Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Santri Mengurangi Antrean PNS

Santri Mengurangi Antrean PNS

  • account_circle admin1
  • calendar_month Sab, 20 Feb 2016
  • visibility 760
  • comment 0 komentar

Berangkat dari falsafah Santri, bahwa pesantren lahir dari masyarakat dan untuk masyarakat, Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalharjo-Magelang, berinisiatif ikut mengurangi antrean  Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan mengajarkan santri untuk menjadi santri Entrepreneur. Ujar Yusuf Chudlori-pengasuh santri entrepreneur (Jum’at, 20/02/2016)

Meski ketika santri mondok tidak diajari pelajaran tentang mandiri ekonomi, Yusuf menekankan para santri untuk mandiri dalam berwirausaha setelah mereka lulus ngaji. Akronim dari  API sendiri, memiliki indikasi santri kelak akan menjadi seorang  pengajar atau guru. Mengajarkan agama kepada masyarakat, maupun menjadi guru di bidang wirausaha.

Ayah Gus Yusuf (Kyai Chudlori) sejak awal memang  giat berwirausaha. Beberapa peninggalan masih dapat terbaca jelas, berupa tulisan arab yang terpahat di tembok pondok tentang semangat dalam mandiri ekonomi, seperti syair: “ kebaikan ekonomi adalah  terdapat  pada kebaikan agama. Demikian pula kebaikan agama adalah terdapat pada kebaikan ekonomi”.

Maka tak heran semangat untuk terus mandiri terpatri dalam hati para ahli waris dan santri. Kini API memiliki beberapa usaha yang hasilnya dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan 7000 santri. Para santri sejak dini diajarkan mandiri, bahkan mereka  tidak perlu ijazah untuk melamar pekerjaan karena mau tidak mau menjadi santri API harus mandiri.

Santri Entrepreneur

Terlepas dari stigma masyarakat, Santri hanya dapat  menjadi pengajar  agama dan membacakan doa, Gus Yusuf membentuk pelatihan Santri Entrepreneur untuk para santri setelah mereka selesai mondok. Tujuannya untuk membentuk mereka menjadi santri mandiri dalam ekonomi, agar saat santri mengajar ia tidak  terganggu masalah keuangan dan memilki banyak waktu luang dengan pekerjaan yang mereka ciptakan sendiri.

Materi  kewirausahaan sengaja baru diberikan selesai mondok,  agar santri dapat fokus meniti usahanya tanpa terganggu pelajaran pondok saat pelatihan sampai  memulai bisnis.

Selama 35 hari, santri dikarantina dalam pelatihan santri entrepreneur  tersebut.  Bersama beberapa mentor ahli mereka diberi motivasi, pengetahuan berbisnis serta praktik.

Pada pelatihan di Hari pertama, semua barang bawaan peserta dilucuti, mulai dari; dompet, Hp, kendaraan dan assesoris milik semua peserta. Mereka semua dalam keadaan yang  sama, tidak memiliki barang  yang dinamakan harta.

Di pagi hari, Tugas pertama  mencari uang di pasar dan harus pulang  tepat pukul 15.00. Hanya uang  senilai Rp. 2.500 yang diberikan kepada mereka, meski uang  tersebut  akan habis dipakai naik bus ke lokasi pasar. Mereka harus mampu megerjakan apapun untuk mendapatkan uang di pasar. Hasilnya untuk saku pulang dan mengumpulkan modal, karena hanya uang tersebut yang menjadi modal mereka, tidak ada uang lagi untuk 34 hari ke-depan.

Setiap mereka kembali dari pasar uang harus dikumpulkan dalam satu kelompok yang sudah dibentuksebelumnya. Uang tersebut akan dijadikan modal untuk menjadi modal awal bisnis. Bagi kelompok yang  gagal mendapat uang terpaksa harus menikmati nasi tanpa lauk sebagai hukumannya. Dihari selanjutnya, mereka terus berjuang agar dapat nasi lengkap dengan lauk,  yang memberi perbedaan rasa dibanding nasi putih dalam nampan.

“Mereka berjuang mati-matia untuk uang itu, menggunakan kreatifitas dan kerja keras. Salah satu kisah paling fenomenal dari sekian peserta, saat salah satu peserta bekerjasama dengan pedagang bakso yang  saat itu hanya bisa berjualan di luar pasar. Peserta tadi meminjam mangkuk dan sendok penjual bakso untuk  menjualkan bakso di dalam pasar, ia mengetuk-ketuk mangkuk sambil menawari bakso kepada orang-orang di dalam pasar. Setiap ketukan mangkuknya diberi upah Rp.500 oleh pedagang bakso. Memang saat itu penjual bakso mengalami banyak peningkatan penjualan semenjak peserta tadi membantunya. Ini menunjukan bahwa pengusaha membutuhkan kemauan bukan sekedar uang sebagai modal” Ujar Wahyu kartiko sebagai salah satu panitia saat diwawancarai tim Lpminvest

Kegiatan demi kegiatan berjalan,  Sampai pada bagian pelatihan pembukuan keuangan dan fokus pada bisnis masing-masing, hingga pendampingan sebagai tahap terakhir. Beberapa alumni santri entrepreneur berhasil menggeluti bisnis mereka. Bahkan salah satu dari mereka mampu membuka cabang di salah satu mall di Magelang.

Meski rata-rata alumni santri entrepreneur  hanya mampu berusaha dalam usaha mikro, namun penghasilan mereka mampu menyamai para PNS. Nasruddin contohnya, bos sate buah itu mampu mendapatkan Rp. 125.000/harinya. Dan masih banyak lagi para alumnus yang berhasil menggeluti bisnis-bisnis mereka.

Kata Hermawan Kartajaya saat bertamu di rumah Gus Yusuf,  “Nabi anda adalah seorang wirausaha handal, kenapa justru nabi saya yang tukang kayu yang menguasai perniagaan, kalau pengikut Muhammad tidak handal dalam wirausaha itu sangat ironis.” Begitulah katanya.

Kehadiran Hermawan waktu itu menyulut semangat Gus Yusuf untuk kampanye santri entrepreneur.  Hingga 6 angkatan telah berjalan pelatihan santri entrepreneur,  pihak API tetap memberikan pendampingan kepada mereka. Kata Gus Yusuf santri mampu mandiri, tidak menambah beban pemerintah dengan mengantre  dijadikan PNS. Santri mampu karena santri memang terdidik untuk mandiri sejak awal, dan santri merupakan SDM yang lengkap untuk menjadi wirausaha, dengan ketekunan, istiqomah, ketertiban (saat Jama’ah), pekerja keras dan yang paling penting, santri memilki “doa” yang tidak dimilki pengusaha lain. “mereka belum tau saja, kalau surat al-Fatikhah bisa bikin dagangan laris. Pungkas Gus Yusuf Chudlori, bangga dengan santri. (cokro_Invest).

  • Penulis: admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lebaran Tanpa Mudik

    Lebaran Tanpa Mudik

    • calendar_month Jum, 7 Jun 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 957
    • 0Komentar

    Bukan hanya baju baru, angpau, bingkisan, atau kue kering. Mudik juga salah satu prioritas yang dipersiapkan masyarakat Indonesia menjelang lebaran (Idul Fitri). Di mana tradisinya, para perantau baik yang bekerja maupun yang berjihad mencari ilmu berbondong-bondong pulang ke kampung halaman untuk menikmati lebaran bersama keluarga. Uniknya, boleh jadi hal ini hanya terjadi di Indonesia. Konon […]

  • Songsong Internasionalisasi Kampus, FEBI Kirim Dosen Ke Pare

    Songsong Internasionalisasi Kampus, FEBI Kirim Dosen Ke Pare

    • calendar_month Sen, 9 Sep 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 794
    • 0Komentar

    lpminvest.com– Demi mencapai visi misi UIN Walisongo terkait internasionalisasi kampus, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) bekali dosen dan tenaga kependidikan pelatihan bahasa Inggris di Pare, Kediri. Minggu, (8/9/2019). Diikuti oleh 11 dosen dan tenaga kependidikan, pelatihan ini merupakan angkatan kedua yang akan dilaksanakan selama satu pekan sejak Minggu, (8/9) hingga Sabtu, (14/9). “Pelatihan ini […]

  • Siksa Manusia Tergantung Dosa dalam Film Siksa Neraka

    Siksa Manusia Tergantung Dosa dalam Film Siksa Neraka

    • calendar_month Sel, 21 Mei 2024
    • account_circle admin1
    • visibility 1.335
    • 0Komentar

    Identitas Film Judul                           : Siksa Neraka Genre                         : Horror, Thriler Jadwal Tayang            : 14 Desember 2023 Durasi                         : 98 menit Sutradara  […]

  • UMKM sebagai Solusi Kemandirian Ekonomi

    UMKM sebagai Solusi Kemandirian Ekonomi

    • calendar_month Kam, 22 Des 2016
    • account_circle admin1
    • visibility 783
    • 0Komentar

    Ekonomi kreatif merupakan solusi tantangan menghadapi pasar bebas ASEAN. Solusi tersebut menjadi salah satu pilar ekonomi kerakyatan yang tak lepas dari jantungnya perekonomian Nusantara. Bahkan, ekonomi kreatif sudah saatnya menjadi tulang punggung dalam perekonomian nasional. Kemajuan bidang ini menyumbangkan energi kemandirian ekonomi masyarakat. Melalui ekonomi kreatif terlahirlah lapangan kerja, produk- produk yang memiliki nilai jual […]

  • Ungkap Makna Kesetaraan Gender, Kelompok 6 KKN RdR 77 UIN Walisongo Adakan Webinar Online

    Ungkap Makna Kesetaraan Gender, Kelompok 6 KKN RdR 77 UIN Walisongo Adakan Webinar Online

    • calendar_month Sab, 6 Nov 2021
    • account_circle admin1
    • visibility 905
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Kelompok 6 Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Rumah (KKN RdR) Angkatan 77 adakan webinar kesetaraan gender dengan tema “Isu Gender dalam Dunia Kerja”. Jum’at, (5/11/2021). Tujuan diadakannya webinar ini sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa dan masyarakat pada umumnya tentang makna kesetaraan gender yang sebenarnya. Acara berlangsung dengan menggunakan media zoom meeting […]

  • Setelah Sheila On 7, Kali Ini Raisa Bakal Konser di UIN Walisongo

    Setelah Sheila On 7, Kali Ini Raisa Bakal Konser di UIN Walisongo

    • calendar_month Ming, 4 Agu 2019
    • account_circle admin1
    • visibility 752
    • 0Komentar

    lpminvest.com- Kabar gembira bagi mahasiswa baru UIN Walisongo Semarang 2019. Pasalnya, Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) bakal mengadakan gelaran akbar untuk menyambut para mahasiswa baru dengan mengundang penyanyi kondang Raisa Andriana. Acara yang diberi nama ‘Uincredible 2.0’ ini bukan kali pertama diadakan oleh DEMA-U. Tahun lalu, acara serupa diadakan dengan mengundang band legendaris Sheila On […]

expand_less