Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » Mahasiswa Rantau, Antara Mandiri dan Dipaksa Keadaan

Mahasiswa Rantau, Antara Mandiri dan Dipaksa Keadaan

  • account_circle admin1
  • calendar_month Rab, 5 Des 2018
  • visibility 268
  • comment 0 komentar

Oleh: Hasna Aulia
Pembelajar yang tak kunjung pintar

Entah mengapa kalau mendengar kata ‘rantau’ pikiran saya langsung tertuju pada ‘rindu’. Waktu kecil, yang saya pahami tentang merantau adalah para pekerja yang meninggalkan anak istrinya di desa untuk bekerja ke luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Ya sama persis yang dilakukan ayah saya dulu, dia pergi ke Jakarta meninggalkan kami yang ratusan mil jaraknya untuk mencari uang. Wajar kalau mendengar kata rantau yang saya ingat adalah rindu, karena dulu kami sering menunggu kepulangan ayah dan memendam rindu berminggu-minggu.

Namun setelah ribuan jam duduk di bangku sekolah, agaknya saya paham bahwa merantau bukan hanya istilah bagi para pekerja. Ternyata asal usul kata ‘merantau’ berasal dari bahasa dan budaya Minangkabau yaitu ‘rantau’. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang filosofinya. Intinya sejak berabad-abad tahun lalu, orang-orang Minang memang memiliki tradisi mengembara yang kuat. Bahkan seorang laki-laki saat menginjak dewasa (20-30 tahun), sudah didorong untuk keluar dari daerah asalnya. Dari situlah dikenal istilah ‘marantau’ atau yang sekarang kita sebut dengan merantau.

Sebenarnya yang saya pengin bahas di sini adalah sense of merantaunya mahasiswa. Sependek pengetahuan saya, kebanyakan mahasiswa di pulau Jawa adalah perantau. Baik perantau antarkota, antarpulau, maupun antarnegara. Kalau dinalar, mungkin karena banyaknya universitas ternama bahkan terbaik se-Indonesia, infrastruktur lebih maju, ingin merasakan sensasi hidup jauh dari kampung halaman atau bahkan ‘terpaksa’ menjadi faktor orang-orang memilih Jawa sebagai tujuan perantauan.

Kalau boleh saya kategorikan, ada beberapa tipe mahasiswa perantau. Pertama, perantau-perantauan. Maksudnya, mereka merantau tapi sering pulang. Sebab jarak rumah dan rantau yang terlampau dekat mendorong mereka untuk pulang setiap minggu. Bahkan bisa jadi waktu yang mereka habiskan di rumah lebih banyak daripada di kos atau kontrakan, tentunya kalau jadwal kuliah bersahabat. Tipe ini yang kadang bikin saya iri, rantau rasa rumah. huh!

Kedua, perantau kelas menengah. Maksudnya, jarak rumah dengan rantau lumayan jauh, tarif yang dibutuhkan untuk pulang-pergi pun lumayan menguras kocek. Tentunya mahasiswa yang menjunjung tinggi sikap hemat perlu pikir dua kali untuk pulang. Biasanya, tipe ini pulang kampung paling tidak sebulan atau dua bulan sekali, bahkan kalau tidak ada acara-acara yang penting di rumah, mereka memilih berdiam diri di kos dan mengelus-elus dompet.

Ketiga, perantau kelas baja. Maksudnya, mereka pulang kampung biasanya sesemester sekali, setahun sekali, bahkan ­-berdasarkan curhatan seorang teman- ada yang boleh pulang hanya kalau sudah lulus. whatThe! Tipe ini memang yang paling ekstrim. Sebab jarak rumah dengan rantau yang beribu mil jauhnya membuat mereka pantang untuk pulang. Bisa dibayangkan, perantau tipe kedua saja perlu pikir dua kali untuk pulang. Tipe ini, mungkin perlu pikir dua kali dua ratus kali untuk memutuskan pulang. Maka pantas jika mental baja kita predikatkan untuk perantau tipe ketiga ini. cool!

Terlepas dari tipe-tipe yang saya sebutkan tadi, ada hal-hal yang saya pandang menarik dari mahasiswa rantau. Misalnya, dari sisi bagaimana cara mereka bertahan hidup. Mahasiswa rantau biasanya pandai mengelola uang. Mereka akan berpikir bagaimana jatah bulanan dari orang tua bisa cukup untuk keperluan kuliah, makan, mandi, dan make up (bagi yang memakai).

Selain itu, mahasiswa rantau juga biasanya gemar berburu beasiswa. Berbekal motivasi hidup layak di tanah rantau, mereka akan bertarung sekuat tenaga dan mengandalkan mental baja mereka untuk mengejar beasiswa.

Belum selesai. Kalau sudah berhemat tapi biaya hidup tetap meningkat, daftar beasiswa eh belum rejekinya, mereka tak tinggal diam. Tanpa mengganggu kegiatan perkuliahan, mahasiswa rantau biasanya memanfaatkan waktu luang untuk bekerja. Mulai dari kerja part-time di restoran, ngajar les privat, jaga angkringan, jadi kasir bahkan jual es cendol di pinggir jalan mereka lakoni demi mengurangi beban orang tua.

Bukan hanya pandai mengelola uang, mahasiswa rantau juga dituntut pandai mengelola waktu. Biasanya di rumah ada ibu dan bapak yang selalu mengingatkan makan, sholat, dan belajar. Di tanah rantau, mereka harus mengandalkan alarm hp untuk menggantikan peran ibu dan bapak (kecuali yang gak jomblo), pun fungsinya tidak sehebat ketika ibu membangunkan tidur nyenyak mereka di rumah.

Hebatnya lagi, mahasiswa rantau juga pandai mengelola perasaan. Bagaimana tidak, seminggu, sebulan, setahun mereka menahan rindu keluarga dan kampung halaman. Mereka tetap ceria menjalani hari-hari walau mungkin hati sedang bimbang. Telepon, whatssapp, video call, mungkin bisa sedikit meredam rindu. Tapi adakah obat rindu yang lebih mujarab dari bertemu? nothing! Maka dari itu mereka biasanya menyibukkan diri di organisasi kampus atau melakukan kegiatan sosial untuk menjauhkan diri dari baper yang berkelanjutan.

Tapi siapa sangka hal-hal tersebut yang justru menjadi pelajaran berharga. Di saat yang lain makan dengan puas di rumah, mahasiswa rantau sedang mencuci, menyapu, mengepel dan buru-buru mengangkat jemuran agar tak kena hujan. Di saat yang lain tidur nyenyak di kasur nyaman, mahasiswa rantau sedang sibuk-sibuknya berorganisasi dan membangun jaringan demi kebaikannya di masa depan. Di saat yang lain asyik bercengkrama dengan keluarga, mahasiswa rantau sedang memutar otak bagaimana caranya bertahan hidup tanpa membebankan orang tua. Itulah pelajaran hidup yang sesungguhnya.

Omong kosong. Tentu saja yang saya ceritakan tidak sepenuhnya benar. Tidak semua mahasiswa rantau sehebat itu. Tapi memang ada manusia-manusia strong seperti cerita di atas yang saya temui dan patut untuk kita teladani. Minimal kita bisa meneladani semangatnya untuk bertahan menjadi pembelajar di kota orang. Jadi mahasiswa rantau kok malas-malasan, lemah!

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kalau Saja

    • calendar_month Sel, 21 Jan 2025
    • account_circle admin1
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Oleh: Selvina Idha Alifiani Awan bersama angin mengiringi rintik airMembawa setiap hembusan dingin hingga menusuk kulitKala itu, aku duduk bersandarkan dindingMerasakan tiap tarikan napas, yang keluar dari diriku Aku merenung dalam keheninganMembiarkan ingatan itu kembali mengalirMeratapi setiap detik yang telah berlalu Pikiranku berkelana dalam labirin waktuBerpikir, “Kalau saja kala itu aku diam”Apakah tidak akan jadi […]

  • Cegah Stunting, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Gelar Sosialisasi untuk Ibu Hamil

    • calendar_month Jum, 23 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 180
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) ke-75 UIN Walisongo menggelar sosialisasi sadar stunting untuk ibu hamil pada Senin (19/10/2020). Bertempat di Desa Wanutunggal, Kecamatan Godong, Grobogan, kegiatan ini disambut antusias oleh warga setempat. Menurut Tim KKN RdR UIN Walisongo kelompok bagi balita dan anak di bawah tiga tahun batita,” ujar Davi […]

  • Ketua ICW; Politisi Muda adalah Pengusir Hantu

    • calendar_month Ming, 29 Apr 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 243
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Donald Fariz, Ketua Indonesia Corruption Watch (ICW) memberikan apresiasi bagi para politisi muda. Pasalnya mereka telah berani masuk ke dalam rumah berhantu yang diisi hantu para politisi korup. Baginya, politisi muda yang berintegritas dan memiliki kualitas yang akan mengusir para hantu di rumah partai politik (parpol). Sabtu, (28/4/2018). “Para politisi muda yang sholeh, berintegritas, […]

  • SEMA dan DEMA UIN Walisongo Sampaikan Audiensi Terkait SK Rektor Masa Jabatan Ormawa

    • calendar_month Kam, 9 Feb 2023
    • account_circle admin1
    • visibility 273
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Aksi audiensi yang dilakukan Senat Mahasiswa (SEMA) UIN Walisongo dan Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) bertempat di Lantai 4 Gedung Rektorat berlangsung pada Rabu (8/2/2023). Dihadiri oleh Wakil Rektor III (WR III) dan para wakil dekan, perwakilan mahasiswa itu menyuarakan aksi buntut dari dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 566/Un.10.0/R.3.02/01/2023, yang berisi Masa Jabatan […]

  • Tumbuhkan Jiwa Entrepreneur Lewat Distingsi

    • calendar_month Ming, 2 Sep 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 152
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Sebanyak 159 mahasiswa jurusan Ekonomi Islam angkatan 2017 UIN Walisongo ikuti Distingsi periode pertama di Gets Hotel Semarang. Sabtu, (1/9/2018). Acara yang digelar oleh Program Studi Ekonomi Islam ini berlangsung selama dua hari. Senada dengan tajuk acara tersebut “Entrepreneur Berwawasan Global dan Berakhlakul Karimah”, acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman sekaligus motivasi entrepreneur kepada […]

  • Ramai Tagar Dijebak UIN WS, Bentuk Kekecewaan terhadap Kampus Kemanusiaan Walisongo

    • calendar_month Rab, 20 Jul 2022
    • account_circle admin1
    • visibility 236
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Selasa (19/7/2022) jagat Twitter dihebohkan dengan tagar dijebak UINWS. Tagar ini terus ditulis oleh mahasiswa UIN Walisongo Semarang sebagai aksi protes atas turunnya Surat Keputusan (SK) Rektor UIN Walisongo Semarang Nomor 2138/Un.10.0/R.1/KM.02.05/06/2022 tentang Penetapan Penempatan Mahasiswa yang Diterima Melalui Jalur UM-PTKIN Tahun Akademik 2022/2023 pada Ma’had Al Jami’ah UIN Walisongo Semarang. Keputusan Rektor tersebut berisi […]

expand_less
Exit mobile version