islam yang ada kini, serta perselisihan yang terjadi di kalangan umat Islam, tentunya menjadi sebuah kehawatiran. Cak Nun dalam buku ini berusaha mengajak umat Islam untuk tidak sibuk dengan “Jembatan”. Tujuan kita adalah Islamnya Muhammad. Sedangkan NU, Muhammadiyah, Sunni, Syiah, dan segala macamnya hanyalah jembatan atau jalan/cara/tariqah. Karena sejatinya, Allah mengutamakan cinta sosial dulu barulah cinta pribadi. [i]

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wisuda Makin Asyik dengan Pesembahan Gamelan dan Sinden

    • calendar_month Rab, 21 Agu 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 242
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melaksanakan kegiatan wisuda periode Agustus kepada Sarjana (S1) yang ke-93, Magister (S2) yang ke-60, dan Doctor (S3) yang ke–36 pada Rabu, (21/08/2024) di gedung Auditorium II kampus 3. Para wisudawan saat memasuki auditorium II diiringi dengan hadrah. Acara ini diselenggarakan dengan meriah disertai dengan penampilan gamelan serta sinden […]

  • Menyoal Keakraban Kita

    • calendar_month Sen, 23 Des 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Oleh : Dwi Ari Apriliani   Aku nyaris berkawan dengan kesendirian Tapi kamu baik, menjelma setenang mungkin Di setiap sudut pikiranku Kamu bukan segalanya, Tapi segalanya bisa diraih saat menggenggammu Bahkan semua mengangguk, Kamu jendela dunia Kamu lekat dengan segudang ilmu Berulang kali kumencoba meletakkan cinta di dalamnya Agar bebas berkumpul dengan paragrafmu Merasa nyaman […]

  • Tasyakuran Warnai Peringatan Harlah FEBI Ke IV

    • calendar_month Rab, 17 Jan 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 212
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (harlah-red) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang ke IV,  Keluarga Besar Dosen FEBI UIN Walisongo Semarang mengadakan acara tasyakuran. Selasa, (16/01/2018). Harlah yang bertempat di Gedung H Ruang H1 FEBI itu dimulai pukul 10.15 WIB dengan membaca Al-Quran dan tahlil bersama. Imam Yahya selaku Dekan FEBI dalam […]

  • Resmi! 5712 Unggahan Video Moderasi Beragama Raih Rekor MURI

    • calendar_month Sen, 26 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 236
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Sebelumnya pada September 2020, Museum Rekor Indonesia (MURI) telah memberikan penghargaan kepada UIN Walisongo Semarang dan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo sebagai “Pemrakarsa dan Penyelenggara Konferensi Secara Virtual Lintas Negara Terbanyak” dalam acara Virtual International Conference 2020 Education in The Era of Post Covid-19 Pandemi dengan invited speaker dari 21 negara. Sedangkan pada Senin, […]

  • Kegiatan yang Disukai Peserta, Penutupan PBAK 2023

    • calendar_month Ming, 6 Agu 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 189
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Rangkaian penutupan kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) selama 3 hari telah berada diakhir acara. Berbagai kegiatan mulai dari Pra-PBAK, orasi kemahasiswaan dengan mengundang bintang tamu, Expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), hingga menginjak hari terakhir pada Minggu, (6/7/2023) berjalan dengan lancar. Muhammad Anang Ma’ruf selaku ketua panitia PBAK mengungkapkan, persiapan PBAK dimulai sejak […]

  • Akhirnya, PBAK 2022 UIN Walisongo Telah Usai

    • calendar_month Jum, 5 Agu 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 180
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Serangkaian acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2022 UIN Walisongo telah selesai dilaksanakan, mulai dari Pra-PBAK hingga penutupannya pada Jumat, (5/8/2022). Penutupan PBAK bertempat di lapangan Kampus III UIN Walisongo. Setelah itu, peserta PBAK dikembalikan ke fakultas masing-masing. Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) melanjutkan acara Colour Fun yang dipandu oleh panitia PBAK fakultas. […]

expand_less
Exit mobile version