Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RESENSI » Siksa Manusia Tergantung Dosa dalam Film Siksa Neraka

Siksa Manusia Tergantung Dosa dalam Film Siksa Neraka

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sel, 21 Mei 2024
  • visibility 783
  • comment 0 komentar

Identitas Film

Judul                           : Siksa Neraka

Genre                         : Horror, Thriler

Jadwal Tayang            : 14 Desember 2023

Durasi                         : 98 menit

Sutradara                    : Anggy Umbara

Pemain                        : Ratu Sofya, Slamet Rahardjo, Kiesha Alvaro, Ariyo Wahab, Nayla D. Purnama, Rizky Fachrel, Astri Nurdin.

Bahasa                         : Indonesia

Negara                        : Indonesia

Sinopsis Film

Film “Siksa Neraka” yang ditayangkan di bioskop pada 14 Desember 2023, merupakan hasil adaptasi dari komik klasik berjudul sama karya dari MB Rahimsyah. Kabarnya, biaya produksi film ini mencapai 5 miliar rupiah, yang sebagian besarnya digunakan untuk penggunaan efek visual CGI yang memukau.

Adaptasi ini membawa kisah dari halaman komik ke layar lebar, memberikan pengalaman baru bagi penonton. Dengan anggaran yang besar, film ini berhasil menciptakan efek visual yang mengesankan, membawa dunia Siksa Neraka ciptaan MB Rahimsyah menjadi hidup sehingga membuat para penonton menikmatinya.

Film ini menceritakan tentang suatu keluarga yang terdiri dari enam anggota keluarga yaitu ayah (Ariyo Wahab), ibu (Astri Nurdin), serta ke-empat anak mereka yaitu Saleh (Rizky Fachrel), Fajar (Kiesha Alvaro), Tyas (Ratu Sofya), dan anak terakhirnya Azizah (Nayla Purnama). Keluarga ini digambarkan sebagai sebuah rumah tangga yang harmonis dan penuh kehangatan. Diawal cerita, Ketika berkunjung bersama kedua orang tuanya ke rumah duka, kita langsung digegerkan oleh kehadiran Tyas, seorang anak yang menarik perhatian. Tyas memperhatikan dengan seksama sekeliling rumah duka, dan terlihat kebingungan. Apa yang dilihatnya? saat menyisir rumah dengan mendebarkannya Tyas melihat seseorang yang sudah meninggal dunia itu di siksa secara langsung, lalu ia berlari dan berteriak “Dia sedang disiksa!” sontak membuat keluarga berduka semakin sedih.

Dalam menggambarkan penglihatan tidak lazim seperti itu sebenarnya terlalu berlebihan. Terlebih lagi, di tengah masyarakat kita, sangat tidak pantas seseorang mengungkapkan kesalahan, dosa, atau kekurangan orang lain, terutama yang masih hidup, di hadapan banyak orang.

Seiring berjalannya waktu Tyas menyadari penglihatan yang tak lazim tersebut, namun ayah Tyas, Ustadz Syakir, kesal dan merasa tidak suka terhadap kemampuan anak perempuannya yang pertamanya itu, karena dalam agama Islam hal itu dianggap sebagai suatu hal yang musyrik. Sikap Syakir terhadap Tyas juga digambarkan sebagai sesuatu yang terlalu keras dan cenderung ringan tangan. Terlebih lagi, ketika kemarahan Ustaz ini mencuat akibat nilai ujian Tyas yang rendah dalam satu mata pelajaran. Dengan penuh kemarahan, Syakir menampar tangan Tyas, dan menyebutnya sebagai anak yang malas.

Dalam perbandingan dengan kedua kakak laki-lakinya, yaitu Saleh dan Fajar, Saleh digambarkan sebagai kakak yang sukses, mengejar pendidikan di luar kota, aktif sebagai asisten dosen, dan sering membawa oleh-oleh saat pulang ke kampung halaman. Sementara itu, Fajar dikenal sebagai anak yang rajin, tekun dalam belajar, dan siap mengorbankan waktu untuk mendapatkan pengetahuan. Dengan sikap dan perbuatan yang dilakukan kedua kakak Tyas, ayahnya terkesan melebih-lebihkan anaknya, berbanding terbalik dengan Rika, ibu dalam cerita ini, digambarkan memiliki kesabaran yang luar biasa, tetapi terlihat pasif dan cenderung hanya mengikuti suaminya ke segala tempat.

Kisah ini melanjutkan dengan Azizah, si bungsu dalam keluarga, yang bercita-cita untuk berpartisipasi dalam sebuah kompetisi menyanyi. Meskipun awalnya dihadang oleh ayahnya, ia berhasil memenangkan kesempatan tersebut dan bahkan maju ke babak final. Ayahnya menentang bukan karena menganggap bernyanyi itu dosa, melainkan karena khawatir akan pesona Azizah di depan banyak orang, yang bisa merangsang hasrat yang tidak sehat.

Oleh karena itu, ayahnya melarang Azizah untuk mengikuti kompetisi tersebut. Ketika orang tuanya sedang pergi mendapatkan informasi bahwa salah satu teman Azizah meninggal, sang anak sulung justru mengajak saudara-saudaranya keluar rumah untuk mengantar Azizah ke kota guna berpartisipasi dalam perlombaan.

Terlebih lagi, ketika si sulung Saleh memaksakan keputusan untuk nekat menyeberangi sungai yang deras akibat hujan, untuk menghemat waktu, meskipun permukaan air sedang naik. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Pak Harjo (Slamet Rahardjo), seorang tetua desa yang sebenarnya menginginkan anak-anak Syakir kembali ke rumah, karena memiliki perasaan buruk yang akan terjadi terhadap mereka.

Sangat mudah ditebak, keempat anak Syakir memutuskan untuk mengambil risiko yang besar, dan akhirnya mereka terjebak dalam arus sungai yang besar. Mereka terseret oleh arus yang kuat dan sesuai dugaan penonton anak-anak dari ustaz Syakir akan kehilangan nyawanya karena terbawa arus sungai.

Pesan yang bisa diambil dari adegan tersebut adalah bahwa meskipun dosa terlihat kecil, kita harus menghindarinya agar tidak menghadapi hukuman dari Tuhan. Dalam adegan siksa neraka, ditunjukkan berbagai dosa dan ancaman hukuman yang bisa dialami. Selain itu, juga diungkapkan bahwa setiap anggota keluarga ustadz memiliki dosa besar yang mereka sembunyikan dari orang tua mereka.

Namun, sangat disayangkan saat Ariyo dan Astri memerankan peran orang tua yang kehilangan anak-anak mereka dalam drama. Penampilan mereka kurang mampu menggugah emosi penonton terhadap penderitaan saat kehilangan semua anak mereka, yang sehingga penonton hanya mendapatkan rasa takut di siksa neraka.

Selama proses penggambaran siksa neraka, adegan ini dipenuhi dengan atmosfer kengerian dan berbagai bentuk penyiksaan yang diberlakukan. Penghuni neraka digambarkan mengenakan pakaian compang-camping, sebagian dari mereka terikat dengan rantai, dan ada yang menghadapi penyiksaan dengan lidah yang dipaksa dijulurkan lalu dipotong layaknya memotong daging hewan, dalam adegan ini sangat memuaskan mata dengan CGI yang begitu memukau yang hingga membuat merasa betapa menakutkannya siksa neraka tersebut.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kajur ES; Maba ES Tersesat di Jurusan yang Tepat

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 407
    • 0Komentar

    lpminvest.com–  Pengenalan jurusan menjadi materi terakhir dalam PBAK Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam di hari kedua. Selasa, ( 22/08/17). Pengenalan jurusan dilakukan secara terpisah yang disampaikan oleh ketua jurusan masing-masing. Adapun pembagian tempat pengenalan jurusan meliputi; Akuntansi Syariah bertempat di sebelah utara auditorium 1 kampus 1, Perbankan syariah D3 dan S1 bertempat di lapangan tenis, […]

  • Semua Berawal Dari Pesantren di Pandeglang

    • calendar_month Sel, 18 Jul 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 562
    • 0Komentar

    Usai Ujian Nasional SD, waktunya bagi saya untuk mencari sekolah baru ke jenjang pendidikan SMP. Setelah beberapa sekolah saya kunjungi, keputusan jatuh di Sekolah Negeri yang menurutku cukup bagus di daerah Bekasi. Setelah beberapa hari datanglah brosur Pondok Pesaantren dari salah satu teman saya. Akhirnya, orang tua memberikan usulan agar mondok saja. Sempat terpikir kala […]

  • Sistem  GPN BI; Perlu Interkoneksi dan Interopebilitas Antarlembaga

    • calendar_month Jum, 15 Nov 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Sosialisai Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) oleh Bank Indonesia usai dilaksanakan di Kantor Bank Indonesia cabang kota Semarang. Sosialisasi ini dihadiri oleh berbagai mahasiswa dari universitas sekota Semarang. Kamis (14/11/2019). Irwan Daud, Departemen Elektronifikasi Bank Indonesia Pusat (Jakarta) memaparkan bahwa GNP adalah sistem untuk mendukung Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). “Gerakan Pembayaran Nasional ini akan mendukung […]

  • Pemilwa, Debat Kandidat Jadi Tolok Ukur Pilihan Mahasiswa

    • calendar_month Kam, 14 Des 2017
    • account_circle admin1
    • visibility 473
    • 0Komentar

    lpminvest.com– UIN Walisongo Semarang bersiap merayakan pesta demokrasi Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemilwa) 2017. Diantara rangkaian acaranya adalah debat kandidat serentak pada delapan fakultas yang ada di UIN Walisongo. Adapun debat kandidat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) diadakan di Mushola FEBI. Rabu, (13/12/2017). Acara yang dibuka oleh Khoirul Anwar selaku Wakil Dekan III FEBI itu […]

  • Budi Setyo Purnomo: “Ada Tujuh Dosa Media yang Perlu Diperhatikan”

    • calendar_month Sel, 10 Apr 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 475
    • 0Komentar

      lpminvest.com– Antrean panjang nampak di halaman auditorium 2 kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Pasalnya, para mahasiswa antusias mengikuti acara Seminar dan Pameran Seni Rupa yang dipersembahkan oleh Kantor Penyiaran Islam Daerah (KPID) dan Rumah Rupa Walisongo.  Senin, (9/4/2018). Seminar dan Pameran Seni Rupa tersebut dihadiri oleh Mahasiswa UIN Walisongo dari berbagai jurusan. Acara yang […]

  • Ungkap Makna Kesetaraan Gender, Kelompok 6 KKN RdR 77 UIN Walisongo Adakan Webinar Online

    • calendar_month Sab, 6 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 417
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Kelompok 6 Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) Angkatan 77 adakan webinar kesetaraan gender dengan tema “Isu Gender dalam Dunia Kerja”. Jum’at, (5/11/2021). Tujuan diadakannya webinar ini sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa dan masyarakat pada umumnya tentang makna kesetaraan gender yang sebenarnya. Acara berlangsung dengan menggunakan media zoom meeting […]

expand_less
Exit mobile version