Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » ARTIKEL » 9 Tahun Aksi Kamisan; Potret Buram Penegakkan HAM di Indonesia

9 Tahun Aksi Kamisan; Potret Buram Penegakkan HAM di Indonesia

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sab, 15 Apr 2017
  • visibility 70
  • comment 0 komentar

Oleh: Dziyaul L. Tamrin

Alumni Lembaga Pers Mahasiswa Invest

“Black represents the gloom of this country in terms of human rights. The umbrella carries the message that our right to stage this rally is protected by the Constitution,” Said Commission for Missing Persons and Victims of Violence member Yati Andriani.

Banyak negara yang mempunyai rekam jejak buruk menyoal penegakkan Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi pada masa lalu, misalnya, Afrika Selatan, Jerman, Argentina dan Korea Selatan. Termasuk Indonesia. Berbeda dengan negara-negara lain yang berani mengakui, menuntaskan dan melakukan rekonsiliasi terhadap kejahatan kemanusiaan, namun di Indonesia sepertinya belum mengalami perubahan yang berarti. Terdapat banyak kasus yang terabaikan, belum tuntas bahkan masih mandeg di Kejaksaan dan tidak ditindaklanjuti. Akhirnya upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM mengambang.

Peristiwa yang terjadi pada tahun 1965-1966 dan tahun-tahun sesudahnya merupakan catatan hitam sejarah bangsa Indonesia. Kebenaran mengenai tragedi kejahatan kemanusiaan pada kepemimpinan Orde Baru tersebut tidak pernah terungkap. Meliputi jumlah korban yang dibunuh ataupun penghilangan orang secara paksa (forced diseppearance). Beberapa sumber menyatakan berkisar 300 ribu sampai 2,5 juta jiwa terbunuh dan hilang.

Berbagai peristiwa kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada saat itu merupakan dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pada umumnya, hal tersebut dialami oleh orang-orang yang dianggap memiliki ideologi komunis dan dianggap melawan kebijakan pemerintah. Kemudian ada semacam kebijakan pemerintah yang mendorong partisipasi masyarakat untuk melakukan aksi kekerasan terhadap orang-orang yang dituduh komunis dan pembangkang pemerintah.

Para korban yang selamat dan keluarganya juga tidak luput dari pelanggaran HAM. Selain dirugikan dalam bentuk materil, mereka juga mengalami tindakan diskriminatif meliputi pelanggaran hak-hak sipil, politik, sosial dan budaya. Paling menyedihkan lagi yakni mereka mengalami penderitaan psikologis secara turun temurun hingga sekarang.

Keadaan ini yang mendasari berdirinya Aksi Kamisan didepan istana Negara yang dipelopori oleh para korban,  keluarga dan pejuang HAM. Aksi yang dimulai sejak 18 januari 2007 silam merupakan wujud perjuangan dan konsistensi korban untuk memperoleh keadilan. Menagih janji-janji pemerintah untuk menguak dan mengadili pelaku kasus-kasus kejahatan kemanusiaan.

Aksi Kamisan pada mulanya terinspirasi oleh aksi yang dilakukan oleh ibu-ibu di Plaza D  e Mayo Argentina yang menuntut agar pemerintah mengembalikan suami dan anak mereka yang diculik oleh junta militer. Aksi ini dilakukan setiap hari Kamis dijantung ibu kota Argentina. Selama 30 tahun lebih mereka berdiri dan meneriakkan tuntutan yang serupa.

Sejarah mencatat bahwa Aksi Kamisan tidak terlepas dari aktor penggeraknya yaitu Suciwati Munir, Sumarsih dan Bedjo Untung bersama keluarga korban lainnya yang tergabung dalam Jaringan Solidaritas Keluarga Korban (JSKK). Anggota  dari JSKK meliputi korban penembakan di Universitas Atmajaya dan Trisakti, korban kerusuhan Mei 98, korban tragedi kemanusiaan  tahun 1965-1966, korban pembunuhan Munir serta korban penculikan aktivis mahasiswa. Mereka seolah tidak pernah lelah dan putus harapan untuk tetap memperjuangkan keadilan bagi keluarganya yang belum ditemukan dan diketahui keberadaannya. Semua orang tidak pernah menyangka aksi ini akan bertahan sampai bertahun-tahun.

Ditengah keran demokratisasi yang dibuka selebar-lebarnya memberikan angin segar bagi civil society untuk melakukan aksi protes seperti Aksi Kamisan. Meskipun begitu, aksi yang dilakukan setiap hari kamis sore dengan menggunakan payung hitam, baju serba hitam dan atribut aksi lainnya sampai saat ini belum banyak mengalami perubahan.

 9 tahun sudah Aksi Kamisan menjadi sebuah institusi bagi korban untuk mengharap keadilan. Aksi Kamisan sebagai gerakan kolektif yang juga berusaha untuk memelihara ingatan masyarakat agar terus mengingat pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Negara belum juga selesai hingga sekarang. Sehingga pelanggaran-pelanggaran HAM masa lalu tidak akan terulang kembali.

Masa pemerintahan presiden Jokowi yang digadang-gadang sebagai presiden pilihan rakyat tidak jauh berbeda dengan presiden sebelumnya. Presiden Jokowi bahkan berjanji akan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM yang dituangkan dalam Nawacita, namun pada kenyataannya belum dijalankan sebagaimana mestinya. Janji sekedar janji, pemerintah seolah saling lempar bola terkait dengan kewenangan penyelesaian kasus-kasus tersebut.

Berkali-kali hasil laporan dari Komnas HAM dibahas dan berkali-kali pula laporan ini mengalami penundaan pengambilan keputusan akibat sidang paripurna meminta tim untuk memperbaiki kualitas laporan dan alasan yang bias. Dan lagi-lagi, kasus demi kasus masih tertunda dan belum terselesaikan.

Dalam penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu terdapat dua langkah yang bisa ditempuh yakni, langkah hukum dan langkah politik. Langkah hukum dapat dilakukan dengan cara menindaklanjuti setiap laporan penyelidikan komnas HAM dalam ranah penyidikan, penuntutan dan pengadilan. Hal ini tentu membutuhkan rekomendasi dari DPR selaku lembaga politik dan turut menerbitkan Keputusan Presiden tentang pembentukan pengadilan HAM ad hoc.

Langkah kedua adalah langkah politik yang dapat dilakukan oleh Presiden Jokowi untuk menuntaskan pelanggaran HAM secara komprehensif. Hal tersebut dapat berupa permintaan maaf, dapat pula dengan mencabut perundangan diskriminatif terhadap korban dan keluarga ataupun dengan mengungkapkan kebenaran sejarah. Paling penting lagi yaitu memperbaiki keadaan korban dan keluarga dengan pemberian rehabilitasi, restitusi dan kompensasi.

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Khatmil Alquran FEBI Minim Partisipasi Mahasiswa

    • calendar_month Jum, 22 Mei 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 48
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Khatmil Qur’an dengan tema “Menjemput Magfiroh” oleh Fakuktas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang telah sukses di gelar. Namun, hanya sedikit saja mahasiswa yang mengikuti acara tersebut. Kamis, (21/05/2020). Menyadari hal itu, Syaekhu selaku penyelenggara acara mengaku banyak kendala yang menjadi penyebab kurangnya partisipasi mahasiswa. “Kurangnya partisipasi mahasiswa terjadi karena beberapa kendala, […]

  • Mahasiswa KKN Berbagi Minuman Herbal Tradisional, Wujud Kampanye Kesehatan

    • calendar_month Kam, 22 Okt 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 55
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Dalam rangka melakukan pengabdian yang bertempat di RT 1/XIV Kelurahan Tambakaji Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, mahasiswa peserta KKN Reguler dari rumah UIN Walisongo Semarang turut andil dalam melakukan usaha pencegahan COVID-19. Usaha yang dilakukan kali ini yaitu dengan membuat minuman herbal tradisional. Minuman herbal tradisional terdiri dari perpaduan kunyit, gula merah, gula pasir, pandan, […]

  • Akhir PBAK 2024 Diwarnai dengan Ekspo UKM-U, Band Musik, Sekaligus Penutupan

    • calendar_month Ming, 11 Agu 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 50
    • 0Komentar

    lpminvest.com – Hari terakhir PBAK dilaksanakan pada Minggu, (11/08/2024) terdapat Expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas yang bertempat di GSG dan Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Terdapat sebanyak 18 UKM dan UKK tingkat Universitas yang turut memeriahkan kegiatan ekspo dan stand hari ini. UKM dan UKK tingkat Universitas yang mengikuti ekspo UKM UKK […]

  • Nur Zaenab Sampaikan Aspirasi Pemuda dalam Dialog Nasional Ketenagakerjaan Inklusif di Indonesia

    • calendar_month Kam, 16 Agu 2018
    • account_circle admin1
    • visibility 55
    • 0Komentar

      lpminvest.com– Rajawali Foundation dan Pusat Transformasi Kebijakan Publik (Transformasi) melalui proyek kerja sama USAID-Mitra Kunci Strengthening Coordination for Inclusive Workforce Development in Indonesia (SINERGI) menggelar Dialog Nasional tentang Ketenagakerjaan Inklusif di Indonesia pada Selasa, 14 Agustus 2018 di Hotel Ayana Mid Plaza, Jakarta. Direktur Rajawali Foundation sekaligus Project Director SINERGI, Agung Binantoro, Selasa (14/8), menjelaskan, acara dialog […]

  • Lomba Review Buku Sempat Memanas, Akhirnya Perwakilan FST Jadi Juaranya

    • calendar_month Kam, 11 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 55
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Orientasi Olahraga, Seni, Ilmiah, dan Keterampilan (ORSENIK) UIN Walisongo pertama kali mengadakan Cabang Lomba (cabor) Review Buku. Perlombaan terlaksana pada Kamis, (11/11/2021). Perlombaan tersebut diikuti oleh mahasiswa angkatan 2020 dan 2021 dari setiap perwakilan fakultas dengan memanfaatkan media Google Meet. Suasana perlombaan memanas karena terjadi kesamaan poin sehingga diadakan penilaian kedua untuk peserta dari […]

  • Bangun Taman Toga sebagai Alternatif Penunjang Kesehatan Warga

    • calendar_month Sen, 10 Feb 2020
    • account_circle admin1
    • visibility 79
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Kehadiran Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Intensif Terprogram (MIT) Ke-IX posko satu tengah menyesuaikan kegiatan masyarakat dalam bentuk penanaman Tanaman Obat Keluarga (Toga).  Kegiatan ini berlangsung di Desa Bumirejo Ngasem RT 04/RW 06 Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Senin, (10/2/2020). “Penanaman toga seperti jahe, tomat, laos, dan sebagainya, yang harapannya bisa […]

expand_less
Exit mobile version